Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.38 Keluarga Impian Hani?


__ADS_3

Dengan ragu Hani menerima setumpuk dress itu lalu memakainya satu persatu. Tamara benar-benar kagum melihat Hani yang benar-benar cocok dengan semua dress rancangannya.


"Kamu memang luar biasa, Hani sayang!" Tamara menjerit kecil sambil memeluk Hani dengan lembut penuh kasih sayang.


"Oke, malam ini kamu pakai dress itu aja!" Tamara memutuskan.


"Ta-tapi tante, ini terlalu berlebihan buat aku," Hani merasa tidak enak.


Namun Tamara tak mempedulikan, dia malah menyodorkan sepasang sepatu yang indah dan senada dengan dress yang Hani kenakan yang juga rancangannya. Begitupun dengan tas yang senada yang juga rancangannya.


Lalu dengan sedikit memoles wajah Hani dengan make up dan menata rambut hitamnya dengan sederhana namun tetap sangat elegan.


"Selesai!" Tamara kegirangan saat melihat hasil make up yang tipis namun terlihat sangat cocok pada Hani.


Sementara itu Ichal terus mengumpat kesal karena dia menunggu lama di ruang tengah.


"Pada kemana sih cewek-cewek itu?!" umpat Ichal kesal.


"Ichaaaal ... mamah datang," Tamara benar-benar kegirangan dia berlari-lari kecil menghampiri Ichal.


"Aduh mamah apaan sih?! Hani mana?!" Ichal kesal dengan kelakuan ibunya yang tampak kekanak-kanakan padahal usianya sudah tak muda lagi.


"Santai dong, jangan marah-marah mulu. Siap-siap jangan sampai mata kamu copot pas lihat Hani," ucap Tamara.


"Apaan sih, buruan mana Hani?" tanya Ichal tak sabar.


"Tenang dooooong! Hani sayang, keluar sekarang!" teriak Tamara sambil tersenyum.


"Mamah apa-apaan sih, mana Ha--," Ichal terperangah, ucapannya terpotong saat melihat Hani melangkah dengan anggun menghampiri Ichal dan Tamara.


"Cantik banget!" Ichal menggumam sambil terus melihat Hani tanpa berkedip.


"Cantik banget!" Ichal menggumam sambil terus melihat Hani tanpa berkedip.


"Awas loh Chal, mamah udah bilang hati-hati matanya jangan sampai copot," Tamara menggoda anaknya.


"Ehemm!" Hani sengaja berdehem untuk menyadarkan Ichal yang terus menatapnya tanpa berkedip.


"Oke, ayo berangkat!" Ichal berteriak salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang jelas-jelas tidak gatal.


"Santai aja Chal, gak usah grogi gitu," Tamara lagi-lagi menggoda anaknya.


"Papah, papah gimana?" Ichal mengajukan pertanyaan dengan salah tingkah.


Tamara tersenyum melihat tingkah anaknya. "Papan bilang mau langsung ke sana kalau rapatnya udah beres," jawab Tamara.


"Oke, ayo berangkat kalau gitu!" Ichal berjalan lebih dulu karena tak kuasa merasakan panas pada wajahnya.


"Karena Ichal lagi gigi banget, kita pakai sopir aja deh," ucap Tamara.


Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang dan menggugupkan bagi Ichal dan Hani, mereka pun sampai di restoran yang di tuju.


"Kalian ko diem-dieman dari tadi?" Tamara akhirnya membuka suara.


"Ah, gak papa ko Tante," Hani menjawab dengan canggung.


"Ya udah, ayo masuk!"


Tamara jalan terlebih dahulu, sementara Ichal dan Hani masih berdiri mematung karena menjadi sangat canggung.


"Kamu cantik banget malam ini, Han," ucap Ichal lembut.


Pipi Hani merona mendengar pujian Ichal, padahal dari tadi mereka hanya saling terdiam tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Hanya debaran di rongga dadanya yang mengiringi perjalanan dari rumah ke restoran ini.


"Ayo masuk." ajak Hani canggung sambil menyelipkan rambut ke telinganya.

__ADS_1


Ichal menurut dengan canggung pula.


Di sana sudah duduk Tamara dan juga Edi suaminya.


"Kalian ko lama banget masuknya, papah udah laper nih," ucap Edi menggoda.


"Cih, kalau laper ya makan duluan lah. Ngapain nunggu-nunggu," ucap Ichal ketus.


"Ssssh ... Diaz gak boleh gitu!" bisik Hani.


Edi dan Tamara terlihat menyunggingkan senyum melihat tingkah kedua anak muda itu. Mereka pun memulai ritual makan malam ala restoran mewah yang panjang. Sambil sesekali diwarnai dengan sikap ketus Ichal dan juga Hani yang terus menyadarkan Ichal serta kedua orang tua yang hanya bisa tertawa memperhatikan mereka. Makan malam ulang tahun Tamara berlangsung dengan suka cita dan bahagia.


***


Salsa masih menunggu Barsena di bangku taman itu sambil sesekali meniup lukanya yang terasa pedih.


"Sialan Barsena! Bisa-bisanya dia nyuruh-nyuruh gue, dan bisa-bisanya juga gue nurut sama dia. Sial!" umpat Salsa kesal.


"Sekarang mana tuh bocah, gil* kesel banget gue! Mana udah sore lagi bentar lagi gelap, gue pulang aja deh. Palingan tuh bocah juga pulang!"


Salsa berdiri dari duduknya, dan berjalan dengan tertatih meninggalkan taman itu. Tak berapa lama kemudian, Barsena datang dengan membawa kantong kresek warna putih dan mencari-cari keberadaan Salsa yang menghilang dari tempat semula.


"Sal!!!" teriak Barsena memanggil Salsa.


Barsena kembali berlari mencari Salsa.


"Kemana tuh anak, padahal gue udah bilang buat nunggu gue dulu. Gue udah bawa obat luka buat dia," gumam Barsena.


"Yaudah deh, gue balik aja udah sore juga. Bisa-bisanya gue lari-lari gak jelas dan percuma," umpat Barsena kesal.


Barsena menaiki mobilnya dengan perasaan dongkol, entah kenapa dia merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskan.


"Sial! Kenapa gue ngerasa udah ditolak, padahal gue gak ngapa-ngapain juga!"


Dia melajukan mobilnya dengan terus merasakan perasaan antara kesal, marah, kecewa dan entah apalagi bahkan dia pun tidak mengerti kenapa bisa seperti itu.


"Pegel banget! Ini dimana lagi? Kenapa juga lo gak bawa mobil aja sih Salsa, so soan dramatis sih jadinya susah sendiri kan!" ucap Salsa sambil memukul kepalanya sendiri.


Salsa terus berjalan tak tahu arah, sampai akhirnya Salsa melihat ada sekitar 6 orang yang sedang berkumpul di ujung jalan. Salsa merasa senang sekali karena mungkin bisa menanyakan ini dimana.


Dengan bersemangat sambil tetap menahan sakit di lututnya Salsa berjalan menghampiri orang-orang itu. Namun, semakin dekat semakin jelas seperti apa tampang orang-orang yang tenga berkumpul itu.


Semakin dekat Salsa melihat, orang-orang itu seperti preman. Otomatis Salsa menghentikan langkahnya, namun orang-orang itu sudah terlanjur menyadari keberadaan Salsa dan bukan main senangnya mereka.


"Waaah ... ada mangsa nih bos." seorang pria diantara mereka membuka suara sambil tersenyum nakal. Sementara lima orang lainnya mulai ikut tersenyum nakal saat melihat Salsa yang tengah berdiri mematung.


"Bikin merinding aja!" batin Salsa ngeri.


"Dudududu ...," Salsa memutar badannya sambil bersenandung mencoba menenangkan dirinya agar tidak panik.


Salsa melangkahkan kakinya perlahan-lahan agar bisa mendengar pegerakan orang-orang di belakangnya. Namun dengan jelas orang-orang itu juga mengikuti Salsa. Salsa mencoba mempercepat langkahnya, bahkan rasa sakit itu pun kini tak dia rasakan hanya ada ketakutan yang membuncah di hatinya.


Semakin Salsa berjalan cepat, semakin cepat pula orang-orang yang ada di belakangnya mengikuti Salsa. Akhirnya Salsa pun berlari sekuat yang dia bisa, namun langkah gadis itu terlalu pelan dibandingkan dengan langkah orang yang mengikutinya.


"Toloooooong ...!" Salsa berteriak sambil terus berlari sekuat yang dia bisa.


Namun, percuma jalanan ini terlalu sepi. Mungkin ini alasan kenapa jalanan ini sepa, karena ada orang-orang ini berkumpul di sini.


Salsa mulai terengah dan makin ketakutan saat jarak mereka makin pendek.


Breeeeek!


Seseorang diantara orang-orang itu menarik rok seragam pendek Salsa hingga sobek.


"Kyaaaa ... toloooong!!!" Salsa mulai kembali menangis ketakutan.

__ADS_1


Kemudian orang itu menjegal tangan Salsa dan Salsa pun tak bisa lari lagi. Lututnya mengeluarkan banyak darah karena berlari.


Sekarang gadis itu hanya bisa menangis ketakutan diantara ke enam orang yang mengelilinginya dengan senyum nakal.


"Le-lepasin saya, saya mohon." Salsa memohon sambil menangis ketakutan.


"Kagak bisa, Non. Lu udah masuk wilayah kite-kite, jadi lu harus layanin kite-kite. Iya, gak?" seorang pria botak menjawab Salsa.


Dia mulai mencolek dagu Salsa, dan Salsa terus mencoba memberontak dan meminta pertolongan dengan terus berteriak.


"Percuma, Non mau teriak-teriak sampai putus urat tenggorokan juga. Tempat ini sepi dan cuma kite-kite aja yang ada di tempat ini, ayo mulai, Non!" pria botak itu yang kembali berbicara.


Dia menyentuh pipi Salsa membuat Salsa meraung ketakutan. Tubuhnya bergetar ketakutan.


Pria botak itu menyentuh pakaian Salsa dan hendak menariknya.


"Kyaaaaaaa ...!" Salsa menjerit ketakutan.


Diiiiiiiin!!!


Suara klakson mobil memekikan telinga membuat orang-orang itu menoleh ke arah suara klakson itu dan mereka melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya.


Bruk!


Orang-orang itu di tabrak sebelum sempat melarikan diri, dan mobil itu berhenti tepat beberapa senti dari jarak Salsa terduduk dengan kondisi yang berantakan.


Orang yang mengendarai mobil itu keluar, lalu bergegas menghampiri Salsa yang terkulai lemas karena syok.


"Sal, lo gak papa?" suara yang familliar terdengar.


"Barsenaaaa!" Salsa kembali meraung.


"Lo masuk ke mobil, tunggu gue di sana," pinta Barsena.


"Sial jangan nyuruh-nyuruh gue mulu, lo kalau nyuruh gue nunggu pasti lama banget huwaaaaaaa ...!" Salsa kembali meraung sambil memukul pelan Barsena.


Barsena lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Salsa yang entah mengapa terlihat imut menurutnya.


"Kurang ajar! Berani-beraninya mengganggu saat yang utama. Kalian serang orang itu!" pria botak yang sepertinya pemimpin komplotan preman mesum itu memberi perintah.


"Gue janji, kali ini gue gak bakal lama Sal." Barsena lalu membantu Salsa berdiri berniat membantu Salsa masuk ke mobil.


Namun belum sempat Barsena memasuki Salsa ke mobil, komplotan pernah itu telah berhasil memukul punggung Barsena dengan cukup keras.


"Kyaaaaa ...," Salsa menjerit syok melihat Barsena dipukul dengan keras seperti itu.


Barsena langsung tersungkur sementara Salsa juga ikut terjatuh karena tak bisa menahan keseimbangan setelah Barsena yang membantunya berdiri juga tersungkur.


"Barsena!" teriak Salsa.


"Lo tenang aja Sal, gue bukan orang lemah kaya gebetan lo itu!" Barsena terkekeh lalu berdiri dan melayangkan pukulan keras pada orang yang baru saja memukulnya.


"Kyaaaaaa ...," Salsa menjerit melihat Barsena kembali di pukul.


Kini Salsa benar-benar tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya, dia terlalu syok sampai-sampai kakinya tak bisa menopang tubuhnya. Dia benar-benar lemas.


"Tutup mata lo Sal, jangan lihat gue!" perintah Barsena.


"Gue bilang jangan nyuruh-nyuruh gue Barsena! Huwaaaa ...!" protes Salsa.


Namun anehnya, walaupun dia protes dengan apa yang di perintahkan Barsena padanya tapi tetap saja dia menuruti apa kata Barsena. Kini dia terduduk sambil menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.


Kini yang Salsa hanya mendengar suara pukulan yang terus terdengar. Sampai akhirnya hening, tak terdengar suara pukulan lagi. Namun, Salsa sekarang terlalu takut untuk membuka matanya.


Sekarang terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, makin lama makin dekat. Tubuh Salsa kembali bergetar hebat ketakutan, membayangkan hal buruk akan terjadi padanya. Tanpa sadar dia kembali mulai menangis sambil tetap menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Barsena, itu lo kan?" Salsa bertanya di sela isakannya dengan suara bergetar.


Namun tak ada jawaban, langkah kaki itu pun makin mendekat ke arahnya dan tangis ketakutan Salsa pun makin terdengar. Tubuhnya benar-benar lemas sampai-sampai tak kuat menggeser kedua telapak tangan yang menutupi matanya.


__ADS_2