
...CHAPTER 11...
...THE GLASSES GIRL...
Brak!
Rosaline terperanjat mendengar suara keras datang dari ujung koridor. Gadis itu yang tengah meletakkan beberapa barang ke dalam lokernya, lantas buru-buru berlari untuk melihat penyebab suara keras yang ia dengar barusan.
Dari balik tembok, Rosaline menyembulkan kepalanya hanya untuk mengintip dari kejauhan. Di sana. Ia melihat Clark berdiri dengan tegak dan dikelilingi kerumunan yang didominasi oleh laki-laki. Dia sedang tersenyum licik dan menatap rendah ke arah perempuan di bawahnya.
"Siapa itu?" Tanya Rosaline.
Ia memicingkan matanya melihat lekat-lekat siapa perempuan di bawah Clark sebelum berlari ke arah sana dan berhenti tepat di antara kerumunan kemudian berjinjit untuk mengintip.
"Jangan halangi jalan ku, dasar orang rendahan tak tahu malu!" Clark berteriak. Matanya memancarkan kilat kebencian lalu dengan brutal menendang sebuah gelas plastik yang tergeletak di lantai.
Perempuan yang diteriaki oleh Clark lantas menundukkan kepalanya, terlihat tak berani menatap balik iris Clark yang menatapnya tajam. "Maafkan aku," ucapnya lirih, "aku sama sekali tidak melihat mu," sambungnya terbata-bata.
Dengan tangan gemetar perempuan itu meraih gelas plastik tersebut, mencoba sekeras mungkin mengabaikan tatapan menusuk dari sang anak anggota the golden money, yang memberinya rasa rinding di sekujur tubuh.
"Maaf? Setelah membuat sepatu ku kotor? Yang benar saja, sialan?!" Clark berseru. Dia mendesis tak suka sembari menunjuk ke arah sepatu putih yang ia kenakan sekarang.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja," ucap perempuan itu dengan suara gemetar.
Clark berdecak lalu mengeluarkan erangan kasar dari mulutnya. "Aku paling benci orang rendahan seperti mu," tekannya.
Dia melepas kacamata yang perempuan itu kenakan lalu dengan kasar melemparkannya ke lantai. Dengan satu injakan, bunyi 'krak' terdengar dan kacamata itu patah seketika.
Kerumunan yang sejak tadi menyaksikan pemandangan tak mengenakkan di depan mereka langsung terdiam. Rosaline bisa mendengar napas mereka yang tersentak setelah Clark menginjak kacamata perempuan itu dan membuat gagangnya patah.
Seketika kebisingan yang tadinya diciptakan oleh kerumunan yang mengelilingi kedua perempuan itu langsung senyap. Shock berat menabrak hati mereka semua, sama seperti Rosaline sekarang.
__ADS_1
"Persetan dengan sepatu ku, sialan! Kau benar-benar kurang ajar. Apa kau lupa siapa aku? Aku ini anggota the golden money!" Cecar Clark.
Clark menunduk lalu mencengkram dagu perempuan di bawahnya dengan kasar. Membuat perempuan itu bertukar pandang dengan kilatan kebencian Clark.
"Haruskah ku ingatkan kau di mana posisi mu itu, huh? Kau hanya murid beasiswa, bodoh. Aku bisa saja membuat dewan pendidikan mencabut beasiswa mu dan kau tidak akan bisa kuliah di sini lagi."
Ancaman Clark membuat tubuh gadis itu menggigil, bukan kedinginan, tapi ketakutan. Pupil matanya bergerak gelisah, menatap horror wajah Clark yang membuatnya terlihat seperti ingin menangis saat itu juga.
"Aku minta maaf," dia terisak. Air matanya mengalir melalui sudut matanya saat Clark menghempaskan wajahnya dengan kasar, membuat tubuh mungilnya terhuyung ke belakang.
"Ku ingatkan lagi kau. Aku seorang the golden money. Derajat ku lebih tinggi dari mu, bahkan dari kalian semua! Kalian harus tunduk pada ku dan jangan pernah melawan. Jika kalian menentang ku, akan ku pastikan hidup kalian seperti di neraka."
Clark melempar tatapan tajam ke perempuan di bawahnya sebelum mengarahkan pandangannya ke seluruh laki-laki yang mengelilinginya sekarang. Dia mendengus kasar, lalu menghentakkan kakinya menjauh.
Dia meninggalkan Rosaline —yang bahkan sama sekali tak ia ketahui kalau gadis itu ada di sana sejak tadi— bersama para kerumunan yang juga perlahan menghilang. Menyisakan Rosaline bersama perempuan yang masih terduduk di lantai itu, meratapi kacamatanya yang patah.
"I'm sorry," Lirih Rosaline. Ia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan perempuan itu dan menyodorkan sapu tangan.
Perempuan itu mendongak. Dia menggelengkan kepalanya sambil menerima sapu tangan yang diberikan Rosaline, lalu berkata, "tidak apa. Salah ku karena menabraknya. Seharusnya aku tidak melamun saat berjalan tadi."
"Kacamata mu patah, mungkin aku bisa membelikan mu yang baru."
Kalimatnya lebih terdengar seperti pernyataan ketimbang pertanyaan. Rosaline. Dia menatap lama perempuan itu hanya untuk mendapatkan gelengan penolakan darinya sebelum menghela napas panjang.
"Kau yakin? Aku tidak masalah membelikan mu yang baru," tambah Rosaline.
Dia merasa tak enak hati dengan apa yang terjadi para perempuan itu barusan. Padahal Clark lah yang merusak kacamatanya, tapi malah Rosaline yang merasa bersalah.
Perempuan itu kembali menggeleng, kini terdapat senyum simpul yang ia sematkan di wajahnya. "Tidak apa. Aku beruntung hanya gagangnya saja yang patah. Aku bisa memperbaikinya dengan lem atau lakban nanti. Terima kasih, Rosaline."
Rosaline melongo. "Bagaimana kau tahu nama ku?"
__ADS_1
Perempuan itu terkekeh lembut. "Kau berteman dengan nona keluarga Jenkins. Bagaimana bisa aku tidak tahu nama mu. Kau terkenal di seluruh universitas Westminster."
Rosaline terkikik. "Hahaha, aku tidak tahu harus merasa tersanjung atau tidak," tawanya miris.
Perempuan itu mengerut heran. "Kenapa? Seharusnya kau senang karena bisa berteman dengannya. Dia dari keluarga terhormat."
Dan Rosaline memilih tak menjawab perkataannya.
Karena jujur saja, alih-alih merasa senang atau bangga karena bisa berteman dengan Clark. Rosaline malah merasa tak nyaman dengan hubungan pertemanan mereka. Dan dia sendiri tak tahu apa alasannya.
"Nah, who care about it, aku bahkan tidak tahu kenapa."
...•—— ✿ ——•...
Setelah membaca pesan Reagan yang menyuruhnya untuk pulang duluan Rosaline pun menurut. Jadi di sinilah ia sekarang. Duduk di bawah halte bis sambil mendongakkan kepalanya menatap langit mendung berwarna kelabu di atasnya.
Gadis itu mengalihkan perhatiannya ke arah papan rute bis di London dan membacanya sejenak sebelum menoleh ke arah belokan jalan, di mana telinganya menangkap suara mesin mobil yang semakin mendekat.
Tak lama, bis merah tujuannya datang. Rosaline bangkit dari tempatnya duduk dan melangkahkan kakinya masuk bersamaan dengan angin kencang yang tiba-tiba menerpa wajahnya.
Dia mengerang lelah saat mendapati isi bis yang penuh, yang mana sudah tak ada kursi yang tersisa untuknya duduk. Akhirnya dengan helaan pasrah, Rosaline meraih handle grip dan memilih untuk berdiri.
Ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan trotoar yang dipenuhi pejalan kaki. Tanpa sadar pegangannya di handle grip menguat saat matanya tak sengaja melihat toko kacamata. Seketika kepalanya menunjukkan ingatannya kembali tentang perempuan berkacamata itu.
"Aku tahu dia sudah menolak tawaran ku, tapi aku ini keras kepala. Sebaiknya aku mampir ke toko kacamata itu nanti dan membelikannya kacamata baru," katanya dan tersenyum bangga, seakan-akan pemikirannya barusan adalah ide yang cemerlang.
Entah sudah berapa lama dia berdebat dengan pikirannya sendiri. Berpikir haruskah dia melaporkan perbuatan Clark pada dewan kampus dan para profesor? Atau mungkin dia bisa minta bantuan profesor Watson untuk mengatasinya?
Tapi bagaimana kalau mereka mengabaikannya?Mengingat Clark adalah anak anggota dari the golden money. Kemungkinan terburuk adalah, aduan Rosaline akan diabaikan oleh mereka semua.
"Persetan dengan itu. At least I'm trying to help!"
__ADS_1
Rosaline tersentak saat penumpang wanita di depannya tiba-tiba berdiri dan menekan bel, memberi tahu supir bis bahwa tujuannya sudah sampai. Wanita itu menatapnya datar seiring dagunya menunjuk ke arah tempatnya duduk tadi, seolah-olah menyuruh Rosaline untuk duduk di sana.
Rosaline memperhatikan punggung wanita itu yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya lalu menghilang tepat setelah bis bergerak kembali.