
Malam harinya semua siswa dikumpulkan Ditengah-tengah melingkari api unggun yang menghangatkan tubuh. Malam ini akan ada permainan, semua orang bersemangat, tidak dengan Diana yang malah menolak dengan alasan perut nya sakit.
Rellia dan Ambar yang mengerti hal itu hanya bisa menghembuskan nafas, Diana masih kesal pasal game nya yang hilang tiba-tiba.
"Rell! Lo ikut kan?. "tanya Ambar menatap melas kearah Rellia berharap Rellia akan ikut dan menemaninya.
"Okey, i'm ikut. "jawab Rellia pasrah, walau hatinya tidak tenang meninggalkan Diana sendiri.
Semua siswa sudah pergi dari area tenda, kimi tinggalah Diana didalam tenda. Diana merebahkan diri dikasur lantai, ia bingung mau ngapain sedangkan semua pada pergi, tidak ada yang diajak ngobrol, main, dll.
Diana merebahkan tubuhnya diatas kasur lantai hingga ia tertidur. Sementara itu dihutan Ambar dan Rellia masih berjalan mencari petunjuk agar cepat menyelesaikan permainan ini.
Tiba-tiba Arya, Kocil, dan Coki menghampiri mereka. Ambar sempat bengong melihat ketampanan paripurna dihadapan nya, apalagi sosok disamping Kocil yang sangatlah tampan menurut Ambar.
Duh, pangeran gue. Batin Ambar melamun, Rellia yang sedang malas segera menarik tangan Ambar untuk berpindah tempat.
"Ehh!.. Mau kemana?. "tanya Ambar terkejut saat tangan nya ditarik oleh Rellia secara tiba-tiba.
"Udah ngikut aja!. "ucap Rellia terus menarik Ambar untuk mencari petunjuk lagi, sekalian berpindah tempat ia sednag malas berurusan dengan Arya dkk.
Ambr berhenti ia ingin melihat Coki yang terlihat tampan dimata Ambar. "Ada apa? Apa barang lo jatuh?. "tanya Rellia melihat tangan Ambar yang masih utuh dengan senter dan gunting ditangan nya.
Mata Rellia mengarah pada arah tuju mata Ambar yang mengarah pada ketiga cowok dibelakang nya yang sedang berlari kearah mereka berdua.
"Sudah lah, ayo kita lanjut!. "ucap Rellia hendak menarik tangan Ambar namun ia berasa berat saat menarik tangan Ambar.
"Ambar ayo!. "ucap Rellia mulai kesal, ia berbalik menatap sosok Kocil yang kini memegang tangan Ambar.
"Diana gak ikut?. "tanya Arya to the point sesuai dengan tujuan nya menghampiri Rellia.
"Mana gue tau!. "jawab Rellia ketus.
Ambar menatap keduanya secara bergantian, hingga ia menjawab pertanyaan Arya yang belum mendapat jawaban. "Diana gak ikut dia ditenda. "
Arya berbalik badan dan berlari sekuat tenaga agar segera sampai ditenda Diana, perasaan nya tidak enak tentang Diana hatinya resah karena itu ia bertanya pada Rellia sebagai sahabatnya.
"Mau kemana Ar?! "tanya Coki sembari berteriak agar Arya dapat mendengarnya.
"Km! "teriak Arya menjawab.
Rellia menipis tangan Kocil yang masih setia berada di tangan nya. "Kalian pacaran?. "tanya Ambar membuat Rellia terkejut, apa sikap gue sama kayak orang pacaran. Pikir Rellia menatap tajam Ambar.
"Hahaha! Pacaran? Gak mungkin lah mereka pacaran orang Azri saja tak bisa membuat Rellia jatuh cinta." tawa Coki sembari menepuk nepuk pundak Ambar berada disamping nya.
"Gue sedang berjuang!." saut Kocil merasa lemah mendnegar ucapan Coki.
__ADS_1
Berjuang?. Batin Rellia bingung.
Pembicaraan mereka berakhir dan mereka kembali melanjutkan perjalanan mencari petunjuk dengan menggabungkan kelompok mereka.
Ditempat lain Arya yang sudah mengecek sampai tiga kali ditenda Diana berada masih saja tidak melihat batang hidung Diana, Arya terus mondar mandir didepan tenda sambil sesekali mengecek kedalam tenda.
Tak jauh dari Arya berada Diana yang baru saja selesai buang air kecil, berjalan menuju tenda nya kemudian memasuki tenda tanpa memperhatikan Arya yang menatapmya dengan wajah khawatir.
"Sialan! Akan gua balas lo!. "gerutu Diana sembari mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang terkena air.
"Lo abis dari mana?. " tanya Arya membantu mengeringkan rambut Diana yang basah.
"Berak!. "jawab Diana asal.
"Kenapa sampek basah gini?. "tanya Arya kembali.
"Keguyur air berak. "jawab Diana semakin asal.
Arya menghentikan aktivitas yang mengeringkan rambut Diana saat mendengar ucapan Diana, Ia sedikit memandang jijik kearah Diana namun kembali tersadar saat Diana menyaut ganduk dari tangan nya.
"Inez Sialan! Awas aja gua seorang Diana bakal balas lo!. "gumam Diana dengan penuh penekanan, Arya seketika paham siapa yang membuat Diana basah kuyup begini.
"Inez yang lakuin ini?. "tanya Arya mdnatap Diana yang memasang wajah cberur karena masih kesal.
"Upss, sorry tunangan nya ada disini. "ucap Diana menutup mulut nya lalu tertawa dengan kencang.
"Hahah! Gua becanda Ar! Gak usah pakek merinding segala." ucap Diana sambil mendorong Arya keluar tenda.
Arya yang tak mau keluarpun menahan berat tubuhnya agar Diana tidak kuat, namun siapa sangka Diana malah dengan mudah nya mendorong tubuh Arya hingga keluar tenda.
Hah, aneh. Ni Diana bisa dorong gue walau gue bikin badan gue berat. Batin Arya cengang sekaligus tida percaya.
"Gak usah berpikiran gua kuat! Gua pakek kursi buat dorong lo. "ucap Diana segera menutup pintu tenda agar Arya tak bisa memasukinya.
Diluar Arya masih saja menunggu Diana membuka pintu tenda, hal itu seperti dejavu buat Arya.
"Lo ngapain masih disini?." tanya Diana yang baru saja keluar dari tenda untuk membuang sampah cemilan.
"Nungguin lo. "jawab Arya.
"Ngapain gua ditunggu?." tamya Diana heran, emang gua apaan ditunggu segala. Batin Diana menatap sinis Arya yang menggaruk tekuk nya yang Diana tau pasti tidak gatal.
"E-eh gak papa kok. "jawab Arya sedikit bingung, niat nya hanya ingin bertanya namun seketika semua pertanya mendadak lenyap bak ditelan bumi.
"Lo mau tanya apa?. "tanya Diana melihat gelagat Arya yang sepertinya ingin bertanya sesuatu pada Diana.
__ADS_1
Diana bisa baca pikiran gue?. Batin Arya terkejut, menatap lekat lekat wajah Diana bahkan ia juga menatap mata Diana hingga tatapan mereka bertemu untuk kesekian kali nya.
Diana yang ditatap Arya dengan seperti itu membuat nya salting hingga langsung membuang muka kesembarang arah begitu pun dengan Arya.
"Maaf. " ucap Arya sedikit menjauh dari Diana saat samar samae telinga nya mendengar suara berisik dari hutan.
Diana segera berlalu meinggalkan cowok itu yang masih menbeku menatap punggung Diana yang perlahan menghilang dibalik tenda.
"Diana! I'm caming!." teriak Rellia bak toa yang pak guru bawa.
Diana yang tengah melamun didalam tenda terperanjat kaget, hampir saja dirinya terjungkal kalau ia tak menyeimbangkan tubuhnya.
Rellia sialan. Umpat Diana dalam hati sambil terus mengusap pelan dada nya yang masih berdisko didalam.
"ya Ampun, Diana gue kangen!. "ucap Rellia menghampur kepelukan Diana yang terkejut untuk kedua kali nya gara-gara Rellia.
"Rell! Udah, lo baru saja pergi udah kangen gua aja!." ucap Diana melepas tangan Rellia yang memeluk nya erat.
"Emang gue se-ngagenin itu kah, sampek lo udah kangen sama Diana ini." ucap Diana dengan PD nya membuat kedua orang didepan nya ingin muntah.
"Rellia kangen sama guling nya, yang namanya tuh Diana lindri. "jelas Ambar menahan tawa nya melihat wajah cemberut Diana setelah mendengar ucapan nya.
"Lah kenapa meluk gua?!." tanya Diana sedikit menaikan nada bicara nya.
"Guling gue dibelakang lo!." tunjuk Rellia pada guling yang dibuat tempat duduk oleh Diana.
Wajah Diana memerah karena malu dengan segera ia mengambil guling yang ia duduki dan melemparnya tepat pada wajah Rellia.
"Adoh! Selow mbk. "ucap Rellia mengusap wajah nya yang terlihat lelah dan juga terdapat matanya terlihat sipit karena ngantuk.
"Gua jadi kangen Rellia." ucap Diana sendu, ia sangat rindu dengan suasana desa mbh Minah yang penuh kedamaian Namun berubah setelah Arvin menjadi penganggu Diana.
"Gua disini Na! Lo gak usah kangen gue. "ucap nya hendak memeluk Diana namun dihalangi dengan tangan Diana yang membentuk (X).
"Gue bukan kengen lo! Gue kangen sama danau didekat rumah mbh Minah!. "ucap Diana dengan wajah menahan kesal sekaligus senang bisa membalas Rellia.
"Lo jahat Diana! Mempermainkan hati gue yang kecil dan mungil ini. "ucap Rellia mendramatis, sedangkan Diana menatap dengan malas.
"Banyak nonton drama lo!. "ucap Diana keluar bersama Ambar dan meninggalkan Rellia seorang diri.
"Ehh! Gue ditinggal. "ucap Relia hendak menyusul Diana dan Ambar tapi sosok Kocil lebih dulu menghadang jalan nya.
Mimpi apasih gue semalam, sampek jelmaan selalu ganggu gue. Batin Diana menatap malas kearah Kocil yang hanya menyengir menatap nya.
Sedangkan Diana dan Ambar hendaj merebus air untuk menjadikan simpanan air buat besok biar gak nunggu masak air jika mau minum.
__ADS_1
"Mbar! Lo jadi sahabat gua sama Rellia aja yah!." pinta Diana memelas