
Sore hari tiba dengan sangat cepat di mana Arya mentraktir para sahabat nya di cafe saat kocil di kerjai oleh Arya dan coki.
" cil, gue yang nyetir ya " pinta Arya memelas, ya karena kocil sangat memegang janji nya saat papa Arya meminta kocil untuk jangan memperbolehkan Arya menyetir terlebih dahulu.
" gak boleh, lo duduk diem aja napa " ucap kocil melarang lalu menginjak gas menuju sebuah cafe yang sekarang telah di renovasi menjadi cafe anak muda untuk nongkrong.
" cil jangan gitu lo kan sahabat gue yang paling baik " ujar Arya memuji kocil agar mau memperbolehkan dirinya menyetir.
" gue emang baik Ar, tapi gue udah janji sama papa lo " ucap kocil tak mau di babtah sama sekali.
" huh, lo ma gitu cil " cemberut Arya agar kocil merasa bersalah pada Arya.
Namun apa yang di rencanakan Arya tak membuahkan hasil kini kocil malah bernyayi ria dengan suara Fals nya.
Ngapa kocil gak merasa bersalah gitu, apa gue salah omong ya tadi. Batin Arya bingung biasa nya kocil akan merasa bersalah pda seseorang jika sudah di ucapkan lah kata-kata tadi.
" cil, lo denger omongan gue gak sih " tanya Arya
Namun masih saja kocil bernyayi dengan pandangan manatap lurus ke arah jalan tanpa memperhatika Arya yang berbicara sendiri itu.
Kocil punya penyakit telinga kali. Batin Arya menebak walau dengan suara yang keras saja kocil tak mendengar apalagi suara kecil yang bagi kocil hanya sebuah suara semut yang menjerit.
" udah sampek deh " ucap kocil dengan tangan melepas sesuatu dari telinga nya, benda itu berbentuk kecil seperti earphone kalau tak salah.
" apa itu earphone yah " gumam kecil Arya yang masih terdengar di telinga kocil walau samar samar.
" apa Ar? "tanya kocil memastikan pendengaran nya tidak salah mendengar Arya berbicara tadi.
" lo tadi ngapain sih gue panggilin gak denger " kesal Arya pada kocil dengan mimik wajah penasaran.
" gue tadi pekek earphone Ar, biar rileks gue " jelas kocil tanpa merasa aneh dengan pertanyaan Arya yang memperdulikan nya.
" benerkan itu earphone " gumam Arya kecil
" masuk yuk Ar, betah bener loh di kursi tuh " tegur kocil yang nampak Arya tak bergerak sama sekali dari kursi mobil itu.
" sabar napa cil ini juga lagi gerak " ucap Arya melepas sletb lalu menuruni mobil mewah itu bak seorang pengeran mencari sang putri.
" hallo semua " sapa Arya pada semua penggunjung yang melihat diri nya turun dari mobil.
" saleb lo Ar " tanya kocil
__ADS_1
" seleb cil... Seleb " ucap Arya membenarkan typo kocil yang kebangetan.
" typo dikit kali Ar " ucap kocil, berjalan beriringan dengan Arya sembari tangan merangkul pundak Arya.
" tapi kebangetan cil " ucap Arya pada kocil yang merangkul nya, Arya pun membalas rangkulan tangan kocil dengan tangan nya ikut merangkul pundak kocil.
Mereka berdua menuju tempat duduk yang di sana telah ada yang menunggu mereka berdua, yah siapa lagi kalau bukan coki yang notabe nya suka sekali jika diajak nongkrong.
Mengobrol bersama dengan tawaan yang renyah mengelilingi meja mereka bertiga banyak para mengunjung lain nya yang merasa iri akan erat nya persahabatan.
Arya pov off.
Duduk di pinggiran ranjang Diana merasakan rasa kecewa di hati nya padahal Diana berharap Arya akan menjemputnya lalu membawa nya pergi mengelilingi seluruh kota yang ada di indonesia.
Namun semua itu hanya angan angan saja bagi Diana, sekarang cukup menutupi nya Dan tersenyum meratapi angan angan itu.
Tersadar dari pandangan kosong nya Diana bangkit dari ranjang lalu menepuk nepuk kepala nya, yang begitu bodoh nya berpikir jika itu telah berakhir.
Bagaimana mungkin itu yang terakhir sedangkan Diana saja belum berjuang sama sekali,yang Diana lakukan hanya lah menunggu, apakah bisa Arya datang tanpa di panggil yah itu lah yang Diana lakukan menunggu tanpa berjuang seperti mengabari atau memanggil nya.
Tok....
Tok....
Suara pintu di ketuk mengganggu Diana yang tengah menceramahi pikiran nya untuk berjuang namun badan nya tak mau berjuang.
" siapa sih?! " ucap Diana,berjalan menuju pintu utama rumah mbh Minah.
" siapa? "tanamya Diana pada pelaku dari ketukan pintu tadi.
" manusia " jawab nya, membuat Diana naik pitam langsung.
" gue tau lo manusia bukan setan "kesal Diana dengan membuka pintu.
" ya, saya bukan setan " jawab nya lagi membuat Diana memberhentikan aktivitas membuka kunci pintu.
" lo orang gila ya? "tanya Diana memastikan sebelum pintu yang menghalagi mereka berdua melihat satu sama lain.
" ya, saya bukan orang gila " jawab nya
" tinggal jawab bukan aja, harus pakek panjang lebar segala " ucap Diana berbalik badan bermaksud pergi meninggalkan orang nyasar ini.
__ADS_1
" ya, maaf saya kan ingin main dengan kamu " ucap nya panjang lebar lagi, sia-sia saja yah Diana menjelaskan jika akhirnya panjang lebar lagi.
" au ah males " jawab Diana pergi, namun sebelum itu Diana mendengar suara pintu di buka.
Krieeettt....
Pintu di buka dengan perlahan seperti main pencuri and polisi,namun yang muncul bukanlah pencuri tapi orang jadi jadian yang menyamar menjadi manusia untuk menyelesaikan misi nya.
Itu lah yang ada di pikiran Diana saat ini membayangkan betapa gagah dan tampan nya sang mahkluk di belakang nya. Diana sibuk membayangkan pangeran nya hingga ia tak melihat seseorang telah berada di hadapan nya.
" aduh pangeran ku " ucap Diana dengan senyum manis yang memperlihatkan gigi kecil nya yang indah.
Tangan Diana tidak bisa diam, memegang wajah seseorang yang ia anggap sebagai pangeran nya sekarang.
Apakah pengeran ku membawa boneka, kenapa lembut sekali. Batin Diana mengerutkan dahi nya.
" mana mungkin pengeran ku membawa boneka, mungkin itu pedang nya yang tertutupi baju nya yang lembut " ucap Diana, ucapan Diana tersebut terdengar pada sang pemilik.
" ihh, tangan nya bau " keluh nya ingin mengeluarkan semua isi di dalam perut nya dia hadapan Diana yang tidak sopan.
" lepas " ucap nya lagi kini sudah tidak tahan untuk mengeluarkan semua isi dalam perut nya yang telah berputar putar di dalam.
" pangeran berhenti lah bergerak " ucap Diana tidak nyaman dengan gerak nya orang di depan nya yang meminta untuk melepaskan tangan nya dari wajah .
" saya bukan pangeran kamu, lepaskan saya " teriak nya keras agar Diana tersadar dari dunia hayalan nya.
Dan benar saja Diana tersadar dengan wjah linglung nya yang membuat semua orang ingin menampar nya agar teringat semua apa yang ia lakukan.
" loh, kenapa pangeran ku jadi si banci ini " ucap Diana kehilangan pangeran nya.
" saya bukan pangeran kamu " ucap nya sekali lagi jika diri nya bukan pangeran.
" saya ke sini mau memberikan kamu ini " ucap nya dengan sebuah benda di tangan nya.
" apa ini? "tanya Diana
" ini ponsel, kamu butuh ini saya liat tadi kamu habis tlp seseorang yang penting bagi kamu " jelas nya dengan tangan mengulur kepada Diana.
" tidak aku tidak butuh ponsel " tolak Diana lalu pergi meninggalkan nya sendiri di depan pintu.
bersambung.......
__ADS_1