
"Baik,saya akan usahakan alat itu... tapi apa alat itu dapat menaikkan performa dan ketekunan para dokter di rumah sakit ini?"ucap Romi yang kini menatapnya.
"Insyaallah pak... soalnya kami juga sudah mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum saya melaporkan pengajuan alat itu sebelumnya. dan saya kira itu akan sangat membantu untuk kami terlebih kami sering mendapat pasien yang harus memang harus di lakukan pengecekan seperti itu dan biasanya kami hanya bisa merujuk pasien tersebut ke rumah sakit besar lainnya!"ucap Ridwan yang sangat fasih menjawabnya,sontak jawaban itu membuat Romi mengangguk sambil tersenyum mendengarnya.
"Baik kalau begitu saya harus pergi dulu,soal alat itu saya akan usahakan!"jawab Romi yang akhirnya kini pergi dari ruangan Ridwan sambil menjabat tangannya.
"Siap pak, terimakasih sudah mendengar keluhan kami!"ucap Ridwan sambil menundukan kepalanya untuk memberi rasa hormatnya.
Kali ini nampaknya Diara pun tengah mengecek beberapa dokumen dan berkas yang memang sudah menumpuk di atas mejanya. Sementara kali ini Agung sendiripun tengah sibuk membereskan dan menandatangani beberapa dokumen yang diserahkan Diara sebelumnya.
"Eemmm... Pak... Ada yang saya tidak mengerti!"ujar Diara yang kini mendekat ke arahnya sambil tetap siaga.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu takut dengan saya?"ucap Agung yang kini masih fokus pada layar laptopnya.
"Sa-Saya... Nggak saya cuma senggan saja pak,kalau boleh saya tanya ini maksudnya bagaimana ya?"ujar Diara yang kini memberikan berkasnya itu pada Agung.
Hingga akhirnya kini Agung pun menjelaskan semua yang dia tidak pahami dalam berkas itu. Namun rupanya kini Diara pun sudah tidak sanggup untuk berlama-lama berdiri di dekatnya,bahkan kali ini itu nampak jelas saat Diara hendak terjatuh di dekat Agung.
"Kenapa? duduk saja kalau tidak kuat!"ujar Agung dengan mata yang masih fokus,sontak saat itu Diara pun langsung melangkah untuk mengambil kursi yang berada di hadapan meja agung itu.
"Ada apa?"ucap Diara namun kali ini tangannya langsung ditarik hingga akhirnya kini dia pun duduk di pangkuan Agung.
"A-Apa... Saya ambil kursi saja,tidak enak bila dilihat orang!"ucap Diara yang spontan melihat ke arah jendela menuju tempat Marsya berada.
__ADS_1
"Tenang saja, meskipun terlihat ke arah luar namun kaca ini tidak akan terlihat dari luar!"bisiknya yang membuat tubuh Diara merinding kembali.
"Ta--tapi... Saya ambil saja kursi sekarang tubuh saya berat juga!"ucap Diara yang mencari alasan,hingga akhirnya kini dia pun langsung melepaskan tubuh Diara dari pelukan ya itu.
Dengan cepat Diara pun langsung berjalan menuju kursi didepannya itu lalu duduk tanpa banyak bicara. Namun rupanya kini Agung pun langsung pindah menuju sofa yang berada tidak jauh dari mejanya itu.
"Lohh... kenapa?"ucap Diara yang kini menatapnya.
"Kemari!!"jawab Agung yang kini membuat Diara hanya bisa menghela nafas nya dalam-dalam.
"Cepat!!"lanjut Agung yang kini membuat Diara langsung beranjak mendekatnya dan kini dia pun duduk di sampingnya dengan sedikit jarak diantaranya.
__ADS_1
*Jangan lupa untuk LIKE, COMMENT, RATE AND VOTE ceritanya jika kalian berkenan kak 🌼🌼❤️❤️ Beri saran atau kritik dan pastikan untuk mengikuti ceritaku yang lainnya 🥰🥰*