
...CHAPTER 53...
...SECRETLY FRIEND...
"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?"
Si pirang menatapnya sejenak sebelum mengalihkan perhatiannya ke daftar menu. Dia mengerutkan kening dalam kebingungan. Karena sejujurnya, dia bahkan tidak pernah pergi ke kafetaria. Bagaimana dia bisa tahu apa yang ingin dia makan jika dia tidak tahu rasanya.
"Entahlah, Smith. Aku belum pernah ke kafetaria sebelumnya. Jadi—"
"Oh poor you. Baiklah kalau begitu, biarkan aku memilihkannya untuk mu. Aku punya tiga too makanan di kafetaria ini dan aku ingin kau mencicipinya. Hopefully you will like it."
Tanpa sadar, sebuah senyum kecil muncul di wajah James ketika dia memperhatikan gadis berambut brunette itu tampak ceria, berdiri di antara kerumunan pegawai yang memesan makanan. Mata emerald-nya bergerak sana-sini, memperhatikan tiap tulisan menu yang ada.
"Dua sup kentang, sandwich tuna, dan kue strawberry!"
James yang ada di sebelahnya menyeringai, tahu kalau gadis itu suka makanan yang manis. "You have sweet tooth, huh, Smith?"
Kata-katanya barusan sebenarnya bukanlah sebuah ejekan, tapi apa yang diterima telinga Rosaline berbeda. Gadis itu hanya memutar matanya secara dramatis, mengerang saat dia menampar lengan James. Menyadari apa yang dia lakukan barusan, mata zamrud Rosaline tiba-tiba dipenuhi ketakutan.
Dia perlahan berbalik, hanya untuk melihat senyum hangat dari pria itu yang baru pertama kali ini dia lihat. "A—ah ma-maaf. Aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku tidak sengaja."
Ada dengusan lembut darinya. "Hanya untuk kali ini. Kau kamu melakukannya lagi, aku akan membalas mu."
Melihat seringaiannya, Rosaline mencibir. "Make me," tantangnya, "aku tidak takut pada mu."
Seringaian pria pirang itu bertambah lebar, namun pertengkaran kecil yang mereka lakukan berhenti begitu penjual di kafetaria menyodorkan nampan makanan tepat di depan wajah mereka.
"Dua sup kentang, sandwich tuna, dan kue!" serunya.
James mendengus sedangkan Rosaline menerima nampan makanan itu dengan gembira. Dengan dua nampan di tangannya, Rosaline kesusahan mengambil dompet yang sejak tadi dia letakkan di dalam kantong celananya.
"Bisakah kamu membantu ku mengambil dompet ku? Maaf aku—" Dia tersenyum getir saat matanya menangkap sekilas sosok James sedang membayar makanan mereka.
"No, no, I get it. I'll treat you."
Tidak membiarkan komentar apapun keluar dari mulutnya, James menarik bahu Rosaline, menuntun gadis itu ke meja kosong di dekat jendela. Begitu mereka duduk, baik Rosaline atau James bisa mendengar suara bisikan yang mengarah meja mereka.
Dengan lirikan tajam sepasang mata abu-abu miliknya, James menembakkan pelototan mata yang seolah menyuruh semua orang di sana untuk berpaling. Setidaknya biarkan mereka menyantap makan siang mereka dengan tenang.
Namun, ada begitu banyak manusia di kafetaria saat itu. Sungguh tak memungkinkan bagi mereka untuk berpaling setelah melihat kejadian yang cukup mengejutkan. Melihat seorang anggota the golden money ada di kafetaria yang sama seperti mereka.
"Kau ingin makan di ruangan kita? You know, kita bisa bawa nampannya ke sana. Aku yakin penjualnya tidak akan keberatan asal kita mengembalikannya nanti."
__ADS_1
James berusaha amat keras agar tidak ada lekuk senyum yang terbentuk di wajahnya saat mendapati ekspresi khawatir gadis itu.
"Aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasinya. Selama mereka tidak mengambil foto ku seperti di kereta Edinburgh waktu itu, tidak apa-apa. Sebenarnya aku yakin mereka tidak akan melakukannya, karena Oliver sudah memperingatkan untuk tidak melakukan itu atau mereka akan kehilangan pekerjaan mereka."
Bertindak seakan tidak ada yang terjadi di sekitar mereka, James menyantap sup kentangnya dengan tenang. Dia beberapa kali mengerutkan keningnya setiap kali matanya tak sengaja bertemu dengan mata orang lain.
Ya biarlah pikirnya. Biarkan mereka menikmati pemandangan yang sangat jarang ini. Toh memang biasanya Rosaline selalu datang sendirian ke kafetaria. Tidak pernah ditemani oleh orang lain terutama anak dari anggota the golden money sepertinya.
"Jadi apa menurut mu?"
James mengerutkan kening dengan pertanyaan tiba-tiba Rosaline. "Tentang apa?"
"This. Kita yang berpura-pura seperti seorang teman?"
Dia menyeringai. "Tidak buruk, sebenarnya."
"Jadi apa kau menikmatinya?"
"Kinda."
"Then let's be friend."
James hampir tersedak supnya sendiri begitu mendengar kata-kata gadis berambut cokelat itu. Kerutan di atas dahinya terlihat jauh lebih jelas dari sebelumnya saat dia memperhatikannya dengan kaget.
"Kenapa? Kau tidak mau?"
James tersentak saat Rosaline menjawabnya dengan begitu tenang. Yah, dia tidak bisa menyangkal lagi betapa buruknya dia ingin berteman dengannya, karena dia sudah mengakuinya di bar hari itu. Tetapi tetap saja. Kenapa?
"Aku yakin aku mendengarnya dengan jelas saat hari itu."
Wajah James memerah, penuh dengan semburat merah tua yang entah bagaimana terlihat amat cocok di kulitnya yang pucat. Dia mengarahkan kepalanya ke bawah, terbatuk, berdehem agar suaranya tidak terdengar bergetar saat berbicara.
"Itu hanya gumaman bodoh saat aku mabuk," bantahnya, dengan rona merah yang masih ada di wajahnya.
"Ku rasa tidak. Aku bisa melihat betapa putus asanya diri mu saat mengatakannya hari itu.
Haruskah aku bertanya pada Jordan tentang ini? Dia saksi ku."
Melihat cengiran kecil di wajah gadis itu membuat James menegang. "Tidak. Tidak perlu," desaknya.
Sup kentang yang mereka pesan beberapa menit yang lalu kini sudah tidak terasa panas. Bahkan Rosaline dan James sudah tidak punya nafsu untuk memakannya lagi. Mereka hanya memainkannya dan mengaduknya dengan sendok mereka.
"Jadi bagaimana? Apakah kita berteman sekarang?" Dengan suara rendah, Rosaline bertanya. Gadis itu mencuri pandang, hanya untuk memastikan pria itu mendengarkannya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menerima tawaran mu, Smith," katanya.
"Kalau begitu terimalah. Come on, akhiri permusuhan sepihak ini. Aku tahu kau membenci ku ta—"
"Aku tidak membenci mu. Aku hanya iri pada mu!"
"Bukankah itu hal yang sama?"
"Tentu saja tidak bodoh. Ada garis tipis antara Benci dan iri hati!"
"Kalau begitu hentikan rasa iri mu pada ku, tidak ada gunanya untuk itu."
James mengangkat alis. Hidungnya mengernyit.
"Kenapa?" Dia bertanya.
"Kau bilang pada ku hari itu kau iri aku punya keluarga yang menyayangi ku. Ya memang mereka menyayangi ku, tapi apa kau tahu kalau aku tidak punya orang tua?"
Dengan itu mata James melotot. Ekspresinya mengerikan.
"Aku hanya punya Reggie dan Julian, dan juga Daniel, dia sudah seperti keluarga ku sekarang. Julian dulu adalah seorang napi begitu pula ayah ku. Aku anak seorang mantan napi."
Rosaline berhenti bicara, hanya untuk melihat ekspresi laki-laki itu. Dia menghela pasrah, sedikit menyesal memberi tahu situasi keluarganya pada James. Tapi mungkin saja dnegan itu James bisa mengerti. Tidak semua hal yang harus dia iri padanya.
"Hidup ku tidak terlalu sempurna. Banyak tragedi yang terjadi di dalamnya."
"Tapi setidaknya kamu punya keluarga yang suportif dan teman yang baik, sedangkan aku tidak."
"Itu sebabnya, ayo berteman. Kalau kau takut ayah mu atau Clark marah, aku tidak masalah kita menyembunyikannya. Let's have a friendship called secretly friend."
Meski dengan senyum hangat yang diperlihatkan Rosaline, James masih ragu untuk menerima tawaran pertemanan darinya. Dia tahu kalau Rosaline serius ingin berteman dengannya tapi tetap saja, meskipun dia ingin dia tidak bisa.
Ia takut pada ayahnya jika mengetahui anaknya berteman dengan seseorang dari kasta rendah. Dia tidak ingin siapapun celaka, terutama Rosaline. Tapi kapan lagi? Dia juga ingin punya teman! Dan Rosaline mungkin bisa memahaminya.
Fine," katanya dengan suara rendah tapi
Rosaline bisa mendengarnya. Tangannya yang kekar perlahan bergerak mendekati tangan Rosaline di atas meja. Mengajak gadis itu untuk berjabat tangan.
"Secretly friend."
Rosaline tersenyum. "Ya. Secretly friend!"
Seperti jabat tangan yang selalu mereka lakukan pada klien. Hal itu menjadi sebuah tanda baru baik untuk Rosaline atau James dalam kehidupan mereka seterusnya.
__ADS_1