
Setelah selesai memutari lapangan Diana segera berlari kearah kantin karena rasa haus sudah terasa ditenggorokan nya sekarang.
"Mumpung lagi sepi mending gua sekalian minum sama makan. Deh. "ucap Diana berjalan mendekati ibu penjual.
"Bu es jeruknya satu dan baksonya satu!. "ucap Diana dengan senyum ramahnya.
"Baik neng!. "
Setelah menunggu lama Diana berjalan menuju meja paling pojok sembari membawa nampan berisi pesanan nya. Sengaja Diana menunggu agar makanan nya tidak diembat oleh orang lain.
Tadi hampir saja makanan nya pindah tangan namun dengan sigap Diana merebutnya. Enak aja tuh bocil main rebut aja, gak pesen langsung nyerobot aja. Batin Diana kesal sembari meletakan nampan dimeja.
Tanpa Menunggu lagi Diana menyantab makanan nya dengan lahab, tiba-tiba Diana melihat kursi yang ada didepan nya terisi oleh dua manusia beda jenis. Satu Lintah dan satunya Zombie, ya Arya dan Inez duduk didepan Diana.
"Sayang! Cincin pertunangan nya kok gak dipake. Padahal bagus lho?!. "ucap Inez sengaja ingin membuat Diana kesal.
Namun Diana hanya diam menikmati makanan nya yang semakin lama semakin tidak enak saja rasanya, karena terdapat Lintah didepan nya.
"Iya, padahal bagus. Apalagi kalian terlihat cocok. "ucap Diana dengan tersenyum kecut, dada nya terasa sesak ketika berucap seperti itu. Tapi dirinya tidak boleh menampakan kecemburuanya, toh Arya saja tidak menyukai dirinya.
"Ketinggalan dikamar. "jawab Arya dingin, manik mata nya tidak beralih sama sekali dari Diana yang kini kembali menatap makanan nya.
Diana mengambil ponsel nya, mengecek apakah ada pesan dari sahabat atau tidak.
"Gua duluan, Rellia udah nungguin dikelas!. "ucap Diana lalu berjalan pelan, setelah berada jauh dari tempat Arya ia berlari. Berlari sekuat tenaga dengan air mata yang sudah tak bisa lagi ia bendung.
Berhenti sejenak lalu melambaikan tangan kepada orang yang tak Diana kenal, ia hanya ingin membuat Arya dan Inez percaya bahwa ia benar-benar dipanggil bukan karena alasan.
"Sayang makan dulu!. "ucap Inez mengambil mangkuk sisa makan Diana lalu diberikan kepada Arya.
'Gila, tunangan sendiri dikasih sisa. Ralat bukan tunangan tapi orang asing'. Batin Arya mengoceh.
"Gue pesen makan dulu." ucap Arya lalu berlari menuju salah satu penjual kantin yang berada didekat pintu keluar kantin.
Arya tidak berniat memesan makanan namun ingin mengejar Diana, Arya tadi melihat sesuatu jatuh dari pipi Diana. Sesuatu bening dan hangat bila tersentuh kulit.
Setelah memastikan keadaan bila Inez tidak sedang melihat dirinya, Arya langsung berlari mengikuti arah kemana Diana tadi berlari.
Saat melihat Diana Arya langsung menarik tangan nya lalu membawa pada satu ruangan yang terlihat gelap. Dengan terkejut Diana mengahapus air matanya, ia tak menyangka jika Arya mengetahui jika dirinya menangis.
"Lepasin!. "ucap Diana menarik tangan nya dari tangan Arya, dirinya sedang tidak mau seseorang menganggu nya dan menyentuh dirinya.
__ADS_1
"Lo napa nangis? Lo sakit? Apa perlu gue bawa kerumah sakit?. "tanya Arya beruntun sambil menatap khawatir Diana.
"Lo siapa? Apa peduli lo?!. Bukan wartawan kan?!. "Ucap Diana berbalik bertanya.
Arya berjalan kearah Diana dan Diana berjalan mundur, memberi jarak pada Arya. Semakin dekat Arya mendekat pada Diana, ia tau bahwa Diana cemburu tapi dirinya hanya ingin Diana memberitahu perasaan nya sendiri tanpa harus ditebak.
Diana hendak lari namun tangan Arya menarik tangan nya hingga ia masuk dalam dekapan nya. Memberontak dengan sekuat tenaga sembari terus meneriaki nama Arya.
"Lo cemburu?. "tanya Arya dengan mengoda, sifat jahilnya keluar bahkan disaat seperti ini.
"Gak!. "
Diana menendang kaki Arya lalu berlari keluar, Arya tersenyum senang ternyata diam-diam Diana memiliki perasaan padanya.
Rellia lope.
Rell, gua absen nin ya.
Setelah mengirim pesan pada Rellia dengan segera Diana pulang menaiki Taxi. Samapai rumah Diana langsung kena omel kakaknya Akahazia.
Emang ya, kalau udah akrab mulai ngomel ngomel kek si Talking tom. Batin Diana manggut manggut mendengar ocehan Akhazia.
"Diana, kamu itu harus-. "
eh, tadi gua kenapa nangis ya. Perasaan gua gak ada suka-suka nya tuh sama si Arya. Batin Diana bermonolog dengan dirinya.
"Udah lah, gua mau bocan."
Diana berbaring di atas kasur setelah berganti baju, niatnya ingin tidur tapi pikiran nya masih melayang kemana mana.
Duh, ni pikiran melayang mulu. kalau kayak gini mana bisa gua tidur. Batin Diana.
Diana berguling kesana kemari untuk menghilangkan pikirannya yang terus melayang. Tiba-tiba dirinya teringat akan emosi yang sulit ia kendalikan, apakah ia memiliki penyakit atau apa.
"Gua cari di internet aja lah. "Tangan Diana meraih ponsel dinakas, kemudian menghidupkan nya.
Tepat saat menghidupkan layar ponsel, panggilan telepon masuk dari Rellia. pasti Rellia mau tanya tanya kenapa Diana absen.
Gua heran deh, sama Rellia. Dia tuh bukan wartawan tapi suka nanya nanya, kalau gak dijawab ngambek. Batin Diana berpikir.
Dunia telepon.
__ADS_1
"Ya, hallo?. "
"Na, lo kenapa absen? lo pulang ya?."
"Ya, lo tu bisa diem kagak sih. Wartawan bukan tapi tanya tanya mulu. "
"Gue wartawan dan gue mau tanya!. "
Arya, napa tuh Arya pinjem hp Rellia. Batin Diana
Tut....
Telepon dimatikan sepihak, Diana membanting ponsel nya kesal. Menarik selimut, menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Diana tertidur karena kesal, sesekali Diana juga menampakan wajah kesalnya dalam keadaan tertidur. Lagi mimpi ketemu Arya keknya, hahaha.
POV Arya
"Nez, lo bisa pulang pakek taxi kan!. "Ucap Arya sembari berusaha melepas tangan Inez dari tangannya.
"Atau sama Kocil aja tuh!." Sambung Arya menunjuk Kocil yang santai santai sembari minum boba.
"Kok gitu sih sayang! aku maunya kamu!. "Ucap Inez cemberut, sembari terus mempererat pegangan nya.
"Pulang pakek taxi aja, ntar malem gue ajak makan!. "Ucap Arya.
Inez langsung melepaskan tangannya dari tangan Arya, kemudian ia berjalan menjauhi Arya sambil melambaikan tangan.
"Gimana Ar? lo gak boleh boong lho!. "ledek Kocil pada Arya, dirinya mendengar ucapan Arya yang menjanjikan makan malam pada Inez.
"Auh... lah gue kesel!. "
Arya berjalan sembari menghentak kan kaki kesal, ia menuju tempat parkir sepeda motor. motor adalah kendaraan Arya saat berangkat kesekolah, karena sudah bosan dengan mobil yang nantinya bisa memunuhi jalanan kota Jakarta yang padat ini.
"Arya!! kok gue ditinggal sih!. "cemberut Kocil sembari menghentikan Taxi, lalu memasuki nya.
Sesampainya Dirumah, Arya segera memasuki kamarnya tanpa menghiraukan tatapan papanya yang sedari tadi melihat dirinya dengan muka ditekuk.
Sampai dikamar senyum Arya mengembang, teringat akan Diana menangis karena cemburu. Sakit juga terkena tendangan Diana, apa dia kuli bangunan sampai tedangan nya bak seorang pria.
"Ya ampun, si Dino lucu kalau lagi marah ya!. "ucap Arya cengengesan, setelah cukup lama membayang kan ekpresi Diana dirinya berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Membersihkan badanya yang sudah lengket dengan keringat, setelah itu Dia akan tidur.
Bersambung......