Diana & Arya

Diana & Arya
Enam puluh lima


__ADS_3

Selesai dengan kantor polisi Arya dan kawan nya kembali melajukan motor kesekolah karena jam sudah menunjukan pukul 7 pagi sedangkan sekolah masuk pukul 07:30.


"Ar! Makan dulu napa! Gegara lo gue gak makan tadi. "ucap Kocil dengan nada menyuruh.


Menuruti kemauan Kocil, Arya berhenti di warung makan dekat taman. Setelah selesai mereka kembali melajukan motor nya.


Diana POV.


Gue masuk kamar mandi dengan terburu buru sampek handuk gue lupain dengan lari larian gue nyaut handuk yang digantung dekat pintu kamar mandi.


Sedari tadi kak Talak ngomel ngomel didepan pintu kamar bikin gue gagal konsen, gue sedang masukin semua buku pelajaran hari ini. Beruntung hari ini guru ada rapat jadi nanti gak ada banyak pelajaran.


"Diana cepetan ih! Lama bener lo kek anak perawan!. "teriak Talka sambil gedor gedor pintu kamar gue. Awas aja sampek pintu gue rusak auto minta yang baru.


"Gua emang anak perawang kak!. "teriak Diana langsung menyambar tas kemudian membuka pintu.


Diana tak menghiraukan Talka yang ada didepan pintu, ia langsung turun tangga pergi kedapur mencomot roti yang udah diolesi selai.


Diana makan roti sambil berjalan keluar otomatis Talka yang sedari tadi membuntuti Diana juga ikut keluar karena sudah sarapan. Diluar Diana tengah memakai sepatu nya.


"Udah cepetan!. "teriak Talka dari garasi mobil, lama lama pengen gus robek tuh mulut teriak teriak terus. Gerutu Diana dalam hati.


Mobil Talka melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Jakarta yang ramai pengendara yang akan menuju tujuan nya dengan berbagai tujuan.


Setelah beberapa menit membelah jalan mobil Arya kini sudah berada tepat didepan gerbang sekolah Diana. Diana segera turun mengingat waktunya tidak banyak untuk sampai ke kelas tepat waktu.


"Jan lupa berlajar yang bener!. " teriak Talka lalu mendapat acungan jempol dari Diana.


Diana mendengus kesal saat gerbang ternyata sudah tertutup, perasaan tadi masih terbuka lebar bak mulut korodal. Batin Diana menendang nendang gerbang yang tak bergeming sama sekali.


"Woy! Telat ya, hahaha kasian. "ledek seseorang membuat darah Diana mendidih seketika, tangan Diana mengepal kuat siap untuk menoyor kepala pemilik mulut kurang kerjaan itu.


"Emang lo gak telat?!. "tanya Diana dengan nada santai namun penuh dengan amarah.


"Eh, iya ya. Gue juga telat yaudah yuk kita panjat pagar nya. "ucap nya langsung menarik tangan Diana.


"Heemm, saya manusia loh. "kata seseorang bersama dengan suara batukan seseorang.

__ADS_1


Diana menoleh menatap Kocil sembari memincingkan mata tak lupa mata Diana juga menetap seonggok makhluk disamping nya memegang erat tangan Diana.


"Apa nih? Pegang-pegang!. "ucap Diana dengan nada judes.


"Jan judes judes mbk! Ntar gak da temen nangis. "ucap Kocil meledek Diana.


Diana tak menghiraukan ucapan Kocil dengan segera Diana menuju pak satpam yang sedang minum kopi dipinggir gerbang.


"Pak saya mau masuk. "pinta Diana, pak satpam menatap Diana ia sudah hafal dengan wajah Diana karena Diana sering terlambat.


Pak satpam yang bernama Zain itu segera membukakan gerbang sekolah, Diana segera masuk sambil tersenyum manis kearah pak Zain.


"Lain kali jangan terlambat ya neng. "ucap Pak Zain membalas senyum manis Diana.


Author POV.


Pulang sekolah Diana jalan kaki menuju halte bus untuk menunggu taksi yang ia pesan karena kak Talka tidak bisa menjemput dirinya. Tiba-tiba motor ninja berhenti tepat didepan Diana, menatap dengan malas Diana langsung pergi menaiki taksi yang untung nya sudah datang.


Diana aneh. Batin sosok yang menaiki motor ninja tersebut, ya dia Arya. Arya berniat mengantar Diana namun Diana sepertinya enggan bersama nya.


Dirumah.


"Ya ampun! Dino, kalau udah pulang itu ganti baju terus turun makan. Bukan nya malah tiduran!. "teriak yang membuat Diana tambah malas itu terus menggema dikamar Diana.


"Apasih?!."


"Cepet turun atau makanan nya gue makan!. "ancam Talka geram melihat adik nya bak siput.


Diana beranjak dari ranjang menuju lemari nya, selesai ganti baju Diana segera turun dan makan siang di meja makan.


Dikantor.


Sosok berbadan kekar memasuki ruangan bos mereka guna menyampaikan perihal informasi yang mereka dapatkan.


"Bos. "ucap Sosok berbadan kekar nampak ragu-ragu untuk memberitahu.


"Tak usah ragu. "ucapan Bos nya, bukan untuk menenangkan namun malah menambah kesan takut.

__ADS_1


"Bos! Nyonya dan Tuan terkena penyakit aneh di desa hingga menyebabkan mereka Tiada, namun aneh nya yang terkena hanyalah Tuan dan Nyonya, penduduk desa lain nya normal saja. "kata pria berbadan kekar yang lain nya.


Tangan bos mereka nampak memutih karena menahan amarah ia tak bisa marah pada anak buah nya, karena itu bukan salah mereka.


"Selidiki!. "ucap nya penuh amarah, tanpa membantah nwreka semua pergi daei ruangan itu untuk melakukan tugas mereka.


Air mata menetas dengan sendiri nya, isakan tangis mulai terdengar samar dari ruangan itu. Tak ia duga Papa dan Mama akan pergi secepat ini sebelum melihat dirinya menikah dan bahkan memiliki anak.


"Kosongkan ruangan ku!. "teriak nya pada anak buah yang mestinya berada diluar guna menjaga bos nya.


Tok... Tok... Tok..


Pintu diketuk lembut, tiba-tiba pintu dibuka dengan sendiri nya menampakan seorang wanita paruh baya tengah tersenyum hangat padanya.


"Nak Akha? Kenapa nangis?. " tanya wanita itu nampak khawatir, menghampiri lalu memeluk Akhazia dengan hangat.


Ya, Akhazia adalah bos perusahaan dan yang tadi anak buah yang ia utus menjaga dan mengawasi papa, mama nya.


"Mama, Papa mbh. "ucap Akhazia terisak, ia belum terima jika harus sendiri lagi ia belum bisa membuat kenangan manis dengan orang tua nya.


"Iya, Mbh Minah tahu. Ini sudah takdir Nyonya dan Tuan pasti bahagia melihat kamu sukses sebelum adik mu, mereka tenang meninggalkan tiga anak karena kamu adik mu bisa hidup tanpa kesusahan. Iya kan? Kamu sudah memiliki perusahaan besar dan ini dapat menghidupi kedua adik mu dirumah." ucap Mnh Minah mampu menenangkan Akhazia namun belum sepenuh nya.


Pikiran nya menuju pada kedua adik nya, apakah mereka akan menerima bahwa papa dan mama mereka telah tiada. "Mbh! Talka dan Diana gimana, apa mereka terima?. "


"Harus! Mereka harus terima dan ikhlas. Ayo pulang dan beritahu mereka saat kedua jasad sampai dirumah. "ucap Mbh Minah llau keluar dari ruang tersebut.


Akhazia menghembus nafas mencoba mengiklaskan walau terasa berat.


Dirumah Diana.


"Lo ngapain sih disini? Ganggu tau gak!. "ucap Diana menatap tajam Arya.


Yang ditatap hanya nyengir kuda, Diana melempar bantal sofa kewajah Arya karena melihat wajah Arya memnuat Diana tambah kesal.


"Duh... duh... duh, mbk mas kalau mau perang dikamar aja ya. "goda Talka sembari meletakan nampan berisi air minum.


"Mang kita mau ngapain?! "ucap Mereka berdua bersama.

__ADS_1


Talka tersenyum menggoda "Ya ampun Sosweet deh!." ucap Talka dengan nada menggoda.


"Jijik! Talking tom yang jelek nada nya kagak usah kek gitu juga. Pengin di potong tuh pita suara!. "ucap Diana menutup wajah nya dengan bantal, entah kenapa perasaan nya tidak enak seperti ada sesuatu yang terjadi.


__ADS_2