Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 18


__ADS_3

...CHAPTER 18...


...THE LOSS OF KAYLIE...


Cara terbaik untuk mengalihkan dirinya dari rentetan siksaan emosional yang dia rasakan sepanjang minggu ini adalah dengan menyelami kembali buku ceritanya.


Ini sudah beberapa Minggu terlewati semenjak pertengkaran Clark dan Kaylie di koridor terjadi. Dan Rosaline merasa kepalanya ingin pecah saat itu juga.


Pertengkaran kedua perempuan itu telah menjadi topik hangat yang kerap kali dibicarakan oleh mahasiswa di seluruh Westminster. Setiap kali kakinya melangkah pergi kemana pun, selalu ada nama Clark dan Kaylie yang terdengar di telinganya.


Kini Rosaline mendudukkan dirinya di bawah naungan pohon. Mencoba sekeras mungkin merasa nyaman walaupun selalu terdengar ******* frustasi yang keluar dari mulutnya seiring rambutnya yang tergerai asal berantakan karena angin.


Rosaline mendongakkan kepalanya ke atas, memandang awan kelabu yang menutupi langit dan menghalangi matahari di atasnya untuk bersinar. Ia memejamkan mata sejenak menikmati terpaan angin kencang yang menderu, membuat atmosfer di sekitarnya menjadi dingin dan sejuk.


Gadis itu menyatukan kedua alis kecoklatan-nya bertepatan dengan gerakan mulut yang mengeluarkan suara gerutuan halus, bertanya-tanya mau sampai kapan dia merasakan siksaan penderitaan itu.


Jujur saja. Menghadapi Clark akhir-akhir ini benar-benar menyebalkan.


Gadis itu mendengus kesal saat sehelai rambut jatuh di depan wajahnya dan tak sengaja menghalangi pandangannya, lantas dia pun menyelipkannya ke telinga. Ia mencoba keras untuk kembali fokus dengan buku bacaan di tangannya, namun nihil. Pikirannya terus terganggu.


Setelah lama bertengkar dengan angannya sendiri, Rosaline, menutup buku di tangannya dengan kuat hingga bunyi 'pop' terdengar keras. Dia mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan meletakkan benda elektronik itu di pangkuannya.


Dengan sekali tekanan di tombol power yang dia berikan, laptop itu menyala, langsung menunjukkan wallpaper vintage dan bunga-bunga coklat kering kesukaan Rosaline.


Iris emerald gadis itu bergerak sana sini, mencari simbol bulat merah internet lalu menekannya. "How to deal with a bully," Eja Rosaline.


Ia meletakkan jemarinya tepat di atas keyboard laptop. Menekan tiap balok hitam di sana dan mengetik persis seperti judul buku yang pernah dibaca oleh perempuan bernama Kaylie di perpustakaan waktu lalu.


Ia menggesekkan jari telunjuknya pelan di atas touchpad setelah menekan tombol enter, menggulir kursor ke arah bawah seiring matanya terpaku di layar laptop. Membaca setiap judul artikel yang dia cari lalu menekan salah satu dari mereka.


Gadis itu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas touchpad, bibirnya mengatup, dan kerutan halus muncul di pelipisnya. Sekarang ia tengah berpikir keras. Sejauh mata memandang cara yang diberikan internet selalu sama dan Rosaline bingung. Dia tak tahu harus memulai dari mana.


Rosaline lebih suka melakukan sesuatu secara rahasia sehingga tidak akan ada yang memperhatikan perubahan dan gerakannya. Namun sayang, dengan metode di Internet hanya ada satu cara yang bisa ditiru oleh Rosaline dan itu perlahan-lahan menjauhi si pembully.

__ADS_1


Tapi Rosaline tahu. Jika dia melakukannya, pasti Clark akan langsung mengetahui niatannya dan posisinya tidak akan aman. Lebih baik dia mengumpulkan semua bukti kelakuan buruk Clark terhadap Asher dan melaporkannya ke dewan kampus.


Terserah mereka mau menindaklanjuti laporannya atau tidak. Setidaknya dia sudah mencoba.


Rosaline terlonjak saat suara keras melengking masuk ke dalam telinganya. Oh tuhan, batin Rosaline menjerit. Siapapun tolong katakan padanya bahwa suara itu bukan berasal dari koridor dan tolong! Beritahu dia bukan Clark lah yang menjadi penyebab suara keras itu barusan.


Rosaline menutup laptopnya dan mendongak. Di sana. Dia mendapati Asher dengan beberapa buku tebal menimpa tubuh mungilnya. Perempuan itu meringis, sembari tangannya meraba tanah mencari kacamatanya yang terlempar.


"Kau baik-baik saja?"


Rosaline berlari mendekati Asher setelah meletakkan laptopnya ke sisi lain. Dia berjongkok, mengambil kacamata Asher dan memberikannya pada perempuan itu.


"Rosaline, ya?" Tanyanya.


Rosaline mengulurkan tangannya membantu perempuan itu berdiri. Selagi Asher membersihkan pakaiannya yang kotor karena tanah, Rosaline berjongkok, memunguti buku-buku tebal di tanah itu.


"Apa yang mau kau lakukan dengan buku-buku ini?" Tanya Rosaline penasaran.


Rosaline melongo, rahangnya menganga, dan pupil matanya melebar. Dia memperhatikan buku-buku tebal di tangannya itu, bertanya-tanya berapa halaman kertas yang melekat di sana sehingga membuatnya bisa setebal itu.


"Kau membaca buku-buku ini?" Kagetnya, "ketimbang buku pelajaran jujur saja ini lebih pantas disebut kitab," komen Rosaline dan dibalas tawa kecil oleh Asher.


Memutuskan untuk membantu gadis berkacamata itu, Rosaline segera mengambil alih beberapa buku dari tangan Asher setelah membereskan barang-barangnya. Ia mengajak Asher untuk mengambil jalan memutar, menghindari koridor supaya tak bertemu dengan Clark.


"Akhir-akhir ini aku sering melihat mu sendirian. Kenapa kau tidak bersama dengan Clark?" Tanya Asher. Ia sedikit mengecilkan volume suaranya ketika menyebut nama Clark, namun Rosaline masih bisa mendengarnya.


"Dia sering kencan bersama Jam— maksud ku Adler. Sebagai teman yang baik hati dan pengertian, aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara mereka. Jadi, ya— seperti inilah aku sekarang. Sendirian."


Saat mereka masuk ke perpustakaan. Buku-buku yang ada di tangan mereka berdua langsung disusun kembali ke rak-nya masing-masing. Rosaline. Ia menoleh ke arah jendela besar di sebelahnya. Dia memicingkan mata, melihat seorang gadis berambut merah dan pria pirang tengah mengobrol dan terlihatnya sangat serius.


Mungkin mereka bertengkar? Rosaline terbelalak. Pelipisnya langsung berkeringat dingin. Jangan-jangan Adler sudah ketahuan selingkuh, pikirnya. Dan sekarang, apa mereka akan putus?


Rosaline tanpa sadar mendekatkan dirinya ke jendela itu meskipun dia sendiri tahu dia tidak akan mendengar apa-apa dari sana. Matanya memperhatikan wajah aristokrat Adler yang mengerut tak suka.

__ADS_1


Ada apa? Pikir Rosaline.


Ia mengalihkan perhatiannya saat sebuah suara halus memanggil namanya dengan lembut. Ia menoleh, melihat Asher berlari ke arahnya dengan tangan yang menenteng beberapa buku dan tentu saja, buku yang berbeda dari yang mereka bawa tadi.


Asher berhenti tepat di sebelahnya. Mereka sepandangan, sebelum Rosaline mematahkan pandangan mereka dan berbalik hanya untuk melihat kedua pasangan itu tadi. Namun yang ia temukan bukan Clark dan Adler. Keduanya sudah menghilang dari tempat mereka berdiri tadi.


"Apa yang kau lihat?" Asher bertanya. Matanya polos memandang Rosaline.


"Bukan apa-apa," Bohongnya dan tersenyum.


Ia melirik ke arah buku di tangan Asher lalu menghembuskan napas panjang. Sumpah. Rosaline tak habis pikir.


Seberapa kutu bukunya Asher itu?


Rosaline berani bertaruh. Dia yakin kalau Asher pasti bisa menghabiskan buku-buku itu dalam beberapa hari. Tidak seperti dirinya yang mungkin memakan waktu beberapa bulan atau mungkin tahun untuk menghabiskannya.


"Oh ya, Rosaline," Panggil Asher.


Rosaline memiringkan kepalanya seakan bertanya ada apa dari gestur kepalanya barusan.


"Apa kau tahu di mana Kaylie?"


Rosaline merasa darah di kepalanya mengalir drastis.


"Tidak," Jawab Rosaline, "ada beberapa kelas ku yang sama dengannya. Namun dia selalu absen. Contohnya saja hari ini, dia tidak masuk," jelas Rosaline.


Rosaline memandangi Asher yang kini memainkan jemari tangannya dan mata gadis itu melihat ke arah lain. Gerakan iris matanya gelisah, seolah-olah dia sedang ragu sekarang.


"Ada apa?" Tanya Rosaline, mencoba keras agar suaranya tak menunjukkan intonasi gemetar.


"Setelah pertengkarannya bersama Clark di koridor waktu itu. Kaylie tidak pernah terlihat lagi. Aku tidak pernah melihatnya di mana-mana."


Seketika kaki Rosaline lemas. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Dia merasa tubuhnya kaku dan perasaan khawatir spontan menyelimutinya. Segera pikiran negatif langsung mengerubunginya.

__ADS_1


__ADS_2