Diana & Arya

Diana & Arya
Enam puluh Tujuh


__ADS_3

Malam harinya wajah Diana tak seperti biasa, ia lebih suka menampilkan wajah dingin tanpa ekpresi. Hal itu membuat kedua kakak Diana bingung harus apa, mereka berdua menghembuskan nafas.


"Diana. "panggil Akhazia sambil mengulas senyum.


Diana tak menyaut ia hanya menatap Akhazia tanpa ekpresi, menunggu lama Akhazia berbicara namun tak kunjung melihat bibir itu bergerak membuat Diana kembali menatap makanan yang tak berbentuk dipiring nya.


Tanpa permisi Diana beranjak dari duduk nya, Talka menatap sendu adiknya itu merasa bersalah karena tak jadi mengunjungi kedua orang tua nya kemarin. "Mungkin nak Diana butuh waktu. "ucap Mbh Minah tersenyum, membuat kedua nya mencoba memahami Diana.


Didalam kamar, Diana menangis histeris merasa manusia paling bodoh yang terlihat biasa biasa saja didepan orang dan akan menangis jika sedang sendiri. Dan itu hanya membuat dirinya terluka.


Dijendela Diana terdapat dua makhluk yang sedari mendengar suara isak tangis Diana yang sangat mengiris iris hati mereka, bahkan salah satu mereka ikut menangis.


"Lo kenapa ikut nangis sih?. "tanya Coki menatap Kocil dengan sinis, ya Coki dan Kocil lah yang sedari mendengar Diana menangis.


"Gue sedih banget, banyangin jadi Diana yang sok kuat tapi dia lemah kalo sendiri. " ucap Kocil sembari mengelap ingus nya dengan lengan baju.


"Jorok lo. "ucap Coki dengan nada jijik.


"Ar! Sebaiknya lo hubungi tuh Diana. Dan bikin dia tenang. " ucap Kocil menatap Arya dari layar ponsel.


Ya, sedari tadi mereka tengah melakukan videocall dan itu yang minta Arya karena ingin melihat Diana.


"Gak bisa, ada Inez. "bisik nya dengan kepala bergerak kesana kemari.


"Yang bener aja?! Inez dikamar lo. Mak lo udah gila ya Ar, maksa banget buat nikahin lo. "ucap Kocil dengan nada kesal.


"Ya, mama gue cuma mau Inez dijaga. Mereka semua udah tau tentang Inez yang mau dipenjara. " ucap Arya ddngan suara lirih.


"Maaf, gue gak bisa. Lo tau sendiri kan keluarga Inez itu gimana, tinggal keluarin uang udah biaa bebas dari penjara. "ucap Coki angkat bicara setelah dari tadi menyimak saja.


"Gue gak salahin kalian kok, makasih banget udah mau jaga Diana selama gue gak ada. Dan gue peringatin buat kalian jangan lengah jaga Diana, gue denger Inez buat rencana balas dendam sama Diana. "


"Kenapa? Salah Diana apa?." tanya Kocil dengan raut wajah bingung, terlihat dari kening yang berkerut kerut.

__ADS_1


Sama hal nya dengan Kocil, Coki pun juga bingung entah kenapa otak miliknya mampet bak pipa Wc.


"Inez pikir Diana yang mencoba memasukan nya kedalam penjara. "ujar Arya.


Kocil dan Coki berdecak kesal mendengar ucapan Arya, otak bodoh seperti milik Inez hanya bisa menuduh orang saja.


"Emang ada bukti?." tanya Coki dengan senyum sinis, karena tahu bahwa Inez tak memiliki bukti.


"Ada! Dia liat Diana ada dikantor polisi. "ucap Arya.


Kedua teman Arya itu hanya mendengus, setelah perbincang lama mereka akhiri perbincangan mereka karena waktu cepat berlalu.


Saat ini pukul 10:30, waktu nya Kocil dan Coki untuk istirahat, sebelum itu mereka memastikan keadaan Diana bahwa aman-aman saja.


Setelah mereka pergi Diana bangun dari tidur nya, ia sedari tadi mendengar perbincangan Kocil dan Coki dengan Arya lewat Video Call.


"Inez! Lo emang bodoh ya, gunain orang buat selesaiin rencana lo. "gumam Diana dengan senyum sinis, membayangkan Inez ada didepan nya.


"Udah lah, gue udah ngantuk!. "ucap Diana lalu membaringkan tubuhnya untuk kembali terbnag kealam mimpi.


Tok...


Tok...


Tok...


"Sebentar!." saut orang didalam Rumah.


Diana menunggu dengan wajah datar sesekali ia mengecek ponsel nya untuk melihat jam.


Ceklek...


Pimtu rumah besar nan indah itu terbuka, menampilkan sosok Coki dengan pakaian santai, tak lupa dengan gaya rambut berantakan namun terlihat cocok dengan wajah Coki.

__ADS_1


"Gue mau bicara sama lo dan Kocil!. "ucap Diana segera masuk tanpa disuruh, karena kakinya sudah kesemutan.


Ditambah Coki yang terlihat terkejut ,bisa bisa Diana ngoyot didepan pintu rumah Coki. Coki berlari kecil mengikuti Diana dari belakang, hingga sampai diruang tamu.


Kocil tampak terkejut melihat Diana bahkan mulit nya terbuka lebar seperti kudanil, Diana duduk di sofa single. "Hai! Sorry Cok, gue langsung masuk. Kaki gue mau ngoyot tadi didepan. "ucap Diana sambil tersenyum kaku.


Kocil dan Coki membalas senyum Diana dengan perasaan tidak enak, "Lo berdua disuruh Arya jaga gue?. "tanya Diana tiba-tiba membuat kedua empu tersebut terperangah.


"Gue denger kok, semalem lo berdua ngobrol sama Arya lewat Video Call. Arya nyuruh kalian jaga gue kan?. "ucap Diana sembari menjelaskan tentang bagaimana ia bisa mengetahui semuanya.


"Iya, karena Arya ada di Jerman. "ujar Kocil, Kocil terdiam saat Coki menatap tajam dirinya seakan mengancam agar tidak memberitahu tentang Arya pada Diana.


"Buat apa?. "tanya Diana.


Kocil menyenggol siku Coki agar memberitahu Diana karena Kocil sendiri tidak tahu tujuan Arya ke Jerman.


"Mama Arya pengen Arya nikah sama Inez di Jerman sekalian jaga Inez." ucap Coki sembari menghela nafas.


Diana langsung memasang wajah datar dingin nya, kenapa dirinya bisa lupa bahwa ia sudah melupakan Arya. Diana pamit pergi, setelah keluar dari rumah Coki Diana langsung berlari menuju taman yang jarak nya 500 meter dari rumah Coki.


Sesampainya di taman Diana terduduk begitu saja untung taman tersebut sepi dan tidak banyak orang lewat disitu.


"Arya, sesuatu yang membekas di hati layak dinanti. bukan? biasakah aku menanti dirimu entah kapan kamu bisa bersama ku. "ucap Diana.


"Menghabiskan waktu ku bersama mu, hanya bersama mu. Semua orang yang ku sayang pergi, semua orang yang ku butuhkan menjauh, kenapa mereka tidak peka padaku. Aku hanya ingin satu, buatlah diriku tertidur dalam mimpi indah dan aku berharap mimpi bukan sekedar mimpi melainkan dunia nyata yang belum pernah ku rasakan. "gumam Diana dalam tangis.


"Diana. "


Suara itu, suara yang Diana yakin itu milik Arya. Diana mendongakan kepala setelah lama menunduk, mata Diana berbinar menampakan hatinya lega.


"Kenapa menangis?. "tanya Arya.


"Tidak! lo bukan Arya. Pergi jangan ganggu gua!. "ucap Diana kembali menunduk, dan menatap keatas dimana tempat Arya berdiri.

__ADS_1


Dan benar saja bahwa yang tadi bukan Arya namun ilusi Diana yang sangat merindukan sosok Arya dikala ia sedih.


__ADS_2