
...CHAPTER 46...
...VICIOUS CIRCLE...
"Oh... di mana Oliver?"
James mendongak hanya untuk mendapati sosok Rosaline berdiri di depan pintu masuk. Di genggaman gadis itu ada dua roti kemasan dan juga minuman botolan. Dia berjalan masuk dan duduk di tempat Oliver tadi.
"Apa yang dia bicara-" dia tersentak, "-ah kalau kau tidak mau memberitahu ku tidak apa. Really, i'm fine. Toh itu privasi mu."
Gadis berambut brunette itu seketika menjadi panik sendiri saat melihat sepasang mata abu-abu pria pirang itu tengah memandangnya dengan intens. Yang seolah-olah berkata, 'Dare to ask. Say good bye to the world'.
Rosaline sesekali melirik laki-laki itu dalam diam seiring tangannya mencoba membuka bungkusan roti. Entah kenapa bungkusan roti itu seketika menjadi susah dibuka. Tangan Rosaline sampai gemetar dibuatnya.
"Sialan, kenapa ini susah sekali?" Gerutunya.
Tangannya yang gemetar, kini digantikan oleh rasa tegang di seluruh tubuhnya tatkala pria pirang yang ada di depannya tiba-tiba berdiri dan berjalan mengarahnya. Rosaline tersentak saat jemari-jemari kekar merebut paksa rotinya dan pop! Bungkus roti itu terbuka dengan mudah.
Oh hell, pikirnya.
Rahangnya mengatup sementara bibirnya membentuk senyum canggung. Ia meraih roti yang disodorkan pria itu dengan tangan gemetar dan memakannya setelah mengucapkan terima kasih. Seketika rasa roti coklat itu berubah.
"U-uhm kau mau?"
Dengan canggung, Rosaline menyodorkan sisa roti yang ia beli kepada laki-laki itu. Ya. Walaupun Rosaline tidak berharap James akan mengambil rotinya, setidaknya dia punya cara lain untuk berterima kasih. Toh pria itu belum makan apa-apa siang ini.
Zamrud bertemu abu-abu. Entah sudah berapa lama mata mereka tak tertaut selama ini. James menatapnya lama sebelum melemparkan tatapannya ke rotu di tangan Rosaline dan mengambilnya.
"Terima kasih," ucapnya.
Rosaline mengangguk. Masih dengan perasaan tak percaya bahwa James mengambil roti pemberiannya.
__ADS_1
Dua insan itu makan dengan tenang siang itu. Rosaline duduk di sofa sementara James duduk di hadapannya. Sejenak mereka berdua seolah-olah tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kau ingin tahu apa yang Oliver katakan tadi?"
Rosaline ragu. Dia menatap laki-laki itu dengan dahi mengernyit, seakan-akan dari ekspresinya mengatakan bahwa pria itu tidak perlu memberitahunya soal perkataan Oliver tadi. Yang sangatlah privasi untuknya.
"No. You don't need-"
"Ayah ku dan Clark tahu soal kita."
Rosaline mengedipkan matanya beberapa kali, mencerna perkataannya barusan. Entah kenapa mendengar perkataan James tadi sangatlah tabu. Seolah-olah mereka berdua baru saja ketahuan selingkuh oleh keluarga laki-laki.
"Jangan berkata seperti itu. It sounds like we have an affair, you know," Protesnya tak terima.
James hanya bisa terkekeh menanggapi perkataan Rosaline. Dia membungkuk, menyeringai, menutup jarak di antara mereka berdua sehingga wajah Rosaline hanya berjarak beberapa inci darinya.
"Sebenarnya aku tidak merujuk masalah ini ke perselingkuhan. Hanya pikiran mu saja yang merujuk ke arah sana. Sepertinya kau benar-benar ingin berkencan dengan ku ya, Smith?"
"Like hell I want it. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga mu, apalagi dengan para fans mu dan Clark. Aku masih ingin hidup tenang."
James menyeringai. "Well, sekali kau masuk lingkaran the golden money, kau tidak akan pernah bisa keluar."
"Pfft— kenapa deskripsi mu tentang the golden money terdengar seperti lingkaran setan, huh?" Ketimbang pujian, nada suaranya lebih terdengar seperti mengejek.
Dari pada membalas perkataan Rosaline, James lebih memilih mengangkat bahunya dan berjalan menuju pintu keluar. "Jangan khawatir, I'll handle this. Akan ku pastikan mereka tidak akan mengganggu mu setelah ini."
Dengan begitu, pintu tertutup dan sosok James Orion Adler menghilang dari baliknya.
...•—— ✿ ——•...
Malam itu, James pulang cukup larut. Dia tak langsung pulang ke rumah di mana orang tuanya menunggu, melainkan seperti orang gila dia berkendara mengitari London dengan kecepatan tak wajar.
__ADS_1
Mobilnya penuh dengan alunan musik klasik yang cocok untuk menenangkan pikirannya sejenak. Walaupun sejak tadi ponselnya terus bergetar. Selalu memampangkan nama sang ayah di layarnya.
James mendengus. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan entah berantah, mungkin berada di perbatasan London dan kota lain? Entahlah. Yang penting dia bisa jauh dari masalah walau hanya sebentar saja.
Dari laci dashboard mobil, ia mengeluarkan sekotak rokok dan pemantik api. Tangannya menarik satu puntung rokok dan membiarkannya bertengger di mulutnya.
Sekejap api kecil membakar sumbu saat pemantik dihidupkan. James menghisapnya lalu menghembuskan asapnya keluar melalui jendela.
Dia menoleh ke arah ponselnya yang masih bergetar. Kali ini, nama sang ibu yang terpampang. Namun sama seperti yang dia lakukan dengan panggilan telepon sang ayah, James juga mengabaikannya.
Dia menyandarkan kepalanya ke kemudi mobil, masih sesekali menghisap rokok dan menghembuskan asapnya. Dari tadi kepalanya terasa sakit karena pusing memikirkan apa yang akan terjadi saat dia pulang nanti. Atau saat dia harus berurusan dengan Clark.
Karena jujur saja. Hubungan mereka sudah mulai terlihat tidak sehat. Mereka sering bertengkar karena hal kecil dan belum lagi api kecemburuan yang selalu meluap dari Clark. Semuanya memuakkan kalau ingin James mengartikannya.
"Lingkaran setan. Lucu sekali."
Gumamannya mungkin tidak terdengar oleh orang lain, namun entah kenapa saat ini James bisa mendengar suara Rosaline yang menyebut the golden money adalah lingkaran setan. Lucu memang. Tebakannya hampir sempurna.
Bagi James, the golden money adalah belenggu. Layaknya lingkaran setan yang mengikat dan menyembunyikan sejuta rahasia dari masyarakat dan James tidak bisa keluar dari sana. Apalagi melarikan diri.
Memang terkadang rasa penyesalan selalu muncul di benaknya karena terlahir di keluarga kaya, apalagi dari seorang anggota the golden money. Tapi, siapa dia yang berhak mengatur takdir alam yang sudah dituliskan untuknya? Dia hanya manusia biasa, bukan Tuhan yang memiliki segalanya.
Tapi tidak ada salahnya berharap bukan? Itu bukanlah suatu dosa. Jika tuhan memberikan kesempatan, dia ingin merasakan hidup menjadi orang biasa. Tanpa adanya kamera yang mengintai. Dia juga ingin privasi dan keluarga yang hangat seperti Rosaline.
Jujur. Dia iri terhadap gadis itu. Segala yang dia inginkan, gadis itu mendapatkannya. Bukankah itu tidak adil? Seharusnya dia juga bisa memilikinya.
James meringis saat abu rokok yang panas mengenai tangannya. Dia baru sadar kalau sejak tadi dia melamun dan membiarkan api di rokoknya terus bergerak menciptakan abu panas yang menyakitkan.
Dia melemparkan tubuhnya ke belakang, bersandar di antara pintu dan bagian belakang kursi. Kepalanya menoleh keluar jendela, memandang langit malam di mana bulan purnama tengah bersinar terang di antara bintang.
"Ku rasa saatnya aku pulang. He is going to beat me kalau aku terus kabur seperti ini dan ibu tidak akan bisa membantu ku lagi."
__ADS_1
Mesin mobil dinyalakan. Dengan kecepatan normal James kembali ke rumah megahnya yang mirip seperti istana. Pulang menghadapi masalah yang ia tak tahu bagaimana menyelesaikannya.