
Sesampainya di rumah mbh minah Diana di kejutkan dengan tidak kehadiran nya mbh minah di dalam rumah, panik mencari semua ruang rumah mbh minah mencari apakah mbh minah berada di dalam ruang tersebut.
Arvin yang melihat Diana panik menjadi bingung dan dirinya hanya bisa menonton tanpa bertanya yah, paling saja pertanyaan Arvin hanyalah sebuah angin lewat di telinga nya lalu menghilang.
" aduh, mbh minah kemana sih!? "gumam Diana mengeluh saat semua ruang rumah ia tak menemukan mbh minah atau pun barang dagangan nya.
" tau mbh minah gak lo? " tanya Diana pada Arvin selaku orang terakhir yang berjumpa dengan mbh minah, apalagi kini pikiran negative telah muncul di pikiran Diana.
" mbh minah? " ucap Arvin menggantung, niat nya sih membuat Diana penasaran namun karena Diana yang sudah terlihat panik mencari mbh minah. Akhirnya Arvin memberitau jika mbh minah telah berdagang tanpa Diana.
" lo kok gak bilang " kesal Diana, bagaimana tidak mbh minah yang sudah tua harus berdagang sendiri tanpa bersama orang lain,jiwa naluri Diana muncul.
" kan aku baru bilang " jawab Arvin tak mengerti situasi Diana yang khawatir akan keadaan mbh minah.
" Vin, golek i pak mu( Vin, cariin bapak mu )" teriak seseorang dari luar rumah memanggil Arvin.
" yo( ya ) " jawab Arvin bergegas pergi keluar rumah menemui ayah nya.
Diana masih belum tenang hati nya merasa gelisah pikiran nya kemana mana, dengan cepat Diana membuang semua rasa yang berkecamuk di Hati nya agar hak itu tak terjadi.
Karena mencoba menghilangkan rasa itu Diana memulai aktivitas nya supaya tak terpikir dengan larut, memulai nya dengan dapur Diana ingin membersihkan semua alat masak yang telah di gunakan.
Namun karena terpikir dengan ucapan Rellia jika Arya telah memiliki calon tunangan membuat mood Diana ingin menyelesaikan semua hancur, Diana kini malah berjalan menuju ranjang untuk merenungi semua nya yang telah terjadi.
Duduk di pinggiran kasur dengan pandangan kosong tersirat dari wajah Diana yang tak bersemangat, beberapa menit Diana melamun kini telah tersadar jika ia tau diri jika Arya bukan lah siapa-siapa nya bahkan baru saja kenal.
Belum lama mengenal namun rasa nya seperti telah saling mengenal bahkan menjalin hubungan bersama tapi apakah hubungan itu Diana tak mengerti semua nya kenapa garis takdir ini sungguh membingungkan.
Bisakah Diana bahagia selamanya tanpa ada sebuah perpisahan kini Diana juga rindu dengan kakak nya yang menyebalkan itu ingin sekali rasa nya Diana menumpahkan keluh kesah nya pada kakak nya itu,sekarang kak talka masih mengingat Diana atau malah melupakan nya apakah dia rindu, papa mama mereka juga rindu tidak dengan Diana jika di tanya Diana juga rindu tidak, dirinya sungguh rindu sekali dengan suasana rumah nya yang tak pernah sepi jika ada Diana bertengkar dengan kak talka.
Flash back of
Kini Diana tengah menunggu mbh minah pulang dari berdagang nya setelah tadi menyelesaikan semua pekerjaan rumah, Diana berharap mbh minah pulang tak kecapean karena Diana akan bercerita pada mbh minah tentang masalah nya.
Krieeettt....
Mendengar suara pintu di buka Diana bergegas melihat ke arah pintu dan di sana nampak mbh minah melepas selendang, Diana yang melihat nya pun tak tinggal diam ia juga membantu mbh minah melepaskan semua.
__ADS_1
" mbh minah mandi saja biar Diana yang membereskan semua " ucap Diana sembari tangan menata barang-barang dagangan mbh minah yang telah kosong tak berisi.
Tanpa menjawab mbh minah berjalan ke kamar mandi namun sebelum itu mbh minah menyuruh Diana memberi makan kelinci nya dengan kangkung yang telah mbh minah beli sore tadi.
" nduk, kangkung itu berikan pada kelinci ya" ucap mbh minah sembari tangan menunjuk pada keranjang kecil berisi banyak kangkung di dalam nya.
" iya, mbh " jawab Diana, tanpa menunda Diana segera mengambil kangkung tersebut dan memberikan nya pada satu ekor kelinci di gudang yang di rubah menjadi kandang kelinci.
Setelah selesai juga dengan mbh minah yang telah menunggu Diana di meja makan untuk menyantab masakan pertama Diana di rumah mbh minah.
" gimana mbh enak gak? " tanya Diana saat melihat suapan pertama mbh minah.
Mbh minah melirik ke kanan dan ke kiri sembari mulut mengecap ngecap rasa dari masakan Diana, bak menjadi juri dari lomba memasak mbh minah memberi ketrrangan jika masakan Diana lumayan enak hanya kurang sedikit garam.
" beneran enak mbh? " tanya Diana lagi karena tak percaya masakan akan enak, jika seperti itu mending Diana di rumah mengerjakan semua tugas rumah sedangkan mbh minah dagang.
Diana masih memiliki hati nurani jadi ia berencana membuat gerobak yang nanti nya akana di isi dagangan mbh minah dan mbh minah tak perlu lagi keliling desa ke desa lain nya karena gerobak tersebut akan berada di teras mbh minah.
Mbh minah tinggal duduk menunggu pembeli datang lagi, namun karena Diana cewek dan belum pernah memegang yang nama nya alat alat, entah apa nama nya Diana tak mengerti sama sekali jika Diana di suruh membuat desain nya sendiri mungkin masih bisa.
" mbh minah duluan ya " pamit mbh minah setelah selesai menghabiskan makanan nya.
" mau kemana? "tanya seseorang di belakang Diana, dimana Diana tengah menutup pintu.
Siapa sih. Batin Diana kesal ada saja orang yang mengganggi nya di malam-malam gini.
" emang lo siapa?, harus tau gua mau kemana " ucap Diana berbalik badan menghadap orang itu.
" gue... Gue di suruh mbh minah jagain lo " jawab nya, memang benar apa yang di katakan nya jika mbh minah menyuruh untuk menjaga Diana.
Yah, orang yang di suruh mbh minah tidak lain adalah Arvin tetangga mbh minah yang selama ini menjaga mbh minah sebelum Diana berada.
" lo, ngapain sih di sini? "tanya Diana pada manusia di depan nya ini, walaupun Diana telah mengucapkan kata-kata menyakitkan Arvin tetap saja mendatangi Diana namun kali ini dengan mata yang tak menatap mata Diana.
Hening, seketika hening saat Diana bertanya ya karena Arvin tak berani menjawab pertanyaan Diana dan Diana membisu karena menunggu jawaban Arvin namun ternyata Arvin tak menjawab.
Di keheningan yang terus berlanjut hingga suara yang mengejutkan kedua empu tersebut terdengar sangat jelas, Diana yang sangat mengenal asal suara itu.
__ADS_1
Dengan wajah panik Diana berlari memasuki rumah di ikuti Denga Arvin di belakang, jalan Diana menuju kamar dimana kamar yang biasa Diana tidur.
Ceklek.....
Pintu di buka Diana dengan nampak mbh minah tergeletak di lantai dingin bersama selimut membungkus kaki mbh minah.
Terkejut dan panik hal ini lah yang Diana dan Arvin rasakan dengan segera Diana mendekati tempat mbh minah tergeletak sembari tangan menepuk nepuk pipi mbh minah yang sudah tak berdaging itu.
" mbh minah.... Mbh minah....!! "panggil Diana terisak karena panik, Arvin segera bertindak ia menelepon supir nya untuk membawa mobil nya di depan rumah mbh minah.
Tanpa menunggu lama supir tersebut datang dan membantu Arvin memapah mbh minah menuju mobil yang telah supir siapkan di depan rumah.
Tidak mau ketinggalan Diana juga mengikuti mbh minah keluar dari rumah dan memasuki mobil menemani mbh minah di kursi belakang.
" mbh... Bangun.... Bangun mbh " ucap Diana mengusap ngusap tangan mbh minah yang dingin bak es batu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang hingga sampai nya di rumah sakit kota tempat berobat keluarga Arvin karena mbh minah bagian dari keluarga Arvin tak segan segan Arvin membawa mbh minah ke rumah sakit itu.
Mbh minah di putuskan untuk rawat inap karena lansia seperti mbh minah akan sulit sembuh dari penyakit jika di biarkan bertindak seenak nya seperti hari ini.
" mbh kenapa gak ngomong sih kalau badan nya gak enak!! "kesal Diana pada mbh minah yang kini tengah di suapi dengan sup hangat dari perawat tadi.
" mbh minah kira gak akan parah sampai seperti ini " jawab mbh minah, memang benar lansia seperti mbh minah akan menganggap demam adalah penyakit sederhana dan mudah menyembuhkan nya.
" lain kali kalau ngerasa badan gak enak bilang ke Diana mbh! "tuntut Diana tak mau di bantah
Arvin melihat kelakuan Diana yang khawatir akan kesehatan mbh minah menjadi senyum senyum sendiri seperti orang gila.
Mbh minah tersenyum hangat menatap Diana yang khawatir akan kesehatan nya merasa hati nya kembali hangat setelah sekian lama terkurung dalam lubang kesedihan atas meninggal nya sahabat satu satu nya.
Setelah menghabiskan makanan nya mbh minah meminum obat yang telah Diana siapkan di atas nakas di samping tempat tidur rumah sakit.
" mbh, Diana keluar dulu " pamit Diana ingin keluar mencari makan serta menghirup udara segar di malam hari.
Bersambung.........
Maaf telat up 🙏 banyak kendala author jadi harap bersabar menunggu up nya 😉 makasih yang sudah menunggu up 😘
__ADS_1
Jangan lupa jejak kalian yah dengan *Like, Komen, vote, and Favorit*.