Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 15


__ADS_3

...CHAPTER 15...


...WHO IS SHE?...


Rosaline menyipitkan mata mencoba menghalau sinar matahari yang masuk ke dalam matanya saat dia mendongak ke atas. Sekilas dari pandangannya yang sempit itu, Rosaline bisa melihat sosok laki-laki pirang berdiri di depannya.


"James?" Rosaline berkata lirih menduga nama dari lelaki pirang di depannya itu.


Ada suara dengusan napas yang terdengar dari pria itu sebelum dia berkata, "di mana Clark?" Dia bertanya sedikit menggeserkan tubuhnya agar Rosaline melihat ke arah lain dan tak lagi diterpa oleh cahaya matahari yang menyilaukan matanya.


Rosaline menurunkan kepalanya, lega akhirnya menjauh dari sinar matahari. Ia memeriksa layar ponselnya yang menunjukkan waktu masih pukul 11 siang dan kembali menaruh perhatian ke pria pirang yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Seharusnya kelasnya sudah selesai sekarang. Kali ini aku dan Clark mengambil mata kuliah yang berbeda, makanya aku ada di sini," ucapnya panjang sekedar sedikit berbasa-basi.


Senyum yang Rosaline pampangkan di wajahnya langsung meluntur tepat ketika lagi-lagi terdengar suara dengusan napas dari pria itu. Seketika dia malu sendiri. Benar juga. Siapa pula yang bertanya kenapa dia ada di sana dan bukan bersama Clark.


Rosaline bodoh.


Dia melirik takut-takut ke arah James yang masih tetap diam berdiri di tempatnya dan mengalihkan pandangannya ketika mendapati pria itu tengah menatapnya juga.


Berbeda dengan kekasihnya yang selalu menatapnya rendah dan penuh siasat penyelidikan. Mata laki-laki pirang itu malah datar. Wajahnya sama sekali tak memasang ekspresi apa-apa. Datar seperti papan.


"I warned you, jangan pernah panggil aku dengan nama depan ku. Aku tak sudi nama depan ku dipanggil oleh orang yang lebih rendah derajatnya dari ku."


Rosaline mengulum bibir bawahnya. Ya. Ya. Ya. Sekali the golden money tetap the golden money. Entah hanya perasaannya saja, Rosaline selalu mendengar kata 'rendah' yang selalu keluar dari mulut kedua the golden money itu.


Apa tidak ada kata lain yang lebih baik yang bisa mereka lontarkan?


Sepertinya Rosaline harus memberi mereka berdua kamus kosakata Inggris agar pengetahuan kosakata mereka menjadi lebih baik lagi.


"Kalau begitu aku harus memanggil mu apa?" Tanya Rosaline, nada suaranya agak sedikit menantang walaupun gadis itu masih menolak menatap pria di sebelahnya.


"Nama keluarga ku. Adler. Jangan James. Hanya segelintir orang terhormat yang bisa memanggil ku dengan nama depan ku."


Jadi Clark adalah orang terhormat sehingga dia boleh memanggil pria itu dengan nama depannya?


Rosaline tanpa sadar memasang senyum miris di wajahnya. Dia langsung merasa bodoh saat kepalanya sekilas mengingatkannya kembali tentang kesan pertamanya tentang the golden money.

__ADS_1


Sekali the golden money akan tetap the golden money. Sepertinya kesombongan mereka sudah menjadi darah daging sejak pertama kali leluhur mereka menjalin hubungan perdagangan dan membuat kedudukan di pemerintahan.


Miris sekali, batin Rosaline.


"Kalau begitu Adler," panggilnya lagi.


Pria itu mengangguk kaku. "Smith," ucapnya dan entah kenapa bagi Rosaline, ia merasa lucu dengan bagaimana cara pria itu memanggil nama keluarganya, yang bahkan bukan nama keluarga aslinya.


Sejenak keheningan melanda. Kedua insan yang berada di bawah naungan pohon rindang itu serentak memusatkan perhatian mereka masing-masing saat suara derap langkah kaki berlarian menuju koridor.


Rosaline. Menyipitkan matanya. Rasa tak enak langsung membludak dalam hati sesaat bunyi dobrakan keras terdengar dari arah sana. Kepalanya langsung bertanya-tanya kejadian apa lagi yang terjadi di koridor.


Entah bagaimana caranya dan kapan, koridor fakultas arsitektur dan pembangunan di universitas Westminster itu selalu menjadi saksi bisu banyaknya kejadian.


Dan biasanya selalu melibatkan Clark. Si anak anggota the golden money yang paling disegani di seluruh Inggris.


Tanpa pikir panjang, Rosaline menggerakkan kakinya berlari menuju koridor, meninggalkan sosok James alias Adler yang masih berdiri diam di sana.


Dengan pikiran yang kalang kabut dan napasnya yang tersengal karena habis berlari, Rosaline mencuatkan kepalanya keluar mengintip dari balik tembok.


Di sana. Clark. Lagi. Tengah bersama seorang perempuan berkacamata yang terduduk di lantai.


Ya tuhan. Apa lagi yang dia lakukan? Batin Rosaline menjerit.


Saat kakinya mengambil ancang-ancang untuk berlari mendekat, Rosaline tercekat dan seketika terdorong mundur tatkala sebuah tarikan menariknya ke belakang. Ia menoleh, menemukan James tengah menarik kepala hoodie yang ia kenakan.


Dengan satu alis yang terangkat, ekspresi wajah Rosaline seolah berkata, 'apa-apaan?' Dia meronta-ronta membuat James melepaskan pegangannya di hoodie gadis itu.


"Tidak perlu menolongnya dengan sikap sok pahlawan mu itu. Kalau kau takut tidak perlu melawan. Just accept your fate that you were weak."


"Tapi..."


Brak!!


Kepala Rosaline menoleh dengan cepat setelah suara keras kembali terdengar di telinganya. Dia berani bersumpah ada suara retak yang ia dengar ketika kepalanya bergerak, seakan-akan ada tulang yang bergeser di dalam sana.


Ia membulatkan matanya lebar-lebar, menyaksikan Clark yang menghempaskan tubuh mungil Asher hingga gadis itu bertabrakan dengan dinding koridor di belakangnya.

__ADS_1


Clark. Tangannya langsung menjambak rambut Asher kasar dan Asher hanya bisa meronta kesakitan.


Tatapannya merendahkan, sudut bibirnya terangkat dan aura kebencian menguar dari tubuhnya. Menunjukkan sisi dominan nan kekuasaan yang membuat tubuh Asher bergetar ketakutan.


"Know your place, fool. Hanya karena desain mu dipuji oleh profesor, bukan berarti kau setara dengan ku!" Clark memekik.


Dia menarik kepala Asher dan mempertemukan kedua bola mata gadis itu —yang terlindungi oleh lensa kacamata— dengan manik penuh kemarahan miliknya.


"Sakit! Ku mohon lepaskan!" Rintihnya.


Asher tanpa sadar membiarkan setitik air bening turun dari ujung matanya sebelum air itu turun deras dan membasahi pipinya.


Clark. Bukannya berhenti setelah mendengar nada memelas dari gadis itu, dia malah semakin menguatkan cengkraman tangannya di rambutnya, seiring tawa mengejek merebak tepat suara rintihan halus lolos dari mulut gadis itu.


"Aku mohon, lepaskan rambut ku," Mohonnya lagi.


Rosaline yang sejak tadi berdiri di dekat mereka. Merasa hatinya diremat keras seperti kain jemuran. Kakinya tak tahan lagi untuk berlari mendekat dan menolong Asher dari cengkraman Clark.


Namun dia tersadar. Teringat perkataan James beberapa menit lalu. Laki-laki itu benar. Dia tak akan bisa melakukan apa-apa selain berdiri diam, bergabung seperti yang lain dan menyaksikan Clark merundung perempuan itu.


She has no power to fight.


Tak ada keberanian yang menyelimutinya untuk melawan.


Tak tahu kenapa dia takut.


"Listen here you little ****! Aku seorang the golden money dan kau orang rendahan yang ingin sekali ku binasakan dari dunia ini. Kau hanya bakteri ya—"


THUD!


Sebuah buku melayang tepat ke kepala Clark membuat perkataannya terpotong. Semua orang yang ada di koridor itu membelalak lebar, bahkan Clark sendiri.


Buku tebal yang baru saja melayang ke kepala sang the golden money itu menciptakan suara gaduh yang besar ketika buku itu mendarat ke permukaan lantai, membuat sekeliling koridor menjadi senyap seketika.


Clark. Yang masih shock perlahan berbalik sembari melepaskan cengkeramannya dari rambut Asher. Dia meringis, memegangi kepalanya yang berdenyut sakit seiring matanya menangkap sesosok perempuan berjalan mengarahnya dengan wajah sinis.


"Apa-apaan sialan?!" Serunya.

__ADS_1


Perempuan itu diam. Dia berhenti tepat di depan Clark dan berkacak pinggang. Matanya memindai sekeliling koridor, memberi tatapan sinis ke setiap orang yang mengelilingi mereka.


"Aku tidak peduli kau the golden money atau apa. Kalau menurut ku perbuatan mu salah, ya salah. Aku tidak akan segan menghentikan mu, tidak seperti semua orang yang tak berguna di sini."


__ADS_2