
Beberapa jam yang lalu ....
"Kak, Kakak kenapa? Kakak boleh cerita sama Kira Kak!" Kira menenangkan Barsena yang berantakan dan masih menahan amarah.
"Maafin kakak, Kira!" Barsena menatap lekat wajah adiknya itu.
"Kenapa Kaka minta maaf sama Kira?"
"Karena, Kakak belum bisa jadi Kakak yang baik buat Kira. Kakak gak bisa jaga Kira dari laki-laki tua bejat itu!" amarah Barsena kembali saat mengingat laki-laki yang harus dia sebut ayah itu.
"Kak, mau bagaimanapun dia tetap ayah kita," ucap Kira.
"Ayah mana yang lakuin ini, ini, ini, ini, ini, sama anak-anaknya." ucap Barsena sambil menunjuk luka-luka lebam di tubuhnya dan tubuh adiknya.
"Ayah mana yang tega mau jual anak perempuannya? Ayah mana yang tega mau melecehkan anaknya?!" Barsena kembali menangis dengan sigap gadis kecil di hadapannya menenangkan Barsena dengan memeluknya.
"Jadi, Kaka kaya gini gara-gara itu. Kira merasa bersalah banget sama Kak Laras," Kira berkata dengan suara nyaris tak keluar.
Barsena mengangkat kepalanya saat mendengar nama Laras di sebut.
"Jadi, apa yang kamu bilang tentang Laras itu bener?" Barsena bertanya dengan suara bergetar.
Kira tak mampu mengeluarkan suaranya, tenggorokannya tercekat. Dia hanya mampu mengangguk dengan perlahan melihat ekspresi kakanya yang berubah menjadi semakin menyedihkan.
"Maafin Kira, Kak. Semua ini gara-gara Kira, Kak Laras jadi korban gara-gara Kira!" Kira menangis.
"Ngga, De. Ini semua gara-gara laki-laki tua itu, Kakak bersumpah akan memasukan dia kembali ke penjara!" Barsena bertekad dengan mantap.
"Ta-tapi itu kan ayah kita, Kak!" Kira berteriak memprotes niat kakaknya itu.
Barsena terdiam, lalu mengelus lembut kepala adiknya itu.
"Lebih baik Kakak keluar dulu, cari angin tenangin pikiran Kakak." ucap Kira lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Barsena.
Barsena menatap punggung adiknya yang menjauh, dia lalu bangkit dan merapikan kembali kamarnya seperti semula. Dan juga membersihkan diri dalam sekejap dia kembali menjadi Barsena yang rapi dan bersih, namun perasaannya tetap pada Barsena yang kacau.
Dia mengambil earphone dan melingkarkan di lehernya. Lalu meraih kunci mobil yang tergeletak di meja.
"Heh, anak br*ngs*k mau kemana kamu?!" Baron berteriak saat melihat Barsena menuruni tangga hendak keluar rumah.
Namun, Barsena tak menghiraukan pertanyaan ayahnya. Dia terus berjalan sambil memasang earphone di telinganya agar dia tak mendengar ocehan ayahnya.
"Dasar br*ngs*k!" Baron terus mengumpat melihat tingkah anaknya.
Barsena kembali membuka earphone itu saat memasuki mobilnya, dan melajukan mobilnya. Hingga beberapa saat kemudian dia menghentikan mobilnya di sebuah taman dan berjalan menelusuri taman yang tak asing untuknya. Karena, di taman ini kenangan indah dan sekaligus kenangan buruk antara dia dan Hani telah terukir.
Dia duduk di bangku tempat dia dan Hani dulu sering duduk, sambil menghela nafas panjang dia menjatuhkan tubuhnya.
Dia meraih earphone yang melingkar di lehernya berniat memakainya. Namun niatnya diurungkan setelah dia mendengar teriakan seorang gadis di belakangnya yang entah kapan tepatnya sudah terduduk di bangku itu.
"Kenapa semua ini terjadi sama gue hah?! Kenapa?!" teriak gadis itu.
"Kaget banget gue! Suara ini kayaknya gak asing deh," batin Barsena.
"Kenapa gue sial banget?!" gadis itu kembali berteriak sambil menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa papah lakuin itu?!"
"Siapa sih berisik banget?!" batin Barsena.
Dia memutar kepalnya untuk melihat siapakah gadis yang berisik di belakangnya itu. Namun, yang terlihat hanya punggungnya saja.
"Gue yakin sering lihat cewek ini," Barsena terus bermonolog dalam hatinya.
__ADS_1
"Udah lah, bodo amat!"
Barsena kembali membalikkan badannya dan kembali meraih earphone yang terlingkar di lehernya hendak memakainya. Namun, lagi-lagi niat itu urung dilakukannya karena gadis di belakangnya malah menangis tersedu-sedu dengan kerasnya. Walaupun terdengar sangat menyedihkan tapi entah kenapa, Barsena malah tersenyum melihat gadis itu membenamkan kepalanya sambil terus terisak.
Barsena tiba-tiba berdiri dan mendekati gadis itu sambil menyodorkan sapu tangan yang selalu dibawanya. Dan kaget bukan main saat Barsena mengetahui gadis itu adalah Salsa. Seorang gadis yang terkenal di sekolahnya, dan yang paling mengagetkan adalah penampilan gadis itu jauh dari kesan yang selalu dia tampilkan saat di sekolah.
.
.
.
"Lo sengaja ngikutin gue buat ledek gue?!"
"Lo kegeeran Salsa!" tegas Barsena.
"Terus lo kenapa bisa ada di tempat yang sama sama gue hah?! Dasar penguntit!" ketus Salsa
"Nih, ambil!"
Barsena memberikan sapu tangan itu lalu kembali duduk di kursinya semula. Salsa menatap kesal Barsena yang terlalu santai saat di dekatnya. Memang Salsa dan Barsena punya kenangan buruk saat Salsa jadi perundung Hani dan Barsena yang membuat Salsa harus menjalani hukuman mengikat toilet yang seharusnya mustahil dia lakukan karena kedudukannya di sekolah.
"Ambil ini gue gak butuh!"
Salsa berdiri sambil melemparkan sapu tangan yang di berikan Barsena tepat ke kepala Barsena. Dia berjalan dengan tergesa dan melupakan lututnya yang terluka.
"Awwwh!" pekik Salsa lalu lunglai ke tanah dengan kedua tangan menutup luka yang kembali mengeluarkan darah.
Barsena terinjak kaget saat mendengar pekikkan Salsa, dia melihat Salsa tengah terduduk lalu dengan sigap Barsena menghampirinya.
"Kenapa lo?" tanya Barsena.
Dia melihat Salsa terus meringis sambil menutupi lututnya dan darah yang keluar mulai terlihat.
Barsena menarik tangan Salsa dan terlihatlah luka yang ditutupinya.
"Bukan urusan lo!" ketus Salsa.
Salsa masih tetap sama dengan sikap angkuh dan gengsinya.
"Oke, lo bangun dulu. Duduk di kursi itu! Tunggu di sini, gue balik lagi!" ucap Barsena lalu dalam sekejap dia sudah tak terlihat lagi di pandangan Salsa.
Barsena berlari entah kemana meninggalkan Salsa yang tengah menahan pedih di lututnya.
***
Sementara itu, Hani masih tengah sibuk membujuk Ichal yang menurutnya tengah merajuk.
"Diaz, ayo dong maafin aku!" Hani terus merengek.
Mereka dalam mobil yang sama tapi sedaro tadi Ichal tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin dia benar-benar kesal karena Hani menyebut nama Barsena di hadapannya.
Ichal menghentikan laju mobilnya, dengan lekat Ichal menatap wajah Hani.
"Han," ucap Ichal lembut.
"Hmmmm," Hani menggumam saat mendengar Ichal akhirnya mengeluarkan suara.
"Kamu tahu kan, kalau aku bener-bener sayang sama kamu. Aku gak mau kamu tinggalin aku!"
Walaupun suara Ichal terdengar sangat lembut saat berbicara dengan Hani, namun jelas sekali kalimat itu benar-benar tegas.
"Aku tahu Diaz, aku juga gak mau kamu tinggalmu aku," ucap Hani.
__ADS_1
Hani meraih tangan Ichal lalu tersenyum dengan lembut. "Kamu janji 'kan gak bakal tunggakan aku?"
Ichal terdiam sejenak.
"Aku gak bisa janji sama kamu Han, karena aku udah tahu waktu aku di sini gak bakal lama lagi," batin Ichal lirih saat mendengar pertanyaan Hani.
Ichal tersenyum menatap Hani. "Iya, aku janji!"
"Tapi aku harap kamu jangan pernah nangis gara-gara aku yang br*ngs*k ini, gak bisa tepati janji aku sama kamu," batin Barsena lirih.
Dalam waktu cukup lama mereka berdua terus saling menatap dan tersenyum satu sama lain tanpa menghiraukan klakson yang sedari tadi terus berbunyi karena mobil yang mereka tumpangi berhenti di jalanan yang sempit dan mobil Ichal menghalangi laju kendaraan lain yang di belakangnya.
"Tapi, kamu gak bakal maju lagi ya?"
Hani tertawa kecil saat terus mendengar suara klakson yang berbunyi.
"Sorry sorry!" pekik Ichal bergegas melajukan kembali mobilnya.
Mobil Ichal berhenti di depan rumahnya, lalu membukakan pintu mobil untuk Hani.
"Ko kita ke sini?" tanya Hani heran.
"Mamah minta kamu datang, ini hari ulang tahunnya," jawab Ichal setengah malas.
"Ko, kamu gak bilang dari tadi sih sebelum ke sini. Tau gitu kan aku bisa siap-siap dulu beli kado buat Tante Tamara," protes Hani saat mendengar jawaban Ichal.
"Aduh gak perlu deh, gak penting juga!" Ichal masuk ke rumahnya meninggalkan Hani yang masih berdiri.
Hani hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat padatnya benar-benar mengesalkan. Dia melangkahkan kakinya memasuki rumah megah itu, dan langsung di sambut oleh Tamara dengan suka cita.
"Hani sayang, udah datang. Ayo ikut tante!" Tamara merangkul Hani dengan lembut, Ichal yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas melihat kehebohan ibunya.
"Selamat ulang tahun Tante, maaf aku baru tahu barusan jadi gak dempet siapin hadiah," Hani tersenyum canggung.
"Gak papa sayang, tante senang deh kamu mau datang ke sini," Tamara bersuka cita dengan kedatangan Hani.
"Ichal sayang, kamu ganti pakaian dulu gin! Kita makan malam di luar ya sama Hani," pinta Tamara.
Ichal yang mendengar itu lagi-lagi hanya mencekik malas.
"Aduh, ngapain sih ribet-ribet 'kan bisa di rumah!" protes Ichal malas.
"Diaz, ko makin sini makin jutek sih sama Tante," Hani menatap tajam Ichal.
Otomatis Ichal berdiri menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
"Hani memang hebat, Ichal yang jutek jadi nurut banget sama kamu," Tamara tergelak.
"Ih, Tante apaan sih. Ngga gitu, ih!" Hani menjerit kecil karena malu.
"Ayo ikut tante!"
Tamara menarik tangan Hani membawanya ke sebuah ruangan penuh dengan baju, make up, sepatu, tas dan perlengkapan wanita lainnya.
Tamara meneliti Hani dari kepala sampai ujung kaki, Hani sedikit canggung saat menyadari sedang di perhatikan.
"Ke-kenapa, Tante?" tanya Hani ragu.
"Kamu tuh cantik, tubuh kamu juga sempurna. Pasti pakai baju apa aja bakal cocok," jawab Tamara.
Dia lalu memilah beberapa baju yang tergantung di lemari.
"Coba kamu pakai ini!" Tamara menyodorkan beberapa dress pada Hani.
__ADS_1
"Ta-tapi Tante,"
"Gak papa ayo coba dulu!"