
"Astaga ... Astaga ... Sal elo mesti lihat foto ini! Oh my God si cewek culun aneh itu bener-bener gak dengerin lo soal harus jauh-jauh dari Ichal!" ujar siswi yang selalu bersama Salsa dengan hebohnya sambil menunjukan foto sesuatu di ponselnya.
"OMG hello Chika apaan sih lo? Kalau ngomong tuh yang jelas, udah tahu gue paling males basa basi." ucap Salsa malas.
"Ini lo lihat dulu! Baru komentar!" ucap Chika sambil memberikan ponselnya pada Salsa.
Mata Salsa membulat melihat foto apa yang barusan dilihatnya. "Dasar cewek gil* berani-beraninya dia pura-pura pingsan terus Ichal gendong dia sampe UKS!"
"Ini mah ngajakin perang Sal!" ucap Chika membuat suasana semakin memanas.
"Oke, lo bantuin gue buat balas dendam sama tuh cewek! Berani-beraninya dia pake banyak drama depan Ichal!" Salsa tersenyum menyeringai sambil kedua tangannya dilipat di depan dadanya.
Salsa berjalan beriringan dengan Chika di koridor, terlihat banyak anak laki-laki yang malah memalingkan wajahnya dari Salsa tidak berani untuk menggodanya. Memang Salsa sangat terkenal di sekolah ini, bukan hanya terkenal karena wajahnya yang rupawan, tapi juga terkenal karena kekejamannya yang tidak pandang bulu.
Entah itu kepada siswa laki-laki ataupun perempuan jika Salsa tidak menyukainya maka siap-siap saja kehidupan sekolahnya tidak akan tenang. Melapor? Ah banyak sekali siswa yang melapor ujung-ujungnya hanya berakhir dikeluarkan dari sekolah ini. Ini semua karena ayahnya Salsa adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam sistem sekolahnya. Karena menurut keluarga Salsa dengan uang maka selesailah perkara apapun.
Brakkk...!
Chika membuka pintu UKS dengan kasar, membuat orang yang ada di dalamnya terperanjat karena kaget.
"Jangan berisik di sini banyak orang sakit!" pinta dr.Inne yang melihat Salsa datang dengan wajah penuh dengan kesombongan.
"Emangnya di sekolah ini ada yang berani larang gue ini itu ya?" tanya Salsa dengan angkuhnya.
"Memang di sekolah ini tidak ada yang berani larang kamu, tapi di ruangan ini beda ceritanya." jawab dr.Inne dengan santai sambil memperhatikan ekspresi Salsa yang mulai terlihat kesal.
"Gue ke sini cuma cari Hani. Mana cewek itu?!"
"Hani sedang istirahat, tidak ada yang boleh melihatnya sampai kondisinya memungkinkan untuk dia bertemu orang seperti kamu!" ucap dr.Inne penuh dengan penekanan.
"Anda berani ya sama Salsa? Bisa-bisa anda dikeluarin dari sini!" ucap Chika.
"Mengeluarkan saya? Silahkan! Karena saya tidak sedikitpun terikat kontrak dengan keluarga nona-nona sekalian! Saya bertugas di sini karena saya di tugaskan oleh rumah sakit bukan karena sekolah ini!" ucap dr.Inne santai sambil menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya.
Salsa yang mendengar itu begitu kesal. Dia keluar dengan membanting pintu dengan kerasnya. dr.Inne yang melihatnya hanya tersenyum puas.
Hani yang dari tadi terdiam diantara bilik UKS mendengar semuanya. Semula badanya bergetar hebat saat mendengar Salsa mencari dirinya. Dia tahu pasti apa yang akan Salsa lakukan padanya, dia juga tahu pasti apa penyebab Salsa mencarinya tidak lain adalah karena Ichal telah menggendongnya.
"Mat* aku! Pasti Salsa bakal ganggu aku abis-abisan nih!" Hani menggelengkan kepalanya.
"Pasti kamu takut sekali ya dengan anak itu?" tanya dr.Inne pada Hani.
"Sebenarnya bukan takut sama Salsa nya dok, tapi saya takut sama apa yang bakal dilakukan Salsa untuk mengganggu saya." ungkap Hani lirih.
Dokter Inne hanya mengelus pundak Hani dengan lembut mencoba menenangkan Hani yang tampak khawatir.
"Saya boleh keluar sekarang dok?" tanya Hani.
"Kalau kamu sudah merasa baik, silahkan Hani. Tapi ingat pesan saya!"
__ADS_1
"Baik dok."
***
Aku berjalan dengan was-was takut kalau Salsa tiba-tiba datang dan menerkamku. Sungguh menurutku, Salsa terasa lebih menakutkan dari pada Andin. Padahal mereka sama-sama tukang bully tapi Salsa rasanya lebih menakutkan. Kenyataan bahwa Salsa bisa membuat orang menderita tanpa bisa melapor adalah hal yang paling menakutkan.
Kepalaku masih terasa sakit, sungguh hari ini terasa sangat sial untukku. Bangun kesiangan, harus lari-lari sampai lupa sarapan. Telat masuk sehingga pak Akbar menghukumku berdiri di tengah lapangan sambil menghormat bendera.
Hal yang paling membuat sial adalah, kenyataan bahwa aku dihukum bersama cowok mesum yang punya banyak penggemar. Aku takut kalau dekat-dekat dengan dia malah membuat kehidupanku di sekolah ini makin sulit.
Apalagi ternyata tadi aku tidak sengaja pingsan dan Ichal yang menggendongku sampai ke UKS. Gil* pasti penggemarnya yang tahu bakal bikin aku gak bisa nafas kali ini.
***
"Sumpah ya, itu dokter siapa sih? Sok banget!" teriak Salsa kesal.
"Makin gue inget omongannya, makin enek gue sama itu orang!"
Chika hanya duduk sambil menyilangkan kakinya, sambil sesekali mengorek kupingnya yang gatal dengan jari kelingkingnya. Sesekali dia menguap sambil terus memperhatikan Salsa yang mondar-mandir di depannya dengan terus mengomel.
"Udah Sal, nanti kamu bales dendam kan bihaaa!" ucap Chika sambil menguap.
"Bener juga sih! Gue kan beda sama anak-anak lain!" ucap Salsa sambil tersenyum angkuh. Chika hanya mengacungkan jempolnya.
Sementara itu Hani yang tidak sengaja mendengar percakapan Salsa dengan Chika, hanya terdiam menutup mulutnya mencoba menahan nafas. Takut kalau mereka menyadari kehadiran Hani.
"Duarrr!!!" tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hani untuk mengejutkan Hani. Sontak Hani terperanjat hampir berteriak dengan keras.
"Bintan." ucap Hani bergetar.
"Haha, kamu ngapain Han? Bukannya kamu sakit ya? Kok malah di luar bukannya di UKS dulu?" tanya Bintan sambil tertawa melihat ekspresi kaget Hani.
"Syuuuuut! Jangan keras-keras ngomongnya nanti mereka denger!" bisik Hani sambil menunjuk Salsa dan Chika yang kali ini sudah berjalan menjauh.
"Oh, Salsa. Jadi dari tadi kamu ngumpet dari Salsa?" tanya Bintan lalu tertawa.
Hani yang melihat Bintan tertawa hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena malu.
"Kalau kamu udah baikan, ya udah ayo ke kelas!" ajak Bintan. Hani mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Bintan.
Sesampainya di kelas, Hani merasakan tatapan orang-orang terasa lebih tajam dari sebelumnya. Sebenarnya bukan orang-orang di kelasnya saja, tapi selama Hani berjalan di koridor menuju kelasnya tatapan orang-orang terasa sangat tajam dan menusuk.
"Pasti ini gara-gara aku digendong Ichal deh! Eh tapi kan waktu itu kemungkinan semua orang ada di kelas, gak mungkin ada yang lihat langsung." batin Hani heran.
"Pasti mereka udah lihat foto yang lagi rame diseluruh sekolah ini." bisik Bintan.
"Hah? Foto?!" tanya Hani tidak mengerti.
"Iya, foto ini Han!" Bintan menyodorkan ponsel miliknya dan melihat foto yang dikirim di grup kelas oleh Salsa.
__ADS_1
Di foto itu terlihat Hani yang sedang digendong depan oleh Ichal dengan wajah Ichal yang terlihat panik. Mata Hani membulat melihat itu, dia bahkan tidak sadar saat itu terjadi.
Badan Hani bergetar, apalagi melihat ekspresi Salsa yang mengintimidasi membuat dia rasanya semakin tak sanggup untuk sekedar berdiri. Apalagi Hani sadar bahwa mungkin foto itu juga sudah tersebar ke seluruh orang di sekolah ini. Mungkin para siswi penggemar Ichal akan segera menghabisinya hari ini.
"Tamat sudah riwayatku!" wajah Hani memucat seiring dengan langkah Salsa yang makin mendekat ke arahnya.
"Salsa? Kapan Salsa bisa ngambil foto itu?" batin Hani terus bertanya-tanya. Dia sangat khawatir dan ketakutan dengan apa yang akan menimpanya hari ini.
Bukan cuma Salsa tapi semua siswi yang terprovokasi dengan foto itu juga sangat membuat Hani khawatir. Ditambah lagi dia belum melihat batang hidung Ichal sampai sekarang.
"Jadi ini guys cewek yang udah bikin satu sekolah heboh!" ucap Salsa sambil terus mendekat pada Hani.
Hani mundur selangkah demi selangkah, dengan wajah pucat pasi antara khawatir dengan apa yang akan diperbuat Salsa dan yang lainnya dan juga karena kepalanya yang masih terasa pusing.
"Asal elo tahu ya? Ichal itu gak boleh di deketin sama siapapun kecuali gue!" bentak Salsa membuat Hani tersentak mengerjapkan matanya.
Hani terus mundur seiring dengan Salsa yang dengan angkuhnya terus maju memojokkan Hani.
Bugh!
Hani menabrak dada bidang seseorang di belakangnya, hal ini membuat Hani kembali tersentak. Perlahan Hani menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang barusan dia tabrak.
"Ichal." gumam Hani.
"Ikut gue!" Ichal menarik tangan Hani dan membawanya meninggalkan kelas.
Salsa berdecak melihat Ichal yang membawa Hani pergi.
"Ini perasaan gue doang, atau emang si Hani punya hubungan spesial sama Ichal?"
"Iya sih, kayaknya beneran pacaran soalnya gue sering lihat mereka barengan."
"Kayaknya enggak deh, orang tiap bareng pasti berantem."
Mendadak anak-anak di kelas jadi membicarakan dan mengira-ngira apa yang terjadi antara Ichal dan Hani. Salsa yang mendengar itu bertambah kesal.
"DIAM! Lo semua mau di keluarin hah? Yang boleh dan paling pantes sama Ichal tuh cuma gue!" bentak Salsa yang sudah tidak kuat menahan amarahnya.
Sementara itu Hani terus mengikuti Ichal yang menarik tangannya.
"Aduuuh ... mau kemana sih? Please aku gak mau orang-orang lihat kamu deket sama aku. Yang bakal menderita di sini tuh cuma aku!" teriak Hani kesal, sambil melepaskan genggaman tangan Ichal dengan kasar.
"Sorry!" gumam Ichal, tapi masih terdengar oleh Hani.
"Ayo ikut gue dulu Han!" ucap Ichal lembut, tidak seperti biasanya. Bahkan ini pertama kalinya Hani mendengar Ichal menyebut namanya.
Seolah tersihir, Hani melangkah mendekati Ichal ingin mengikuti kemana Ichal akan membawanya.
Tepp!
__ADS_1
Tangan sebelah kiri Hani digenggam oleh seseorang, membuat Hani tertahan di tengah-tengah karena tangan kanannya sudah di genggam oleh Ichal.
Hani memutar kepalanya melihat ternyata Barsena yang menahannya untuk pergi.