Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 52


__ADS_3

...CHAPTER 52...


...THE PATHETIC MAN...


"So, ku dengar kau dan James pergi ke bar dan beraninya kalian pergi tanpa aku?"


Oliver menyeringai ketika dia menoleh hanya untuk melihat Rosaline tegang karena kaget. Mata gadis itu perlahan melebar, melihat ke arah lain kecuali dirinya. Karena melihatnya tampak gugup, Oliver cepat-cepat menambahkan.


"Bagaimana rasanya? Pergi ke bar? Ku tebak itu adalah pertama kalinya bagi mu pergi ke sana, apalagi bersama James."


Perlahan, Rosaline mengangguk dengan pipi bersemu merah. "Apa Adler memberitahu mu semuanya?"


Tanpa penjelasan lebih lanjut dari gadis itu, Oliver sudah mengerti. Dia mengangguk dengan suara senandung kecil yang membuatnya makin terlihat sangat percaya diri dengan apa yang dia yakini. Sorot matanya yang lembut sesekali melirik ke arah Rosaline yang menunduk.


"Aku bersumpah aku tidak akan memberitahu siapa-siapa tentang itu," Ucapnya panik.


"Ya, kau harus. Kalau kau melakukan itu, kau akan mencabik-cabik hatinya. Tidak seperti wajahnya yang arogan, hati James itu lembut dan mudah hancur. Catat itu, Rosie."


"Aku tahu itu. Aku mengetahuinya ketika kita pergi ke Edinburgh. Sebenarnya itu kebetulan, Jam—maksud ku Adler tidak sengaja menyebut tentang keluarganya, tapi setelah itu suasana hatinya berubah. Dia langsung marah, menyalahkan ku, seolah-olah aku adalah orang yang memaksanya untuk mengatakannya."


Oliver menyeringai. "Ku pikir aku mendengar kau hampir mengatakan James, bukan Adler," dia terkekeh.


Rosaline tersenyum pahit. "Yah, dia menyuruh ku memanggilnya seperti itu saat dia mabuk di bar hari itu. Jadi aku memanggilnya James, tapi hanya untuk sementara."


"Kenapa kau tidak memanggilnya seperti itu setiap hari? Mungkin dengan perubahan kecil yang kau lakukan bisa membuat hubungan mu dengannya menjadi lebih baik?"


Senyum pahit di wajah Rosaline mulai memudar. Digantikan dengan ekspresi terkejut. "Tidak. Sudah ku bilang itu hanya sementara. You know, aku hanya menggunakannya agar dia berhenti minum waktu itu."


Sekilas kepanikan di mata zamrud gadis itu membuat Oliver tersenyum. Percayalah, senyuman hangat, bukan seringai atau cibiran. Perlahan, dia mengurangi kecepatan mobilnya, normal, hanya untuk melihat sekeliling dengan mata lembut.

__ADS_1


"Kau tahu, Rosie, James adalah orang yang keras. Keras kepala, sombong, dan kadang-kadang sangat menjengkelkan sampai-sampai membuat kita ingin sekali meninju wajahnya.


"Tapi, jauh di lubuk hatinya ada kebaikan. Berbeda dengan the golden money lainnya, James adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. Dia baik, pintar, dan juga patah hati."


Kali ini Rosaline mendongak, hanya mengarahkan pandangannya ke arah Oliver yang kini tersenyum pahit.


"Dengan situasi keluarganya, masa kecilnya tidak terlalu bagus. Kamera mengikutinya kemanapun dia pergi bahkan ketika dia masih bayi. Peraturan keluarga yang menjunjung tinggi kasta di dunia dan belum lagi ayahnya yang sangat ketat padanya. Percayalah, kalau kau tahu semuanya kau akan mengasihi pria itu."


Nah, Rosaline sudah melakukannya. Dia sadar akan kamera yang selalu mengikuti James kemanapun dia pergi. Untungnya, ketika mereka pergi ke bar hari itu, tidak ada kamera yang mengikuti mereka.


Lega sebenarnya, apalagi saat James bercerita tentang keluarganya. Dengan begitu tidak akan ada berita buruk yang bisa merusak citra keluarga Adler.


"Tapi, dia beruntung memiliki ibu seperti Minerva. Dia wanita yang baik. Ibu yang penyayang dan selalu ada untuk putranya kapan pun dia membutuhkannya. Aku yakin, kebaikan hati yang dimiliki oleh James adalah turunan dari ibunya."


"Apa James takut pada ayahnya?" Tanya Rosaline penasaran. Sama sekali tak peduli lagi dengan penggunaan nama pertama yang ia lontarkan untuk James.


"Sangat. Dia kasar, jahat, dan gila. James sangat beruntung tidak ada perilaku dari ayahnya yang menurun padanya. Kecuali satu hal yaitu fisik. Rambut pirang dan mata abu-abu. Mereka berdua sangat mirip, seperti kembaran yang hanya bisa dibedakan oleh keriput di wajah."


"Apakah hubungan mereka baik? Maksud ku dia dan ayahnya?"


Oliver menggelengkan kepalanya. "Mereka selalu bertengkar. Ayahnya dan dia selalu punya pikiran yang berbeda. Contohnya saja hubungan James dan Clark. Apa kau tahu kalau mereka sudah bertunangan? Ku rasa tidak," kekehnya.


"Percayalah Rosaline, James sama sekali tidak ingin berhubungan dengan keluarga Jenkins atau keluarga kaya manapun. Dia hanya ingin menjadi anak yang biasa, seperti kita. Tanpa harus memikirkan etika dan media yang selalu mengikutinya.


"Dia kesepian Rosie. Dengan gelarnya, dia sulit menemukan arti teman yang sesungguhnya. Semua orang yang mendekatinya dengan iming-iming sebagai teman hanyalah citra bodoh yang ingin memanfaatkan kekayaan keluarga Adler.


"He is pathetic."


...•—— ⁠✿ ——•...

__ADS_1


Setelah pembicaranya dengan Oliver, pikiran Rosaline selalu dipenuhi akan James. Memikirkan betapa kesepiannya pria itu dibandingkan dengannya. Sekarang dia mengerti tentang perkataan pria pirang itu ketika mereka pergi ke bar.


Tentang rasa iri yang dialami olehnya terhadap Rosaline. Iri terhadap keluarga dan teman yang dia miliki, apalagi terhadap kehidupan bebas yang Rosaline jalani selama napasnya masih berhembus. Tanpa harus memikirkan media massa.


Tapi, apa reaksi yang akan dikeluarkan oleh James saat dia tahu kalau ayah dan ibunya sudah tiada? Apalagi kalau dia tahu identitas asli dari orang yang selama ini tinggal bersama Rosaline dan Reagan, bahkan merawat mereka seperti anaknya sendiri adalah seorang napi?


Apakah James akan tertawa padanya? Apa laki-laki itu akan tetap menginginkan kehidupan yang dia miliki? Tanpa orang tua dan hidup bersama seorang napi? Hahaha, entahlah. Semuanya berubah menjadi lucu kalau dipikirkan.


Rosaline merosot ke sofa, menghela napas lelh sambil memegang erat buku novel Shakespeare di dadanya. Dia melihat lurus ke arah pintu, menunggu pria pirang yang semalaman ini mengganggu kepalanya untuk masuk ke dalam.


"Di mana pria itu?" Rosaline menggerutu, melihat ke arah jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang, "ini sudah waktunya makan siang!"


Hari ini Rosaline punya rencana untuk membawa pria itu makan siang bersamanya ke kantin. Dia ingin bergerak lebih dulu. Mungkin mengobrol ringan di sana atau lebih tepatnya membahas soal pengakuannya di bar kala itu.


Nah. Semoga rencananya berhasil. Karena jujur saja, dia tak tahan dengan situasi mereka yang sekarang. James selalu menatapnya. Sepasang mata abu-abu yang dia miliki selalu mengawasinya dengan intens.


Tentu, bohong kalau Rosaline sama sekali tak menyadari tiap kali pria itu terus melirik ke arahnya. Dia menyadarinya dan itu sangat lah risih!


Klap!


Rosaline mendongak, tersenyum senang saat melihat pria pirang yang dia tunggu akhirnya masuk. James memandangnya dengan alis mengkerut, seolah-olah dari ekspresinya dia bertanya ada apa.


"Kau sudah makan siang, James?"


James yang mendengar nama depannya keluar dari mulut Rosaline dengan begitu mudahnya tertegun. Dia terdiam di tempatnya berdiri seperti patung. Memandang Rosaline dengan ketidak percayaan.


"Yah, kalau belum. Lunch with me."


Pria pirang itu melotot.

__ADS_1


"Ini bukan pertanyaan, James, tapi perintah."


__ADS_2