
Arya membawa Diana kesebuah hotel bintang lima, memasuki hotel yang langsung disambut hangat para karyawan bahkan para pengunjung sekian. Diana sedari tadi hanya menekuk wajah nya, tak habis pikir dengan Arya yang malah membawanya kesebuah hotel bukan nya ke restoran.
"Kenapa di hotel sih? Gua dah laper, ke Restoran kek. "gerutu Diana.
Arya tak menghiraukan ucapan Diana sepanjang langkah kaki nya, setelah menaiki tangga sampai ke lantai tiga kini Arya dan Diana berpindah menaiki lift agar cepat santai.
"Kenapa gak sedari tadi sih naik lift nya. "gerutu Diana jongkok didalam lift, memeganggi lutut nya yang pegal.
Selang beberapa menit pintu lift dibuka, menampilkan sebuah ruangan yang terbuat dari kaca. Karena terbuat dari kaca, pemandangan kota Jakarta dapat terlihat jelas diatas disini.
Dan juga terdapat dekorasi bunga diruangan tersebut, Diana tak memperhatikan itu dia malah mendekati salah satu kaca untuk melihat lebih jelas pemandangan kota Jakarta yang elok.
"Gimana cantik gak?. "tanya Arya diselang melihat dekorasi dalam ruangan tersebut.
"Indah sih indah, tapi gua laper. Pemandnagan gak bikin gua kenyang Arya!. "ucap Diana dndgan muka cemberut, bibir nya mengerucut.
Arya terkekeh melihat Diana, tangan Arya bergerak, kemudian datang para pelayan yang jumlah nya lebih dari lima. Tentu Diana terkejut, ia segera menghampiri meja bundar di tengah ruangan tersebut lalu duduk pada kursi.
"Wahh! Banyak banget makananan nya. "ucap Diana sembari menghitung makanan yang peyalan bawa dalam sebuah nampan.
"Ayo makan, katanya laper. "ucap Arya.
Arya menarik kursi yang akan ia duduki, kemudian ia malah memperhatikan Diana yang sedang melahab makanan yang terlihat enak bila seorang Diana yang memakan nya.
"Ngapain ngeliatin gua, buruan makan. "ucap Diana merasa risih diperhatikan Arya sedari tadi.
Setelah beberapa menit menghabiskan makanan kini Arya membawa Diana kembali menaiki lift, padahal Diana ingin tidur di rumah nya tetapi Arya melarang.
Kali ini Diana dibuat takjub dengan keindahan dekorasi ruangan dengan berbagai bunga dan juga manik manik. Mata Diana menyapu seluruh ruangan itu, tak terdapat satu orang pun disini didalam ruangan itu hanya ada Arya dan dirinya.
"Punya siapa ini Ar?. "tanya Diana.
"Punya gue lah. "ucap Arya, sekwtika Diana mundur beberapa langkah dibelakang Arya.
Arya yang melihat hal tersebut segera menarik pinggang Diana untuk menyamai langkah kaki nya. "Lepasin. "ucap Diana lirih.
Diana menunduk, entah kenapa ia harus menjaga jarak dengan Arya mengingat ucapan Inez bahwa Arya adalah suami nya dan papa dari anak Inez.
"Kenapa diem?. "tanya Arya.
Arya mengangkat dagu Diana, ditatap mata sayu milik Diana ada jejak kesedihan dalam tatapan mata Diana. Buru-buru Diana menunduk lagi, ia tidak mau Arya mengetahui kesedihan nya.
Tiba-tiba Arya jongkok di depan Diana, Fiana terlonjak ia ingin segera menyuruh Arya bangun namun belum sempat bibir nya mengatakan sebuah kata. Sebuah kotak dibuka, memperlihatkan cincin indah didalam kotak tersebut.
"Mau kah kau menjadi teman hidup ku selamanya, dalam suka dan duka. Menjadi ibu dari anak-anak ku, membuka lembaran kisah hidup baru bersama ku, Aku mencintai mu Diana Putri. " ucap Arya dengan senyum manis dibibirnya.
Diana terpaku mendengar setiap kata yang Arya lontarkan, yang kini masih berputar putar dalam memorinya. "Mau mah kau menjadi istri ku?. "tanya Arya kembali.
Tak lama kemudian suara ricuh mulai terdengar, satu persatu mengelilingi Arya dan Diana. Kembali dibuat terkejut, Diana melihat kak Talka sedang bertepuk tangan sambil mengucapkan 'Terima'.
Tiba-tiba Diana berlari keluar dari kerumunan, membuat Arya terkejut bukan main. Lamaran nya? Ditolak? Diterima?. Arya bingung ia langsung berdiri.
__ADS_1
"Langsung ditolak Ar?. "tanya Coki yang juga datang bersama Ambar.
"Diana belum ngomong. "ucap Arya sendu.
Diana kembali datang bersama seorang anak kecil se perut Diana, tentu semua menatap Diana tak terkecuali Arya.
"Maaf aku pergi dulu tadi. " ucap Diana, tangan Diana mengusap ngusap pipi gembil anak itu.
"Udah punya anak lo Na?. "tanya Kocil terkejut.
"Sembarangan aja! Diana belum nikah maska udah punya anak. "ucap Rellia memukul pelan kepala Kocil karena gemas dan juga kesal.
"Anak siapa Diana?. "tanya Arya menatap manik hitam kecoklat coklatan milik Diana.
Diana jongkok menyamai tinggi tubuh anak kecil itu, wajahnya datar namun terlihat imut dan manis. "Ayo perkenalakan nama mu sayang. "ucap Diana tersenyum pada anak kecil itu.
Membalas senyuman Diana, anak kecil tadi melangkahkan kaki didepan Arya. "Nama gue Roki, anak temen Kak Diana. "ucap Roki dengan wajah datar.
"Roki anak temen gua, tadi gua liat dia ada diluar ruangan ini jadi gua samperin deh. "ucap Diana dengan diakhiri kekehan kecil.
"Terima kagak nih, Arya udah pegel loh berdiri mulu. "ucap Kicil menyenggol siku Arya dengan senyum jahil.
Diana menatap Arya, terlihat jelas disana terdapat sebuah ketulusan bukan main-main. Tapi kenapa Diana ragu untuk menerima dan ragu untuk menolak.
"Kak Diana suka kan sama kak Arya?. "tanya Roki tiba-tiba.
Hal itu membuat pipi Diana memerah. Dasar anak kecil, Main bocor bocorin rahasia gua. Batin Diana.
Semua orang terkejut juga dengan Diana,"Kenapa." tanya Diana.
"Nanti malem kak Arya udah buat pesta pernikahaan kak Diana sama Kak Arya, jadi kalau kak Diana suka dan cinta sama kak Arya. Ya kak Diana dateng, bukan jadi tamu tapi jadi pengantin. "ucap Roki sambil tersenyum hangat pada Diana.
"Heh bocah, lo main bocorin rahasia aja. Jadi bubrah kan!." ucap Kocil menatap sinis Roki.
Sudah disepakati bahwa ucapan Roki tadi akan menjadi menentu dari acara pernikahan Arya dan Diana.
.
.
.
.
Malam tiba begitu cepat, rasa gugup menyelimuti Diana. Ia sudah berdiri didepan hotel bintang lima yang pagi tadi ia datangi bersama Arya, ia juga sedikit ragu untuk masuk kedalam.
Diana datang seorang diri jadi tak ada siapapun yang melihat kegugupan Diana selain para pengunjung yang berlalu lalang dihotel.
"Diana kenapa berdiri sisitu aja?. "Suara bass tersebut mengangetkan Diana.
Buru-buru Diana membalikan badan, menyembunyikan wajah nya dalam punggung.
__ADS_1
Duh, ada Arya. Mati gua, ketawan dah. Batin Diana menggerutu.
"Itu Ar, gua tadi lewat sini mau beli ayam geprek disana. "jawab Diana.
Sayang nya ucapan Diana tak diterima oleh Arya, Arya malah menggendong Diana ala bridal style memasuki hotel. Diana yang malu menyembunyikan wajahnya didada bidang Arya sambil tangan melingkar di leher Arya.
\*\*\*\*\*
Pernikahan telah selesai banyak para tamu mengucap kata selamat pada sepasang pasutri ini. Arya tengah mandi sedangkan Diana ia tengha berbaring diatas ranjang dengan mata menatap langit - langit kamar.
Masih tidak menyangka bahwa Arya sekarang adalah suami nya, sosok Arya sudah membekas di hati Diana selama dua tahun lalu, dan kini penantian selama dua tahun sudah terjawabkan. Diana Putri adalah istri dari Arya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Arya keluar dnegan jubah mandi. Memperhatikan Diana yang menatap Langit kamar, Arya segera ganti baju dan naik ranjang disamping Diana.
"Arya!. "panggil Diana tiba-tiba.
Arya menoleh menatap wajah Diana yang belum teralihkan dari langit-langit kamar. "Ada apa?. "tanya Arya.
"Ini terasa nyata, ini bukan mimpi kan?. "tanya Diana.
"Ya, ini bukan mimpi dan memang benar kamu adalah istri ku Diana. "ucap Arya mengusap rambut Diana.
"Memang benar kata Dunia, jodoh tak akan kemana. Penantian ku selama dua tahun tidak sia-sia, sekarang seseorang itu mengikat ku sebagai seorang istri. "ucap Diana dengan tersenyum, lalu memeluk Arya.
"Maaf, membuat mu menunggu. Banyak hal yang harus ku selesaikan di Jerman sebelum aku kembali. "jelas Arya membalad pelukan Diana.
"Siapa Inez? apa itu istri pertama mu?. "tanya Diana mendongak, menatap wajah Arya dnegan jarak dekat.
"Tidak kata siapa, istri ku cuma satu yaitu kamu Diana. "ucap Arya membuat pipi Diana merona.
"Jelaskan!." titah Diana.
"Oke, aku jelaskan istri ku. "ucap Arya mengecup kening Diana lama.
"Cepet jelaskan. "kesal Diana yang sudah penasaran.
"Inez itu memang memanfatkan Papa dan Mama ku untuk menikahi ku, namun sia-sia karena selama aku di jerman Aku mencari tau. Sebenarnya orang tua Inez bukan sahabat Mama Papa namun musuh bisnis, Inez menyuruh orang tua nya untuk menikahkan ku dengan dirinya dengan mengaku jika orang tua Inez adalah sahabat Mama dan Papa. Setelah ku selidiki ternyata Sahabat Mama dan Papa yang asli itu Om Vian, bukan orang tua Inez, " ucap Arya terhenti untuk mengambil nafas.
"Jadi sahabat Papa itu, mama papa kamu Ar?. "tanya Diana.
"Iya. " jawab Arya singkat.
"Setelah aku memiliki bukti yang kuat, aku melaporkan Papa Inez ke polisi sebagai tersangka akibat kurupsi. Papa ku terkejut mendnegar kabar tersebut, tak menbahwa sahabat nya bertindak seperti itu. Waktu yang tepat untuk ku menyerahkan semua bukti bahwa orang tua Inez bukan lah sahabat Mama dan Papa, mereka terlihat sangat marah dan ingin melaporkan Inez ke polisi tapi aku tak mengizinkan nya. Karena aku melijat bahwa Inez menyukai orang lain di Jerman dan itu ternyata sepupu mu Diana. Setelah itu tidak ada yang menganggu ku lagi, mama papa juga merestui ku menikah dengan mu baby karena kamu ternyata anak dari sahabat orang tua ku. "
"Heh, kalau urusan mu udah selesai kenapa gak pulang dari dua tahun lalu. membuat ku menunggu saja. "ketus Diana.
"Aku mengembangkan perusahaan ku sendiri dulu baby. Maafkan aku. "ucap Arya memeluk erat Diana.
Diana terdiam ia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Arya, walau ujian akan selalu datang menerjang nya Diana akan bertahan hingga maut memisahkan nya Dari Arya.
__ADS_1
\[End\]