
...CHAPTER 19...
...THE SYNCHRONIZATION AS TWIN...
"Saat seseorang tiba-tiba menghilang apa yang pertama kali kalian pikirkan?"
"Diculik."
"Mati."
"I hate both of you."
Rosaline mendesah frustasi di depan Daniel dan Reagan yang sibuk mengunyah bacon sapi panggang mereka. Kedua pria itu saling bertatapan bingung sebelum mengangkat bahu mereka acuh ke arah Rosaline.
"Ada apa memangnya Rosie?" Tanya Daniel
tersenyum lembut.
Dia meletakkan bacon sapi panggang di mulutnya itu kembali ke piringnya. Tangannya meraih sebotol garam yang ada di sebelah kanannya dan menumpahkannya sedikit ke makanan.
Rosaline memandangnya datar sejenak sebelum kembali memandang ke arah sang kembaran yang terlihat sama sekali tak peduli dengan pertanyaannya. Gadis itu menghela napas panjang, tanpa sadar menguatkan pegangannya di garpu.
Tidak mungkin bukan jika dia bercerita tentang Kaylie dan Clark kepada mereka berdua? Daniel sama sekali tak tahu dengan siapa dia berteman, kalau Reagan— nah dia tak tahu apakah kembarannya itu sebenarnya peduli atau tidak padanya.
Jika dia bercerita kepada Reagan tentang ini, laki-laki itu pasti akan langsung menertawakannya dan menyalahkannya. Mengingat dia sudah pernah memperingatkan Rosaline agar menjauhi Clark dan memutus hubungan pertemanan mereka. Dan Rosaline tidak menurutinya.
Rosaline kembali menghela napas, membuat Daniel memasang ekspresi khawatir ke arahnya. Seharian ini gadis itu sering kali menghela napas panjang.
"Ada apa, Rosie? You looks so exhausted. Kau bisa menceritakannya pada ku atau kau bisa bercerita pada Reggie, kalau kau merasa tak nyaman bercerita pada ku. I'm fine with that."
Rosaline menoleh ke arah Reagan dengan bibir manyun. Entah kenapa saat dia melihat pipi Reagan yang mengembul karena makanan membuatnya kesal. Tanpa basa-basi, Rosaline mendepak kepala Reagan dan membuat laki-laki itu terkejut dan tersedak.
Daniel melongo melihat pemandangan di depannya barusan. Ia cepat-cepat memberikan anak laki-laki itu minum saat dia terbatuk kencang, sementara Reagan sudah siap mengambil ancang-ancang untuk membalas pukulan Rosaline tadi.
__ADS_1
Malam itu. Makan malam di meja makan gaduh oleh pertengkaran konyol si kembar. Daniel. Dia hanya bisa duduk mantap di kursinya, sama sekali tak bergerak sana sini. Dia menonton sekaligus mengawasi kedua saudara kembar itu agar tidak saling membunuh. Bahkan menjauhkan seluruh benda tajam di sekitar mereka berdua.
Beberapa jam setelah makan malam, Rosaline membuka pintu geser balkon dan berjalan keluar. Dia mengistirahatkan kedua tangannya di pagar pembatas dan matanya memandang ke bawah di mana jalanan dipenuhi segelintir pejalan kaki dan lampu-lampu kuning sebagai penerang jalan.
Dia mendongakkan kepalanya mengarah langit malam, menatap bintang-bintang kecil yang bersinar di atas sana. Ini sudah pukul dua belas malam namun gadis itu tak kunjung pergi ke alam mimpi. Setiap kali dia memejamkan matanya, selalu ada sosok Kaylie yang muncul di benaknya.
Dan sekarang dia khawatir. Ingin melaporkan hal ini kepada polisi sebagai kasus orang hilang, entah kenapa terdengar sangat tak lazim dan berlebihan. Tapi kalau dia diam saja dan ternyata pikiran negatif di kepalanya itu benar terjadi bagaimana?
Rosaline mengacak rambutnya frustasi. Dia memanyunkan bibirnya ke depan dan sesekali menggerutu halus di antara terpaan angin malam yang kencang. Sama sekali tak khawatir kalau angin malam itu bisa saja membuatnya sakit.
Tanpa berbalik, Rosaline melirikkan matanya saat suara pintu geser yang ia biarkan terbuka tadi tertutup. Ketika telinganya menangkap suara deru napas dan langkah kaki yang berjalan mengarahnya, barulah ia menoleh.
Di sana Reagan dengan sebatang rokok bertengger di bibirnya dan secangkir coklat panas di tangannya berjalan mengarah Rosaline. Laki-laki itu menghisap rokoknya sejenak lalu menghembuskan asapnya ke udara.
"Aku baru tahu kalau kau merokok," ucap Rosaline.
"Nah, sudah lama sebenarnya, mungkin sekitar sebulan setelah kita masuk kuliah. Aku merokok hanya untuk melepas stress." Dia kembali menyesap rokoknya dan seketika asap putih merebak di udara.
Rosaline memandang datar asap putih tersebut seiring asap itu perlahan menghilang dibawa oleh terpaan angin. "Tunggu sampai Julian tahu kalau kau merokok, dia pasti akan memarahi mu habis-habisan."
"Tidak janji."
Seketika atmosfer keheningan di antara kedua saudara kembar itu beredar. Hanya ada suara halus yang terdengar seiring Reagan menyesap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara.
Walaupun begitu, keheningan yang ada sama sekali tak mengganggu keduanya. Rosaline dan Reagan sudah terbiasa dengan keheningan itu sejak kecil, seolah-olah keheningan tersebut memberikan waktu sejenak bagi mereka untuk menenangkan diri.
"Jadi, apa yang mengganggu pikiran mu kali ini?"
Rosaline terkekeh geli. Dia selalu mendapatkan perasaan deja-vu tiap kali sang kembaran menanyakan hal itu padanya. Bahkan sedari kecil, tanpa Rosaline memberitahunya ada apa, laki-laki itu bisa langsung mengerti kalau ada yang sedang Rosaline sembunyikan darinya.
Jadi inikah yang namanya telepati antar saudara kembar? Menarik.
Tanpa berkata apapun atau meminta izin dari si pemilik coklat panas itu dahulu, Rosaline langsung menyambar cangkir yang ada di tangan Reagan dan meminumnya. Membuat si pemilik hanya mendengus kasar tak suka, tapi tetap membiarkan sang kembaran meminumnya.
__ADS_1
"Berita ini sudah menyebar seperti gosip di seluruh Westminster dan aku berani bertaruh kalau gosip itu sudah sampai ke telinga mu."
Reagan mengambil satu kali esapan di rokoknya lalu menjawab, "pertengkaran the golden money dan seorang rendahan? Let me ask, kenapa gosip itu diberi nama seperti itu?"
Reagan menoleh memperhatikan sang adik yang hanya diam saat dia kembali menghisap rokok di tangannya dan menghembuskan asapnya ke udara. Dia mendongak, melihat bulan purnama tengah bersinar terang di atas mereka.
Reagan menyatukan kedua alisnya sebelum melirik ke arah Rosaline, menyadari pegangan gadis itu yang menguat di cangkir, seakan-akan dia sedang melepaskan semua perasaan dan stress yang sedang dia sembunyikan sekarang.
Jujur saja. Reagan tahu. Ada sesuatu yang menjanggal di dalam hati gadis itu, namun Reagan sama sekali tak tahu harus bertanya dari mana. Saat ini, hanya satu spekulasi yang muncul di dalam pikirannya dan hatinya tidak membiarkannya mengakuinya.
"Jadi apa yang terjadi?"
Setelah lama berdebat dengan pikirannya sendiri akhirnya Reagan bertanya. Dia mematikan rokoknya dan membiarkannya tergeletak di asbak. Ia berbalik, sepenuhnya menghadap ke Rosaline dan menyilangkan tangannya ke depan dada, menatap lekat-lekat sang kembaran seakan menunggunya berbicara.
"Di sana ada Clark, Kaylie, dan Asher. Awalnya hanya Clark dan Asher yang bermasalah, tapi entah dari mana Kaylie muncul dan dia langsung melempar Clark dengan bukunya. Buku itu mengenai tepat di kepala Clark dan hal itulah yang membuat mereka adu mulut sebelum akhirnya bertengkar."
Reagan mengangguk-angguk seakan mengerti, walaupun dia tidak tahu siapa saja ketiga nama yang kembarannya sebutkan itu. "Lalu kenapa si Kaylie melakukan itu?"
"Dia membela Asher."
Reagan mengangkat sebelah alisnya, "kenapa? Oh apa karena dia murid beasiswa? Aku ingat pertanyaan mu waktu itu, tentang the golden money yang ada di fakultas ku. Kau bertanya pada ku apa dia pernah membully mahasiswa beasiswa. Jadi tebakan ku si Asher ini adalah mahasiswa beasiswa?"
Rosaline mengangguk. "Ya. Tebakan mu tepat sekali."
"Lalu siapa yang menjadi pemenang di pertengkaran itu?"
Rosaline memutar bola matanya malas namun tetap menjawab pertanyaan Reagan.
"Wajah Clark saat itu, yeahhh, bisa dibilang babak belur lah kalau kau ingin aku menggambarkannya. Darah mimisan keluar dari hidungnya, bibirnya robek, dan ujung matanya biru. Sedangkan Kaylie dia hanya mimisan. Tidak parah sama sekali seperti Clark. Jadi kau bisa menyimpulkannya sendiri siapa yang menang di pertengkaran itu."
"Jadi apa yang kau pikirkan sekarang?"
"Yeah ini sudah beberapa hari semenjak pertengkaran mereka dan ini sangat mengganggu pikiran ku. Clark. Dia dengan aktivitasnya seperti biasa, dan Kaylie—" Ucapannya terpotong. Rosaline menarik napasnya dalam-dalam sebelum membuangnya dengan berat.
__ADS_1
"—dia tidak pernah terlihat lagi semenjak itu."