
Hani baru saja menutup tasnya setelah semua barang bawaannya ia masukan ke dalam tas. Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu dan kelas juga sudah kosong hanya tersisa Hani yang lebih memilih untuk diam sejenak di sana.
Hani beranjak dari kursi bersamaan dengan suara denting notifikasi pesan dari ponselnya. Gadis itu mengecek ponselnya dan seketika itu pula senyumnya mengembang dengan ceria. Nama itu—nama pemuda yang selalu berhasil mengembangkan senyumnya tanpa aba-aba. Barsena Anggara—yang selama tiga tahun ini sudah menjadi kekasihnya.
...Barsena Anggara...
-Besok jadi, ya, di taman penuh kenangan kita.
-Kamu mau aku beliin hadiah apa?
^^^-Apa aja terserah kamu, Barsena. ^^^
-Lho? Yang ulang tahun, kan, kamu. Masa terserah aku?
-Kamu pilih, dong, masa tiap tahun bilangnya gitu mulu.
^^^-Haha ... ya udah aku minta kado kamu tetep sama aku selamanyaaaaa! ^^^
-Kalo itu, sih, bukan cuma kado, tapi wajib.
Senyum Hani semakin mengembang setelah membaca itu. Ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas dan berjalan pelan untuk keluar dari kelas. Suasana sekolah di jam sekarang terasa lebih sepi hanya ada beberapa orang yang masih di sekolah untuk melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler. Sepanjang lorong ia melihat ke arah lapangan basket, ada beberapa orang di sana yang sedang latihan.
"Han!" Suara itu—suara yang lagi-lagi membuat senyum manis Hani merekah tanpa aba-aba. Hani menoleh dan mendapati Barsena yang sudah memakai kaus basket tengah berlari menghampirinya.
"Langsung pulang?" tanya Barsena seraya mengatur deru napasnya yang tersenggal.
Hani mengulurkan air minum pada Barsena lalu mengambil sapu tangan di dalam tasnya dan menggunakannya untuk menyeka keringat di wajah Barsena. "Terserah kamu."
Barsena menahan tangan Hani yang tengah menyeka keringat di wajahnya. Ia menatap Hani dengan wajah merengut. "Lho? Kok, kamu terserah-terserah mulu, sih?" keluh Barsena dengan suara dibuat manja.
Mendengar itu Hani tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia tertawa renyah seraya kembali menyeka keringat di wajah Barsena. "Ya udah, iya! Kita keliling dulu sambil motoran sebelum pulang," ucap Hani akhirnya mengalah.
Senyum kemenangan Barsena perlihatkan, ia meraih tangan Hani untuk digenggam. "Oke, kalau gitu ayo berangkat!" seru Barsena semangat dan Hani hanya tersenyum kecil saja melihat tingkah Barsena.
Sepanjang perjalanan Hani tidak berhenti tersenyum. Entahlah, Barsena selalu mempunyai cara untuk membuat Hani tersenyum dengan hal-hal sederhana yang ia lakukan. Hanya dengan saling bertatapan lewat kaca spion saja sudah membuat mereka saling senyum-senyum salah tingkah.
"Mau makan dulu nggak?" tanya Barsena setelah menghentikan laju motornya di depan kedai nasi goreng pinggir jalan.
Hani terdiam sejenak. "Aku makan di rumah aja, deh, Barsena. Udah jam segini juga, bukannya kamu harus jemput Akira di tempat les?"
"Oh, iyaa! Aku lupa, Han!" pekik Barsena seraya menepuk dahinya dengan cukup keras. Hal itu lantas membuat Hani kembali tertawa renyah karenanya.
"Ya udah ayo pulang, kasihan Akira nunggu kamu lama-lama," ucap Hani. Barsena mengangguk dan melajukan motornya meninggalkan kedai nasi goreng untuk mengantar Hani pulang.
...***...
__ADS_1
Hani baru saja selesai makan malam saat ponselnya berdenting. Hani sudah bisa menebak itu pasti Barsena, karena satu-satunya nomor yang selalu menghubungi Hani hanyalah nomor Barsena saja. Dulu saat mendiang neneknya masih ada, tentu saja ada dua orang yang selalu rewel menghubungi Hani. Namun, sekarang ponselnya hanya diisi oleh notifikasi pesan dari Barsena seorang.
...Barsena Anggara...
-Besok jadi, kan?
-Awas lupa!
-Maaf aku bawel banget, soalnya di dunia ini cuma kamu yang suka lupa sama hari ulang tahun kamu sendiri haha.
^^^-Iya, Barsena:)^^^
-Ya udah iya, Sayang.
-Udah makan?
^^^-Baru aja beres. ^^^
Hani terdiam cukup lama saat tidak ada lagi balasan dari Barsena. Akhirnya ia beranjak dari meja makan untuk kembali ke kamar.
Perlahan Hani merebahkan tubuhnya, tangannya masih setia menggenggam ponsel menunggu balasan selanjutnya dari Barsena yang tidak kunjung ada juga. Akhirnya Hani menyerah karena rasa kantuk sudah menyerang matanya dengan membabi buta. Ponsel yang semula ia genggam akhirnya disimpan di atas nakas dan Hani mulai terlelap di dalam tidur nyenyaknya. Tanpa tahu esok hari akan seperti apa.
Pagi menjelang, saat Hani terbangun ia lekas mencari ponselnya untuk melihat ada tidaknya pesan yang Barsena kirim. Namun, tetap tidak ada. Hani menghela napas berat, rasa cemas mendadak menyerangnya. Yang Hani tahu, Barsena tidak pernah seperti ini. Pesan Hani tidak pernah dibiarkan dalam kondisi tidak terbalas, apalagi sampai tidak dibaca sama sekali seperti sekarang.
"Barsena kenapa, ya?" gumam Hani.
Dengan ceria pula, Hani bersiap-siap. Tanpa membutuhkan waktu yang begitu lama Hani bersiap. Kini ia sudah berada di hadapan Barsena dengan senyum manis khasnya.
"Happy birthday, Gadis yang sering lupa ulang tahunnya sendiri!" Barsena mengulurkan buket bunga mawar padanya.
Dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya, Hani menerima buket bunga itu dengan senang hati. Gadis dengan rambut kuncir kuda khasnya itu langsung memeluk Barsena erat. "Makasih," gumamnya.
"Mau langsung jalan?" tanya Barsena dan Hani hanya mengangguk saja untuk menanggapi.
"Tumben bawa mobil?" tanya Hani saat Barsena dengan manisnya membukakan pintu mobil untuknya.
"Sengaja ini kan hari istimewa," jawab Barsena.
Hani mengangguk-anggukan kepalanya seraya masuk ke dalam mobil Barsena. "Oh, gituuu ... jadi hari-hari sebelumnya nggak istimewa gitu?" tanya Hani berpura-pura kecewa.
Raut wajah panik Barsena langsung terlihat. "Maksudnya bukan gitu, Han, nggak gitu maksudnya!" ucap Barsena panik. Hal itu membuat Hani lagi-lagi tertawa. "Iya, aku tau," ucap Hani.
Mobil Barsena sudah melaju dengan kecepatan rata-rata. Hari ini mereka berencana menghabiskan satu hari penuh untuk berduaan saja melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan.
"Semalam kenapa pesan aku nggak dibaca?" tanya Hani saat mobil Barsena berbelok untuk masuk ke jalan raya.
__ADS_1
Barsena berdeham canggung. "Itu ... semalem aku cape, jadi nggak sengaja ketiduran. Maaf," jawab Barsena.
Hani mengangguk pelan tidak ingin memperpanjang masalah itu. Lagi pula sekarang Barsena sudah ada di sampingnya dengan baik-baik saja. Walaupun ... setelah Hani menanyakan itu, Barsena jadi terlihat ... gelisah?
Hani mencoba menghiraukan itu dan tetap fokus pada hal yang akan sama-sama mereka lakukan hari ini. Menonton, berbelanja, bermain-main seperti anak kecil, makan es krim dan apa pun itu yang menyenangkan.
...***...
Di sebuah taman asri sepasang kekasih tengah berjalan menikmati langit malam penuh bintang. Hani berjalan dengan riang diikuti oleh Barsena— yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya. Pemuda yang menghilangkan kekosongan dalam hatinya setelah nenek—sekaligus satu-satunya anggota keluarga yang Hani punya meninggal dunia. Bersama Barsena, Hani menemukan dunia barunya.
Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah manis Hani setelah seharian penuh ia dan Barsena bersenang-senang bersama dan melihat bintang adalah agenda terakhir dari acara bersenang-senang hari ini.
"Han," panggil Barsena pelan.
"Iya!" Hani menoleh dengan ceria. Gadis dengan kuncir kuda itu tetap memasang senyum ceria di wajahnya.
"Makasih ya buat hari ini, tapi ... kita gak bisa ketemu lagi. Soalnya aku ... udah dijodohin."
Hani sangat terkejut dengan apa yang baru saja Barsena katakan. Ia menatap wajah sedih Barsena dengan saksama. "Ma–maksud kamu?" tanya Hani terbata.
"Dari dulu lo emang lambat, ya! Maksud Barsena, mulai hari ini kalian putus dan jangan ketemu lagi sama dia karena Barsena udah di jodohin sama gue!" Tiba-tiba datang seorang gadis lain di sana entah dari mana. Gadis yang sangat-sangat Hani kenali. Dia adalah Andin yang entah mengapa selalu merebut apa pun yang Hani miliki.
"Tapi kenapa?!" teriak Hani tidak terima. Hani boleh saja mengalah tentang apapun itu yang Andin rebut, tapi setidaknya untuk Barsena ... Hani tidak rela. Sangat tidak rela.
Andin menatap Hani muak. Ia berdecak sebal menatap Hani dari atas hingga bawah dan sebaliknya. "Masih belum nyadar juga? Lo tuh jelek, cupu, gak pantes sama Barsena yang ganteng, pinter dan populer. Makanya dia cuma pantes sama gue."
"Maafin aku, Han," lirih Barsena.
Hani hanya bisa menatap Barsena dengan sendu. Mulutnya kelu padahal banyak sekali hal yang ingin ia katakan pada Barsena. Seharusnya sekarang Hani bisa memaki dan menyumpah serapahi Barsena dan Andin, tapi ... ia tidak bisa. Mulutnya seperti diciptakan untuk diam saja jika sudah berurusan dengan Andin.
Andin adalah orang yang selalu Hani hindari karena beberapa hal. Namun, sebaliknya Hani adalah orang yang selalu Andin incar.
"Maafin aku, Han. Aku pergi," ucap Barsena sebelum akhirnya ditarik paksa oleh Andin untuk meninggalkan Hani. Barsena pergi begitu saja tanpa ada penjelasan apa pun untuk Hani yang dihantui banyak pertanyaan.
Hani? Ia hanya bisa menatap nanar punggung Barsena dan Andin yang sedikit demi sedikit menjauh. Kenapa harus Andin? Pertanyaan itulah yang sekarang bergema di dalam kepala Hani. Hani terduduk sendiri di sana—di taman yang menyimpan semua kenangan indah dan buruknya dengan Barsena.
"Dunia terlalu jahat untuk aku."
Padahal sampai beberapa menit yang lalu, dia dan Barsena baik-baik saja. Bahkan terkesan sangat baik-baik saja jika harus sampai berpisah dengan cara paling menyedihkan seperti sekarang.
Hani berjalan gontai meninggalkan taman itu. Matanya tidak fokus untuk melihat jalanan. Dia hanya berjalan menurut instingnya ke arah yang tidak jelas. Dia hanya berjalan saja tanpa tahu tujuan. Ditinggal oleh Barsena adalah hal yang tidak pernah Hani bayangkan sebelumnya.
Langkah kaki gontai yang tidak punya tujuan itu berakhir pada sebuah jembatan. Hani berdiri di sana dengan tatapan kosong seolah dunianya sudah benar-benar hancur tidak tertolong. Seolah Hani sudah tidak punya apapun lagi untuk dibuat sandaran.
Hani membuka ikatan rambutnya, hingga rambut panjang yang selalu ia kuncir kuda itu tergerai sampai angin malam yang dingin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Hani melangkah satu langkah ke depan tepat di samping pembatas jembatan itu. Suara arus air yang deras bisa Hani dengar dengan jelas. Matanya terpejam saat sebelah kakinya menginjak sisi pagar pembatas.
__ADS_1
Entah apa yang Hani pikirkan sekarang, tapi ia benar-benar berniat untuk melompat dari jembatan tinggi itu.
"Aaaaa ...!"