
Setelah selesai makan/sarapan direstoran, motor Arya kembali melaju menuju sekolah. Kini jam menunjukan jam 6 pagi, kayaknya mereka akan sampai sekolah sudah ramai.
"Arya, gua turun dihalte bus aja!. "ucap Diana.
Diana malas menghadapi fans Arya yang kegatelan dan juga kini ia membawa Rio, jika sekolahan itu bukan milik papanya Diana pasti akan dimarahi. Karena membawa bocil sembarangan.
"Rio! Lo balik aja lah, masak gua bawa bocil kesekolah. "cemberut Diana menatap Rio yang berada ditengah tengah antara dirinya dan Arya.
"Ongkos!. "sembari menyodorkan tangan nya didepan Diana Rio menatap dingin Diana.
"Lah bukan nya nyokap bokap lo kaya, ngapain minta gua?. "ucap Diana menyerngit bingung, tidak salah jika ia bertanya. Jika Rio anak tunggal dari pasangan tante Suci dengan Om Haris, harusnya dikasih uang saku. Pikir Diana
"Yaudah!. "ucap Rio menurunkan tangan nya, kembali fokus pada arah jalan yang kini sudah nampak matahari menyinari bumi.
Sampainya dihalte bus Diana turun dengan perlahan, karena motor Arya yang tinggi sedangkan dirinya bertubuh pendek.
"Bisa kagak?. "tanya Arya.
"Bisa!. "Diana dengan segera melompat, "Lo ikut Arya masuk duluan aja!. "tunjuk Diana pada Rio yang masih nangkring dimotor Arya.
Setelah motor Arya meninggalkan nya Diana segera menelepon sahabatnya agar segera datang. "Ni anak kemana sih, gua pegel nunggu disini!. "keluh Diana memegang lutut nya yang mulai kesemutan.
3 menit kemudian.....
"Diana!. "panggil seseorang.
Diana yang kini duduk dipinggir jalan dengan menekuk wajahnya kesal. "Lama bener lo!. "ucap Diana menatap sahabatnya yang kini menyengir kuda.
"Ya maap, ada panggilan alam tadi. "jawab Rellia menuntun Diana yang kesusahan berjalan akibat terlalu lama duduk.
"Lo kenapa gak duduk dikursi halte itu?." tunjuk Rellia pada kursi dibelakang Diana.
"Kagak liat gua. "
Diana berjalan kaki bersama Rellia menuju sekolahan yang berjarak 100 meter dari halte.
"Na.."
"Napa lagi?!. "geram Diana.
"Lo masih suka Arya?. "tanya Rellia yang tak mau Diana sakit hati lagi.
"Kagak!, Lo tau sendiri kan gua gak suka pelakor sedangkan disini gua yang jadi pelakor. "ucap Diana yang memang benar ia sudah membuang jauh-jauh rasa suka nya pada Arya.
__ADS_1
Rellia terdiam. Melanjutkan berjalan dengan keheningan yang menemani langkah kaki mereka, hingga sampai pada gerbang sekolah yang sudah ramai siswa/siswi berbaris.
"Ada apa tuh Rell?. "tunjuk Diana menuju gerbang, Rellia mengendikan bahu tidak tahu. Biasanya juga tidak ada yang seperti itu.
Diana dan Rellia melenggang pergi tanpa berbaris mereka rasa tidak penting, saat hendak melewati gerbang seseorang menarik tangan Diana dan Rellia.
"Ehh... Apaan ini?!. "bentak Diana tidak suka dengan laki-laki yang menarik tangan nya.
Dengan sekali hempasan pegangan tangan lepas dari tangan Diana, begitupun dengan Rellia.
"Seenak jidat pegang tangan orang!. "kesal Diana melipat kedua tangan nya didada.
"Lo baris dulu!." ucap nya datar.
"Mang napa harus baris segala, gak ada kerjaan aja!. "saut Diana.
"RAZIA!!. "ucap nya menekan kata. Mata Diana membelalak dia lupa bahwa hari ini ada Razia sedangkan ia lupa bawa kartu pelajar.
Wah, Gawat nih gua gak bawa kartu pelajar ama gak pakek ikat pinggang pelajar. Batin Diana
"Rell! Lari yok!. "bisik Diana langsung menarik tangan Diana berlari memasuki kelas.
Sampai dikelas Diana dan Rellia menjadi pusat perhatian sekelas pasal nya mereka terlihat ngos-ngosan. "Bebep may honey kenapa mpek ngos-ngosan gitu?. "tanya Kocil menghampiri Rellia.
"Mau lo apain botol minum gue!. "teriak Arya berlari mengambil botol minumnya dari tangan Kocil.
Namun Diana mengambilnya dari tangan Arya, sedangkan Rellia sedari tadi sudah meneguk minuman Kocil.
"Haus bener gua. "lega Diana setelah merasa tenggorokan nya terasa dingin tersiram air.
"Haus sampek habisin minuman gue!. "tatap Arya dingin, Diana terkejut hingga langsung saja melempar botol minum Arya.
"Gak bilang makasi! Malah lempar botol minum orang!."kesal Arya mengambil botol minum nya.
"Diana gak waras! Main narik narik tangan orang aja. Gue capek jadinya, mana tuh osis tadi gak ngejar!. "cemberut Rellia sambil memukul pundak Diana.
"Gua takut, hehe!. "ucap Diana meringis. "Seorang Diana punya rasa takut ternyata!. "ucap Seseorang dengan suara berat dan tegas.
"Ya punya lah, gua manusia. Semua manusia punya rasa takut, gak kayak lo gak punya rasa takut kek Setan!. "cerocos Diana tanpa melihat sosok yang ia ajak bicara.
"Lo Diana! ."tanya nya tak percaya, ia kira Diana tinggi cantik dan juga mempesona. Tapi ternyata pendek, dan juga gak nentu muka nya.
"Ya iyalah siapa lagi!. "ucap Diana berbalik menatap terkejut sosok berseragam osis yang menatap mya dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
"Ngapain lo kekelas orang, mentang mentang lo osis jadi seenak nya kekelas orang ya!." ucap Diana menatap sinis orang di depan nya.
"Lo kena hukuman!. "teriak nya
"Hukuman apa?!. "tanya Diana tak kalah teriak.
"Pertama lo udah bawa anak kecil kesekolah tanoa izin. Dua lo lari pas gue mau periksa lo! ."
"Gue bukan anak kecil!. " ucap Rio yag tiba-tiba muncul tengah tengah Diana dan ketos itu.
"Kalo yang pertama, siapa bilang gua belum izin. Kedua emang gua sakit sampek mau diperiksa segala?. " ucap Diana sinis.
"Susah ngomong sama orang gak waras. "ejek Ketos dengan senyum sinis.
"Udah napa kagak usah berantem! ni kelas bukan lapangan!. "lerai Rellia kesal sambil menutup telinga karena berisik.
Bisa jebol nih telinga gue. Batin Rellia
"Siapa yang berantem!. "saut Diana dan Ketos Fakri bersama.
"Ekhemm... barengan nie?. "goda Rellia sambil berpura pura batuk.
Panas gak ya?. Batin Rellia melirik Arya sekilas.
Arya memalingkan wajah nya kesegala arah, tubuhnya seketika memanas melihat kekompakan Diana dan Ketos Fakri.
Nih, napa sih kok panas. Batin Arya berusaha mengatur nafas nya yang terasa sesak.
"Na! ada yang panas tuh. " Bisik Rellia ditelinga Diana.
Diana menatap kearah Arya dan saat itu juga Arya menatap Diana hingga terjadilah tatap tatapan antara Diana dan Arya.
Beneran panas tuh Arya?. Batin Diana masih menatap Arya.
Ngapain tuh anak natap gue, emang gue apaan. Batin Arya.
"Udah kali tatap-tatapan nya. Bisa keluar tuh mata." Tegur Rellia dengan suara lantang membuat Diana dan Arya menahan malu karena Rellia.
"Mulut lo mau dilakban ya Rell!. "Bisik Diana memelototkan matanya sembari menahan malu.
"Maap Na! biar lo sadar ntar keblabasan lagi. "ucap Rellia tertawa hingga memegangi perut nya.
Bersambung......
__ADS_1