Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 21


__ADS_3

...CHAPTER 21...


...RUNNING FROM REALITY ...


Setelah pertemuan tak terduga dengan Kaylie, Daniel menyarankan untuk mampir ke kafe yang berada dekat dengan Foster books, agar kedua gadis itu bisa berbincang dengan bebas tanpa ada gangguan darinya.


Daniel langsung menuju meja barista, memesan kopi dan juga sesuatu yang manis untuk mereka makan sambil mengobrol. Dia meletakkan pesanannya ke meja Rosaline dan Kaylie, dan kemudian pergi, duduk di sisi lain dan berjauhan dari mereka berdua.


Ia memilih meja yang dekat dengan para barista, lalu duduk di sana dan tidak membiarkan sedikit pun pandangannya terlepas dari kedua gadis itu yang sekarang tengah berbincang dengan tawa lembut yang mengisi.


Dia tersenyum. Mendapati Rosaline yang kembali ceria. Tidak seperti sebelumnya di mana gadis itu terlihat seperti mayat hidup, dengan ekspresi datar tanpa senyum di wajahnya, dan lingkaran hitam di sekitar matanya.


"Well she looks okay now," Gumamnya dan tersenyum lebar saat melihat gadis bernama Kaylie itu tengah menatap ke arahnya sebelum berbincang dengan para barista.


"Is he your dad?"


Rosaline menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya sembari menempatkan matanya ke arah yang Kaylie tunjuk, di mana Daniel sedang memandangi mereka sebelum mengalihkan pandangannya dan berbicara dengan para barista di dekatnya.


"Bukan," Jawab Rosaline cepat, "dia keluarga ku."


"Paman?" Tanyanya.


"Yeah. Kind of."


"Dia tampan."


Rosaline menyeringai. Ya. Dia setuju dengan perkataan Kaylie barusan. Bagaimana pun juga, Daniel yang sudah berkepala tiga sama seperti Julian itu masih terpancar aura ketampanannya.


Entah dari wajah atau tubuhnya. Yep, Rosaline tidak menyangkalnya.


"Can't denied it," Balas Rosaline dengan terkikik.


Rosaline meletakkan es krimnya yang sudah habis ke atas meja dan meraih selembar tisu. Ia mengelap mulutnya dengan itu saat menyadari ada es krim yang tersisa di ujung bibirnya dan kemudian meremukkannya, membuangnya ke dalam wadah es krimnya tadi.


"Selama aku tidak ada di sana, apa dia masih mengganggu perempuan berkacamata itu?"


Rosaline membuat suara ragu-ragu ketika dia tahu siapa yang dimaksud Kaylie. Tentu saja Clark dan Asher. Siapa lagi kalau bukan mereka berdua yang dia maksud.


Jika Rosaline memberitahu Kaylie bahwa Clark masih mengganggu Asher dengan gelar the golden money-nya yang bodoh itu, apakah amarah Kaylie akan meledak? Bahkan setelah pertengkaran mereka Clark tidak belajar atau berhenti.

__ADS_1


Rosaline memilih untuk bersikap biasa, mencoba sekeras mungkin merelaks-kan bahunya yang tak tahu kapan sudah menegang dalam kegugupan. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Nah. Kau pasti tahu betapa keras kepala dan sombongnya dia. Setelah pertengkaran kalian dia bahkan tidak pernah belajar atau berhenti mengganggu Asher. Dia tetap melakukannya."


Kaylie mendengus. Sudah tak terkejut lagi dengan hal itu. Sepertinya melempar wanita itu dengan buku kemarin bukan lah pilihan yang tepat, karena kurang manjur untuk membuat otak kecilnya bekerja.


Mungkin lain kali Kaylie akan melemparnya dengan benda berat yang lain.


Kaylie menggeleng pening, agaknya setelah masa skorsingnya selesai dia akan kembali membuat masalah dengan the golden money sialan itu. Biar saja dia drop out sekalian yang penting dia tidak akan bertemu dengannya lagi.


Jujur saja Kaylie sangat membenci wanita itu.


"Kau tahu, kau harus melawannya sesekali. Jangan diam saja. Kau tahu kalau perbuatannya itu salah, seharusnya sebagai teman kau menghentikannya."


"Aku sudah mencobanya, tapi— Entahlah, sepertinya tidak berhasil."


"Kalau diam-diam tidak berhasil, berarti kau harus melakukannya secara terang-terangan."


Rosaline menggigiti kukunya ragu dan menggeleng. "Aku tidak seperti mu, Kaylie. Aku tidak punya keberanian untuk melakukannya."


"Aku tahu kau berani. Kau hanya tidak mau melakukannya."


Perkataan Kaylie di kafe saat itu membuat Rosaline berpikir. Apa benar dia tidak mau melakukannya? Tidak. Tidak.


Rosaline benar-benar ingin menentang Clark hanya saja dia tidak punya keberanian. Bukan tidak mau melakukannya.


"Apa menurut mu aku ini pengecut?"


"Sangat."


Rosaline merengut. Dia melempar Reagan dengan bantal di dekatnya sebelum menyandarkan kepalanya ke bahu sang kembaran. Ia menghela napas berat dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika dia melawan Clark nanti.


Apa ancaman Clark waktu itu akan terjadi? Atau mungkin ancamannya itu hanya bualan? Nah entahlah. Dia memang tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi bukan salahnya, kan, kalau dia berhati-hati? Setidaknya dia harus waspada.


"Aku benci melihatnya."


Reagan yang tengah mengunyah permen karet melirik ke arah Rosaline. Dia memandangi pucuk kepala Brunette itu dengan bingung. "Apa yang kau benci?" Tanyanya.


"Clark. Aku benci melihat kelakuannya."

__ADS_1


"Oh the golden money itu?"


Rosaline mengangguk.


"Kalau begitu katakan padanya untuk berhenti."


"Bagaimana caranya?"


"Lakukan seperti perempuan bernama Kaylie itu. Lempar dia dengan buku atau benda berat yang lain. Biar saja the golden money itu hilang ingatan."


Rosaline memutar bola matanya malas. "Aku bukan gadis bar-bar sepertinya, Reggie."


"Ya, ya, ya, aku tahu kalau kau itu pengecut."


Reagan masih menatap saudara kembarnya saat gadis itu mengangkat kepalanya dari bahunya. Rosaline mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan matanya memancarkan kegelisahan yang kuat.


Reagan, dia hanya bisa menghela napas lelah. Sudah beberapa minggu ini dia mendapati sang adik terus gelisah. Apa karena pikirannya masih terganggu dengan perempuan bernama Kaylie yang waktu itu dia ceritakan padanya? Apa terjadi sesuatu pada si Kaylie itu?


Tapi jika Reagan bertanya tentang gadis itu, dia takut pikiran Rosaline tambah bercabang. Di kepala gadis itu bisa tambah banyak pikiran dan kemungkinan terburuk yang bisa saja dihadapi oleh Reagan adalah Rosaline sakit.


Walaupun dia terlihat tak peduli, sebenarnya dia peduli dengan adik yang hanya berselang beberapa menit darinya itu. Namun sayang, gengsi di dalam hatinya lebih tinggi daripada perasaan hatinya yang tulus itu. Jadi, lebih baik Reagan memperhatikan adiknya secara diam-diam.


"Bagaimana dengan Kaylie itu? Is she okay?"


Tak tahu lagi apa yang harus dikatakan olehnya untuk menyemangati gadis itu, akhirnya Reagan memilih bertanya. Jujur saja, dia penasaran dengan sosok Kaylie yang diceritakan oleh Rosaline malam itu. Ada rasa ketertarikan dan kekaguman di dalam hatinya saat dia mendengar aksi yang mungkin bisa Reagan garis bawahi sebagai tindakan ceroboh.


"Dia baik-baik saja. Aku bertemu dengannya di toko buku tadi pagi."


"Kenapa kau tidak kuliah?"


"Lari dari kenyataan."


Reagan memandanginya lama. Dia meletakkan ponselnya yang sedang ia mainkan game dan berbalik, duduk menghadap ke arah Rosaline sepenuhnya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, seakan memastikan kalau hanya mereka berdua saja di ruangan itu.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi kalau kau ingin lepas dari the golden money itu, kau harus melakukan sesuatu. Jangan diam saja. Terserah apa kata mahasiswa di kampus setelahnya."


"Bagaimana kalau aku dijauhi dan tidak ada yang mau berteman dengan ku?"


"Pasti ada. Setidaknya satu dari ribuan mahasiswa di sana, Rosie. Kau tidak akan sendirian."

__ADS_1


__ADS_2