Diana & Arya

Diana & Arya
tiga puluh sembilan


__ADS_3

Sesampainya dikantor polisi Arya segera menuju keruangan dimana Vian telah menunggu, "om, Vian" panggil Arya pada seorang pria yang duduk dikursi menatapnya.


"Arya, kamu udah datang? "tanya Vian menatap Arya yang masih berada didepan pintu.


"iya, om. Ada apa om?? "tanya Arya ikut duduk disamping Vian.


"ini nak Arya, temen om butuh korban buat ditanya nah kan ada nya cuma nak Arya jadi saya panggil nak Arya kesin, buat ditanya mau kan??. "tanya Vian meminta persetujuan.


"tentu saja om. "ucap Arya mantap.


"baiklah, kalau begitu nak Arya nanti sore datang kesini. om tunggu ya." ucap Vian lalu Vian mengajak Arya kerumahnya untuk menceritakan semua kegiatan Diana selama ini.


Sesampainya dirumah Diana Arya disambut oleh Talka dan juga mama Diana, Arya tersenyum melihat keutuhan keluarga ini semua dijalani dengan senyuman walau salah satu anggota menghilang.


"gimana nak Arya, kegiatan Diana apakah Diana baik-baik saja??. "tanya Mama Riskani, Menatap Arya penuh binar.


"Diana baik-baik saja kok tante, malah Diana senang sekali kemarin padahal cuma nemuin danau kecil" cerita Arya mengingat saat Diana menemukan danau yang sekarang bernama danau Aurellia.


"hahaha, Diana kan bodoh" ejek Talka tertawa garing sedangkan Arya hanya tersenyum menanggapi.


"heh, kau adikmu bodoh berarti kakak nya juga dong. "bela Riskani meledek Talka.


"ya gak lah, kakak nya ini tuh anak yang cerdas "bangga Talka membusungkan dada.


"kalau cerdas, nerusin perusahaan papa ya" pinta papa dengan memohon mwmbuat Qrya yang melihatnya menjadi bingung.


Bukannya semua anak pengusaha sudah terdaftar menjadi penerus, kenapa om Vian memohon sama dia agar meneruskan perusahaan. Batin Arya bingung bahkan dirinya nya saja sudah dicap sebagai penerus.


"eh... Arya Diana tuh tinggal dimana??." tanya Talka mengalihkan pembicaraan nya dengan papa.


"tinggal didesa, gak tau namanya tapi Diana tinggal dirumah mbh Minah kata Rellia." jawab Arya yang memang tak tahu dimana berada.


"mbh Minah? "


"iya, mbh Minah. Emang kenapa? " tanya Arya melihat raut wajah Talka berubah seperti mengingat sesuatu dimemori nya.


"kayak pernah denger aja tuh nama" ucap Talka masih dengan raut wajah yang sama.

__ADS_1


"iya, mama juga tapi lupa siapa yah?" ucap Riskani yang merasa sama dengan Talka seperti tak asing tapi lupa siapa pemilik nama itu.


"mbh Minah temen mama dulu. "jawab Vian mengenal siapa mbh Minah namun belum pasti jika itu teman ibunya dulu.


"bener.... Ya mbh Minah yang sering bikin brambang asem pedes banget itu kan"ucap Riskani mulai mengingat, dan Vian hanya menganggukkan kepala.


"emang bener mbh Minah temen nenek itu, atau mbh Minah yang lain?. "tanya Talka kepada ketiga orang didepan nya.


"belum pasti "ucap Vian


"Arya juga sering liat didepan rumah mbh Minah tu ramai, ada gerobak juga. Sepertinya mbh Minah jualan. "terka Arya yang memang tak terlalu mementingkan hal tersebut.


"nanti Arya pulang chek dulu dan tanya sama mata nya, ya nak" Vian berucap lalu pergi meninggalkan istri dan putra nya dengan Arya.


"yaudah, tante, kak. Arya pulang dulu pamitin om Vian ya. "pamit Arya lalu keluar dari rumah itu, didalam mobil Arya menelepon seseorang setelah selesai barulah Arya melajukan mobilnya.


Sampai lah Arya pada rumahnya ia langsung berlari menuju kamar, mendudukan diri menatap layar komputer yang masih menampakan semua yang dilakukan Diana.


"keluar!!. "perintah Arya pada seseorang, orang itu pun langsung keluar sembari masih dengan kamera ditangan nya yang biaa dipastikan itu mata-mata Arya.


"mana laporan yang gue minta?! "


"dasar mata-mata, udah punya laporan nya kenapa gak dikasih ke gue." kesal Arya pada mata-mata yang telah ia sewa. Arya kembali membaca bahkan dilaporan tersebut sudah ada denah nya.


"oke, Desa yang Diana tempati namanya Desa Croncong. Gak jauh dari kota ni desa" ucap Arya pada dirinya sendiri.


Arya kembali membaca map tersebut sembari berbaring diranjang nya tak terasa Arya terlelap karena lelah, senyum Arya mengembang sembari berkata "good night".


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Diana, gadis itu tengah menatap hamparan bunga indah serta memiliki bau yang teramat harum kadang ia tersenyum melihat kupu-kupu lucu yang terbang kesana kemari dengan sayap indahnya.


"indah, dikota saja sampai kalah dengan yang ini. "gumam Diana kagum semua tempat didesa ini penuh akan kejutan yang sungguh membuat Diana membuka mulut lebar-lebar.


"Diana. "panggil seseorang dibelakang Diana, Diana pun menoleh dan tanpak lah mbh Minah berjalan kearah nya.


"ya, mbh Minah ada apa?? Sampai kesini segala. "tanya Diana membantu mbh Minah berjalan, melihat kondisi jalanan yang lebih banyak bebatuan Diana takut mbh Minah akan terjatuh.


"duduk dulu. "


Diana duduk di tempat nya semula dan mbh Minah duduk disamping Diana, Diana mulai bingung melihat mbh Minah yang hari ini seperti memiliki beban.


"kamu belum tau kan? Kenapa bisa disini dan juga kenapa kamu gak mbh Minah pulangkan. "tanya mbh Minah tanpa menatap Diana.


"iya., "


"mbh Minah mau menjelaskan sebelum kamu ditemukan keluarga mu. Kala itu mbh Minah tengah mencari kayu bakar dihutan yang kebetulan ada didekat jalan raya, saat mbh Minah hendak pergi mbh Minah liat kamu ada di sungai yang kala itu arus nya deras. Mbh minah berusaha angkat kamu pakek kayu hingga kamu bisa kedaratan, badan mu penuh luka wajahmu pucat seperti tak teraliri darah mbh Minah baqa kamu pulang dengan gendong kamu dipunggung, sampek rumah sudah sore jadi mbh Minah rebus air buat bersihin luka yang masih ada darah nya. Mbh minah lakuin itu sampai tiga hari dan kamu bangun dari pingsan mbh Minha seneng banget berharap kamu segera dijemput keluarga mu tapi ternyata tidak kamu bikin mbh Minah tak ingin kamu pergi ingin kamu terus ada disamping mbh Minah sampai mbh Minah pergi. "jelas mbh Minah sendu seperti merasakan bhwa Diana memang akan pergi entah itu kapan.


"udah ah.. Mbh, Diana gak akan pergi. Masuk yuk udah sore." ucap Diana merasa malu pada mbh Minah.


Astaga, gue digendong Mbh Minah gue berat gak?? Punggung mbh Minah patah gak??. Batin Diana merasa bersalah bertemu dengan mbh Minah.


Diana menuntun pelan mbh Minah kedalam rumah, ternyata dagangan mbh Minah sudah habis hingga terlihat sepi rumah itu. Diana berniat ingin membereskan dagangan mbh Minah kedalam namun tuyul menyebalkan menganggu Diana.


"lo ngapin suka banget ganggu gue? Gak punya kerjaan pa??." kesal Diana ingin seki Diana menggetok kepala Arvin dengan wajan ditangan nya.


Hening hanya ada keheningan tapi Diana masih saja disibukan dengan barang-barang dagangan hingga tak sengaja ia menabrak sosok berbadan kekar berpakaian hitam, Diana kira itu maling hingga ia berteriak.


"besok nona akan meninggalkan tempat ini. "ucapnya lalu melesat pergi menghilang dari pandangan Diana.


"Dimana, maling nya??. "tanya Arvin heboh sembari berjalan kesana kemari mencari maling yang seperti Diana katakan.

__ADS_1


"tidak ada" jawab Diana lalu pergi dari hadapan Arvin menuju kamar untuk bertanya pada dirinya melampiaskan kekesalannya didalam kamar hingga terlelap.


Bersambung.......


__ADS_2