
Setelah pembicaraan panjang Arya pamit pulang, Diana dan yang lain nya pun ke kamar masing-masing yang memang waktu sudah semakin larut saja hingga kantuk menerjang mereka.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Diana sudah rapi dengan seragam sekolah seperti biasanya, kini semua penghuni rumah Diana tengah menyantap makanan mereka masing-masing dan juga Diana yang kini menyantap nasi goreng buatan mama nya.
"Kak Talka, nanti anter Diana kan?. "tanya Diana dengan mulut penuh akan nasi goreng.
"Habiskan dulu baru ngomong. "tegur Mama yang berada didapur tengah mencuci piring bekas nya juga Papa.
"Iya kan, Diana dianter kak Talka?. "tanya Diana kembali setelah makanan itu telah habis ditelan Diana.
"Ya.," jawab Talka pergi menuju kamar nya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal.
Setelah Talka kembali Diana segera bernjak dari duduk nya. "Ayo kak, udah siap! ."ucap Diana bersemangat untuk kembali kesekolah yang sudah satu bulan ini tak ia kunjungi.
"Katamya nanti kok sekarang, Gimana sih Dino... "ucap Talka berlalu entah kemana lagi dia.
"Kak talking tom aja udah selesai emang gak mau kekampus?. "ucap Diana cemberut kesal, saat ia ingin bernagkat pagi diledek saat berangkat kesiangan dimarahin gimana sih ini.
Diana pun pamit pada Mama, Papa dan mbh Minah, lalu Diana pergi kegarasi untuk menunggu talka, sebenarnya Diana memiliki mobil sendiri namun karena malas menyetir dan juga bikin tangan Diana pegal pegal, Diana jarang menggunakan mobil.
"Wah... Wah... Mobilnya napa kok ditunggu emang ada maling?. "ledek Talka melihat Diana bersender pada mobil miliknya dengan wajah cemberut.
"Gak ada, buruan ntar telat!." ucap Diana ketus.
"Heran deh gue ama lo, punya mobil kenapa gak dipakek kan sayang cuma jadi pajangan digarasi. "ucap Talka yang tak mengerti dengan adik satu satunya ini, dulu aja merengek minta dibeliin mobil giliran dibeliin gak dipakek sama sekali.
"Males nyetir. "jawab Diana sembari masuk kedalam mobil Talka begitupun dengan Talka juga memasuki mobil lalu menghidupkan mesin.
"Pakek supir dong,. "Ucap Talka melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah tersebut lalu membelah jalanan kota yang belum terlalu ramai akan kendaraan.
"Dino, lo masih suka ama si Aray itu?."Tanya Talka tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
"Arya bukan Aray. "revisi Diana pada ucapan Talka.
"Ya itu maksudnya. " Ucap Talka geram pada adiknya, ditanya malah ngerevisi.
__ADS_1
"Priva-. "ucap Diana terpotong.
"Privasi, iya kan udah hafal gue. "potong Talka, sudah hafal Talka dengan Diana kalau ditanya tentang hidupnya ia bakal ngomong "Privasi" dari kecil sampai sekarang Talka sudah bosan dengan ucapan itu.
"Nah tu tau." ucap Diana lalu memandangi jalanan kota yang sudah lama tak ia lihat bila sedang jalan-jalan.
"Bosen gue denger gituan ganti napa jangan Privasi. "ucap Talka, kenapa Talka bisa bosen karena Papa nya juga begitu bila ditanya tentang kehidupan diri mereka bakal bilang "Privasi" juga sama seperti Diana.
"Kagak bisa. "ucap Diana, emang tidak bisa karena itu sudah keturunan dan juga kebiasaan dari kecil jadi susah untuk merubah.
"Serah lah. "ucap Talka.
Setelah membicaraan terakhir Talka sudah tak lagi ada yang angkat bicara hingga sampai lah pada sekolah Diana yang tidak terlalu ramai murid berlalu lalang digerbang sekolah.
"Udah sam-. "ucap Talka terpotong, melihat Diana yang lebih dulu keluar dari mobil sangking semangatnya.
"Woy.. Salim dulu. "trriak Talka dari dalam mobil saat melihat Diana hendak melangkah pergi semakin jauh dari mobil.
"Yaelah kagak usah salim napa!." kesal Diana, namun tetap ia lakukan. Setelah menyalami Talka diana hendak pergi namun dicegah oleh Talka.
"Belajar yang bener, jan bikin ulah. "pesan Talka membuat Diana geram.
"Iya bawel, gua masuk!. "lari Diana menuju gerbang besar sekolah tersebut tak ada yang berbeda dadi gerbang tersebut hanya berbeda, gerbang tersebut semakin mengkilap apakah sering dicuci. Pikir Diana menatap seluruh isi sekah hanya dari depan gerbang saja.
"Diana......!!!. "teriak seseorang memanggil Diana, Diana yang merasa namanya disebut pun menoleh mencari orang yang memangilnya.
Mereka berpelukan melepas rindu yang mendalam kepada seorang sahabat, banyak pasang mata yang menyaksikan kedua sahabat yang saling melepas rindu itu.
Senua orang membicarakan Diana yang kembali lagi kesekolah ini setelah sebulan tidak nampak batang hidung nya yang dikabarnya kan menghilang karena kecelakaan.
"Wow... Bidadari kembali. "
"Si cuek cantik kembali. "
"Cantik mimut telah kembali. "
Itu lah isi dari pembicaraan tersebut, lain tempat Arya dan Kocil juga menyaksikan kedua sahabat yang saling mrlepas rindu tersebut dari jarak jauh.
"Itu Diana ya Ar....?." tanya Kocil yang memang tidak mengetahui wajah Diana bahkan saat melihat komputer Arya waktu itu.
"Iya, kenapa cantik ya kalah tuh si Rellia. "ucap Arya meledek Kocil.
"No no no My honey yang paling cantik. "ucap Kocil tak terima jika Rellia menjadi yang kedua gadis tercantik di sekolah ini.
"Emang kenyataan. "ledek Arya kembali sembari terus menatap Diana, rencana nya ingin membalas Diana akibat perbuatan nya kemarin malam.
Kembali kedua sahabat yang masih belum melepas pelukan masing-masing sangkin besar kerinduan yang mereka rasakan selama sebulan ini.
"Eh... Rell lo makin cantik aja banyak fans nya Lo. "puji Diana pada Rellia yang semakin cantik, bagaimana tidak Rellia setiap hari memakai masker agar kulit nya semakin putih dan lembut kek pantat bayi.
__ADS_1
"Lo makin gendut aja Na... Makan apa aja lo?."ledek Rellia tertawa melihat perut buncit Diana.
"Ngeledek lo, emang sih ni seragam makin ketat aja ya. "ucap Diana melonggarkan seragam namya yang menekan perutnya.
"Hahah, bener gendut lo. "ledek Rellia tertawa keras, Diana yang dulu kurus kek ikan teri kini menjadi gendut kek badut jalanan.
"Udah lah yuk kekelas. "ajak Diana, saat ingin kekelas ia melihat Arya tengah tertawa dengan sosok laki-laki disamping nya.
"Kesana dulu yuk. "ajak Diana yang langsung mendapat menolakan dari Rellia.
"Jangan lah, langsung kekelas aja. "tolak Rellia yang melihat adanya Kocil disamping Arya.
"Ayo kesana dulu!." ajak Diana menarik tangan Rellia sembari berlari memanggil manggil nama Arya.
"Arya.. Jelek ! "panggil Diana berlari menuju tempat Arya berada.
Napa tuh Dino teriak-teriak kek dihutan aja. Batin Arya melihat Diana dengan wjah datar.
Sesampainya didepan Arya Diana mengatur nafas nya terlebih dahulu sebelum lanjut berbicara.
"My honey, makin cantik aja ya. "sapa Kocil tersenyum pada Rellia yang berada dibelakang Diana.
"Siapa nya lo Rel?. "Tanya Diana yang mendengar ucapan Kocil.
"Pacar nya Rellia. "jawab Arya tersenyum geli melihat Kocil yang tersenyum dengan pipi merahnya.
"Wah... Udah laku aja lo Rel. "ucap Diana menarik Rellia agar berdiri didepan Kocil.
"Bukan eh... Arya ngawur aja lo. "ucap Rellia malu-malu berdiri didepan Kocil yang semakin tampan saja. Pikir Rellia.
"Ekhmm... Muka kalian pada napa tuh merah merah. "ucap Diana meledek kedua orang disamping nya ini.
"Kepiting rebus. " ujar Arya ikut meledek kedua orang ini.
"Sapa tuh Ar... Yang berhasil merebut hati sahabt gua nih?." Tanya Diana pada Arya dengan menunjuk Kocil.
"Kocil sahabat gue yang beberapa minggu pindah kesini. "jawab Arya.
"Nama gue Arzi bukan Kocil, jan percaya ma Arya ni. "kesal Kocil yang dipanggil Kocil oleh Diana juga setelah Rellia juga memanggil nya Kocil.
"Emang bener kan lo panggilan nya Kocil. "jawab Rellia
"My honey kok jahat sih. "ucap Kocil merajuk pada Rellia yang memanggil nya Kocil.
"Babay Kocil and Rellia sana pacaran dulu, yuk Arya jelek kekantin. "ucap Diana lalu menarik tangan Arya agar mengikuti kekantin.
"Woy, sok soan panggil Arya jelek.....Arya jelek tapi narik narik gue ." ucap Arya yang sebal ketika memanggil nya Arya jelek tapi main tatik tarik tangan aja.
"Bisa diem gak, nurut aja apa susah nya sih. "ucap Diana masih terua menarik Arya menuju kantin sekolah ,ya biasa nongkrong sebelum bel masuk berbunyi.
__ADS_1