
...CHAPTER 40...
...PROBLEM...
"Ya tuhan, ini sangat dingin!"
Rosaline menolehkan kepalanya saat dia dan James turun dari kereta, melihat lurus ke arah salah satu penumpang yang berteriak kedinginan.
"Yah, aku tidak akan menyangkalnya. Ini sudah pertengahan Februari, yang artinya puncak musim dingin."
Rosaline melilitkan syal di lehernya dan mengencangkan jaketnya saat mereka berjalan keluar dari stasiun. Dan James. Pria pirang itu berkeliaran, mencari taksi untuk mereka pergi ke tempat pembangunan.
"Ke jalan xx, Pak," kata James dan sopir taksi itu mengangguk.
Begitu mereka masuk ke dalam, taksi mulai bergerak, membawa mereka berdua menuju tempat pembangunan. Rosaline duduk di sebelah James, mengalihkan pandangannya ke luar hanya untuk melihat jalanan dan trotoar melalui jendela.
Hanya butuh satu jam bagi mereka untuk tiba. Rosaline segera masuk, bertemu dengan pekerja lain sementara James membayar taksi.
Ketika mereka berkumpul kembali, James menepuk bahu Rosaline yang sedang berbicara dengan seorang pekerja, memiringkan kepalanya seolah menyuruh gadis itu untuk mengikutinya.
"Kita perlu berbicara dengan Mr. Allen dulu, setelah itu baru para pekerjanya. Dia yang memberi ku email hari itu, jadi ayo. Jangan buang waktu kita untuk ini, lebih baik langsung ke intinya dan kemudian kita bisa pulang. Aku tidak ingin terjebak bersama mu di sini di tengah salju."
Rosaline mendengus tapi tetap mengikutinya. Begitu mereka memasuki sebuah bangunan kecil di dekat tempat pembangunan, mereka langsung disambut oleh seorang lelaki tua, yang disangka Rosaline sebagai Mr. Allen.
"Selamat pagi, Mr. Allen. Apa kabar mu?" Sapa James, menjabat tangan pria itu.
"Saya baik-baik saja, Mr. Adler. Saya harap Anda juga baik-baik saja."
Laki-laki tua itu menolehkan kepalanya, menatap lembut ke arah gadis berambut cokelat yang bersembunyi di belakang James. Lalu kemudian tersenyum.
"Halo Ms. Rosaline. Sudah lama semenjak pertemuan kita di Matilda's." Mr. Allen mengulurkan tangannya, mengajak gadis itu untuk berjabat tangan.
__ADS_1
Rosaline mengangguk. "Mr. Allen, lama tidak bertemu," jawabnya, menjabat tangan pria itu dengan senyuman ramah yang mengambang di wajahnya.
Mr. Allen menyuruh mereka duduk dan menawarkan secangkir teh untuk diminum. Setidaknya secangkir teh yang ia tawarkan bisa menghangatkan tubuh mereka dari hawa dingin yang melanda, meskipun hanya sedikit.
Mr. Allen duduk di depan Rosaline dan James, mengeluarkan beberapa dokumen dari bawah meja dan meletakkannya di depan mereka. Pria tua itu menyilangkan kakinya, bersandar di sofa dan kemudian berbicara.
“Kontraktor kami sudah memilih supplier yang akan mensuplai bahan-bahan untuk pembangunan. Jangan khawatir supplier yang kami pilih dapat dipercaya, kualitas bangunan mereka sudah menjadi langganan kami dalam pembangunan."
"Lalu apa masalahnya?" tanya James.
Mr. Allen berdiri tegap dan mengangguk.
"Masalahnya adalah estimasi pengirimannya. Supplier yang kami pilih ada di luar negeri. Mengingat Inggris sedang di puncak musim dingin dan kemungkinan besar pengiriman akan ditunda."
James mengangguk setuju. "Tapi Mr. Allen. Saya cukup yakin bahwa saya dan rekan saya, Ms. Rosaline, sudah pernah mengatakan ini. Untuk berjaga-jaga jika musim dingin menjadi lebih buruk, kita bisa menunda pembangunan dan melanjutkannya setelah musim dingin berakhir.
"Saya yakin, anda sendiri tidak ingin membahayakan para pekerja. Saya mengerti dengan cuaca buruk yang tiba-tiba datang, apalagi di puncak musim dingin seperti ini.
James menoleh ke arah Rosaline, memberi gadis itu senyuman seolah menyuruhnya untuk menimpali perkataannya barusan.
"Tapi proyek kalian? Bukankah kalian berdua punya target untuk menyelesaikannya?" tanya Mr. Allen.
Keduanya mengangguk.
"Ya, Mr. Allen. Kami punya target. Tapi kami cukup pintar untuk memikirkan risiko apa pun yang mungkin saja terjadi di tengah musim dingin ini dan saya tidak ingin membahayakan nyawa siapapun hanya demi mencapai target kami.
"So that's okay, asalkan aman dan target kami tercapai walaupun tidak tepat waktu. Profesor kami pasti akan mengerti kalau kami menjelaskan alasannya secara valid. Mereka pasti akan memaafkan kami dan memberikan kami keringanan.
"Lagi pula saya yakin. Semua perusahaan yang bekerja sama dengan Westminster untuk proyek ini juga mengalami kesulitan karena musim dingin ini. So why not? Tidak apa perlahan yang penting hasilnya memuaskan dan bangunan yang kami buat bisa berdiri kokoh."
Penjelasan panjang lebar dari Rosaline barusan membuat James tidak bisa menahan senyumnya. Dia langsung berbalik, menghadap ke arah lain sehingga Mr. Allen atau Rosaline tidak bisa melihat senyumnya. Senyuman kecilnya yang menunjukkan rasa bangga.
__ADS_1
Yah walaupun James sendiri bahkan tidak mengerti apa yang dia banggakan dari Rosaline.
Padahal gadis itu hanya berbicara panjang lebar, memberikan penjelasan dan pengertian kepada klien mereka. Dan itu aneh pikirnya. Karena tidak ada yang harus dia banggakan dari gadis itu.
"Well. Karena kami berdua sudah pergi sejauh ini dari London ke Edinburgh, ku rasa itu bukan masalah utamanya, ya, kan Mr. Allen? Menilai dari ekspresi mu, sepertinya ada sesuatu yang masih mengganggu pikiran mu."
Mr. Allen tak menjawabnya. Dia membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi, dan dengan cepat berbalik sambil berdiri, berjalan ke arah pintu meninggalkan Rosaline dan James sendirian di sana.
Keduanya saling berpandangan, mendongakkan kepala bersama-sama dalam kebingungan.
"Apa yang terjadi padanya?" Rosaline berbisik dan James hanya mengangkat bahu. Sungguh dia bahkan tidak tahu ada apa dengan pria tua itu.
Dalam lima menit, James dan Rosaline melirik ke pintu yang tadi dimasuki Mr. Allen. Mereka berdua mengangkat alis saat mendengar langkah seseorang berjalan mendekat. Tiba-tiba, dari balik pintu, Mr. Allen muncul, memegang nampan berisi tiga cangkir teh di atasnya.
"Maaf menunggu lama," ucapnya sopan sambil meletakkan cangkir di depan Rosaline dan James yang kini saling berpandangan.
"Oh, terima kasih, Mr. Allen," kata Rosaline, memecah kesunyian yang tiba-tiba melanda ruangan begitu Mr. Allen muncul.
Pria yang lebih tua duduk lagi setelah menawarkan teh dan memastikan mereka berdua untuk minum terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan mereka tentang kontruksi.
"Jadi masalah utamanya adalah kami kekurangan pekerja yang berkompeten—maksud saya yang berpengalaman. Rata-rata para pekerja yang kami pekerjakan sekarang adalah para fresh graduate— bukan saya sama sekali tidak meremehkan potensi mereka tapi—"
"Saya mengerti," James memotong. "Potensial besar karena kepiawaian para pekerja. Tapi Mr. Allen, masih ada beberapa pekerja lama yang bekerja bersama anda yang artinya anda masih memiliki yang berpengalaman.
"Saya tidak akan menyalahkan kekhawatiran anda untuk melepas tanggung jawab pada para fresh graduate yang artinya masih belum memiliki banyak pengalaman. Tapi para pekerja lama bisa membimbing mereka.
"Mereka bisa membantu para fresh graduate yang tidak berpengalaman bisa bekerja secara terampil dan teratur. Tidak ada salahnya membiarkan. Mengingat minat anak muda sekarang agaknya mulai berkurang dengan industri kontruksi."
Jujur. Setiap kali Rosaline melihat James dalam mode 'profesional' nya untuk bekerja, dia hanya bisa menatap lama ke pria pirang itu. Oh tuhan. Tolong kirim dia seseorang untuk membuatnya sadar bahwa James adalah pacar Clark. Bukan miliknya.
Meskipun dia sudah mengetahui fakta itu, Rosaline tidak bisa memalingkan pandangan darinya. Seolah lelaki itu adalah bintang yang tidak bisa ditahan Rosaline untuk tidak diperhatikan karena betapa menariknya ia.
__ADS_1