
Sore hari nya mbh minah sudah boleh di bawa pulang karena keadaan nya sudah membaik, Diana sempat menolak untuk mbh minah di rawat lebih lama lagi namun mbh minah menolak nya.
Akhirnya kini sampai di rumah mbh minah yang sangat Diana rindukan dari dapur ,menata semua dagangan hingga ke kamar mandi yang gelap membuat nya takut.
" mbh minah langsung istirahat aja " ucap Diana tersenyum lembut kepada mbh minah.
Tanpa menolak mbh minah langsung ke kamar karena dia juga capek akhirnya menurut saja, Diana menuju dapur untuk membuat makan malam dirinya juga untuk mbh minah.
Pikiran Diana terpikir jika ia harus cepat cepat membuat gerobak untuk mbh minah agar bisa jualan di rumah tanpa harus berkeliling desa ke desa lain nya.
Saat malam hari nya pintu di ketuk membuat Diana yang masih di sibukan dengan alat dapur teralih ke pintu, membuka pintu lalu mempersilahkan Arvin masuk.
Kali ini Diana tak menolak lagi karena dia masih sibuk kalau mengurusi satu orang ini bisa gosong masakan Diana dan tak jadi di makan deh.
" lo mau makan bareng gak?,mumpung lagi baik nih gua "tawar Diana mumpung baik ini dia, hehehe.
Setelah menawarkan Arvin dan Arvin setuju Diana ke kamar mbh minah untuk mengajak mbh minah makan bareng.
" mbh minah udah bangun? " tanya Diana sembari melipat selimut yang sudah tak di pakai mbh minah karena mbh minah sedang duduk di pinggir ranjang.
" makan yuk mbh, disana juga ada Arvin " ucap Diana menatap mbh minah, biasanya mbh minah seneng jika ada Arvin tapi kali ini entah lah.
" iya mbh minah tau " ucap nya beranjak sendiri membuat Diana gerak cepat memegang tangan mbh minah agar tak jatuh.
" mbh minah udah tau?" tanya Diana bingung perasaan Arvin tak membuat suara atau apa gitu tapi mbh minah bisa tau.
" ya, tadi dia ke sini samperin mbh " jawab nya jelas, Diana mendegus kesal ternyata yang membuat mbh minah terbangun adalah Arvin huh... Menyebalkan.
Sesampainya di meja makan nampak Arvin memandangi Diana dengan senyum namun bagi Diana itu sungguh menyebalkan pa lagi menatap nya dengan rakus membuat Diana merasa jijik saja.
" ngapain natap gitu??, mau gua congkel tuh mata! " ucap Diana menarik kursi agar mbh minah dapat duduk.
" hus... Diana " ucap mbh minah menatap Diana marah
" habis nya Arvin natap nya gitu kan Diana gak suka " adu Diana kepada mbh minah
__ADS_1
" udah udah ayo makan, nak Arvin rasain masakan nya Diana " ucap mbh minah tersenyum lembut mbh minah layangkan kepada Arvin yang duduk di depan nya hingga mahkluk di samping mbh minah seperti batu bernafas saja di meja makan ini, tak di hiraukan.
Dengan senang hati Arvin mengambil nasi serta lauk dengan porsi yang lumayan itu jika mbh minah yang melihat nya namun jika Diana itu adalah porsi banyak yang baru saja ia liat di depan mata nya sendiri.
Gila, tu cowok beneran makan segitu. Badan aja kecil makan kek setaun gak di kasih makan aja. Batin Diana melirik kearah Arvin berada.
Selesai makan kini giliran Diana yang makan tadi di meja makan ia hanya menemani mbh minah makan dan tidak ada keinginan untuk makan baru saja perut nya menjerit kelaparan hingga kini Diana makan seorang diri di tempat yang irit penerangan.
" gimana ya gambar nya?? " pikir Diana bingung bagaimana bisa ia mengambar Desain jika tidak ada kertas atau apapun itu yang dapat di gambar permanen.
Kalau ingin membeli toko mana yang menjual peralatan mengambar di desa terpencil seperti ini bahkan jarak atar rumah ke rumah lain nya saja 100 meter apalagi toko yang berada di kota nanti nya, akan bermeter meter agak nya.
Angin menghembus mengenai kulit kaki Diana yang tak memakai alas, terasa dingin hingga masuk dalam pori-pori mwmbuat hawa merinding datang tak kala bulu kuduk berdiri tegak karena dingin.
Dengan cepat Diana menghabiskan makanan nya yang hanya ia tatap bagaikan foto terpajang di sana, berlari kecil dengan tanpa suara kini menjadi uji nyali bagi Diana di tempat ini seperti banyak batu-batu yang masih menonjol kadang membuat kaki tanpa sadar tersandung.
Bugh.....
Yaelah, kurang pa lagi gua diem diem nya. Batin Diana sembari bangkit dari acara tidur tak di sengaja di lantai.
" bomat, gua jalan terserah gak usah diem diem lagi di kira gua maling pa " ucap nya berjalan dengan santai menuju kamar tempat mbh minah tidur juga sebagai tempat tidur nya sendiri.
Pagi hari yang cerah di rumah utama keluarga Diana teihat ramai akan manusia, ya manusia lah masak hantu, hahaha.
Arya, Rellia juga berada disana entah apa yang di rencana kan mereka berdua mengundang seluruh anggota Keluarga Diana untuk datang ke rumah utama.
" Rel, lo nyakin mereka bakal percaya? " tanya Arya di samping Rellia, mereka berada di depan pintu masuk untuk menunggu ke datangan papa dan mama Diana datang.
" yakin lah, Ar " jawab Rellia tanpa basa-basi.
Arya pasrah akan apa yang di lakukan Rellia karena bisa saja banyak orang yang tak percaya setelah 1 bulan lama nya tak kunjung mendapat kabar kini langsung Mendapat kabar bahwa Diana berada didesa kecil.
Papa dan mama Diana sampai dengan cepat setelah mendapat kabar bahwa akan ada pengumuman tentang anak bungsu nya yang 1 bulan ini menghilang tanpa kabar.
"hei!!... Aray lo gak bohong kan? " Talka bertanya merasa tak percaya dengan omongan Arya yang tiba-tiba.
__ADS_1
"sebenarnya Arya tak percaya tapi Rellia yang percaya dia sudah dihubungi Diana sendiri bahkan Diana baik-baik saja, Diana hanya menghubungi Rellia saja karena nomor Rellia yang ia hafalkan"
Jelas Arya memang susah jika memberitahu orang tanpa bukti namun tekat Arya yamg ingin segera bisa menemukan Diana sudah bulat apalagi dengan kedatangan Dina yang mirip Diana.
Mereka semua memutuskan untuk mengusul mata-mata untuk mencari keberadaan Diana serta memberi informasi tentang keadaan Diana, banyak sebagian keluarga besar tidak menganggap penting karena Diana anak perempuan yang bisa dipastikan tidak dapat meneruskan perusahaan papa nya yang kini berada ditangan Akhazia.
Setelah selesai dengan acara hingga larut malam mereka baru pulang termasuk Arya namun tidka dengan Rellia yang sebagai perempuan sudah diizinkan untuk pulang terlebih dahulu.
Setelah berkunjung kekediaman nya Diana Arya langsung menyewa mata-mata yang sudah terlatih dalam mengawasi ia pun mengirim ke alamat yang sudah Rellia beritau kepadanya sebelumnya.
"ingat kalian harus mengawasi gadis didalam foto ini!! " ucap Arya sembari memberikan foto kepada ketua dari mata-mata tersebut.
"baik!! "ucap mereka serempak lalu pergi menjalankan tugas mereka.
"semoga dengan ini Diana cepat ditemukan. "Gumam Arya meninggalkan tempat itu.
1 bulan telah berlalu dengan cepat mata-mata yang dikirim Arya bekerja dengan baik setiap hari nya mereka mengirim sebuah foto beserta apa yang sedang dilakukan nya, Arya cukup puas namun adahal yang membuatnya gelisah seorang pria yang sering berada didekat Diana bahkan tertawa bersama hati Arya terasak panas melihat foto itu hingga ia menghapusnya setelah ia lihat.
"apa Diana sudah memiliki teman? Bukan teman! Apakah dia sudah memiliki kekasih? "pikiran Arya tak jelas dirinya tidak bisa menerima jika Diana melupakannya begitu saja.
Sedangkan ditempat lain seorang gadis cantik dengan pakaian biasa duduk disebuah ayunan sembari menghirup udara sore hari yang menenangkan, sebuah air menetes terjun bebas dari asal nya membasahi pipi gadis itu yang gak lain adalah Diana Putri.
'mama Diana kangen, kangen peluk mama tidur bareng mama Diana ingin cerita banyak pada mama hingga Diana selalu lupa bahwa Diana dalam keadaan yang buruk' tangis nya pecah mengingat kembali bagaimana mama menenangkannya saat sedang menangis.
'papa kak Talka kapan jemput Diana, Diana gak bisa pulang gak punya uang buat naik taksi salah kak Talka sih gak kirimin Diana uang, Diana gak bisa pulang kan'
Tanpa Diana sadari ada seseorang yang mengawasinya memfoto lalu merekam apa yang keluar dari mulut Diana, tak lama seorang pria datang menghampiri Diana pria itu tak lain adalah Arvin yang selama ini menjadi teman Diana.
"hei, sedang apa kamu disini? Sudah petang ayo pulang! Disini dingin sekali apalagi kamu naik ayunan, ayo pulang! " teriak Arvin sembari terus berjalan menghampiri Diana yang duduk diayunan.
Mendengar suara Arvin Diana dengan segera menghapus air matanya lalu merubah wajah sedih nya dengan wajah yang sebelumnya.
"iya, ayo pulang pasti mbh minah kecapeaan." Diana menghampiri Arvin lebih tepatnya berjalan meninggalkan tempat itu dengan melewati Arvin.
Arvin menatap punggung Diana ada yang aneh dengan wajah Diana hidung Diana memerah lalu senyuman dibibir Diana kali ini bukan asli namun senyum yang dibuat buat.
__ADS_1
"apa Diana punya masalah? "
Bersambung......