
...CHAPTER 41...
...THE STORM...
Rosaline bisa tahu kalau salju akan turun lebih banyak nanti malam hanya dengan melihat tebalnya salju saat suhu di sekitarnya perlahan mulai menurun.
Gadis itu menggigil, menarik mantelnya erat-erat hanya untuk mencoba menghalangi hawa dingin yang merembes masuk ke dalam tubuhnya.
"Mungkin kita harus menunda semua pembangunan. Berbahaya bagi mereka untuk bekerja di tengah musim dingin ini," komentar Rosaline, duduk di samping James yang sedang fokus membaca dokumen.
Lelaki pirang itu mengangguk sambil menutup dokumen yang ia baca dan melemparkannya ke atas meja.
"Ya, mungkin. Kita harus membicarakannya dulu dengan Oliver dan penanggung jawab proyek ini di kampus. Setelah mereka memberi izin, aku akan mengirim email kepada klien, menyuruh mereka untuk menunda semua pembangunan sampai musim dingin berakhir."
"Kalau begitu lakukan secepatnya. Aku tidak bisa membayangkan mereka bekerja di luar ruangan terbuka tanpa lima lapis pakaian di tubuh mereka. Aku bahkan hampir membeku kedinginan di sini."
"Ya, aku akan melakukannya nanti saat kita kembali ke London."
Rosaline mengangguk setuju.
"Ngomong-ngomong, apa kau tidak merasa kedinginan?" Dia berbalik, memperhatikan pria pirang di sebelahnya yang hanya memakai sweater berwarna merah. Heran bagaimana bisa dia tidak kedinginan, sedangkan dia sudah hampir membeku.
"Aku penasaran berapa suhu derajat celcius di sekitar kita sekarang."
James menolehkan kepalanya, memperhatikan Rosaline yang menggigil kedinginan. Meski gadis itu sudah mengenakan jaket tebal edisi Musim Dingin dari Anne's Fashion, sepertinya tidak terlalu ampuh untuk melindunginya dari hawa dingin. Atau mungkin dia-nya saja yang tak tahan dingin.
"Kita harus masuk. Aku tidak ingin kamu sakit di sini dan membuat ku terpaksa harus menjaga mu. Tidak. Ini benar-benar merepotkan. Ayo masuk, ku rasa kita bisa meminta makanan atau minuman hangat kepada Mr. Allen. Aku agak lapar."
Rosaline mengangguk setuju. Gadis itu langsung melompat dari tempat duduknya dan bergegas mengikuti James dari belakang. Sebenarnya, entah itu Rosaline atau James, keduanya tidak bisa tidak bertanya-tanya mengapa Mr. Allen memaksa mereka untuk tidak kembali ke London dulu, padahal mereka sudah mengatasi masalahnya.
"Kenapa kita belum kembali ke London?"
James mengangkat bahu, melihat sekeliling di mana tidak ada orang selain mereka berdua. Dia mendudukkan dirinya di sofa tempat ia dan Rosaline pertama kali duduk saat mereka baru tiba di Edinburgh.
__ADS_1
"Entahlah. Mr. Allen bilang dia ingin mengatakan sesuatu pada kita, tapi dia belum kembali juga. Sebenarnya, aku khawatir, jika kita kembali
terlambat— maksud ku di malam hari, salju akan menunda kereta kita atau mungkin yang terburuknya kita tidak akan bisa pulang hari ini."
Kali ini Rosaline menggigil ngeri hanya dengan kepalanya yang memikirkan di mana dia tidak bisa kembali ke London dan harus bermalam di Edinburg. Apalagi dengan pria berambut pirang ini.
Tidak. Dia tidak ingin ada pikiran aneh di kepalanya hanya karena dia terjebak dengan pria itu di tengah salju.
"Mungkin kita bisa kabur, kau tahu, dia bahkan tidak ada di sini," saran Rosaline, membuat James menatapnya dengan ekspresi mencibir.
"Kau pikir dia tidak akan mencari kita sesudah itu? Aku takut kalau kita tiba-tiba pergi dari sini Mr. Allen akan menelpon Oliver dan mencari kita. Bisa gawat kalau Oliver tahu kita pergi dari sini."
Rosaline tersenyum hambar, baru ingat tentang Oliver yang bisa mengamuk kapan saja kalau mereka meninggalkan pekerjaan ini. "Oh right, Oliver. Aku hampir saja melupakannya. Dia akan marah besar jika tahu kita kabur dari sini," Rosaline terkekeh.
Dan kemudian, percakapan mereka berhenti. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan ketika Rosaline sudah menutup mulutnya. Dia melihat ke arah lain, mencoba mengabaikan keberadaan James di sebelahnya meskipun keberadaan pria pirang itu terlalu kuat untuk di abaikan.
"Oi," panggil James, "bisakah aku menanyakan sesuatu pada mu? Aku tahu ini aneh dan tidak ada urusannya dengan ku, tapi aku penasaran. Jadi, bolehkah?"
Rosaline mengangkat alis, menatap pria itu dengan bingung. "Yes? What is it?" Dia menjawab. Suaranya selembut sutra.
"Rosie. Apa itu nama panggilan dari keluarga mu?"
Setelah lima menit berlalu, akhirnya pria itu angkat bicara. Kali ini dia tidak lagi melihat kukunya, melainkan James melihat ke arah lain kecuali Rosaline. Keheningan mereka terasa berat di ruangan itu membuat Rosaline merasa tak nyaman.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, lalu memutuskan untuk berbicara. "Ya, ayah dan ibu ku yang memberikannya. Sebenarnya saudara kembar ku juga ada nama panggilan, dia Reggie dan aku Rosie. Reagan dan Rosaline. Why?"
"Tidak, hanya saja nama itu terdengar familiar di telinga ku."
"Well, mungkin di Inggris Rosie dan Reggie adalah nama yang umum, makanya kau pernah mendengarn—"
"Bukan. Bukan itu. Aku pernah mendengar ayah ku menyebutkannya, tapi aku lupa kapan tepatnya."
"Lalu apa hubungannya dengan ku?"
__ADS_1
James melirik ke arahnya. "Entahlah, makanya tadi ku bilang hal ini aneh. Jadi, lupakan saja. Berpura-puralah kau tidak pernah mendengar aku menanyakan hal ini pada mu."
Rosaline mengerut heran. "Kau tahu kaulah yang aneh bukan pertanyaannya," komennya sembari mengangkat sudut bibirnya, menatap laki-laki itu dengan penuh pertanyaan.
James masih memberinya lirikan samping, tidak menatapnya secara langsung tetapi perlahan, mencuri pandang ke arahnya sampai tatapannya berhenti ketika Mr. Allen masuk ke dalam. Bertemu lagi dengan mereka berdua.
"Sepertinya kalian berdua harus tinggal di sini lebih lama. Ramalan cuaca mengatakan, dalam satu jam badai akan datang."
Baik Rosaline dan James. Keduanya kaget, membuat mereka melompat dari sofa. Mulut mereka terbuka lebar dan tiba-tiba jantung berdetak sangat kencang. Mereka berdua berdiri di sana, menatap Mr. Allen —yang tersenyum dengan wajah polos— dengan mata terbuka lebar.
"Ap—apa maksud Anda, Mr. Allen?" Rosaline bertanya, tergagap saat kata-katanya mengabur menjadi satu pada saat yang sama.
Mr. Allen tidak menjawab, dia hanya meraih remote control yang sudah berada di atas meja dan mengarahkannya ke televisi. Dia menekan tombol on dan televisi langsung menyala. Di sana, Mr. Allen langsung mencari saluran berita yang menyajikan ramalan cuaca.
“Berdasarkan perkiraan, dalam satu jam akan terjadi badai di setiap wilayah Inggris. Penduduk setempat diharapkan untuk tinggal di rumah sampai badai berakhir. Berita cuaca akan disiarkan kembali seiring pemberitahuan bar—"
Bzztt!
Televisi mati saat Mr. Allen melempar remote control ke sofa.
"That is the news Mr. Adler and Ms. Rosaline. Saya tahu kalian berdua ingin segera kembali ke
London, tapi saya pikir saya harus menghentikan kalian sekarang. Saya khawatir kereta kalian menuju London nanti akan terjebak di tengah-tengah badai. Lebih baik kalian berdua tinggal di sini sampai besok pagi."
Dengan melihat wajah kesal James, Rosaline bisa tahu pria itu sedang marah dan entah bagaimana Rosaline bisa mendengar umpatan diam yang datang dari James saat pria pirang itu menggertakkan giginya.
Tentu saja. Kalau bukan Mr. Allen yang menunda kepulangan mereka tadi, bisa saja mereka sekarang sudah tiba di London. Atau Rosaline sudah tertidur di tempat tidurnya yang empuk.
Sialan pria tua ini, batin Rosaline kesal.
"Mungkin sebaiknya kita pulang sekarang, kan?" James tampak putus asa dan Rosaline
mengangguk secepat mungkin.
__ADS_1
"Tidakkah kalian berdua mendengar ramalan tadi? Dalam satu jam badai akan datang dan Edinburgh ke London bisa memakan waktu empat jam. Lebih baik kalian tetap di sini sampai badai berakhir. Kebetulan ada penginapan di dekat sini yang bisa kalian tempati sementara."
Baik Rosaline maupun James hanya bisa merasakan ini akan menjadi bencana.