Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 51


__ADS_3

...CHAPTER 51...


...ASHAMED...


Seminggu setelah pengakuan di bar hari itu, baik Rosaline maupun James tidak lagi berbicara. Mereka berdua memang kembali ke rutinitas masing-masing seperti biasa. Pergi ke kantor, bekerja bersama tumpukan dokumen, lalu pulang ke rumah.


Namun ada satu lagi kebiasaan yang kini mereka lakukan setelah pengakuan James kala itu, yaitu saling mengabaikan kehadiran satu sama lain. Setiap kali mata tak sengaja bertemu, keduanya cepat-cepat memalingkan muka. Sama sekali tak berani menatap lama seperti dulu.


Entah apa yang mereka rasakan sekarang ini. Mungkin Rosaline dilanda perasaan bersalah sementara James harus menanggung menanggung rasa malu karena mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan pada siapapun, termasuk gadis di depannya ini.


Sesekali James mencuri pandang ke arah perempuan berambut brunette yang tengah mengotak-atik laptopnya dengan serius di meja kantor. Mata emerald-nya terus bergerak kesana-kemari, melawan sinar biru yang keluar dari layar laptop.


Adakalanya James mendengar gadis itu menggerutu seiring bibirnya yang mungil mengerucut seperti ikan koi dan urat-urat di pelipisnya muncul. Entah apa yang dia kerjakan di laptopnya. Ingin mengintip, tapi sangat memalukan bagi James untuk melakukannya.


Memang, biasanya dia bisa dengan mudahnya mendatangi meja Rosaline dan berdiri di samping gadis itu dengan tangan menyilang di depan dada. Mulutnya —yang seakan tidak punya rem— selalu melontarkan banyak komentar atau lebih tepatnya ejekan untuk setiap hal yang gadis itu lakukan.


Seakan ada yang kurang jika James tidak mencibir Rosaline sehari saja dalam hidupnya.


Pria pirang itu menghela napasnya panjang dan keras. Cukup keras sampai berhasil menarik atensi perempuan brunnete yang cantik itu dari laptopnya. Sekali lagi, mata mereka bertemu. Bertukar pandang antara abu-abu dan emerald yang indah.


Namun, tidak seperti biasanya. Keduanya tidak langsung memalingkan muka. Malah Rosaline memberinya senyuman kecil yang dibalas oleh tatapan James yang perlahan melunak. Tolong jangan tanya James sejak kapan dia mulai lunak pada gadis itu. Karena dia sendirian tidak pernah menyadarinya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan, Adler?"


Berbeda dengan malam itu, alih-alih James, Adler kembali menjadi opsi pertama bagi Rosaline untuk memanggilnya. Yah tidak ada yang perlu ia kecewakan. Gadis ity hanya menggunakannya ketika dia mabuk. Tidak ada yang bisa dia harapkan dari itu.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu apa yang jau lakukan dengan laptop mu. Wajah mu sangat tegang dan jelek saat kamu fokus."


Ya. Seperti itu, batinnya. Teruslah mencoba berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa di antara kalian di bar malam itu. Cibir dia seperti biasa.


James menggigit bibir bawahnya menunggu Rosaline merespon. Rasanya dia ingin sekali meledakkan diri atau mengubur dirinya hidup-hidup di tanah saking malunya ia sekarang. Entah kenapa, setelah pengakuan sialannya di bar itu semuanya terasa memalukan.


"Aku hanya melihat perkembangan di setiap daerah. Kau ingin melihatnya juga?" Tawarnya membuat James membeku.

__ADS_1


"Tidak, terima kasih. Aku bisa melihatnya sendiri nanti."


Sialan rasa gengsinya!


"I need to go. Aku harus menemui Oliver."


"Oh membahas perkembangan kontruksi kita?"


Entah mengapa kata 'kita' di telinga James terdengar sangat aneh kalau Rosaline yang mengucapkannya. Entahlah, jangan tanyakan dia kenapa. Karena percuma, dirinya sendiri bahkan tak tahu.


"Yeah, kind off."


Dengan begitu, dia pergi. Meninggalkan Rosaline sendirian di ruangan itu. Dia berjalan ke ruangan Oliver dengan langkah kaki yang tak santai. Menghentak seperti anak kecil yang merajuk karena tak dibelikan permen.


Brak!


"Oliver!" Teriaknya.


Oliver yang sedang mengoleskan lipstik di bibirnya terkejut, membuat garis merah panjang di pipinya. "Kau bajingan!" Dia berteriak, melemparkan lipstiknya dan langsung berlari ke arah James.


"You must help me."


Oliver mengerutkan kening dan perlahan, dia mulai melepaskan cengkeramannya pada leher kemeja James. "Help? Jarang sekali kamu meminta tolong, terutama kepada ku. Jadi ada apa? Tentang ayah mu lagi?"


James membuka mulutnya setelah memastikan pintu di belakangnya sudah tertutup rapat. Dalam satu tarikan napas, dia memberi tahu Oliver semua tentang hari itu.


Tentang bagaimana dia menceritakan keadaan keluarganya kepada Rosaline, kekasihnya, dan pengakuannya tentang betapa dia sangat ingin menjadi sahabat Rosaline.


Oliver memperhatikan James ketika pria itu membenamkan wajahnya di tangannya, berusaha menyembunyikan rasa malunya. Nah, Oliver sudah tahu bagaimana kebiasaan James saat mabuk.


Biasanya, setiap kali James meneguk minuman di bar itu tandanya dia sedang punya masalah. Baik dengan keluarganya atau Clark atau bahkan dengan dirinya sendiri. Tapi kali ini agak berbeda. Karena James selalu membawa Oliver ke bar bukan Rosaline.


"Apa kalian sudah berbicara setelah hari itu?" Oliver bertanya.

__ADS_1


"Tidak, ini sudah seminggu sejak kami pergi ke bar dan kami tidak saling berbicara setelahnya. Aku bahkan tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak mengingatnya atau tidak. Karena setiap kali aku melihat ke dalam mata emerald yang sangat indah itu. Aku hanya melihat diri ku dalam keadaan yang memalukan."


Dia mengerang, membiarkan helaan frustrasi keluar dari mulutnya. Oliver yang sekarang mengerutkan kening saat dia memiringkan kepalanya seolah berusaha mendapatkan kata yang tepat untuk diucapkan. Tapi hampir tidak ada yang terpikirkan. Sepertinya dia tidak bisa membantu apa-apa untuk situasi kali ini.


"Please, help me. Setiap kali aku bersamanya selalu ada ketegangan yang canggung di antara kami dan aku tidak menyukainya. It's like, kami kembali seperti dulu. Arggh... aku ingin memutar balik waktu!"


Menyerah, akhirnya Oliver membuka mulutnya hanya untuk menyuruh James agar berhenti menggoyang tubuhnya nya. "Fine! Aku akan bicara dengannya!" Dia berteriak, menyatakan.


Dengan itu mata James mulai melebar. "Apa yang ingin kau bicarakan dengannya?" James khawatir.


"Jangan khawatir, aku akan bicara dengannya," kata Oliver, lagi, ketimbang menjawab pertanyaan James.


...•—— ⁠✿ ——•...


"Rosie!"


Rosaline mendongak hanya untuk menemukan Oliver tiba-tiba masuk ke ruangannya. Gadis itu melambai, berjalan mendekati Rosaline. Kali ini dia sendirian dan James sudah pulang karena dia mendapat tugas dari Oliver.


Entah tugas apa tapi sepertinya sangat sulit untuk dilakukan, karena saat James kembali ke ruangan mereka siang itu. Wajahnya terjepit dengan emosi yang tidak bisa ditebak oleh Rosaline.


"Kamu belum pulang?"


Rosaline tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku akan pulang setelah aku menyimpan pekerjaan ku. Jam— maksud ku Adler akan membunuhku jika aku lupa menyimpannya," semburnya sembari tertawa akward.


Jari mungilnya perlahan menyentuh touchpad, mengarahkan kursor ke tanda simpan untuk menyimpan pekerjaan yang sejak tadi ia lakukan dari pagi. Tak lama, layar laptopnya menghitam dan Rosaline menutupnya.


"Kamu belum pulang?" Kali ini Rosaline yang mengajukan pertanyaan.


Oliver hanya tersenyum dan menjawab, "I will, tapi aku ingin pergi ke cafe tempat mu bekerja waktu itu. Jadi sekalian saja, akan ku antar kau sampai ke rumah. Kau tinggal di sana, kan?"


Rosaline mengerutkan kening. "Ya tapi aku tidak tahu Daniel masih buka atau tidak, jad—"


"Ayo pergi!"

__ADS_1


Tak dibiarkan sepatah kata apapun keluar dari mulutnya untuk protes, Rosaline pasrah saat Oliver menyeretnya keluar dari perusahaan. Membiarkan perempuan itu mengantarnya pulang ke rumah dengan brand mobil yang sama seperti milik James.


__ADS_2