Diana & Arya

Diana & Arya
Enam puluh delapan


__ADS_3

2 tahun kemudian.......


Hari ini adalah hari sabtu, dimana hari sabtu ini Diana akan pergi menemui sang penerbit buku, ya Diana akan menerbitkan buku yang selama ini ia tulis. Bukan hanya satu melainkan lebih dari sepuluh.


"Pak, berhenti sebentar. "ucap Diana pada supir pribadinya.


Mobil berhenti, Diana turun dari mobil dan menyebrang jalan untuk sampai di warung kecil untuk membeli minuman karena entah mengapa tenggorokan nya terasa kering.


Brakkk.....


"Aduh!. "ringis seseorang yang entah dari mana menabrak Diana.


Diana hanya diam mematung, memandangi seorang wanita yang terduduk dipinggir jalan. "Eh, Diana. "sapa perempuan itu setelah selesai memungut tas miliknya.


Diana menyerngit bingung, menatap intens perempuan itu barang kali ia bisa mengenalnya. "Lo lupa sama gue?. "nya nya, tak lupa dengan senyum sinis tersirat diwajah nya.


"Orang tak penting, tidak perlu diingat. "jawab Diana melangkah mendekati penjual minuman.


Orang itu mendengus kesal, maksud ingin membuat Diana kembali pada luka nya malah di kacangin sama Diana.


"Mama!. "panggil seorang gadis kecil, sambil berlari menghampiri perempuan yang tadinya berbicara dengan Diana.


"Apa sayang? Mama lagi cari papa Arya. "ucap perempuan itu sambil menekan kata 'Papa Arya'.


Gadis kecil itu mengerutkan dahi bingung dengan ucapan mama nya itu, Papa nya bukan Arya setahu gadis itu.


"Menurut sama mama aja. "bisik Inez, perempuan yang tadi. Ia membisikan pada putri kecil nya agar mengikuti permainan nya.


Diana seakan terpanggil ia langsung berbalik memandang Inez serta putrinya, hatinya seakan sesak melihat gadis kecil yang memeluk Inez itu. Hantinya berkata bahwa itu bukan anak Arya namun tidak dengan pikiran nya yang mengatakan bahwa itu putri Inez bersama Arya.


"Ada apa Diana? Kenapa lo begitu terkejut. "tanya Inez dengan nada mengejek.


"Ini memang anak Arya, orang yang selama ini lo tunggu-tunggu kepulangan nya. "ucap Inez lagi. Namun kali ini Diana menganggap itu tidak benar, langsung saja Diana memasuki mobilnya yang sudah berbaris rapi diseberang jalan.


Mobil Diana melaju meninggalkan tempat dimana Diana berasa hatinya akan hancur bila yang dikatakan Inez memang benar nyatanya.

__ADS_1


Apa aku tidak bisa berharap lagi? Apa aku harus terluka karena menunggu, dan aku langsung ditampar dengan kenyataan yang membuatku begitu sesak. Batin Diana menyenderkan tubuhnya pada kursi, memejam kan mata menikmati perjalanan dalam mobil sembari mendengar suara deru mobil yang terus terdengar ditelinga nya.


Tidak kah itu begitu kejam, kenapa cinta begitu rumit? Bahkan diriku rela kehilangan kebahagian selama dua tahun ini hanya untuk menunggu sosok yang selalu kurindukan. Batin Diana berkata.


Diana hanya memejam kan mata selama perjalanan hingga sampai pada gedung yang lumayan besar, ya. Itu gedung penerbitan buku di Jakarta, Diana membuka matanya dengan sedikit mengerjap.


Diana berjalan menyusuri lorong gedung untuk menemui sang pemilik gedung, sampai di ruangan yang lebih besar dari yang lain nya. Diana membuka pintu memasuki ruangan itu sambil memamerkan wajah datar dan dingin nya.


"Maaf nona, pak Didit tidak ada diruangan nya. "ucap Seorang pria yang duduk disofa smabil membaca koran.


"Saya akan menunggu. "jawab Diana lalu ikut duduk disamping pria itu, sambil memainkan ponsel nya.


Pria disamping Diana menatap Diana dengan tatapan terkejut, tak menyangka bahwa Diana Putri murid di SMA Tria Gading yang sudah mengeluarkan diri dari sekolah dua tahun lalu berada di dalam ruangan sang penerbit buku.


"Ckckck, Kasian sekali lo Diana udah keluar sekolah tapi belum berjumpa dengan Arya sang pujaan hati. "ucap nya sambik menyeruput kopi yang telah disediakan.


"Siapa lo ikut campur urusan gua?!." tanya Diana dengan nada terdengar kesal, sambil melempar koran yang tadinya ia baca ke meja depan nya.


"Lo ketos, bisa diem dan gak usah ganggu gua!. "bentak Diana sembari melangkah kaki menuju pintu.


"Nona Diana maaf membuat mu menunggu."ucap seseorang dibalik pintu yang dibuka dari luar.


Untung pak Didit datang, kalau gak gua pindah aja lah. Batin Diana melangkah mendekati pak Didit yang kini telah duduk di kursi kebanggaan nya.


Setelah berbicara soal penerbitan buku Diana hendak keluar dari ruangan itu, namun lagi-lagi Rafa menganggu nya.


"Gak tanya kenapa gue ada disini?. "ucap Rafa menatap Diana.


Tanpa menjawab Diana keluar dari pintu dan menutup pintu dnegan kasar hingga menyebabkan bunyi "Brakkk" teednegar sangat keras.


"Tuan kenal dengan nona Diana?. "tanya pak Didit pada Rafa yang sedari tadi tersenyum sambil menatap pintu yang habis dibanting Diana.


"Temen gue. "jawab Rafa santai.


Setelah keluar dari gedung itu Diana langsung masuk kedalam mobil untuk menuju kerumah barunya, karena Rellia udah nunggu jadi Diana harus cepat.

__ADS_1


"Tu ketos rese bener, gak ada puas nya bikin gua kesel. Kenapa gus harus ketemu dia hari ini bikin mood jelek aja. "gerutu Diana sembari meremat remat kertas yang ia gemgam dari tadi.


Supir Diana hanya diam dan juga memasang wajah biasa saja walau dalam hati ia kebingung menatap nona nya yang kesal sendiri. Selama perjalanan Diana hanya menatap ponsel nya karena Rellia yang gak sabaran dan terus menelepon, Vc, dan spam terua membuat Diana tambah kesal.


Rellialope.


p


p


p


p


p


Diana lo dimana, gue udah capek nunggu nih. kalau gak sampek sampek gue masuk dulu, jangan salahin gue kalau rumah lo ancur 😤


^^^^^^Sabar Rell, gua udah jalan ini. ^^^^^^


Gak bisa sabar gue, lo harus datang dalam 1 jam kalau gak datang juga gue beneran ancurin rumah lo.


^^^Iya, bentar lagi gua sampek.^^^


Diana memasukan ponsel nya setelah ia mematikan daya agar Rellia tak menganggu nya lagi. "Pak, lebih cepat ya. "ucap Diana pada supir nya.


Supir Diana mengiyakan ia menambah kecepatan rata-rata untuk jalanan kota yang lumayan ramai. Mungkin Diana akan datang sedikit terlambat nanti nya.


Setelah 30 menit perjalanan Akhirnya Diana sampai pada rumah megah miliknya sendiri, didepan pintu Rumah Rellia duduk sambil memesang wajah cemberutnya saat melihat kedataan Diana.


"Sorry lama, lo ngerti jalanan Jakarta yang super duper-. "belum sempat ucapan Diana selesai tangan nya lebih dulu ditarik masuk oleh Rellia.


"Lo lama kalau ngomong, bikin gue jamuran aja. "ucap Rellia.


Rellia membawa Diana ke ruang tamu disana ada sofa besar yang empuk, tempat favorit Rellia kalau datang kerumah Diana ini. Rumah ini adalah hasil kerja keras Diana menulis novel hingga dapat menghasilkan uang untuk membeli runah impian nya.

__ADS_1


__ADS_2