
Diana sampai pada kamarnya, dengan sekali buka pintu mata Diana melotot terkejut melihat kamarnya berubah menjadi kapal pecah.
"Teh Rio! Kamar gue lo apain?!. "ucap Diana sedikit berteriak karena kesal namun ia jarus menahan agar tante Suci tak mendengarnya.
"Hehe, Dino saurus makin jelek aja yah!. "ucapnya Meringis menunjukan giginya yang kecil kecil.
"Lo juga teh Rio, ganteng aja kagak. Jelek iya!. "balas Diana cemberut.
"Gua gak mau tau lo harus beresin semua nya!. "Sambung Diana kesal sembari mendudukan diri dikasur.
Baru datang aja udah bikin rusuh lo Teh Rio. Batin Diana menatap sinis Rio yang memegang ponselnya.
"Hp gua! Rio balikin hp gua!. "ucap Diana panik, bagaimana tidak jika Rio yang memegang ponsel nya bakal rusak tuh ponsel.
Dengan gerak cepat Diana menyaut ponselnya dari tangan Rio, Rio nampak menyengir kuda. Pasti ada sesuatu yang dia lakukan. Pikir Diana mengecek ponselnya.
Mata Diana melotot terkejut layar ponselnya menampakan panggilan telepon yang masih tersambung pada nomor Arya.
"Gila! Teh Rio lo apain hp gua?!." kesal Diana menarik tangan Rio agar tidak lari darinya.
"Sorry Ar...!. "
Tut.....
Diana mematikan pangggilan telepon nya, lalu menjewer telinga Rio. Diana tidak benar benar menjewer telinga Rio karena Diana hanya ingin bahwa ank itu berubah sikap buruknya agar tidak sampai terbawa dewasa.
"Hei! Kau menjewerku atau hanya mengusap telinga ku?!." tanya nya tak merasa sakit sedikit pun, sungguh bikin naik darah aja ni anak.
Diana melepas tangan nya dari telinga Rio lalu menatap tajam, mwngisaratkan untuk segera membereskan kekacauan yang telah ia buat.
"Gua tunggu bawah, waktunya cuma 10 menit!. "ucap Diana sedikit teriak karena jarak mereka yang lumayan jauh, takut Rio gak dengar.
Rio tak menghiraukan semua ucapan dan ancaman Diana, dirinya memilih pindah kekamar Talka. Seperti apa yang ia lakukan pada kamar Diana, Rio merubah kamar tersebut menjadi kapal pecah yang sangat berantakan.
Rio segera berlari keluar saat melihat Talka berjalan menaiki tangga, dia bersembunyi dalam sebuah kamar yang menurut nya asing karena sudah lama tidak kemari lagi setelah 2 tahun lalu.
"Astaga! Kamar gue!!. "teriak Talka heboh, badanya terasa lemas melihat semua barang tergelatak dilantai dengan menggenaskan.
Tidur nyenyak yang ia impikan telah berakhir dengan badan yang pegal setelah selesai merapikan kamar nya.
"Yak! Beg* kenapa gue gak manggil bi Sumi aja ya!. Eh tapikan bi Sumi udah lama gak ikut kesini!. "ucapnya merebahkan tubuh lelahnya pada ranjang yang empuk, mampu mengurangi sedikit rasa pegal pada tubuhnya.
Sementara pada kamar Diana, dengan terpaksa Diana merapikan kamarnya sendiri hingga serapi mungkin. Setelah itu ia tertidur karena lelah.
Keesokan paginya, Diana yang masih setia memeluk guling dengan mata tertutup. Dirinya lupa jika Rio berada dirumahnya.
"Woy! Dino saurus bagun, kebo! ."teriak Rio tepat ditelinga Diana.
Dengan terkejut Diana duduk bersender dikepala ranjang, matanya menyesuaikan cahaya yang nampak dan juga mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Ngapa sih pagi-pagi ganggu aja?!." ucap Diana mengucek matanya kasar menuntut agar membuka mata dengan cepat.
__ADS_1
"Sekolah sono! Udah jam 7 pas juga!. "ucapnya kesal, nampak nya sedikit perhatian kali ini gak seperti terakhir kali bertemu.
"Perhatian ni?. "tanya Diana sedikit meledek.
"Cepetan udah ditungguin orang dibawah!. "perintahnya lalu keluar dari kamar. Diana mendengus kesal kemudian beranjak ke kamar mandi.
Selesai bersiap Diana menuruni tangga dengan santai menuju dapur tanpa memperhatikan sosok yang sedari tadi melihat nya dari ruang tamu.
"Rio! Kak Talka mana?! ".teriak Diana sembari menyantab makanan yang telah ia letakan kepiring nya.
Rio datang dengan wajah cemberutnya, "Mana saya tau!. "jawab nya ketus. Ia tak menghiraukan tatapan tajam Diana, ia terus melangkah menuju ruang tamu.
Entah apa yang membuatnya cuek pada Diana, ada apa diruang tamu? Kenapa mampu menarik perhatian bocah ini. Pikir Diana, Diana memang tau akan Rio yang cuek.
Setelah menyelesaikan acara makan nya Diana berjalan keruang tamu mengecek siapakah orang yang dimaksud Rio tadi.
"Rio. "panggil Diana tertahan melihat sosok pria yang kini duduk memangku Rio.
"Kak Talka! Dicariin juga malah main sama bocah ini!. "tunjuk Diana kearah Rio.
Talka menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya mengisaratkan bahwa Diana harus diam, Diana yang paham pun hanya diam melewati dua orang yang duduk disofa tersebut.
Tok....
Tok....
Tok....
"Ngapain lo disini?. "tanya Diana bersender pada pintu rumahnya.
"Jemput lo!. "ucap Arya hendak menarik tangan Diana tapi tidak jadi karena melihat bocah didepan Diana yang kini menatap tajam kearah nya.
"Arya!. "panggil Rio tajam,
Arya yang dipanggil nampak bingung dan juga terkejut, bagaimana busa bocah kecil ini tahu namanya sedangkan Diana tidk memanggilnya.
"Tau nama gue?! ."Arya berucap menatap Rio, seketika ia ingat bahwa bocah didepan nya adalah Rio.
"Tuh!. "tunjuk nya menggunakan dagu mengarah pada tag name Arya.
Arya dan Diana melihat lurus kearah dada bagian kirinya, seketika Arya tersenyum kikuk dan Diana bergumam pelan.
"Bodoh."gumam Diana menahan tawa hingga wajahnya memerah.
"Buruan berangkat sana!. "perintah Rio pada Diana.
Diana menatap sinis Rio, bisa bisa bocah tengik ini memerintah dirinya bahkan dikamar tadi juga.
"Teh Rio! Lo kok merintah gua seenak nya gitu, lo siapanya gua?!. "tanya Diana kesal, sembari mengambil sepatu dalam rak dan satu persatu ia pakai.
"Ponakan."
__ADS_1
Kini giliran Arya yang menahan tawa mendengar jawaban Rio, Diana tak menghiraukan ucapan Rio ia memperhatikan kearah dalam rumah. Disana nampak Talka berjalan sembari memegang tas ransel nya.
"Kak! Kak Zia kemana? Dari kemarin gak keliatan. Sama Mbh Minah juga." tanya Diana
Talka mengambil sepatu sambil memperhatikan pria didepan Rio yang saat ini tengah perang tatapan mata.
"Kak Akha ada dikantor nya dari kemarin dan mbh Minah juga ada dikantor kak Akha. "jelas Talka
"Ngapain?. "saut Diana cepat, membuat dua empu yang sibuk bertatap tatapan kini menengok kearah Diana dan Talka.
"Kerja lah, mbh Minah cuma nemenin. "ucap Talka mengacak ngacak rambut Diana.
"Kak! Lo ngerusakin rambut gua!. Sini lo!. "teriak Diana kesal, mengejar Talka yang berlari menuju garasi.
Arya dan Rio mengikuti Diana dari belakang tanpa ada niat untuk membuka suara sedikit pun.
"Sono lo! Udah dijemput juga. "ucap Talka menghalangi pintu mobil agar Diana tidak memasuki nya.
"Minggir gua mau masuk!. "ucap Diana tak mau kalah, ia terus mendorong Talka agar menyingkir dari pintu mobil.
Rio membantu Talka mengahlangi pintu mobil agar Diana tidak memasukinya, ada niat jahat . Rio memiliki rencana, ia akan membuat Diana dan Arya berboncengan.
"Teh Rio! Lo kok bantuin Talking tom ini sih!. Bantuin gua kek. "ucap Diana cemberut melihat Rio yang membantu Talka buka dirinya.
Diana mengalah ia menghampiri Arya dengan cemberut, "Ar... Bawa kendaraan lo kesini. "ucap Diana lemas, pikiran nya kemana mana. Dia berpikiran jika ada yang tau mereka Berboncengan dengan Arya dan dilaporkan pada Inez sebagai tunangan Arya.
Diana paling benci sama yang namanya pelakor, semalam ia sudah mengubur dalam dalam perasaan nya pada Arya agar tidak terlalu mengharapkan Arya.
Arya menuruti permintaan Diana, ia membawa motor sport nya menghadap Diana. Dengan lunglai Diana menaiki motor itu.
"Hati-hati Ar... Bawa motor nya!. "ucap Talka tersenyum puas mengerjai adiknya, melihat wajah cemberut Diana membuat Talka ingin tertawa.
"Tawa gak usah ditahan! Ntar keluar belakang!. "ucap Diana menatap sinis Talka yang sedang menahan tawa, puas sekali dia mengerjai Diana.
Seketika Talka tertawa dengan kencang hingga memenuhi seluruh garasi tersebut. "Puas lo!. "ucap Diana memutar bola amta malas.
"Rio! Lo dirumah sendiri dong?. "ucap Diana menatap Rio, dirinya kasian melihat Rio yang harus berada dirumahnya sendiri.
Masak dirumah nya sama rumah Diana smaa sama kesepian, tanpa teman. Kasian Rio, dia kan kesini buat cari temen. Batin Diana menatap Rio sendu.
"Ikut bang Talka kekampus!. "teriak Rio girang, disertai melompatnya dalam pelukan Talka.
"Bagus Rio, pilihan yang tepat!. "ucap Diana turun dari motor, menghampiri Rio dan bertos ria.
"Yahahahah, Kak Talka bawa bocah kekampus. Apa kata fans nya?!. "ucap Diana diakhiri dengan tawanya yang garing.
"Sial, lo!. "ucapnya pada Diana.
"Yuk, Ar.... Berangkat!. "
Bersambung.....
__ADS_1