
"Floyd," Panggil Minerva, "kau yakin ingin melakukan semua ini?"
Dia mengerutkan keningnya sembari memperhatikan sang suami mengobrak-abrik isi brankas file yang telah lama mereka simpan selama berpuluh-puluh tahun lebih dan tampaknya Floyd sama sekali tak mendengar perkataan Minerva.
"Floyd?" Panggil Minerva lagi. Kali ini wanita itu berjalan mendekati sang suami dan menepuk bahunya lembut, memberi tahu pria itu bahwa sang istri tengah berbicara padanya. "Aku sedang bicara pada mu."
Floyd mendongak dan pria itu cemberut. "Aku mendengar mu, Minerva," katanya. "Dan ya, aku ingin melakukan ini," tambahnya dan kembali ke aktivitasnya tadi.
Minerva menghela napas. Dia duduk di samping suaminya dan membantu pria itu yang tampak mencari sesuatu. Tahu dengan apa yang suaminya cari, Minerva langsung menyodorkan dua buah dokumen di tangannya kepada Floyd.
"Ini yang kau cari, kan?" Tanyanya memastikan.
Floyd menatapnya sejenak lalu memeriksa dokumen itu dan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" Minerva bertanya. "Kenapa kau tiba-tiba ingin melakukan ini? Seingat ku beberapa tahun lalu saat aku menyuruh mu untuk menyerahkan diri, kau menolak mentah-mentah saran dari ku. Dan sekarang kau ingin melakukan ini?"
Floyd menghela napas. "Aku tahu, but this time I'm ready. Saat melihat James khawatir dengan gadis itu, entah kenapa hati ku tergerak untuk melakukan ini. Jenkins juga mengancam putra kita untuk membeberkan rahasia keluarga kita kalau dia tidak menurutinya. Karena itu, sekalian saja aku yang beberkan sendiri."
Minerva terkekeh. "Kau siap dipenjara?" Tanyanya.
Floyd tersenyum hampa. Karena jujur saja dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika menjawab ya, dia tidak yakin dia siap untuk dipenjara selama berpuluh-puluh tahun tanpa kekayaan seperti ini.
Tapi, bukannya hal itu sepadan dengan apa yang dia lakukan terhadap keluarga Vreaa? Meski tak terlibat secara langsung, dia juga cukup andil dengan pembunuhan itu.
"I don't know, Minerva. Tapi jika aku tidak melakukan ini sekarang, aku merasa di masa depan hubungan ku dengan James akan semakin renggang. Belum lagi dengan rasa bersalah yang sudah ku emban selama beberapa puluh tahun ini.
"Jujur. Aku memang tidak sanggup hidup di penjara, tapi aku lebih tidak sanggup hidup dengan perasaan bersalah, Minerva. Mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan bahwa aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku."
Meski tahu masa depan seperti apa yang menanti keluarganya, Minerva tetap mendukung keputusan sang suami untuk menyerahkan diri. Biarlah harta dan wewenang mereka di pemerintahan menghilang, yang penting rasa bersalah tak lagi diemban dalam hati.
__ADS_1
...•—— ✿ ——•...
Belum sempat para the golden money bertindak, berita mengenai mereka dengan cepat menyebar. Dengan campur tangan keluarga Adler sekaligus Riley di media semuanya menjadi kacau balau.
Sementara itu, pencarian Rosaline terus berjalan. James, Reagan, Kaylie, Julian, dan para gangster-nya, dan belum lagi bantuan yang terus datang dari keluarga Riley. Asher juga ada di sana untuk ikut mencari gadis yang telah membantunya selama di kampus.
"Maaf karena aku tidak menghentikan Clark menindas mu selama ini," Ucap James di sela-sela berlarinya.
Asher menggelengkan kepalanya. "Tidak apa," Jawabnya, "kau tahu siapa aku dan tetap memilih menyembunyikan identitas asli ku dari media dan itu sudah cukup untuk ku. Terima kasih," Tambahnya lalu tersenyum.
Kaylie dan Reagan sepandangan usai memperhatikan interaksi kecil antara James dan Asher. Jujur saja mereka berdua belum tahu bahwa Asher adalah anak dari salah satu the golden money. Walau mantan setidaknya orang tua Asher pernah menduduki gelar the big tree. Anggota the golden money yang paling dihormati.
"Apa beritanya sudah keluar?" Tanya James.
"Ya. Ayah mu dan ayah ku sudah naik ke pers."
Asher menatap Kaylie dan Reagan secara bergantian, kemudian tersenyum. "Later on. Kalian akan tahu sendiri," Balas gadis itu sembari mengangguk.
Tak mau mendebatkan hal itu lagi, mereka semua langsung pergi menuju lokasi yang diduga sebagai tempat penyekapan Rosaline. Beberapa jam yang lalu sebelum berita the golden money keluar, James berpura-pura menelpon Clark untuk menanyakan perihal pernikahan mereka.
Awalnya Clark tak mengangkat, namun setelah percobaan ketiga gadis berambut merah itu barulah menjawab. Melalui panggilan singkat itu, salah satu anak buah Julian melacak ponsel tersebut dan menemukan lokasi keberadaannya.
Sama seperti lokasi sebelumnya, lokasi baru ini berada di pinggir lain kota, reyot, dan kumuh.
Entah berapa banyak rumah reyot yang dimiliki oleh keluarga Jenkins.
Berhenti di depan rumah yang mereka maksud, Julian dan Daniel sepandangan sebelum melemparkan atensinya kepada James. Dari lirikan matanya yang mengarah rumah reyot tersebut, Julian bertanya apakah ini rumah yang mereka cari dan James mengangguk pertanda tebakan Julian itu benar.
Seperti melihat film laga, para anak buah Julian segera mengelilingi rumah reyot tersebut dengan senapan di tangan mereka. Sementara itu, James menuruti perkataan Julian yang menyuruhnya untuk menelpon petugas kepolisian.
__ADS_1
Seperti yang mereka rencanakan, James akan masuk ke dalam duluan diikuti Julian, Reagan, dan Daniel dari belakang. Lalu para anak buah Julian akan berjaga di sekeliling rumah mewanti-wanti jikalau Clark kabur, sedangkan Asher dan Kaylie menunggu kedatangan polisi.
"Aku akan ke lantai dua. Kalian periksa lantai satu. Hati-hati, pastikan tidak ada suara agar Clark yakin tidak ada orang selain aku di sini," perintah James dan ketiga pria itu mengangguk.
Berpisah di dalam sana, James dengan cepat menaiki tangga dan ajaibnya tidak ada suara yang tercipta dari decit sepatunya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, memperhatikan tiap sudut di lantai dua hingga matanya bertemu dengan satu-satunya pintu yang tertutup.
James menempelkan telinganya ke pintu tersebut, mendengarkan secara seksama suara-suara yang memungkinkan keluar dari dalam sana. Tak mendengar apapun, James perlahan menyentuh knop dan membuka pintu dengan hati-hati.
Di dalam sana, James menemukan cermin tertempel di tengah-tengah ruangan dengan penerangan minim yang ada di depannya. Penasaran sekaligus curiga, laki-laki itu berjalan mendekati cermin tersebut dan menempelkan jarinya di sana.
Dia merasa aneh. Pertama kenapa lampu di ruangan tersebut dipasang berdekatan dengan cermin itu ketimbang di tengah-tengah plafon. Dan belum lagi pergerakan jarinya yang agak lambat daripada cermin biasa.
"Apa ada ruangan lain di balik cermin ini?" Duga James curiga.
Tanpa pikir panjang —tak peduli lagi kalau ternyata di belakang cermin tersebut adalah dinding bata yang kokoh— James mengepalkan tangannya dan melayangkan tinjuan ke arah cermin di depannya.
CRASHHH!!
Pecahan kaca bertebaran di lantai. Persis seperti yang dia duga, dibalik cermin mencurigakan itu ada sebuah ruangan lagi. James bisa merasakan angin kencang datang dari dalam sana. Tanpa rasa takut, dia menerobos masuk ke dalam.
Dengan penerangan kecil yang datang dari ponselnya, James melihat ada banyak tong oli dan minyak di ruangan itu. Ia berjalan perlahan-lahan, takut terpeleset hingga akhirnya dia sampai di tempat yang dipasangi tirai.
"Ada apa di dalam sana?" Lirihnya.
James menyembulkan kepalanya usai menyibak tirai tersebut dari pandangannya dan alangkah terkejutnya saat dia melihat figur manusia tengah tergeletak di lantai dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya ditempeli lakban dan matanya terpejam.
Walaupun begitu, James tahu itu siapa.
"Rosaline!!"
__ADS_1