
Malam harinya tepat pukul 07:00. Diana yang baru saja sampai pada rumahnya setelah bermain setengah hari dirumah Rellia. Berjalan diruang tengah, Diana merasa heran rumahnya kini nampak gelap membuat bulu kuduk meremang seketika.
Gila, ni rumah jadi horor gini yak. Lagi dibuat syuting apa!. Batin Diana bergidik, ia tampak celingukan mencari bocah yang pagi tadi menganggu nya.
"Dino!. "panggil seseorang dengan suara lirih.
Panggilan itu layaknya difilm horor yang pernah Diana tonton dirinya enggan menatap meja makan. Disana ada sosok duduk dimeja,.
Sejak kapan rumah ini jadi horor begini, mana ada yang duduk disitu lagi. Batin Diana hendak lari, namun tiba-tiba lampu menyala bersama dengan seseorang dihadapan Diana.
"Gendrowo!!!!!!. "teriak Diana menutupi wajahnya menggunakan tangan, menatap makhluk didepan nya membuat jantung nya berdebar takut.
"Woy! Kagak usah teriak teriak, gue Talka bukan genderuwo!. "kesal Talka mengerucutkan bibirnya, bisa bisanya seorang Talka yang tampan dipanggil genderuwo.
Diana membuka jarinya satu persatu hingga tak tersisa satupun yang menutup wajahnya, Diana bersikap layaknya tak ada apa yang terjadi. Menganggap semua hanya lah angin lalu .
"Elu ngagetin gua! Btw gimana tadi dikampus?. "tanya Diana penasaran, ia sudah menahan rasa penasaran nya sejak dirumah Rellia.
Apakah Rio berbuat ulah atau hanya diam duduk manis saja, gak percaya sih kalau Rio hanya duduk manis dan gak buat ulah. Batin Diana berpikir.
Seketika wajah Talka berubah masam sepertinya ada yang seru ini, pikir Diana. Talka memutar bola mata malas melihat wajah Diana yang penasaran dan sudah pastinya akan mengejek Talka jika memberitahu tentang Rio dikampus.
"Udah sono, bocan!. "ucap Talka meninggalkan Diana dengan wajah cemberut.
Bagaimana tidak Diana yang sudah terlanjur penasaran kini malah tidak jadi mendapatkan bahan ejekan. "Udah lah gua tidur aja!. "ucap Diana.
Saat dikamar Diana yang baru selesai ganti baju mendengar suara dering ponsel yang terdengar tidak sabaran.
"Apaan sih!. "kesal Diana, menyaut ponsel dari kasur.
Membuka ponsel seketika layar ponsel menampakan pemberitahuan tentang adanya pesan masuk. Diana yang sudah terlanjur kesal hanya mendiamkan nya.
Drttt.... Drttt... Drtttt....
Ni ponsel minta dibanting apa. Batin Diana merutuki ponsel nya yang tidak mau diam barang sejenak saja.
Calling.....
:Hallo! Na
Ya, kenapa sih ganggu gua mau bocan nih!.
:Lo udah mau tidur jam segini?
Iya, udah ya gua matiin!
:Hoy jangan lah, emang lo kenapa? Biasanya lo tidur jam 12
Gua mau berangkat pagi!
:Ada tugas?
Enggak, gua cuma lagi pengin aja
:Pengin berangkat pagi? Aneh lo
Gua mau berangkat pagi biar Rio gak ngikut kesekolah.
:O, keponakan elo
__ADS_1
Hmm, gua mau tidur. Babay
:Besok gua jemput, jam 5.
Tut...
Diana mematikan sambungan telepon, dirimya tidak tau siapa yang baru saja ia ajak bicara dan siapa yang akan menjemputnya.
"Bentar, katanya kan jam 5. Gua harus nyalain alarm dulu ini. "ucap Diana mengambil alarm yang sudah lama tak ia gunakan.
Setelah selesai, Diana segera merebahkan diri sembari mematikan lampu kamar.
.
.
.
.
.
.
.
.
keesokan paginya, Diana bangun tepat jam 5 karena ia menyetel alarm tepat jam itu. Dengan bergegas Diana jinjit jinjit menuruni tangga, agar tidak membangunkan orang.
Tiba-tiba ponsel Diana berdering dengan keras ditambah kesunyian membuat suara itu bertambah keras.
"Hallo."
:Lama bener! Lagi ngapain sih?! Gue capek nungguin nya!
"Sabar... Sabar. Ini gua lagi jalan, biar gak ada yang tau!. "ucap Diana sedikit kesal.
Setelah memutus sambungan telepon, Diana berjalan dengan santai walau gugup karena takut ketahuan. "Huh, akhirnya sampek gerbang. "gumam Diana bernafas lega, memandang rumah nya.
"Neng Diana mau kemana? Pagi pagi sekali. "suara pak satpam membuat Diana terkejut, aduh, gua lupa disini kan ada satpam. Batin Diana gelagapan.
"Anu... Anu.. Pak, saya ada tugas disekolah jadi harus berangkat pagi-pagi! Hehe. "jawab Diana asal, yang penting dirinya menjawab. Tidak tau pak satpam percaya atau tidak yang terpenting tidak gugup lagi.
Dengan ramah pak satpam membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Diana keluar, Diana segera berlari mencari sosok yang sedari tadi mengomel ngomel daei telepon.
"Mana sih, orang nya. Apa jangan jangan gua teleponan sama....!". Gumam Diana terkejut, pikiran nya melayang layang membayangkan betapa buruk nasibnya.
"Woy! "
"Aaaaa.... Setan!!. "teriak Diana terkejut sambil tangan nya menutup wajah. Lebih ke mata, karena matanya akan melihat setan jika tidak ditutupi. Pikir Diana
Seseorang menepuk pundak Diana dengan kasar, Diana mencoba cuek namun tepukan nya semakin menjadi membuat Diana meringis sakit.
"Woy! Sakit ini!. "bentak Diana kesal, merasa pundak nya hampir copot jika tak ia tegur.
Walau Diana telah membentak tepukan itu tak berhenti, malah semakin kencang. Diana yang sudah kesal, tangan nya mengambil posisi lalu.
Hap... Tangan itu berhenti menepuk, Diana menarik tangan itu kasar hingga badan kekar menubruk punggung Diana.
__ADS_1
Mata Diana melotot kaget, bukan setan ternyata. Pikir Diana kaku, seluruh tubuh Diana membeku. Tangan siapa yang tadinya ia pegang dan tarik, apakah akan marah si pemilik tangan nya. Pikir Diana tak mau bergerak.
"Ekhemm!. "
Diana melempar tangan tersebut karena terkejut mendengar suara kecil namun berat yang ia sendiri sangat mengenal nya.
"Rio!. "kejut Diana melihat Rio menatap dirinya dengan santai bahkan ketika Diana berteriak.
Saat itu juga Diana tersadar bahwa kini dirinya tengah dipeluk seseorang, "Siapa lo? Peluk peluk anak orang! Gak sopan!. "ucap Diana menjauhi tubuh orang yang belum Diana kenali.
"Hangat gak? "tanya Rio nyeleneh, namun mampu membuat pipi Diana memerah malu.
"Paan! ." jawab Diana memalingkan wajah ke sembarang tempat.
"Arya!. "panggil Rio, Diana dibuat terkejut kembali dengan nama yang sudah tak asing baginya.
Kepalanya mencari pemilik nama itu, dan betapa terkejutnya Diana bahwa Arya benar benar ada disamping nya.
"Kenapa lo disini Ar?. "tanya Diana menatap Arya kesal.
"Lah lo sendiri yang suruh gue kerumah lo buat jemput!. "Jawab Arya dengan dibumbui sedikit kebohongan.
"Masak, gak percaya tuh. "ujar Diana meledek, melihat wajah Arya yang bingung membuat pingen tertawa.
"Kalian mau berangkat kesekolah?. "tanya Rio penasaran, sembari menatap Diana dan Arya secara bergantian.
"Hmm! Kagak jadi ada lo!. "tuding Diana
"Yok berangkat!. "
Arya dan Diana terkejut melihat Rio yang sudah nangkring dimotor Arya yang bahkan Diana tak melihatnya sedari tadi. "Ngapain lo nangkring disitu?. "
"Ikut kesekolah, ". Lagian Bang Talka kekampus. O, ya bang Talka nitip salam katanya 'yang sabar ya Dino'. " sambung Rio tanpa diam.
Ia terus bergerak diatas motor membuat Arya menatap dengan tatapan kasian, kasian motor nya yang siap-siap masuk rumah sakit. Yang berarti bengkel.
"Napa tuh muka?. "bisik Diana menatap lurus ke Rio yang tak berhenti nya bergerak diatas motor Arya.
"Motor gue siap-siap masuk bengkel. "jawab Arya suara pelan, dan Diana hanya menahan tawa menatap motor Arya yang hendak lari terbirit birit merasakan badan nya pegal karena Rio.
"Woy! Kagak bisa tenang lo. Kebelet wc?. "tanya Diana merasa kasian melihat raut wajah Arya yang tak sedap dipandang nya.
"Buruan berangkat! Jan lupa mampir kerestoran mo makan. "ucap Rio tanpa malu, sedangkan Diana geleng-geleng kepala dan Arya berjalan lesu kearah motor kesayangan nya yang menjadi korban.
Motor melaju dengan kecepatan sedang sebelum kesekolah Arya melajukan motor kerestoran yang sudah buka jam 5 ini. Diana tak berhenti nya mengomel pasal Rio yang tak bisa diam sedari tadi, macam cacing kepanasan.
"Teh Rio, lo diem napa sih!. "geram Diana.
Rio yang berada ditengah tengah Diana merasa terjepit makanya dia terus bergerak mencari kebebasan pada tubuhnya yang kecil.
"Hoy! Dino ini gunung lo bikin gue gak bisa nafas. "teriak Rio
"Apa? Gua gak punya gunung, kenapa bikin lo gak nafas?. "tanya Diana tak paham dengan ucapan Rio. "Dua gunung kembar lo!. "teriak Rio tak tahan lagi.
Diana merada malu ia langsung memundur kan diri hingga duduk pada besi motor paling belakang, sedangkan Arya menjadi tidak fokus menyetir. Bisa bisa nya anak kecil mengerti seperti itu. Pikir Arya
"Arya! Yang bener napa nyetir nya. Gua bisa jatuh nih. "teriak Diana kesal, sangking kesal nya ia meremat kuat tangan nya yang kini berpegangan besi yang menjadi tempat duduknya.
Bersambung.......
__ADS_1