
...CHAPTER 10...
...WESTGATE...
"Kau mau berkeliling sendirian, Rosie?" Daniel shock.
"Ya, aku mau berkeliling sendiri," jawabnya santai.
"Kenapa?" Daniel bertanya sambil memiringkan kepalanya ke kanan. Ia memandang lekat iris emerald Rosaline di depannya yang menelangsa, menatap nanar ke arah bangunan Westgate di depan mereka.
"Nah. Entah kenapa aku mendapatkan perasaan kalau kita akan menjadi pusat perhatian. Karena itu aku tidak mau berjalan bersama kalian."
Rosaline menghela napas panjang. Cukup di tempat kuliahnya saja dia menjadi pusat perhatian karena ketenaran Clark dan gelar anggota keluarganya yang the golden money itu. Dan tidak di tempat umum seperti ini.
Sangat memalukan, pikirnya.
"Seharusnya kau senang karena bersama orang tampan seperti ku," Celetuk Reagan narsis. Dia melotot tajam melihat sang kembaran saat gadis itu memasang tampang jijik di wajahnya. Entah kenapa Reagan sedikit tersinggung.
"What a narcissist person you are, Reggie," Cibir Rosaline menggelengkan kepalanya lelah.
Sudah berapa tahun dia tinggal bersama laki-laki itu dan menyandang status sebagai saudara kembarannya, Rosaline tidak pernah terbiasa dengan sifat narsistik sang kembaran yang selalu menyebut dirinya tampan.
"Aku memang tampan, Rosie! Mata mu saja yang bermasalah," Bela Reagan, membuat sudut bibir Rosaline terangkat seiring tangannya menyilang di depan dadanya.
"Narsis," ejek Rosaline tak suka. Dia mengalihkan perhatiannya ke sembarang arah sebelum mendengar suara dengusan dari pria dewasa di dekat mereka.
"Kau tega sekali, Rosie," Seru Daniel. Dia berseru dramatis, memasang ekspresi wajah menyebalkan yang seolah-olah memberi tahu dunia bahwa dia adalah seorang pria paling tersakiti di muka bumi ini.
Rosaline memutar bola matanya tak peduli. Dia mengerutkan keningnya dan menarik sudut bibirnya hanya untuk memasang tampang jijik lagi.
Oh my god, I don't know them, batin Rosaline.
Ia berdecak. Sangat memalukan kalau ingin Rosaline menggambarkan situasi mereka sekarang. Dia bisa merasakan semua mata tertuju ke arah mereka. Sama seperti yang ia rasakan selama dirinya berada di samping Clark. Si anak dari keluarga terpandang.
Tanpa basa-basi lagi, Rosaline langsung berjalan menjauhi kedua pria itu. Meninggalkan sang kembaran bersama Daniel yang tengah berteriak keras dan menciptakan skenario dramatis di parkiran yang sangat-sangat memalukan.
__ADS_1
Seketika Rosaline ingin sekali mencekiknya atau melakban mulut pria itu dengan lakban hitam yang super lengket, sesaat telinganya menangkap banyak cibiran yang ditujukan untuk mereka.
"Ah, gosh," Umpatnya malu.
Dia semakin mempercepat langkahnya memasuki bangunan Westgate saat dirinya melewati segerombolan wanita dewasa yang memandang mereka aneh. Dan entah kenapa, Rosaline menemukan dirinya terbiasa dengan pandangan itu.
Rosaline mendongakkan kepalanya ke atas begitu gadis itu berada di dalam gedung Westgate. Dia terpana. Terpukau dengan langit-langit kaca di atasnya yang membuat iris emerald-nya dengan mudah menerawang lurus ke atas.
Terang dan cerah. Dua kata yang terselip dalam benak Rosaline saat ia memandang langit biru di atasnya.
Ia menggerakkan kakinya untuk mengelilingi seluruh area Westgate, sebelum kakinya membawa gadis itu berhenti tepat di depan sebuah butik setelah perhatiannya teralihkan ke sebuah satu set pakaian yang terpajang di depan butik itu.
Pupilnya tergerak pelan, membaca tulisan 'Anne's fashion' di atas pintu kaca butik itu. Penasaran. Rosaline pun memutuskan untuk melihat ke dalam sejenak. Ia menyadari ada aroma kopi yang menyambut kedatangannya seiring dirinya masuk.
Di dalam sana. Rosaline lagi-lagi terpana dengan rahang yang menganga lebar. Matanya berbinar ketika mendapati banyak pakaian wanita yang berjejer rapi sesuai warna. Entah itu merah, coklat, atau putih, yang jelas mereka tertata rapi, dan membuatnya mudah menemukan warna kesukaannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pegawai wanita menepuk pundak Rosaline lembut dan tersenyum ramah.
Rosaline yang notabene-nya penyuka warna coklat langsung menunjuk ke arah kumpulan pakaian wanita yang berwarna coklat dengan binar semangat yang belum ia singkirkan dari matanya.
Dia menunjuk ke arah sweater, crop top, dan beberapa mantel di dekatnya. Rosaline. Dia mendengarkan seksama penjelasan pegawai wanita itu dahulu tentang tekstur bahan pakaian dari butik mereka, sebelum akhirnya Rosaline memilih beberapa sweater rajut dan mantel.
"Anda terlihat cantik," Puji pegawai wanita itu.
Rosaline hanya terkekeh kecil sebagai respon sebelum menelpon Reagan dan Daniel, memberi tahu mereka berdua keberadaannya. Tak lama. Kedua pria itu datang dengan banyak paperbag di tangan mereka.
"Pilihan warna yang cantik Rosie," Puji Daniel membuat pipi Rosaline mengembung dalam senyuman, "berbeda sekali dengan kembaran mu yang satu itu. Pilihan warnanya sangat kuno. Sepertinya terlalu lama tinggal bersama Julian selera pakaian kalian jadi menurun," Komennya.
Rosaline tertawa geli. Jangan sampai Julian mendengar komentar Daniel barusan, kalau tidak mereka berdua pasti akan bertengkar nantinya.
"Terima kasih."
Rosaline berbalik untuk melihat reaksi Reagan walaupun dia sendiri tahu tidak akan ada kata-kata manis yang akan memujinya keluar dari mulut laki-laki itu. Well, bisa dilihat dari sudut bibir Reagan yang terangkat dan tampang jijiknya sekarang.
"Don't say anything sebelum aku memukul mu," Peringat Rosaline. Saat melihat bibir Reagan yang perlahan terbuka dan pasti! Ada saja kalimat yang keluar dari mulutnya yang membuat Rosaline kesal.
__ADS_1
Daniel segera melerai kedua saudara kembar itu dan berkata, "kami akan membeli semua ini, tolong antar kami ke kasir," ucapnya kepada pegawai wanita yang berdiri di belakang si kembar.
"Tentu, lewat sini."
Sepeninggal pegawai wanita itu, Daniel menyodorkan sebuah kartu kredit ke Rosaline, membuat gadis itu mengerut heran.
"Sudah ku bilang, kan? Aku akan membelikan kalian pakaian baru? So take this and buy whatever you want. Don't worry, I'm rich."
Rosaline terkekeh kecil dan mengangguk. Ia berdiri di antara barisan panjang kasir, hingga tiba saat gilirannya, Rosaline tanpa sadar memperhatikan sosok wanita yang menjaga mesin kasir tersebut.
Rambutnya hitam dan panjang. Wajahnya cantik dan postur tubuhnya juga tinggi, bahkan melebihi tinggi badan Rosaline. Ketika perempuan itu menyebutkan total yang harus ia bayar, lamunan Rosaline buyar dan buru-buru gadis itu menyodorkan kartu kredit di tangannya.
"Terima kasih. Datanglah kembali ke Anne's Fashion kapan saja. We're looking forward for your next arrival," ucapnya dengan senyuman manis.
"Tentu saja. Sepertinya butik ini akan menjadi butik favorit ku. Terima kasih."
...•—— ✿ ——•...
Setelah melakukan fashion show dadakan hanya untuk memamerkan pakaian yang mereka beli di Westgate ke Julian. Rosaline menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan geraman lelah. Dia melirik ke arah banyak paperbag yang dia letakkan di sudut kamarnya. Membaca tulisan 'Anne's fashion' sekali lagi.
Oh tuhan. Daniel sama seperti Julian. Sangat boros dan terlalu memanjakan mereka. Batinnya.
Ia menggeliat di tempat tidurnya, berbalik hanya untuk menempatkan iris emerald-nya menatap langit-langit kamar dengan nanar. Gadis itu seketika teringat apa yang baru saja ia lihat di Westgate tadi. Gambaran apa yang ia lihat masih tergambar jelas.
Rambut emas platinum yang panjang, lirikan mata yang tajam seakan mengintai, dan belum lagi wajah aristokrat-nya yang dingin —walaupun sekilas tertutupi oleh masker— Rosaline seratus persen yakin dia adalah James Orion Adler. Kekasih Clark.
Tapi kenapa laki-laki itu bersama wanita lain? Bukan Clark?
Rosaline melompat dari tempat tidurnya. Matanya membelalak lebar, saat kepalanya tak sengaja mengulas balik pertemuan pertamanya bersama James di kafe little latte espresso waktu itu.
Wanita yang bersama James di Westgate tadi adalah wanita yang sama di kursi penumpang yang pernah ia lihat waktu itu
"Hahaha. Tidak mungkin, kan, dia selingkuh?" Kekehnya miris sambil mengayunkan tangannya ke udara.
Sekilas, Rosaline dapat membayangkan reaksi Clark jika James ketahuan selingkuh darinya. Tentu saja akan ada perang besar di antara mereka dan sayangnya. Rosaline. Dia pasti akan ada di sana untuk menyaksikan pertengkaran mereka berdua.
__ADS_1