Di Benua Eropa

Di Benua Eropa
Chapter 22


__ADS_3

...CHAPTER 22...


...THE BATHROOM ...


Dua minggu setelah pertemuan mereka, akhirnya Kaylie kembali ke kampus. Gadis itu terlihat sangat jengkel ketika semua orang membicarakannya, walaupun dia dengan mudahnya membalas mereka. Bahkan di hari pertamanya masuk kuliah, Kaylie sudah membuat onar dengan Clark.


Rosaline berbalik hanya untuk menemukan Kaylie sedang memainkan rambutnya. Dia terlihat sangat mengantuk, lihat saja bagaimana matanya yang perlahan tertutup seiring kelas berjalan.


Saat mata mereka tak sengaja bertemu. Rosaline tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kaylie, tanpa suara menggumamkan kata-kata dan ajaibnya Rosaline mengerti. Gadis itu berkata, 'ikut aku setelah kelas'.


Lantas Rosaline mengikutinya saat kelas selesai. Ia sadar kalau Kaylie menuntunnya menuju perpustakaan. Ketika mereka sampai, Rosaline mengerutkan alisnya heran melihat Kaylie yang tiba-tiba menyodorkan sebuah buku padanya.


"Wuthering heights, Emily Bronte. Buku ini tentang balas dendam, aku paling suka cara Heathcliff membalaskan dendamnya untuk Catherine."


"Ini buku yang kau beli kemarin?" Tanya Rosaline.


Kaylie menyilangkan tangannya ke depan dada, seiring wajahnya terulas senyum bangga. "Ya, saat ku lihat kau membaca karya Shakespeare tentang Hamlet di kafe kemarin, ku pikir kau akan suka buku ini."


Rosaline membuka lembaran buku itu perlahan, membiarkan aroma kertasnya menyeruak masuk ke dalam hidungnya. "Terima kasih. Sepertinya bahan bacaan ku bertambah malam ini."


Kaylie menatapnya lama. Ia memperhatikan Rosaline saat gadis itu mendekatkan bukunya ke hidungnya, seakan menghirup dalam-dalam aroma buku tersebut. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar di samping mereka.


"Beberapa hari terakhir ini, aku sadar kalau kau dan the golden money itu jarang sekali terlihat bersama. Ada apa?"


Rosaline mendongak hanya untuk mendapati Kaylie sedang melihat ke luar melalui jendela. kepalanya menoleh dan tersentak ketika dia melihat Clark ada di sana bersama James.


"Aku mulai menentangnya, membantah seluruh omong kosongnya tentang strata sosial di dunia ini."


Kaylie mengangguk dalam diam, sama sekali tak melepas pandang dari Clark dan James di sana sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke arah Rosaline yang sedang memainkan kuku jarinya.


Tentu saja. Ada progres dari pergerakan Rosaline untuk melawan Clark. Dia mulai berani membantah perkataannya, mengatakan segala sesuatu yang mungkin Clark benci.


Dan inilah akibatnya. Ia dan Clark jadi jarang sekali bersama. Well, jujur saja. Rosaline tidak peduli akan hal itu. Dia sama sekali tidak keberatan kalau Clark menjauh darinya, karena niatannya dari awal dia ingin lepas dari Clark.


"Kalau begitu tinggal satu step lagi. Kau harus membuatnya membenci mu, dengan begitu dia tidak akan mengganggu mu lagi."

__ADS_1


"I'm not sure about that," Ucap Rosaline ragu, "kau tahu sendiri siapa dia, Kaylie. Dia bukan orang biasa. Keluarganya punya kedudukan di pemerintahan, aku tidak bisa membahayakan diri ku sendiri."


"Oh persetan dengan pemerintahan, Rosaline. Jika hal ini diumbar ke media, keluarganya pasti malu dengan kelakuan anaknya yang seorang pembully."


"Ya, setelah hal ini diumbar dan menjadi ramai di seluruh pelosok Inggris, para anggota the golden money itu pasti akan memburu ku karena mengumbarnya ke media. Kau tahu, ini seperti aib bagi organisasi orang kaya itu."


"Ku rasa sudah waktunya the golden money hancur. Mereka sudah menginvasi Inggris terlalu lama, sepertinya melalui diri mu nantinya, the golden money akan hancur dan Inggris akan bebas dari para pebisnis kaya sialan itu."


"Oh shut up, Kaylie. Jangan berharap aku akan bertindak lebih jauh. Mana mungkin aku melawan organisasi pemerintahan sendirian, bisa-bisa aku dianggap seperti *******."


"Siapa yang tahu masa depan, Rosaline. Bisa saja pikiran ku terjadi nantinya?"


"Jika itu terjadi, aku akan menyesali keputusan ku ke Inggris selamanya."


...•—— ⁠✿ ——•...


Rosaline duduk sendirian di kamar mandi. Dengan kaki yang berada di atas closet, ia mendekap kakinya, menjadikan lututnya sebagai sandaran dagunya seiring helaan napas panjang nan berat terus keluar dari bibirnya.


Sekarang ia tengah kebingungan. Semakin keras Rosaline mencoba untuk tidak memikirkan perkataan Kaylie di perpustakaan tadi, semakin keras pula ia memikirkannya.


Sangat lucu, pikirnya.


Rosaline terkesiap saat suara keras dari arah luar terdengar. Seketika, perasaannya tak enak. Entah kenapa setiap kali mendengar suara keras seperti itu, pikirannya langsung teringat akan Clark dan Asher.


Dengan hati-hati agar tak ada suara yang keluar darinya, Rosaline membuka pintu kamar mandi di mana ia berada dan mengintip. Matanya langsung melebar penuh kengerian melihat Clark yang menjambak rambut Asher dan menyeret gadis itu menuju wastafel.


Rosaline merasa darah di dalam tubuhnya mengalir cepat tepat setelah menyaksikan Clark menenggelamkan seluruh wajah Asher ke dalam genangan air di wastafel itu dan membuatnya meronta-ronta seperti orang kehabisan napas.


Ada suara tak jelas yang terdengar dari Asher seiring gelembung di genangan air itu bermunculan. Clark, dengan kasar menarik kepala Asher dari genangan itu dan mendorongnya hingga tubuh gadis itu menabrak dinding di belakangnya.


"Kau pikir kau bisa melawan ku? Orang rendahan seperti mu? Jangan buat aku tertawa!"


Kali ini, baik lensa dan gagang kacamatanya hancur. Asher hanya bisa menatap pasrah kacamatanya yang berada di bawah kaki Clark bersamaan dengan air mata yang mengalir di ujung matanya.


"Beraninya kau berpikir untuk melaporkan ku kepada dewan kampus, kau pikir mereka bisa membantu mu? Jangan bodoh! Aku yang memegang kendali di sini! Mereka semua tidak ada harganya di depan ku."

__ADS_1


PLAK!


Rosaline merasakan ada sesuatu yang mendidihkan amarahnya saat rahangnya menegang melihat Clark menampar wajah Asher, membuat gadis itu hanya bisa menangis tersedu-sedu.


Rosaline bahkan tidak menyadari seberapa kuat dia mengepalkan tangannya sekarang seolah-olah dia siap untuk melemparkan apapun ke arah mereka dan menghentikan pertengkaran sampah mereka di sana.


Dengan langkah yang menghentak, Rosaline akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas menuju Clark dan Asher.


Sepertinya tidak ada dari mereka yang menyadari keberadaannya di sana bahkan setelah Rosaline kembali menghentakkan kakinya di belakang, tidak satu pun dari mereka yang berbalik untuk melihat.


Rosaline merasa marah. Dia mengerutkan bibirnya dan mengepalkan tinjunya lebih kuat dari sebelumnya. Masih berusaha menahan amarahnya agar tidak membuat dirinya menyesal tanpa alasan di kemudian hari.


Tapi, dalam sedetik ketika perempuan berambut merah maroon di depannya itu mengangkat tangannya, amarah Rosaline langsung meletus bagaikan gunung berapi.


"Stay. Away. From. Her!"


Suaranya tenang tapi siapa pun yang mendengarnya sekarang bisa merasakan kemarahan dalam tiap katanya.


Clark, dia terlihat sangat terkejut ketika sebuah tangan mencengkeram tangannya dengan erat. Saat dia menoleh, rahangnya terbuka lebar. "Apa yang kau lakukan, Rosaline? Lepaskan tangan ku!"


Clark mencoba menarik tangannya dari cengkraman Rosaline. Namun nihil, rasanya ada sesuatu yang merasuki Rosaline sekarang sampai-sampai membuat gadis itu tak bergeming sama sekali.


"Jauhi dia."


Clark menyeringai. "Oh, kau berani melawan ku sekarang?"


Rosaline berdiri tegap dan tinggi dengan yng dagu terangkat sementara bibirnya tersenyum lebar dan bangga. "I am," jawabnya.


Wajah Clark memerah. Bukan karena malu melainkan marah. Dia menggeram seperti banteng, hampir membuat Rosaline tertawa karena membayangkan segumpal asap keluar dari telinganya.


"Berkeliaran dengan para rendahan itu membuat mu menjadi pembangkang seperti ini. Bagus sekali Rosaline. Akan ku buat kau menyesali perbu—"


PLAK!


Dengan tatapan sedingin es, satu tamparan melayang di pipi Clark.

__ADS_1


"Aku muak dengan mu, Clark."


__ADS_2