
Karena Arya masih penasaran tentang Diana ia pun bertanya pada Rellia sebagai sahabatnya pasti tau kan.
"Emang Siswa itu ngapain sampek Diana marah?. "tanya Arya lagi.
"Kepo amat lo Ar.. "ucap Kocil yang kini duduk di kursi Diana.
"Waktu itu dia ngeledek katanya Diana gak punya ibu sama ayah, padahal kan ibu sama ayah Diana tinggal diDesa karena udah tua. "ucap Rellia kembali.
"Tapi kenapa Diana marah, padahal kan mereka gak ngeledek Diana sama sekali?." kini giliran Coki yang bertanya.
"Tadi Diana lagi kesal pas udah agak mendingan eh... Tangan kotor nyentuh pipi nya jadi meledak kan dia. "ucap Rellia yang mengerti akan Diana yang tak suka seluruh anggota tubuh nya disentuh sembarang orang.
"Emang Diana gak suka disentuh gitu padahal Arya suka tuh nyentuh tangan Diana." ucap Kocil.
"Arya beda, Diana itu orang yang gak suka tempat dan barang-barang yang ia suka bahkan anggota tubuh nya disentuh, dia benci orang yang seperti itu. Lo ingat kan Ar waktu itu lo mau ditonjok Diana." ucap Rellia berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
"Karena duduk disamping nya, nah itu tuh tempat duduk favorit Diana bahkan gue yang sebagai sahabat nya saja tidak boleh duduk disitu. "ucap Rellia menjelaskan.
Arya menganggukan kepala paham tapi kenapa Diana menyentuhnya jika ia tak mau disentuh.
"Rell... Terus siswa di SMP yang katanya patah tulang itu lantutan nya gimana?. "tanya Kocil berbelit belit lalu ia terkena pukulan dari Coki.
"Tanya yang bener bikin orang pusing aja lo. "ucap Coki
"Kenapa tadi Diana minta maaf Rell?" tanya Arya mewakili pertanyaan Kocil yang terbelit belit.
"Itu sudah kebiasaan jika marah dan itu menyakiti seseorang Diana akan minta maaf sama waktu diSMP Diana Juga minta maaf, malah orang tua si siswa itu mau nuntut Diana tapi untung saja ada kak Talka."jelas Rellia dengan cengengesan.
"Wih, main nuntut orang aja tuh ortu gak tau apa Arya akan selalu melindungi Diana."ucap Kocil menepuk nepuk bahu Arya.
"Kak Talka? Siapa kek nya gue pernah denger nama itu?. "tanya Arya yang tak asing dengan nama Talka.
"Owh, kak Talka itu kakak Diana yang kedua sebenernya nama nya Kak Faresta tapi Diana manggil nya Talka ya gue ngikut aja. "ucap Rellia lalu tertawa mengingat dirinya pernah dijitak karena manggil Talka saat jemput Diana.
"Gue susul Diana dulu. "ucap Arya, dia berlari kelur kelas dengan cepat takut Diana akan mendapat perilaku buruk dari Svifa.
POV Diana
Saat ini Diana tengah mengobati luka Svifa dengan obat, karena Diana sudah biasa dengan uks jadi dia bisa tau pengobatan walau tidak semua.
"Tadi kenapa lo marah?. "tanya Svifa sembari menunduk menatap Diana yang berada dibawah nya karena tengah mengobati kakinya.
__ADS_1
"Gak papa cuma lagi males ngurusin orang-orang. "jawab Diana berbohong tapi hati nya ingin mengatakan hal itu Diana sangat membutuhkan teman curhat selain Rellia.
Kalau Rellia dia bisa aja kan bilang ke Arya karena mereka lagi deket bahkan sama sahabat Arya.
"Svifa ke ruang bk disana ada ortu kamu, kamu juga Diana keruang bk. "ucap bu Rita guru bk.
"Baik bu. Ayo Svifa kita keruang bk. "ajak Diana pada Svifa dan Svifa pun menurut mereka berjalan beriringan karena Diana yang harus memapah Svifa.
"Bu kenapa orang tua saya ada disekolah?. "tanya Svifa dengan polos nya.
"Karena kamu terluka." jawab Bu Rita tersenyum pada Svifa namun saat menatap Diana bu Rita menatap tajam.
"Tapi saya gak papa bu, tadi juga udah diobatin Diana. "ucap Svifa menjelaskan kebaikan Diana yang mau mengobatinya.
"Gak papa, aku juga rindu ruang bk. "ucap Diana lalu terkekeh begitu pun Svifa ia sungguh tak menyangka Diana akan rindu pada ruangan yang ia anggap sebagi monster saat disekolah.
.
.
.
.
.
"Kamu gak papa kan nak?."tanya ibu itu yang mesti nya itu ibu dari Svifa.
"Iya, bu Svifa gak papa. "jawab Svifa berjalan tertatih menuju sofa yang sudah disiapkan.
"Siapa yang membuat putri saja jadi begini?!!. " tanya papa Svifa dengan marah nya.
"Saya pak. "ujar Diana smebari tersenyum namun didalam hati ia sungguh takut hatinya menjerit meminta tolong agar mama dan papa menolong nya.
"Kamu, berani sekali kamu mencelakai putri saya!." ucap papa Svifa dengan sinis menatap Diana namun Diana hanya diam sambil tersenyum.
"Maafkan saya pak. "ucap Diana meminta maaf atas kesalahan nya yang membuat orang celaka.
"Maaf.... tidak ada kata maaf bagi orang yang mencelakai putri saya!!." ucap papa Svifa ingin menampar Diana namun tangan kekar lebih dulu menangkup tangan tersebut.
"Jangan main kasar, kalau bisa diselesai kan dengan baik-baik kenapa harus pakai kekerasan!. "ucap seseorang yang menekan kata kekerasan.
__ADS_1
"Hai ruang bk, apakah kau terlalu merindukan ku hingga kau harus membawa adek saya ini. "ucap Talka yang menunjuk Diana, yang ditunjuk menatap datar Talka yang masih berdialog dengan ruang bk.
"Apa apaan ini, kakak adik tidak jelas. "ucap papa Svifa menahan tawa saat Talka berdialog dengan ruang bk yang kini menjadi tempat ia bersinggah.
"Tidak jelas kau kata!!. " ucap Talka dengan senyum sinis menakutkan.
"I.... Ya.. kau memang tidak jelas. "jawab nya gugup melihat senyum sinis menakutkan yang Talka rekahkan.
"Kenapa ini bu Rita yang cantik nya bak model papan tripleks ?. "tanya Talka pada bu Rita yang menjadi pengawas antara Diana dengan keluarga Svifa.
"Diana melukai Svifa teman sekelas Diana. "jawab Bu Rita datar namun tetap merekahkan senyum namun senyum sinis mengarah Talka yang tadi mengejeknya.
"Kenapa kau melukai Svifa Diana?. "tanya Talka pada Diana smebair memelototi Diana.
"Saya permisi dulu, disini sudah ada kakak saya. "pamit Diana dengan tersenyum lalu keluar dari ruang bk.
Senyum yang tadi merekah didalam ruang bk kini hilang wajah datar Diana menjadi kan Diana orang yang menakutkan, amarah nya belum reda ia butuh pelampiasan amarah Dimana tempat yang cocok.
Saat tengah berjalan menuju taman sekolah Diana melihat Arya berdiri disana dengan memunggungi nya Diana rasa ia sedang mencari dirinya.
Dengan segera Diana berbalik arah menuju kamar mandi tempat paling aman untuk bersembunyi, tak lama Diana berlari terdengar suara Arya yang memanggil nya.
"Kenapa sih dia nyariin gua." ucap Diana kesal, tanpa Diana sadari ia sudah berada di kamar mandi.
Kamar mandi terlihat sepi karena memang jam masih menunjukan waktu belajar, Diana memcoba membasuh wajah nya agar lebih tenang setelah membasuh Diana hendak kembali kekelas.
Tanpa sengaja Diana melihat gadis tengah bersender didinding kamar mandi lalu menatap sinis kearah Diana.
"Woy.... Ja**ng berani deketin Arya lo berurusan dengan gue. "ucap nya sembari berjalan menuju Diana.
Wuohh... Mau nantangin gua nih cewek. Batin Diana senang disaat butuh pelampiasan amarah disini lah Diana mendapatkan nya.
"Apa lo mau nantangin gua!! Maju sini. "tantang Diana dengan smrik.
Tanpa ba-bi-bu lagi Gadis itu menyerang Diana dengan tamparan namun gagal Karena Diana lebih dulu memukul perut cewek itu.
"Sialan kau ja**ng." teriak Nya .
Kembali gadis itu ingin menyerang kaki Diana lagi-lagi Diana lebih dulu menyerang di bagian pipi,
"Mau lagi gak? Mumpung gua lagi baik hati pingen ngabulin permintaan lo. "ucap Diana dengan tersenyum kemenangan ia sangat senang kali ini walau kekesalan belum hilang semua nya.
__ADS_1
Bersambung......
Bagi.... Like, Komen, Vote, Favorit, Rate bintang lima ya 😉