Diara Sang Simpanan CEO

Diara Sang Simpanan CEO
Episode 51


__ADS_3

"Mbak!! Mbak kita mau kemana?"ujar sopir taksi itu yang kini menyadarkan Diara.


"Iya pak... Eemmm kita ke gedung XICING!"ucap Diara yang langsung gagal fokus sambil menatap supir itu,hingga akhirnya mereka pun pergi menuju tempat tujuan Diara.


*Itu beneran pengawal Agung kan,gue inget jelas laki-laki itu... Nggak salah lagi,dia itu Roni!! Ehh Romi ya,pokonya itu lah yang pasti gue tau dia! Tapi... Ngomong-ngomong dia mau ngapain ya ke rumah sakit itu,apa mereka sakit??*batin Diara yang kini ikut berjalan kembali seiring dengan perjalanan menuju kantornya itu.


Hingga tidak lama kemudian,Diara pun tiba di depan gedung perkantoran nya itu dengan tepat waktu. Setelah membayar taksi itu,rupanya dia melihat bahwa Marsya tengah berada di luar seperti menunggu seseorang.


"Diara!! Cepatan kesini!"ucap Marsya yang kini meneriaki Diara,sontak dia pun berjalan lebih cepat menghampiri Marsya itu.


"Apa kak?"tanya Diara sambil menatap wajahnya yang berusaha menyembunyikan kekesalannya itu.


"Pak Agung... Lebih baik kamu lihat sendiri saja lah!!"jawab Marsya yang kini menarik lengan Diara dengan penuh tenaga.


"Kak... Sakit,aku nggak bisa lari!"ucap Diara sambil menahan langkahnya itu karena merasa sakit di bagian perutnya,sontak Marsya pun berusaha mengerti dengan itu. Dia pun melepaskan tangan Diara sambil terus menuntunnya menuju ruang pribadi Agung.


"Izin masuk pak!"ucap Marsya sambil mengetuk pintu ruangan itu dengan perlahan,setelah mendapat perintah mereka pun langsung masuk kedalam ruangan itu dengan sedikit panik.

__ADS_1


"Ini Diara nya pak!!"ucap Marsya kembali dengan nada puasnya.



\**Mampus Lo Raa!! Sekarang kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya tapi yang jelas gue harap Lo bisa out dari kantor ini... Dan sebagai gantinya gue bakal menjalankan semua misi gue yang tertunda karena Lo!\*batin Marsya yang kini menahan senyuman liciknya itu dihadapan Agung*.



"Kamu bisa pergi sekarang!"ucap Agung dengan suara datar dan dinginnya,sontak itu membuat Marsya kian kesal masalahnya dia ingin melihat bagaimana sikap yang akan di tindak oleh Agung itu.



Sementara di waktu yang sama kini Romi dan beberapa pengawal lainnya tengah berdiskusi dengan atasan yang merupakan pemilik saham rumah sakit saat ini. Disana dia pun ditemani oleh beberapa bawahannya termasuk sebagian dokter-dokter yang sudah menjabat lama disana.


"Jadi bagaimana tuan??"ucap Romi yang kini memberikan sebuah dokumen mengenai pembelian saham disana.


"Maaf tuan,saya sudah bilang beberapa kali... Bahwa saya tidak akan menjual saham rumah sakit ini sekarang atau nanti!"ucap CEO pemegang rumah sakit itu.

__ADS_1


"Apa harganya tidak mencukupi? Kalau begitu saya naikan menjadi sepuluh milyar dan untuk para dokter disini akan saya naikan gajih perbulannya!"ucap Romi yang masih bersikukuh itu,sontak mendengar itu semua orang pun memandangnya dengan mata yang seolah ingin keluar.


"Heemmm... Maaf tuan,semua ini bukan karena uang tapi saya memang tidak ingin menjual ini!"ucap orang itu yang berusaha memahaminya.


"Kalau begitu saya kasih anda waktu sampai malam ini,jika memang berubah pikiran kalian hubungi saya!"ucap Romi sambil memberikan sebuah kartu namanya disana,kini mereka pun langsung pergi dari rumah sakit itu.


"Mereka siapa?"tanya suster yang ada disitu yang kebetulan sedang berbincang dengan Ridwan di bagian resepsionis itu.


"Saya juga tidak tau,mungkin.."ucap Ridwan yang kini ikut menatap mereka yang memang memasang wajah datar.


"Ridwan!!! Kamu dari mana aja sih aku dari tadi nyari kamu terus!"ucap seseorang dnegan nada tingginya sambil berlari ke arah Ridwan,sontak para pengawal itu pun menatap ke arah sumber suara itu.


"Rupanya dia benar masih hidup!"gumam Romi yang kini melirik ke arahnya,hingga tidak lama mereka oun langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu.



\***Jangan lupa untuk LIKE, COMMENT, RATE AND VOTE ceritanya jika kalian berkenan kak 🌼🌼❤️❤️ Beri saran atau kritik nya juga dan pastikan untuk baca cerita ku yang lainnya🥰🥰**\*

__ADS_1


__ADS_2