
...CHAPTER 39...
...SECRET...
"Dimana dia?" Rosaline mengomel, menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok James.
Dia mengeluarkan ponselnya dari sakunya, memeriksa waktu terlebih dahulu sebelum menyelipkannya ke sakunya. Dia melihat sekeliling, tersenyum ketika dia menemukan kursi kosong.
Sambil menunggu James, Rosaline duduk dengan tenang, bermain dengan ponselnya sebelum mengangkat kepalanya dengan cepat ketika mendengar suara kereta api yang berhenti di ujung peron.
Sekali lagi, dia menoleh, mencari sosok James. Takut kalau kereta yang berhenti tadi adalah adalah kereta yang akan menuju Edinburgh. Tidak lucu kalau mereka ketinggalan kereta.
Tidak menemukan sosok pria tersebut, lantas Rosaline memutuskan untuk menelponnya, hanya untuk menanyakan keberadaannya.
Menempelkan telepon ke telinganya, Rosaline dapat mendengar suara 'tut tut tut' sebelum diakhiri dengan 'Nomor ini tidak dapat dihubungi'.
Dia menghela napas, menggerutu sembari memasukkan ponselnya kembali ke kantong.
"Lihat saja kalau dia terlambat, aku akan mengolok-oloknya sampai mati," gumamnya, menyilangkan kakinya sambil mulutnya mengumpat dalam diam.
Setelah sekian lama mengumpat dalam hati, akhirnya pria pirang yang dia tunggu datang juga. Hanya butuh waktu sepuluh menit setelah Rosaline menelponnya. Dengan dengusan, Rosaline berdiri, berjalan mendekati pria itu dengan wajah sebal.
"Oh, aku pikir kau akan terlambat wahai tuan tepat waktu," ejek Rosaline, mengangkat sudut bibirnya untuk mencibir pria pirang itu.
James memutar matanya. "Tskk, aku berani bertaruh dengan mu, siapa salah satu dari kita yang datang ke sini duluan dan aku yakin, itu adalah aku."
Rosaline mendengus. "Sangat percaya diri," jawabnya.
Setelah lama berdiam, Rosaline memperhatikan pria itu saat ia berkutat dengan ponselnya. Dia tampak kesal, lalu mengalihkan pandangannya, sepertinya mencari sesuatu.
"Sial, aku lupa mengisi daya ponsel ku, dan sekarang baterai ponsel ku lemah. Apa kau menelepon ku tadi?" Dia bertanya dan Rosaline mengangguk.
"Sial. Karena ponsel ku mati aku harus ke loket lagi untuk memastikan tiket yang ku pesan secara online kemarin sudah diverifikasi. Come on. Aku tidak mau memesan tiket kereta lain karena kita terlambat."
__ADS_1
Dia memimpin jalan sementara Rosaline mengikutinya dari belakang seperti anak ayam penurut.
"Come on, Smith. Gerakkan kaki kecil mu itu. Aku tidak mau beli tiket lagi kalau kita ketinggalan kereta."
Rosaline mengerang, bergumam sambil bergegas mengejarnya, kesusahan untuk mengimbangi langkahnya yang panjang.
Mengingat tubuh James yang tumbuh beberapa inci lebih tinggi darinya, dan kakinya tentu saja lebih panjang darinya. Sampai-sampai membuat Rosaline harus berlari kecil untuk mengimbanginya.
Mereka berhenti di depan loket. Rosaline berdiri di samping James, berdiri di antara barisan penumpang kereta lainnya. Saat tiba giliran mereka, Rosaline bisa mendengar helaan napas lega yang keluar dari pria pirang itu setelah penjaga loket mengatakan tiket yang ia pesan sudah diverifikasi.
"lalu? Langsung ke peron?" Rosaline bertanya, berjinjit untuk melihat tiket yang sudah di cetak di tangan James.
"Ya. Kita harus bertemu dengan petugas boarding dulu untuk mengecek identitas, lalu langsung ke peron dan baru keretanya."
Kali ini, James berjalan dengan tenang bersama Rosaline di sampingnya. Keduanya memberikan tiket mereka kepada petugas boarding, setelah itu James memimpin jalan menuju peron.
Mereka duduk terlebih dahulu, menunggu, sebelum kereta ke Edinburgh tiba. Pramugari dan pramugara stasiun segera menyambut setiap pengunjung, membawa mereka semua ke kereta.
"Duduk," perintah James dan Rosaline duduk, di samping jendela.
Tidak lama setelah itu, kereta akhirnya bergerak. Rosaline mengistirahatkan tangannya di kursi, menyandarkan kepalanya ke jendela sementara James menyibukkan dirinya dengan membaca beberapa buku.
"Apa kau punya masker?"
Rosaline menoleh, hanya untuk mendapati James menatap risih ke gadis di depan mereka dan juga beberapa orang di sekitar mereka yang terus melayangkan tatapan ke arahnya.
"Untuk apa? Menyembunyikan mu dari penggemar mu?" Rosaline bercanda, tapi tetap memberinya masker, untungnya dia membawa beberapa.
"Diam. Kau tidak tahu betapa menjengkelkannya tatapan mereka," jawabnya sambil memasang masker tersebut di wajahnya.
"Kenapa? Bukankah kalian—ah maksud ku kalian para the golden money menyukai perhatian? Sama seperti Clark?" Rosaline mengerutkan kening saat menyebut Clark. Agak merasa kesal hanya dengan menyebut namanya saja.
James hanya mengangkat bahu. "Akan menjadi masalah besar jika seseorang mengambil foto ku dan kemudian mempostingnya di media sosial, terutama saat aku bersama mu. Clark dan ayah ku akan marah pada ku dan itu akan sangat merepotkan."
__ADS_1
"Jadi, kau merahasiakan tentang ini dari Clark dan keluarga mu? Maksud ku, aku bahkan tidak punya hubungan apa pun dengan mu. Kenapa pula mereka harus marah? Kau bisa menjelaskannya pada ayah mu kalau ini hanya demi proyek. Bukan yang lain."
"Kau tidak akan mengerti, Smith. Situasi keluarga ku sedikit berbeda. Mereka itu—" dia berhenti, mengerutkan kening saat dia mengarahkan kepalanya ke arah Rosaline. Menatap gadis bermata emerald itu lekat-lekat
"Kenapa aku harus membicarakan tentang situasi keluarga ku pada mu? Kau tidak perlu tahu soal itu."
Entah mengapa Rosaline sangat ingin memukul kepala pria itu. Bukankah dia yang pertama kali memulai pembicaraan tentang keluarganya? Kenapa pula laki-laki itu harus marah padanya dan menyalahkannya sekarang?
Dasar gila! Batin Rosaline mengumpat.
"Apa? Bukankah kamu yang memulai lebih dulu? Aku bahkan tidak ingin tahu tentang hubungan keluargamu," dia mengomel, membuat James mendecakkan lidahnya sebelum menyuruh gadis itu tutup mulut karena dia menarik lebih banyak perhatian ke arah mereka.
"Diam, Smith. Mereka menatap kita!" Dia mendesis, melemparkan beberapa dokumen ke arah Rosaline. Seolah-olah menyuruh gadis itu untuk membacanya daripada berkoar-koar tak berguna seperti burung.
Rosaline hanya bisa memutar matanya tapi tetap melakukan apa yang pria itu perintahkan. Dalam dua jam perjalanan mereka, Rosaline merasa pusing. Dia menutup dokumen itu dan bersandar ke jendela.
Menghela nafas dengan pasrah saat meletakkan tangannya ke jendela yang dingin sementara matanya melirik pria di sampingnya. Pria pirang itu mengusap rambutnya, menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengar Rosaline dengan jelas.
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu pada mu?" Rosaline berkata dengan suara rendah sehingga tidak ada yang akan mendengarnya kecuali pria itu.
"Kalau tidak perlu dan penting, jangan!" Dia membantah, membuat Rosaline mengerang.
Sebenarnya pertanyaannya itu penting. Dia sangat ingin tahu tentang the golden money dan juga, mungkin dia bisa bertanya kepadanya tentang kasus pencurian yang melibatkan ayahnya dan Julian beberapa puluh tahun lalu.
Sehingga membuat kejadian itu harus terjadi pada orang tuanya.
Tapi, janji tetap lah janji. Dia sudah berjanji pada Julian untuk tidak menyebutkan nama belakangnya, Vreaa dan juga Torres. Dan juga, jika dia mengingat kembali, James seumuran dengannya.
Bagaimana mungkin pria itu tahu tentang kasus ayahnya dan Julian. Mengingat kasus pencurian itu sudah terjadi beberapa puluh tahun lalu.
Rosaline menggelengkan kepalanya. Entah mengapa merasa sedikit lega karena tidak menyuarakan pertanyaan itu secara langsung, apalagi di tempat umum seperti ini. Itu adalah keputusan yang sangat buruk.
"Mungkin aku bisa mencarinya sendiri," gumamnya, tidak tahu bahwa James juga bisa mendengarnya, tapi lelaki itu tetap diam. Berpura-pura seolah dia tidak pernah mendengar perkataannya.
__ADS_1