Diana & Arya

Diana & Arya
Enam puluh enam


__ADS_3

Diana ada dimall untuk merileks kan pikiran nya, jangan lupakan Arya yang sedari tado tersenyum kayak joker dibelakang Diana.


"Kenapa sih lo?. "tanya Diana jengah menatap Arya yang hanya tersenyum saja.


"Lagi bahagia. "jawab Arya melebarkan senyum nya sambil terus memandang wajah kesal Diana.


"Ya iya, kalau senyum itu bahagia apalagi senyum lo mirip joker!. "ucap Diana. Dengan kesal nya bahkan sampai menghentak hentakan kaki.


Semua pengunjung mall menatap Diana dan Arya sambil tersenyum karena mereka merasa bahwa Diana dan Arya sangat lah cocok sebagai pasangan.


Diana berjalan didepan Arya padahal Diana tidak suka namun dengan alasan Arya bilang "Gue mau jaga lo jadi lo didepan gue dibelakang. ".


Perasaan Diana tambah tidak enak, setelah beberapa menit sudah tidak apa dan ini malah muncul lagi. "Ar!. "panggil Diana, menarik lengan baju Arya agar mendekat padanya.


"Apa?. "tanya Arya bingung, pasalnya Diana menarik Arya ketempat sepi.


"Perasaan gua gak enak, kita langsung pulang aja lah. "ucap Diana, Diana memang menarik Arya untuk keluar dari Mall lewat belakang.


"Cuma perasaan doang. "ucap Arya membuat Diana mendengus kesal, melepas tarikan nya dan membiarkan Arya berjalan sendiri entah mau berjalan kemana.


"Mau kemana?. "tanya Arya dengan sedikit teriak namun tetap saja Diana tak mendengar nya.


Tak mau terjadi apa apa dengan Diana Arya segera menyusul menggunakan motor sedangkan Diana sudah naik taksi.


Dirumah Diana.


Rumah Diana sudah dipenuhi dengan orang berbaju hitam dan juga didepan gerbang terdapat bendera berwarna merah, suara surat tedengar didalam. Talka sudah sedari tadi mewek didalam smabil memeluk kedua orang tua nya.


"Ma, Pa. Maafin Faresta belum bisa bikin bahagia, Faresta sering bantah mama papa, maafin Resta ya ma, pa. Semoga kalian tenang disana. " ucap Talka dengan air mata membanjiri baju yang ia kenakan.


POV Diana.

__ADS_1


Sesampainya dirumah Diana melijat bendara merah terpasang didepan rumah nya dan juga orang-orang yang memakai pakaian hitam, hati Diana seakan teriris melihat semua itu.


Diana tak menduga bahwa rumah nya akan seperti ini sebelum dirinya, segera berlari memasuki rumah namun langkah nya terhenti begitu saja didepan pintu


"Mama? Papa? Ini ada apa?. "tanya Diana dari didepan pintu, walau ia tahu bahwa ada orang yang meninggal namun ia ingin memastikan siapa yang meninggal.


"Papa, Mama. "ucap Talka tersedat sedat karena tangis nya semakin deras melihat sosok Diana berada didepan pintu.


Diana menatap sosok yang berbaring dilantai dengan kain putih sebagai penutup.


"Ini siapa?. "tanya Diana menunjuk sosok itu, perasaan nya berkata bahwa itu orang yang paling ia sayangi.


"Mama papa. "jawab Akhazia singkat ,tatapan matanya kosong menatap lurus kedua orang tua nya.


"Mana mungkin, kali aja kak Talka mau ngerjai Diana. "tolak Diana sambil tertawa senang namun hati nya terluka mendengar papa mama nya meninggal.


Diana berlari dengan air mata membanjiri deras dipipinya, memandangi wajah mama dan papa nya yang dibuka kain penutup nya.


"Ma pa, kenapa ninggalin Diana. Diana masih kecil masih butuh pelukan mama papa, maafin Diana belum bisa bikin Mama papa bangga, Maafin Diana gak bisa nyembuhin mama papa. Padahal Diana mau jadi dokter harusnya bisa ngobati papa mama."


"Kan sama sama dokter. "jawab Diana dengan wajah cemberut. Arya yang melihat hal itu semakin dibuat gemas, ya orang itu ialah Arya.


Tiba-tiba Diana ambruk begitu saja membuat hebo suasana, Arya disuruh Talka untuk menggendong Diana ke kamar. Sedangkan Talka harus segera memakamkan orang tua nya.


Dikamar Diana, Arya memandangi wajah Diana yang sudah terpenuhi air mata juga dengan mata bengkak Diana. Perlahan tangan Arya telulur mengusap lembut pipi Diana.


Maaf, gue harus pergi sekarang. Gue tau lo suka gue, gue juga suka lo kok dan gue janji bakal bales rasa suka lo itu. Jaga diri baik-baik selama gue pergi.


Satu kecupan mendarat di kening Diana, setelah itu Arya keluar dari kamar Diana. Arya sudah mengirim pesan pada Talka jika ia tak bisa menjaga Diana hingga pemakaman selesai.


Saat Arya berada diluar gerbang, untuk yang terakhir kali nya ia menatap rumah mewah itu sebelum dirinya pergi, belum tentu ia kembali dapat melihat rumah ini dengan masih utuh dan tak ada yang berubah.

__ADS_1


"Bro, gue titip Diana ya! Gue yakin lo berdua bisa jaga dia." ucap Arya dengan senyum terpaksa, menatap sendu kedua teman nya.


"Tenang aja, gue sama Coki bakal jaga Diana. Kalau bisa sejam gue kabarin lo. "ucap Kocil memberi semangat pada Arya untuk menempuh hari baru.


"Oke, gue pergi dulu. " bersamaan dengan itu Arya melajukan motor nya meninggalkan rumah itu.


Kocil, dan Coki menatap sendu Arya yang semakin lama semakin menjauh. "Gue kasian sama Arya, dipaksa gitu buat nikah ma Si Inez." ucap Kocil.


"Ya, mau gimana lagi itu udah takdir. Arya harus bisa ngejalani nya walau berat. "ucapan Coki langsung mendapat tatapan sinis dari Kocil.


"Apa?!. "tanya Coki dengan nada ngegas.


"Bisa bijak juga lo. "ucap Kocil lalu menatap rumah Diana,.


Coki hanya memutar bola mata malas, menanggapi omongan Kocil hanya membuat kepalanya meledak. "Cok! Inez sama Arya beneran nikah di Jerman?. "tanya Kocil.


"Mana gue tau, gue di Indonesia bukan Di Jerman. "ucap Coki.


"Bisa aja kan lo punya saudara gitu rumah nya di Jerman, dan sebelah an sama Arya. " ucap Kocil.


"Kagak ada! ."ucap Coki setengah berteriak, sambil memijit pangkal hidung nya untuk mengurangi rasa sakit kepala akibat Kocil.


Cengiran Kocil membuat Coki ingin melempar batu bata ke wajah tanpa dosa itu sangking geram nya, Kocil nampak mengalihkan pandangan kearah kamar Diana yang sudah gelap karena semua lampu dimatikan kecuali lampu meja belajar.


"Lo bener tuh Diana udah tidur?. "tanya Kocil.


"Lampunya udah dimatiin juga, berarti Diana tidur. "jawab Coki.


Kocil menatap lekat lekat kegelapan kamar Diana itu, merasa Diana belum tidur walau lampu nya udah di matikan.


"Bisa jadi Diana gak mau diganggu sama kakaknya jadi matiin lampu biar di kira udah tidur. "sangkal Kocil, masih menatap lekat kamar Diana.

__ADS_1


"Entah lah, tapi gue rasa Diana udah tidur deh. "ucap Coki ikut menatap lekat kamar Diana.


Mata nya berkedip agar bisa melihat kegelapan seperti apa yang ia baca dikomik kesukaan Coki, walau udah di coba berkali kali tapi masih tetap sama, gelap.


__ADS_2