
...CHAPTER 37...
...SOUTH KENSINGTON...
Sangat dingin saat Rosaline pergi ke perusahaan Matilda's. Awan menutupi langit dan sepertinya akan turun salju nanti malam. Rosaline menggigil dan menarik mantelnya lebih erat ke tubuhnya, mencoba menghalangi hawa dingin masuk.
Hari ini, alih-alih naik bus untuk pergi ke sana, dia lebih suka berjalan kaki, menikmati pemandangan yang terbungkus lembut oleh selimut salju putih. Salju turun tak henti-hentinya, melapisi semuanya dengan lapisan salju baru yang membuat lanskap putih cerah tak berujung.
Rosaline menghela napas. Melihat napasnya sendiri di udara seiring dia menggosokkan kedua tangannya bersama. Meniupkan napas yang hangat ke tangannya untuk memastikan tangannya tetap terbungkus oleh kehangatan.
"Selamat pagi," sapa Rosaline, tersenyum kepada satpam saat dia melewati mereka dan masuk melalui pintu. Terus berjalan ke dalam perusahaan sambil melempar senyum ramah ke semua orang.
Dengan menggunakan lift, Rosaline menekan tombol lantai dan segera lift itu melaju ke atas. Rosaline menyilangkan tangan, menghentakkan kaki sambil menunggu lift berhenti.
Hari ini, dia tidak terlambat. Terima kasih kepada Reagan yang sudah membangunkannya di pagi hari tadi, meskipun alarm yang dia setel di malam sebelumnya sudah berbunyi berkali-kali, tapi tetap saja dia tidak bangun.
Ting!
Lift terbuka, Rosaline segera menghentakkan kakinya dengan cepat menuju ruangan yang dia duga pria berambut pirang itu, James Orion Adler, sudah pasti ada disana. Dia memegang kenop pintu, menarik napas pelan-pelan lalu
menghembuskannya dengan kasar.
Kriet!
"Oh, kau tidak terlambat, akhirnya."
Meskipun James tidak menghadapnya, dia bisa merasakan Rosaline memutar matanya di belakang. Dia berbalik, melipat kertas yang dia pegang dan meletakkannya di atas meja.
"Happy now?" Ucap Rosaline kesal.
"Sepertinya ancaman ku kemarin berhasil, heh?"
Rosaline mendengus. "Kau saja yang terlalu paranoid. Sudah ku bilang aku tidak akan terlambat."
James hanya mengangkat bahunya sebagai respon dan kemudian duduk, membuka lipatan kertas yang dia lipat tadi dan menyerahkannya pada Rosaline.
__ADS_1
"Ini pesan dari perusahaan yang ada di kota Birmingham dan York. Mereka mengatakan akan menunda pembangunan di sana terlebih dahulu sampai musim dingin berakhir. Tempat yang kita gunakan ditutupi oleh salju tebal dan mobil dan alat-alat kontruksi yang lain tidak bisa diakses. Karena itu mereka menundanya."
"Lalu bagaimana di kota yang lain? Any progress?"
"Ya. Aku sudah mengirimkan file desain yang kau buat. Mereka sudah memikirkan untuk membuat kerangka terlebih dahulu. Sampai saat itu, mereka meminta kita untuk pergi ke sana dan memeriksanya sendiri."
Karena mereka melakukan pembangunan di enam kota yaitu London, Birmingham, York, Bristol, Bradford, dan juga Edinburgh. Kecuali di London, pembangunan juga dilakukan di lima daerah. Untuk saat ini, mereka berdua bertanggung jawab atas London.
"Jadi, south Kensington dulu?" Rosaline bertanya dan James mengangguk. "Dengan mobil mu lagi?"
"Ada masalah dengan itu?" James bertanya, entah bagaimana merasa agak sedikit tersinggung.
Rosaline menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya bertanya."
James mencibir. "Yah, mobil ku adalah pilihan terbaik daripada bus. Bahkan keluarga mu tidak mampu membelinya."
"Ya, ya, terserahlah, Tuan pemilik segalanya."
James mendengus tapi tidak melontarkan kata-kata menghina lagi. Sebaliknya, dia berdiri dan melenggang santai ke luar ruangan dan Rosaline mengikuti dari belakang.
Di dalam lift, keheningan kembali menghantam.
Tapi bagi Rosaline ataupun James, mereka tidak keberatan terjebak dalam kesunyian itu untuk jangka waktu yang lama. Bagi mereka, kesunyian yang menyelimuti itu adalah sebuah kenyamanan dan kedamaian. Di mana tidak ada satu dari mereka yang harus berbicara.
Ting!
Pintu lift terbuka, seketika memampangkan beberapa karyawan perusahaan Matilda's yang langsung membungkukkan tubuh mereka seiring James Orion Adler melangkahkan kakinya ke luar dari lift.
"Wow, mereka menghormati mu," kata Rosaline, kagum dengan pemandangan yang dia lihat. Di mana para karyawan itu membungkuk seperti seorang pengawal saat yang berwibawa berjalan di hadapan mereka.
"Tentu saja, aku adalah the golden money, Smith," ucapnya angkuh dan membuat Rosaline memutar bola matanya malas. Tak mau melontarkan respon apapun terhadap kenarsisan pria itu.
Begitu mereka sampai di mobil James, mesin mobil dinyalakan dan sekejap mobil itu bergerak. Membawa mereka berdua menuju south Kensington yang hanya berjarak beberapa menit dari London.
"Jadi, setelah South Kensington kau mau pergi kemana?" tanya Rosaline sambil membaca seluruh dokumen yang dibawanya tadi. Dia berbalik, memiringkan kepalanya dengan bingung, menatap lurus ke pria pirang yang sedang mengemudi di sebelahnya.
__ADS_1
"Aku baru saja berpikir untuk pergi ke Southwark setelah South Kensington. Itupun kalau kau tidak keberatan sebenarnya. Because we both know kalau hari ini kita hanya akan fokus di area London dulu. Setelah itu kita baru ke kota yang lain."
"Apakah ada keluhan selain Birmingham dan York? Aku bisa mentolerir hal itu karena bulan ini adalah puncak musim dingin, jadi aku tahu betapa tebal saljunya."
"Untuk komplain aku rasa tidak untuk kota lain, karena sejauh ini aku barh mendapat email dari konstruksi Birmingham dan York. Mungkin kalau kau mau kita bisa ke sana entah besok atau lusa, untuk progres kerangka bangunan yang mereka buat."
Rosaline mengangguk, tiba-tiba bertanya-tanya bagaimana dia bisa mendapatkan izin dari Reagan dan Daniel untuk pergi ke kota lain, terutama dengan si the golden money ini.
Dengan pria pirang yang tidak disukai Reagan. Dan juga jangan lupakan Kaylie. Apa yang akan dia katakan nanti? Ya tuhan.
"Well, kalau kau takut untuk meminta izin kepada kakak mu, aku bisa mengatasinya. Aku akan berbicara dengannya nanti."
Rosaline tersentak, menolehkan kepalanya ke arah James dengan ngeri. Matanya melebar, rahangnya menganga saat jantungnya berdetak begitu cepat. "B—bagaimana ka—" Dia tergagap, mengaburkan kata-katanya bersamaan.
James menyeringai. "Bagaimana aku bisa tahu kalau kau punya kembaran? Yah mudah saja. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Ku pikir dia hanya pengganggu, tapi saat Clark mengenalkan aku pada mu, aku merasa aku pernah melihat mu.
"Dan setelahnya aku baru sadar kau mirip dengan seseorang yang ku temui di depan pintu kelas ku saat itu. Yah, aku agak terkejut melihat versi laki-laki dari mu. Tidak seramah itu meskipun versi perempuannya sangat berbeda. Naif dan bodoh."
Rosaline terkekeh, tapi datar. "Hahaha nice one
James. How funny. Kau seharusnya menjadi seorang pelawak ketimbang pebisnis."
James memutar matanya, tetapi tidak bisa menahan senyum kecil yang mengembang seiring lelucon pahit yang dilemparkan oleh gadis itu.
Dalam lima belas menit, mereka tiba di tempat konstruksi. Seperti rencana awal mereka, mereka hanya datang untuk memeriksa progres dan setelah itu mereka pergi, pindah ke daerah lain.
Butuh waktu empat jam untuk memeriksa lima daerah kontruksi di Inggris. Sebelum akhirnya mereka kembali ke Matilda's. Rosaline langsung merosot ke sofa begitu mereka tiba di ruangan kerja, mendengus dan bergumam betapa lelahnya dia hari ini.
"Oh right, jaket mu," katanya. "Ku kembalikan," menyerahkan kantong kertas kepada James.
James mendongak, mengerutkan kening.
"Bukannya aku menyuruh mu untuk mengambilnya?"
"Ya, tapi aku tidak akan menerimanya. Jika Clark tahu aku memakai jaket pacarnya, dia akan mencekik ku sampai mati. Dia pasti akan mengira aku berselingkuh dengan mu. Jadi ambil. I don't want to owe anything from you."
__ADS_1
Mendengus, James mengambilnya. "Ya. Sama-sama. At least katakan terima kasih setelah ku pinjamkan."
Rosaline mengangkat bahunya tak peduli. "Ya. Terima kasih."