Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 38


__ADS_3

...CHAPTER 38...


...PERMISSION...


Minggu, di bulan Februari.


Karena hari ini adalah hari liburnya, Reagan mengurus kafe bersama Daniel sementara saudara kembarnya, Rosaline, berada di kamarnya dengan segunung pekerjaan.


Kemarin, gadis itu kembali di larut malam dengan ekspresi muram di wajahnya. Dia bahkan tidak repot-repot pergi ke ruang makan hanya untuk makan malam, malah gadis itu langsung bergegas ke kamarnya dan langsung tidur.


"Sepertinya dia mengalami hari yang buruk kemarin," kata Daniel sambil mengaduk kopi.


Reagan mengangguk. "Mungkin. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Dia terlihat seperti mayat berjalan, mungkin zombie adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya kemarin."


"Aku penasaran apa yang terjadi padanya."


Menyerahkan kopi yang dibuatnya tadi kepada costumer yang berdiri di depan meja barista, Daniel berbalik, langsung berjalan ke dapur meninggalkan Reagan sendirian dengan keramaian di kafe.


Well. Reagan memang terlihat tidak ambil pusing dengan kebisingan di kafe saat itu. Dia hanya menghela nafas sambil menyandarkan tubuhnya ke konter, mencubit pangkal hidungnya dengan frustrasi.


Sedetik kemudian, bel pintu kembali berbunyi, menandakan seseorang memasuki kafe. Reagan mengerang dalam hati, saat dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu. Pria itu hanya membutuhkan waktu tepat satu detik untuk melihat siapa yang masuk, sebelum dia melotot.


"Apa-apaan?" Dia menggeram hampir berteriak dan menarik perhatian semua orang ke arahnya saat dia melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


Reagan mengerang, bergumam pada dirinya sendiri tentang kemalangannya. Di tengah hari, mengapa semua orang yang dia temui harus bertemu dengan pria yang sangat ingin dia pukul? Di sana. Berdiri seorang pria berambut pirang bernama James Orion Adler.


Lelaki itu hanya terdiam melihat ke segala arah dengan tatapan tajam, sebelum perhatiannya terhenti pada Reagan yang berdiri di konter dan memelototinya. Dia berjalan mendekat, dalam pertahanan, saat dia mendengar Reagan mengerang.


Dengan gusar, Reagan berusaha bersikap profesional. Dia tidak bisa tiba-tiba melemparkan pukulan dan menarik perhatian semua orang ke arahnya, meskipun dia benar-benar ingin melakukannya.


"Selamat datang di little latte espresso, sesuatu untuk dimakan atau diminum? Bawa pulang atau di sini?"


Siapapun yang mendengar intonasi bicaranya barusan, pasti akan langsung tahu kalau Reagan sangat malas atau tepatnya tidak punya niat untuk melayani pria pirang di depannya itu.


"Bisakah aku melihat menunya dulu?"


Reagan mengangguk pelan, sementara tangan satunya lagi menyodorkan buku menu kepadanya. Pria pirang itu mengambil buku yang diberikan Reagan dan melihatnya sebelum mengembalikan pandangannya kembali ke Reagan.

__ADS_1


"Mungkin lebih baik untuk mengetahui rekomendasinya juga, karena menu yang ditawarkan cenderung sangat bagus dan enak. Aku jadi bingung untuk memesan yang mana."


Mata Reagan berkedut kesal saat dia melihat seringai yang ditarik pria pirang itu ke arahnya. Hampir saja dia berteriak, mengatakan pada pria pirang itu untuk memesan seluruh menu di kafe saja, dengan begitu dia tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan.


Dengan senyum lebar yang dipaksakan di wajahnya, Reagan mengarahkan perhatiannya untuk menghadap bingkai kayu di sebelahnya.


“Kami punya hazelnut latte, avogato, toast, dan juga waffle,” urainya sambil menunjuk bingkai yang menunjukkan daftar menu rekomendasi.


Butuh beberapa saat bagi lelaki itu untuk memutuskan apa yang ingin dia pesan sebelum dia menyimpulkan dengan hazelnut latte dan dua porsi roti bakar.


"Aku ulangi pesanan mu, hazelnut latte dan dua porsi roti bakar," ulang Reagan sambil menuliskan pesanannya dalam catatan kecil dan menempelkannya di mesin kopi.


"Ada yang lain?" Lanjutnya, mengangkat pandangannya hanya untuk mendapatkan gelengan kepala dari pria itu, "tidak? Oke, kalau begitu. Bawa pulang atau di sini? Untuk rekomendasi, lebih baik dibawa pulang."


James mengangkat bahunya, tahu bahwa kembaran Rosaline di depannya ini sedang mencoba mengusirnya. Tapi tidak hari ini.


"Unfortunately, I choose here."


Dia bisa mendengar kata 'sialan' dari pria itu, saat dia menuntunnya ke meja kosong. Yah, James tidak keberatan sebenarnya. Dia datang ke sini tidak hanya untuk memesan dan menenangkan diri sambil menikmati makanan dan minuman. Dia datang ke sini untuk sesuatu yang berbeda.


Reagan melotot dan James menyeringai. Ekspresi wajahnya sangat mirip dengan Rosaline saat dia tiba-tiba menyebutkan soal saudara kembarnya.


"Apa? Berpikir kalau aku mungkin tidak menyadari kemiripan wajah kalian berdua? Yah meskipun mata emerald Rosaline dan gender kalian bisa menjadi pembeda untuk memisahkan kalian berdua."


Reagan mengerutkan kening. "Apa yang kau inginkan dari adik ku?"


"Bukankah aku sudah memberitahu mu bahwa aku punya sesuatu untuk dikatakan padanya?"


"Kau bisa mengatakannya pada ku, aku akan menyampaikan padanya nanti."


"Tidak tertarik. Aku ingin memberitahunya sendiri."


Reagan mendengus lalu pergi. Dia menyuruh Daniel untuk mengurus pesanan pria pirang itu dulu sementara dia memanggil Rosaline ke atas.


"Siapa? James Orion Adler?" Daniel kaget.


"Ya. Dia bilang ingin bertemu dengan Rosaline,

__ADS_1


mungkin membicarakan proyek mereka."


Daniel mengangguk dan bergegas membuat pesanan. Tidak butuh waktu lama bagi Rosaline untuk turun dan bertemu dengan pasangannya. Dia berhenti di depannya yang sedang menikmati roti panggangnya.


"Ada apa?" Dia bertanya dengan lembut dan duduk di depannya.


"Kita harus pergi ke Edinburgh. Mereka bilang ada yang tidak beres dan meminta kita pergi ke sana untuk memeriksanya." Dia menyerahkan ponselnya, menyuruh gadis itu untuk melihat sendiri email yang dia dapatkan di pagi hari tadi.


"Edinburgh?" Rosaline terkejut. "Kapan?"


"Besok. Aku sudah mengurus semuanya."


Rosaline mengerang ragu saat dia berbalik, menatap Daniel dan Reagan yang sedang mengawasi mereka.


"Aku akan meminta izin kepada mereka. Kau boleh memanggil mereka ke sini. Aku akan sangat menghargai jika mereka berhenti memandangi ku seperti itu."


Rosaline melambaikan tangannya, menyuruh Reagan dan Daniel mendekat. Keduanya tampak bingung, tapi tetap menurut.


"Ada apa, Rosie?" tanya Daniel sambil tersenyum lembut.


Rosaline menoleh ke James, membiarkan pria itu berbicara. "Kami berdua harus pergi ke Edinburgh. Proyek yang kami buat di sana ada yang tidak beres, jadi kami berdua harus pergi ke sana dan memeriksanya sendiri."


"Kau minta izin pada ku? Tanyakan saja pada Rosie, dia yang akan menemani mu ke sana," jawab Daniel, menoleh ke Rosaline lagi.


Rosaline dan James pun menoleh ke arah Reagan. Menunggu dia berbicara.


"Jika sesuatu terjadi pada adik ku, aku akan membunuh mu."


Dan kemudian, James mengalihkan perhatiannya kembali ke roti panggangnya dan memberikan anggukan percaya diri sebagai jawaban.


"Kapan kalian berdua pergi ke sana? Dan dengan apa?"


"Besok. Dengan kereta api. Pukul sembilan pagi. Bisakah kalian berdua membantu ku untuk memastikan gadis ini tidak datang terlambat lagi?"


Rosaline cemberut sementara Reagan dan Daniel mengangguk. "Ya, dia memang selalu terlambat. Dia itu pemalas kalau bangun pagi."


Dengan itu, Rosaline menendang saudara kembarnya dan Reagan hanya mengayunkan tubuhnya dan pergi. Meninggalkan Rosaline yang berteriak menyuruhnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2