
Tiba-tiba Diana teringat dengan pekerjaan nya, ia langsung berdiri dari duduk nya melihat pergelangan tangan nya yang terlingkar jam disana. Menatap sekilas jam tersebut kemudian ia menatap semua tamu nya.
"Gue keatas dulu, kalau kalian pengen minum ambil sendiri, pengen cemilan ambil sendiri atau suruh Rellia yang ambilin. "setelah mengucapkan hal tersebut Diana melangkah kan kakinya menuju lantai atas.
Setelah Diana menghilang dari balik tembok Arya bertanya pada seonggok makhluk yang habis jadian tersebut.
"Diana kerja ya? Kayak nya sibuk banget. "ucap Arya menatap kedua orang itu.
"Iya, Diana jadi Novelis. "jawab Rellia.
Arya menganggukan kepala paham, seulas senyum tersirat diwajah tampan nya. Tidak sabar ingin mengikat Diana menjadi pasangan nya selamanya.
Diana adalah satu-satunya gadis yang mampu membuat Arya kelimpungan saat dua tahun berada di Jerman. Hanya karena rindu dan merasa sepi.
"Gue ambil minuman ama cemilan dulu. "pamit Rellia pada Arya dan Kocil.
Baru beberapa langkah Rellia kembali berbalik menatap tajam Arya yang seperti nya memiliki niat tersembunyi.
"Awas kalau sampek lo nyusul Diana!. "ucap Rellia pada Arya lalu kembali melangkah pergi.
Seakan mendapat dorongan Arya malah sangat ingin menyusul Diana keatas, dia tidak peduli dengan ucapan Rellia karena ia hanya menganggap ucapan tersebut angin lalu.
"Mau kemana lo?. "tanya Kocil tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel ditangan nya.
Arya menghentikan langkah nya saat hendak pergi. "Nyusul Diana. "ucap Arya santai.
"Lo tuli? Denger gak sih yang Rellia ucapkan. Lo tadi udah naikin mobil kesayangan Diana, Terus ini mau ganggu Diana di atas, bisa berasap tuh otak Diana. "ucap Kocil sedikit kesal dengan sahabat nya itu.
Tanpa menghiraukan ucapan Kocil Arya langsung melesat keatas tangga, ia berjalan sangat pelan namun terlihat buru-buru.
Setelah Arya pergi Rellia kembali dengan nampan berisi minuman dan juga cemilan, dahinya berkerut merasakan ada yang kurang di sofa yang ia pandangi tersebut.
"Arya mana?!. "ucap Rellia langsung melompat kesofa samping Kocil.
Reflek Kocil melempar ponsel nya hingga terjatuh, wajah kocil merautkan kebingungan, bukan tentang ponsel nya yang terjatuh melainkan Arya yamg sudah tidak bersama nya lagi.
"Arya ma-. "ucapan Rellia terpotong saat mendengar suara teriakan dari lantai atas.
"ARYA!. "teriak Diana dari lantai atas.
__ADS_1
Buru-buru Kocil dan Rellia menaiki tangga menuju kamar Diana karena suara Diana terdengar dari kamar Diana.
Didalam kamar.
Diana tengah main perang bantal dengan Arya, Diana kesal dengan tingkah Arya yang terbilang keras kepala itu. Arya seenak jidat nya main tidur di ranjang milik Diana tanpa menggunakan baju atasan.
"Arya! Lo minggir gak. Minggir! Kalo lo mau tidur disini pakek baju!. "teriak Diana kesal.
Arya malah tersenyum senang melihat wajah kesal Diana yang sudah lama ia rindukan. Tiba-tiba suara pintu kamar Diana didobrak hingga terbuka, didepan pintu menampilkan sosok Rellia dan juga Kocil melongo melihat Diana dan Arya yang tengah memegang satu bantal.
Kocil segera menarik tangan Rellia menyembunyikan Rellia dibalik punggung nya. Raut wajah Kocil kesal saat matanya melihat dada bidang Arya yang tak tertutupi sehelai kain pun.
\*\*\*\*\*
Keesokan harinya, Diana tengah sibuk berkutik dengan alat alat memasak didapur. Sudah menjadi kebiasaan Diana memasak sarapan nya sendiri.
Diana belum memperkerjakan pembantu karena menurutnya tidak penting, toh dia tinggal hanya sendiri jadi tidak terlalu butuh pembantu.
Tiba-tiba Diana mendengar suara pintu di ketuk, Diana yang sedang berkutik dengan dapur tak sempat membersihkan tangan nya yang terdapat tepung dan juga pipinya ada sedikit tepung yang menempel.
Pintu terbuka menampil kan pangeran yang membuat Diana terdiam kaku, mata nya terus menatap wajah tampan dengan tatapan mata berseri seri.
"Diana!. "teriak Arya menaikan tinggi nada nya.
Arya juga menggoyangkan bahu Diana agar tersadar, namun itu belum mampu membuat Diana tersadar dari lamunan nya.
Cup
Satu kecupan melayang di bibir Diana, sontak Diana gelagapan menatap Arya yang malah nyengir kuda didepan nya.
"L-lo ngapain kesini?." tanya Diana sedikit gugup.
Bibir nya kelu saat berbicara hingga terdengar gugup.
"Ngajak lo jalan. "ucap Arya langsung menarik tangan Diana menuju mobil hitam yang terparkir rapi dipekarangan rumah Diana..
"Ta-pi, gua belum mandi, kompor juga belum gua matiin. "ucap Diana menunjuk ke dalam rumah nya dengan tangan kirinya.
"Tenang aja. "ucap Arya santai.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Diana malah memukul kepala Arya, membuat langkah Arya terhenti.
"Tenang aja? Gimana bisa tenang. Rumah gua gosong ntar, tunggu bentar gua matiin kompor terus mandi. Bentar doang!. "ucap Diana langsung berlari masuk kedalam rumah.
Arya terdiam menatap punggung Diana yang perlahan menghilang dari balik pintu rumah, senyum nya merekah melihat tingkah Diana yang menurut nya lucu.
49 menit kemudian.
Diana berjalan menghampiri Arya dengan anggun, baju formal yang ia gunakan membuat dahi Arya berkerut. Ia tidak suka melihat Diana menggunakan baju tersebut, terlihat sangat sexi.
Arya menarik tangan Diana kembali masuk kedalam rumah, tentu Diana bingung namun ia hanya pasrah saja. Arya menaiki tangga lalu berhenti didepan kamar Diana.
"Hei! Gue udah siap ngapain balik kedalam?. "tanya Diana sambil terus mencoba melepaskan tangan Arya dari tangan nya.
Arya mengobrak abrik seluruh isi lemari Diana, tak peduli dengan perempuan yang terus ia gemgam tangan nya itu akan marah atau bahkan mengamuk padanya.
Saat telah menemukan pakaian yang cocok dengan Diana, Arya memberikan baju berlengan panjang dan juga celana panjanv berwarna navy itu pada Diana.
"Buat?. "tanya Diana.
"Pakai aja!. "ucap Arya mendorong tubuh Diana agar masuk kedalam kamar mandi.
Kembali menunggu, Arya menunggu Diana selama 6 menit sambil duduk disofa. Ia hanya bermain ponsel sesekali ia memandangi pintu kamar mandi.
Ceklek.
Pintu kamar mandi dibuka, menampilkan sosok perempuan cantik dengan baju menutupi lekuk tubuhnya dan juga rambut dibiarkan tergerai begitu saja. Wajah nya imut dengan bibir merah cerry.
"Udah. "ucap Diana langsung menarik tangan Arya yang hanya melongo menatap Diana.
Karena malu Diana langsung mengajak Arya turun. Arya terkekeh melihat wajah Diana yang memerah sampai telinga, Arya dnegan sengaja memberatkan berat badan nya agar Diana berhenti.
"Ayo! jadi kagak nih?." tanya Diana kesal.
Melipat tangan nya di dada, kemudian menatap Arya dengan tatapan tajam, suara sepatu yang Diana kenakan juga menggema di lantai satu.
"Kalau gak jadi gua mau masak aja! gara-gara elo perut gua laper. " ucap Diana dengan kesal.
Dengan menghentakan kaki, Diana menuju dapur namun tangan nya lebih dulu di tarik Arya keluar rumah.
__ADS_1