Diana & Arya

Diana & Arya
Enam puluh dua


__ADS_3

Diana dan juga Rellia memilih meja kosong lain nya, sesuai kemauan Diana yang tidak ingin semeja dengan Arya.


"Na! Gue pikir lo gak usah ngehindar gitu. "ucap Rellia setelah selesai memesan makanan dan minuman.


"Kenapa? Salah ya?." tanya Diana menatap punggung Arya, karena Diana memilih meja dibelakang Arya.


"Iya, soal nya lo bikin Arya penasaran kenapa lo ngehindar terus. Kalo dia tahu lo suka dia, lo bisa diejek gak punya keberanian buat ngungkapin nya. "jelas Rellia membuat mata Diana tersirat akan api amarah.


"Oke gue gak bakal ngehindar, tapi jangan salahkan gue jika gue melakukan hal lain. "gumam Diana tersenyum sinis pada Inez dan Amel.


Setelah selesai makan siang bus kembali melaju hingga sampai pada pegunungan yang sejuk udaranya, mereka sampai tepat jam 3 sore. Dengan gembira semua mendirikan tenda sesuai kelompok mereka masing masing.


Kelompok Diana terdiri dari tiga orang yaitu, Diana, Rellia, dan Ambar. Karena kelompok paling akhir kelompok mereka cuma ada tiga orang sedangkan yang lainnya empat orang.


"Ah.. Seneng cuma tiga orang doang gak usah bagi kasur. "ucap Rellia sambil memasang tenda.


Diana mengiyakan ucapan Rellia dengan anggukan sedangkan Ambar hanya tersenyum, selesai mendirikan tenda semua siswa bergiliran untuk memberdihkan diri setelah seharian melakukan perjalanan.


"Na! Giliran lo tuh. "ucap Rellia membangunkan Diana yang terlelap sebentar.


Diana mengambil peralatan mandi kemudian ia beranjak menuju kamar mandi yang sudah disediakan. Selesai mandi seseorang menghalangi jalan Diana, Diana memutar bola mata malas menghadapi nya.


"Mau apa sih Nez? Gue banyak kerjaan!. "ucap Diana menatap Inez dengan malas.


Inez tersenyum kearah Diana namun itu bukan senyum biasa melainkan senyum penuh makna didalam nya.


Inez menggerakan tangan nya, menyuruh seseorang dibelakang nya untuk melakukan rencana nya.


"Heh Nez! Lo tuh kurang kerjaan banget ngurusin hidup gue. Mending lo urusin tunangan lo tuh. "ucap Diana memberontak saat Amel memegang kedua tangan Diana.


Saat sebuah tangan hendak menyentuh pipi mulus Diana, sebuah tamparan lebih dulu mendarat dipipi Inez.


Plakk..


"Akhh...!. " ringis Inez memegangi pipinya yang terasa panas.


"Maaf Nez, gue gak sengaja. "ucap Amel mengusap pelan pipi Inez yang memerah.

__ADS_1


"Hahaha! Anak buah nampar bos. Bagus tuh. "ucap Diana diselingi dengan tawa nya. Karena rencana nya gagal Inez dan Amel segera pergi dari kamar mandi.


Diana pun juga pergi menuju tenda nya, sampai ditenda serbuan pertanyaan dari Rellia membuat Diana pusing seketika.


"Duh! Kepala gue pusing. "ringis Diana memegangi kepalanya.


Rellia dan Ambar jadi panik mereka segera membantu Diana duduk dan memberikan minum air putih.


"Apa lo tadi ditampar sama Inez dan Amel?. "tanya Ambar setelah Diana sudah gak pusing lagi.


"Gak, kok lo tau. Lo ngintip gue tadi ya?. "tanya Diana menatap Ambar dengan selidik.


"Ambar tadi liat lo didatangi Inez sama Amel." jelas Rellia. Diana mengangguan kepalanya paham sedangkan Ambar dan Rellia digelitiki oleh rasa penasaran dengan Inez dan Amel yang mendatangi Diana.


"Inez ngapain Na?. "tanya Rellia tak sabar.


"Gak ngapa ngapain. "jawab Diana


"Yang bener?."tanya Rellia tidak percaya dengan ucapan Diana


Percapakan berakhir para siswa membuat api unggun ditengah tengah, sebelum itu siswa mmebagi tugas mencari kayu, mengambil air, dll. Diana mendapat tugas untuk mrmasak air.


Karena airnya sedang diambil Diana hanya duduk sembari menunggu api yang bisa kapan saja padam nantinya. Tiba-tiba Arya datang menghampiri Diana, kali ini Diana tak akan menghindar lagi.


"Dapat laporan dari tunangan nya ya?, maaf tadi gua SENGAJA!. "ucqp Diana menekan kata sengaja sambil memiringkan kepala dan tersenyum.


"Diana? Lo kok jadi gini sih. "ucap Arya duduk disamping Diana, menatap Diana yang dingin pada Arya.


"Apa?. "


"Gue emang dikasih tau sama Amel katanya Inez ditampar sama lo, tapi gue gak peduli!." ucap Arya memainkan kayu yang sedari tadi ia ditangan nya.


"Wah, jahat bener lo. Sama tunangan sendiri!. "ucap Diana sembari beranjak menghampiri siswa yang mengambil air.


Dengan segera Diana menuangkan air kedalam wadah untuk ia rebus kemudian, menunggu air masak Diana meniup api dengan perlahan untuk menambah besar api.


"Enak ya! Cuma duduk nunggu doang." ucap Rellia yang baru kembali bersama Ambar tak lupa dengan kayu bakar ditangan merrka berdua.

__ADS_1


"Oh tentu, enak banget disini. "jawab Diana tersenyum kearah mereka berdua.


Ambar, Rellia dan Diana menggobrol bersama menghilangkan rasa lelah dengan sebuah tawa Menyenangkan.


"Ketenda yuk!. "Seru Rellia menatap Ambar dan Diana.


"Hayyukk!. "jawab Ambar dan Diana bersama lalu mereka bertiga tertawa bersama.


Mereka berjalan menuju tenda dengan tertawa mendengar candaan Rellia lalu bergantian Diana yang bercanda. Mereka terus bercanda hingga sampai tenda.


"Ditenda kita mau ngapain?. "tanya Ambar sedikit bosan,.


"Iya ya, ngapain? Disini kan gak ada sinyal gak bisa main ponsel!. "ucap Rellia mendengus kesal. Memang salah kalau ke Pegunungan membawa ponsel, itu sama sekali tidak berguna.


"Punya game gak Na?. "tanya Rellia beralih menatap Diana saat sekilas menatap ponsel dalam tangan nya.


"Punya!. "saut Diana gembira, ia mengambil ponsel dalam ransel nya lalu membuka, mencari sebuah Game yang sudah lama ia mainkan.


Diana mulai bingung saat game nya tidak ketemu, ia mengerutu kesal. Bagaimana bis agmae nya hilang sendiri, sudah seminggu yang lalu ia terakhir ia bermain game itu.


"Lah! Ilang!, gimana bisa ilang?. "tanya Diana menggerutu tidak jelas sambil sesekali ia mengumpat.


Ambar dan Rellia hanya diam, saling bertatapn lalu mengendikan bahu tidak tau yang dimaksud oleh Diana. "Kenapa Na?. "Tanya Ambar


"Game nya ilang! Padahal udah seminggu gua gak main, lah ini malah ilang. Kesel gua!!!. "ucap Diana melempar ponsel nya kesembarang arah, tak peduli dengan ponsel nya yang rusak maupun lecet yang pentimg ia sedang kesal.


Pasti Teh Rio nih yang hapus game gua!. Batin Diana dengan kesal nya, setelah ia pulang kerumah Diana pastikan menghajar Rio karena telah berani mengotak atik ponsel nya hingga game kesukaan nya hilang.


"Hayyo! ngelamunin apa? pasti gue ya?. "tanya Rellia mengoda Diana sambil menunjukan deretan giginya.


"Ngapain juga gua ngelamunin elo yang ada d deket gua. "jawab Diana ketus, ia hendak keluar namun segera ia urungkan. Melihat sosok Arya duduk di depan tenda nya.


Ngapain sih dia ada didepan tenda gue? bikin mules aja. Gerutu Diana dalam hati tak lupa ia juga melihat kedua tangan nya di depan dada.


Ambar segera menilik keluar dan hanya mengeluarkan kepala nya saja, seketika jantung nya berdebar melihat pangeran nya tengah tertawa.


"Siapa Mbar?. "tanya Rellia menatap bingung Ambar yang hanya diam sambil memegang dada.

__ADS_1


__ADS_2