
Dimeja makan yang sudah terdapat tiga orang dengan satu pria dua perempuan, orang itu terdiri dari Diana, mbh Minah, dan Arvin yang kini tengah menyantap makan malam mereka.
"oh ya Diana, kamu flu ya? tadi aku liat hidung kamu merah "tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangan nya pada makanan miliknya.
Diana menatap Arvin lalu kembali menatap makanan miliknya yang masih utuh dan hanya beberapa suapan saja yang masuk kedalam mulut Diana.
"tidak, aku tadi hanya bersin bersin terus sepertinya ada yang mikirin aku. " jawab Diana yang lalu menatap makanan ya kembali.
"oh.. Kira-kira siapa ya? "ucap Arvin menyudahi acara makannya.
Diana hanya diam dengan terus memasukan sesuap makanan kedalam mulut nya, setelah selesai Diana pergi kedalam kamarnya sendiri setelah ia dibuatkan kamar nya sama dengan milik mbh Minah.
Diana menatap langit langit kamar dengan diam melamun tak terasa sesuatu mengalir hangat dikedua pipi nya Diana sangat tau pasti ini luah air mata nya yang terjun bebas tanpa izinnya. Mengusap pelan ia teringat dengan ucapan nya saat dimeja makan lalu Diana memukul keras kepala nya.
"Aaa.. Diana apa kau tau arti dari bersin itu? Kenapa kau langsung ngmong gitu sih!! Kan kalau salah gmn??. "
Diana tak henti henti nya menceramahi dirinya sendiri karena mulut nya yang ceroboh tadi bagaimana bisa ia tau tentang hal seperti itu dan kenapa juga Arvin bertanya seperti itu tadi, Agrrhhh.... Semua itu membuat Diana lelah hinga ia terlelap dengan wajah cemberut kesal pada dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya dikediaman Elvano, Arya tengah bersiap pergi ke sekolahnya saat menuruni tangga dirinya melihat mama dan papa Arya sudah menunggu kedatangannya untuk sarapan, karena hari ini lagi tidak ingin sarapan ia pun langsung berlalu menjauh dari meja makan.
"Arya....! "
Teriak dari arah dapur memanggil nama Arya, Arya melihat kearah dapur disana mama berdiri menatap nya lalu kembali berucap.
"nak.. Ayo sarapan. " pinta mama mengerti dengan keadaan Arya yang lagi malas sarapan.
"ma Arya... "
"mama udah masakin lho buat Arya, masak Arya nya gak makan. " ucap mama Arya cepat dengan raut wajah sedih agar Arya menurut.
Dengan terpaksa Arya berjalan menuju meja makan Arya tau jika mama nya sudah memasakan untuk nya, mengerti dengan mama nya yang seperti itu Arya menebak ada sesuatu yang ingin mereka tanyakan pada dirinya.
__ADS_1
Arya memdudukan pantat nya dikursi kosong depan papa,mama nya.
"mama,papa mau tanya apa?. " tanya Arya langsung tak ingin berlama-lama ia dirumah ia ingin melihat wajah Diana yang tercopy Dina disekolah.
"hehe... Mama mau tanya perkembangan mata-mata yang kamu sewa gimana?? "
Tanya mama yang mengetahui rencana Arya mengirim mata-mata untuk mengawasi Diana dari jarak jauh.
"mama tau??!. " Arya terkejut dengan pertanyaan mama nya bagaimana bisa mama yang disibukan dengan acara pertunangan nya yang tertunda karena Arya yang menunda nya, mama tau jika ia sibuk dengan mata-mata nya???.
"ya, tau lah kan kemarin pas ada acara dirumah nya Diana mama sama papa kan diundang dan juga ikut berunding. " jelas mama yang semakin membuat Arya terkejut.
Dalam lamunan Arya ia smtengah mengingat malam saat dirinya berada dirumah Diana tengah merundingkan tentang mata-mata dan disana Arya tak melihat mama dan papa nya sama sekali.
"kamu belum jawab pertanyaan mama Arya!" kesal mama yang melihat Arya diam tak menjawab.
Arya terperangah mendengar ucapan mama nya hingga lamunan nya terbuyar.
"aku gak liat mama sama papa malam itu? ." ucap Arya menatap kedua orang tua nya secara bergantian.
"pantas saja, kamu terlalu fokus pada gadis yang bersama mu yang kamu suruh pulang duluan waktu itu. " papa kini membuka suara setelah sarapan nya habis, ya kan laper belum ada tenaga jadi sarapan dulu baru buka suara. Hahaha
"tapi ingat Arya kamu sudah mempunyai calon tunangan!! "ucap papa mengingatkan Arya jika Arya lupa.
"ya... Arya tak lupa" Arya pun bangkit dari duduk nya lalu pergi meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal.
Papa nya sangat kejam masak Arya dijodohkan dengan gadis yang menjijikan seperti Inez, padahal jika dibandingkan dengan kekayaan milik papa Arya dengan papa Inez sangat jauh berbeda.
Sesampainya diparkiran sekolah Arya yang baru saja turun dari mobil terkejut lalu berlari dengan cepat menuju kelas nya tanpa melihat sekitar hingga tak sengaja Arya menabrak seorang gadis dari arah berlawanan.
Brukk....
"adaw...!! "
Teriak nya kesakitan sambil terus mengusap pantat nya yang sakit akibat ia yang terjatuh, Arya langsung menolong nya setelah mengerti siapa yang telah ia tabrak.
"kalau jalan pakek mata bukan pakek jidat!!. "kesal nya pada Arya sembari terus mengusap jidat serta pantat nya secara bergantian.
"maaf Dina. " ucap Arya meminta maaf namun belum sempat ia ingin berlari kembali Arya mendengar namanya dipanggil dengan keras nya.
Arya lalu menarik Dina kedalam pelukannya lalu berjalan dengan santai dan tenang namun berbalik dengan Dina yang gugup dan juga terkejut atas pelakuan tiba-tiba dari Arya.
"Ar.. ya. " panggil Dina kecil namun masih terdengar jelas ditelinga Arya karena Dina berada didada nya.
"kemana Arya?? Ah.. Gara-gara Vari. Sialan!. "kesal seseorang di belakang Arya dan ucapan nya snagat terdengar jelas ditelinga Arya, setelah orang itu pergi Arya langsung melepaskan pelukannya.
"maaf. " ucap Arya
Dina hanya menganggukkan kepala sembari pergi kemana tujuan nya jantung nya seperti maraton didalam dada Dina wajah Dina bersemu ketika mengingat Arya yang memeluknya tadi.
__ADS_1
"astaga, Dina apakah kamu diganggu sampai senyum senyum sendiri. Hah?? "kocil berjalan mengikuti arah kemana Dina berjalan.
Langkah Dina berhenti diruangan gelap dan juga pengap, kocil melirik Dina bingung lalu menatap ruangan yang tepat dihadapan nya dengan bergidik.
"hei... Dina kamu kenapa berhenti disini??. " tanya kocil kebingungan tadi Dina bilang ia akan kekantin membeli minum namun karena lama kocil pun menyusul Dina tapi Dina malah belum dikatin, kocil mencari Dina hingga bertemu dikoridor sekolah Dina yang masih berjalan dan sama sekali tak tau keberadaan kocil disampingnya.
"Dina!!!! "panggil kocil tepat ditelinga Dina hingga Dina terperanjat kaget dibuatnya.
"astaga Azri, kamu membuat ku terkejut. " ucap Dina cemberut sembari mengusap ngusap dada nya yang belum beraturan.
"loh kok kira ada disini sih??. " tanya Dina kebingungan tujuan nya kan kekantin tapi malah ditempat gelap dan pengap didepan nya ini.
"kamu tuh jalan sampek kesini, udah ditungguin taunya belum sampek dikantin. " kesal kocil lalu menarik tangan Dina menjauh dari tempat itu setelah bel masuk terdengar ditelinga mereka.
.
.
.
.
.
.
.
"hai... Diana" sapa Arvin sembari mendudukan diri disamping Diana.
Diana sangat kesal karena Arvin yang seenak jidat duduk disamping nya yang kini menjadi tempat duduk favoritnya.
"siapa suruh duduk disini??!. "tanya Diana dengan wajah kesal tanpa melohat kearah Arvin.
"disini kosong biat apa kosong kalau gak buat duduk. " jawab Arvin merasa tak bersalah namun jawaban Arvin membuat Diana tak kuasa menahan kekesalan nya.
"tuh ada yang kosong kenapa gak buat duduk?? ." ucap Diana menujuk kursi didepan nya dengan dagunya, Arvin mengikuti arah dagu Diana hingga terarah dengan kursi yang berada didepan Diana yang memang kosong.
"disitu kosong gak papa, tapi disini kalau kosong pekek setan. "
"cih. " decih Diana berlalu pergi mencari tempat lain yang sejuk dan juga nyaman.
Diana sudah tak membantu mbh Minah dagang setelah memiliki gerobak mbh Minah serta mbh Minah mendapatkan karyawan dari penduduk desa yang mencari pekerjaan selain bertani.
Diana masih berjalan memutari rumah Mbh Minah mencari tempat duduk yang memiliki angin yang lumayan kencang.
"dimana ya?? Tempat yang tidak diketahui sama tuh tuyul sembarang aja dia duduk ditempat gua yang sudah terdaftar favorit!!. "ucap Diana dengan mata menyapu seluruh tempat disekitar ia berdiri.
Bersambung.......
__ADS_1
Jangan lupa. Like, Vote, komen and Favorit. Makasih