Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 48


__ADS_3

...CHAPTER 48...


...JORDAN...


Lima hari setelah itu, Rosaline tak pernah lagi melihat James datang ke kantor. Sejujurnya dia khawatir dengannya, meskipun dia tidak menyukainya tapi tetap saja dia khawatir. Mengkhawatirkan seseorang yang kau benci bukan lah suatu dosa besar, kan?


Rosaline meluruskan posisi duduknya, menguap sambil meregangkan tubuhnya yang lelah. Ia melirik ke arah pintu. Masih berharap kalau pria itu akan muncul hari ini, walaupun dia sendiri tahu ini sudah pukul dua belas siang. Tidak ada kemungkinan kalau pria pirang itu akan datang bekerja hari ini.


Rosaline mendorong laptopnya menjauh dari pandangan. Matanya sakit dan perih. Terus berteriak menolak sinar biru untuk terus masuk ke dalam. Dengan helaan napas panjang nan lelah ia menyandarkan tubuhnya ke meja.


Jujur bekerja sendirian seperti ini tidak menyenangkan. Walaupun James itu menyebalkan dan kerjaannya hanya mengkritik


Rosaline, setidaknya ada sedikit kehidupan. Tidak seperti sekarang, sepi dan sunyi.


Rosaline menghela napas sedih. Kepalanya berbalik ke arah jendela kaca hanya untuk melihat intens ke luar di mana awan abu-abu sedang menutupi langit.


Menghalangi sinar matahari untuk bersinar dan angin menderu di udara membuat cuaca di luar sana terasa sedikit dingin. Meskipun musim dingin sudah berakhir, hawa dingin belum meninggalkan mereka.


Entah bagaimana Rosaline mendapat gambaran di mana James berdiri di depan jendela, melihat ke luar sambil mengomel sesuatu yang konyol untuk mengejek Oliver. Berkomentar tentang ruangan yang akan menjadi lemari es karena sangat dingin atau seberapa buruk dekorasi di dalamnya.


"Hahaha, lucu sekali," dia terkekeh. Merasa miris dengan dirinya sendiri yang merindukan momen itu.


Padahal baru lima hari sejak pria itu absen dan tak datang ke kantor. Kalau James tahu Rosaline sedikit merindukan keberadaannya, apa yang akan dia katakan? Tentu saja pria pirang itu akan mengejeknya dengan gaya sombongnya ya, kan?


Rosaline membenamkan kepalanya dengan helaan napas lagi sebelum tiba-tiba pintu ruangannya berdebam keras, sangat keras, hingga membuat seisi dinding seakan berguncang dan laptop Rosaline hampir jatuh ke lantai.


Sambil mengerang, Rosaline dengan malas mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Hanya untuk memeriksa siapa yang mengganggunya dari kedamaian saat itu. Kerutan di wajahnya tiba-tiba menghilang ketika dia menyadari siapa itu.


Rambut pirang platinum keemasan berdiri di depannya. Dia terlihat mengerikan. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya, rambut emasnya acak-acakan seperti sarang burung. Membuat Rosaline tak tahan untuk tidak menyentuhnya dan merapikannya seperti biasanya.


"Oh, kupikir kau tidak akan datang hari ini," kata Rosaline, berusaha membuat ekspresinya tetap datar meski senyuman kecil ingin sekali merekah.


"Ngomong-ngomong, kau masih hidup? Kau terlihat sangat mengerikan," komentar Rosaline, saat pria itu duduk di sampingnya.


James hanya mengerang, menyandarkan tubuhnya ke meja. "Don't ask anything. Selama lim hari ini, aku hanya mendengarkan ayah ku mengomel tentang peraturan keluarga kami. Memberitahu ku, aku harus melakukan itu atau aku tidak boleh melakukannya. Benar-benar menyebalkan!"


Rosaline tersenyum. "Bagaimana dengan Clark? Apa dia marah pada mu?"


James tidak menjawab malah membuka ponselnya dan melemparkannya ke Rosaline.


"Lihat sendiri. Aku malas menjelaskan."

__ADS_1


Awalnya Rosaline enggan mengecek ponselnya karena itu privasi, namun James bersikeras. Jadi Rosaline dengan ragu meraih teleponnya dan membaca tiap pesan antara Clark dan James.


Ada begitu banyak telepon dari Clark yang tidak dijawab dan pesannya juga belum dibaca. Dari sana Rosaline bisa langsung tahu kalau James benar-benar mengabaikannya.


"Setidaknya beri dia penjelasan, Adler. Jangan membuatnya khawatir seperti ini," komentar Rosaline meletakkan ponsel pria itu kembali ke samping tangannya.


James memberinya tatapan dramatis sebagai tanggapan. "Tidak perlu penjelasan, Smith. Tidak ada apa-apa di antara kita, kamu juga mengatakannya kemarin."


"Ya tapi—" dia ragu-ragu.


Entah bagaimana dia bisa merasakan perasaan Clark yang khawatir. Perumpamaan saja kalau Rosaline punya seorang kekasih dan kekasihnya dikabarkan bersama wanita lain tentu saja Rosaline akan khawatir. Mungkin juga ada perasaan marah dan kesal yang ingin sekali membunuhnya.


Ketika Rosaline membuka mulutnya untuk berbicara atau memberikan ceramah apa pun kepada James, agar lelaki itu memberi penjelasan pada Clark tentang masalah ini.


James mengangkat tangannya ke udara, memberinya isyarat untuk diam.


"Ngomong-ngomong, apa kau tidak ada kerjaan malam ini?"


Rosaline melemparkan tatapan menyelidik sebelum mengangguk. "Ya, why?"


"Accompany me to a bar."


...•—— ⁠✿ ——•...


belakangnya.


"Can you handle whiskey or vodka?" Tanya James sambil duduk di dekat meja bartender.


Bartender yang sedang sibuk dengan minumannya dengan cepat berbalik dan tersenyum lebar kepada mereka masing-masing. Rosaline menatapnya lama, bingung, sebelum menoleh ke arah James lagi. Memberinya tatapan bertanya.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang bar, Adler. Mungkin yang non alkohol. Aku tidak boleh mabuk atau Reggie akan membunuh ku saat aku pulang nanti."


James mengetuk dagunya, berpikir. "Mocktail kalau begitu," lirihnya, "satu mocktail dan vodka!"


James harus setengah berteriak agar bartender itu mendengarnya, mengingat dentuman musik di bar yang lumayan keras.


"Mocktail... A little harsh for an amazing evening, eh?" Dia menyeringai ke arah James.


"Nah, life's just getting a bit bitter on the tongue."


Bartender itu terkekeh. "Alright then, mocktail and vodka on the way."

__ADS_1


Rosaline duduk diam dan memperhatikan bartender di depannya dengan rasa ingin tahu. Kakinya yang tidak menyentuh lantai, bergoyang-goyang, menikmati musik di bar yang mengimbangi debaran jantungnya.


Mata zamrudnya menatap lama ke arah bartender, tidak bisa menyangkal betapa menariknya laki-laki itu. Rosaline menemukan dirinya terpesona dengan gerakan tangannya saat membuat minuman atau seringai di wajahnya begitu dia menyadari bahwa Rosaline tengah menatapnya.


"Siapa nama mu?" Tanya Rosaline, tiba-tiba.


Bartender itu menghentikan aktivitasnya, membuat minuman, dan mendekat ke Rosaline. Dia menawarkan tangannya sementara matanya mengedip ke tangan Rosaline, seolah menyuruhnya menggerakkan tangan kecilnya.


"Saya Jordan, nona."


Dia mencium bagian atas tangan Rosaline, membuat gadis itu secara brutal berubah menjadi merah. Rona merah gelap di wajahnya menyebar ke seluruh wajah setelah bartender bernama Jordan itu mengedipkan mata untuk kedua kalinya pada Rosaline.


"Arrêter la Jordanie. Ne le taquinez pas!"


"C'est ton petit ami, Jammy? Êtes-vous jaloux?"


Tak mengerti dengan bahasa yang mereka berdua gunakan, Rosaline memperhatikan mereka seperti pertandingan olahraga. Menjentikkan kepalanya ke arah James lalu kembali ke Jordan. Ada hasrat ingin menginterupsi tapi dia bahkan sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Pergilah, Jordan. Dia hanya teman dari teman ku."


Kali ini Rosaline tahu bahwa James berusaha membuat Jordan pergi, tetapi Jordan malah menyeringai alih-alih pergi meninggalkan mereka setelah minuman mereka selesai. Dia menatap Rosaline lama sebelum mencondongkan tubuh mendekat kembali.


"On dirait qu'il vous aime, madame. Enjoy the drink."


Setelah mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti Rosaline, dia pergi, meninggalkan


Rosaline bersama James sendirian. Dengan bingung, Rosaline menoleh untuk melihat James, seolah-olah dari matanya dia menanyakan arti kata-kata Jordan.


"Abaikan dia. Kata-kata itu tidak penting."


.


.


.


.


Terjemahan


James: Hentikan Jordan. Jangan menggodanya!

__ADS_1


Jordan: Apakah dia pacar mu, Jammy? Kau cemburu?


Jordan: Sepertinya dia menyukaimu, nona


__ADS_2