
Ichal memastikan Hani sudah tertidur, dia tidak mau Hani yang tidak bisa diam itu terus berbicara ini itu dan bertingkah so kuat di depannya.
"Ternyata lu cuma bisa diem kalo tidur ya? Dasar aneh!" gumam Ichal sembari menatap wajah Hani yang terlelap.
Dia lalu berbaring di sofa tempat menunggu pasien, dia menatap langit-langit kamar dengan seksama sambil menunggu rasa kantuknya yang tak kunjung datang. Dia melirik Hani yang tertidur dengan pulas di ranjang.
"Lu itu cewek paling aneh yang pernah gue kenal. Tapi kenapa setiap gue lihat lu, gue selalu ngerasa tenang?" Batin Ichal.
Ichal merogoh ponsel di saku celananya, dia melihat jam menunjukan pukul 02:15 malam. Ichal mencoba memejamkan mata untuk mengundang rasa kantuknya, perlahan dia mulai tertidur.
"Chal, Barsena gak mau sama aku ... hiksss!"
"Aku mau m*ti aja Chal!"
"Barsena mau aku m*ti aja!"
"Dadaaah Ichal!"
"TIDAK LARAS JANGAAAN!!!" Ichal berteriak sambil membuka matanya dan bangkit dari posisi berbaringnya.
Nafasnya memburu, lagi-lagi mimpi itu datang menghampiri tidur Ichal. Ichal masih terengah-engah mengatur nafasnya, dia mengusap peluh yang menetes di pelipisnya dengan tangan kanan.
Perlahan Ichal mulai tersadar ada sesuatu yang hangat menggenggam tangannya, dia melirik perlahan ternyata Hani sedang menggenggam tangan kiri Ichal dengan gemetar.
"Ka-kamu kenapa? Kamu gak papa 'kan?" wajah Hani terlihat sangat cemas setelah melihat Ichal seperti itu.
"Gue gak papa!" jawab Ichal datar. Dia melirik posisi duduk Hani yang mengkhawatirkan.
Posisi Hani sekarang terlihat seperti suster ngesot, dia terduduk di lantai sambil menggenggam tangan kiri Ichal.
Beberapa saat yang lalu Hani terbangun karena mendengar Ichal seperti sesak nafas dan terisak padahal dia melihat mata Ichal tertutup. Hani berpikir mungkin Ichal mengalami mimpi buruk lalu dia tanpa pikir panjang mencoba turun dari ranjang.
"Arghhh!" Hani mengerang saat merasakan kakinya yang menyentuh lantai terasa perih serta jarum infus yang menusuk tangannya.
Tanpa pikir panjang dia menarik selang infus itu dari tangannya, lalu mencoba berjalan menghampiri Ichal tapi rasa sakit di kakinya sungguh menghambat langkah Hani padahal jarak antara ranjang dan sofa itu tidak terlalu jauh.
Hani menjatuhkan tubuhnya dan mengesot untuk menghampiri Ichal. Hani menggenggam tangan kiri Ichal dengan gemetar karena cemas melihat tubuh Ichal yang bergetar serta peluh yang mengalir di wajahnya. Perlahan Hani menghapus peluh yang mengalir di pelipis Ichal dan mengusap kepala Ichal dengan lembut.
Cukup lama Hani mengguncangkan tubuh Ichal mencoba membangunkan karena Ichal terus terisak dalam tidurnya membuat Hani makin cemas dibuatnya, tapi Ichal tetap tidak terbangun.
Beberapa saat kemudian Ichal terbangun sambil berteriak membuat Hani kaget sekaligus lega karena Ichal sudah terbangun.
***
"Lu ngapain? Astaga!" pekik Ichal saat sudah benar-benar sadar dengan kondisi Hani yang terduduk di bawah sofa.
Ichal lalu melihat selang infus yang tergolek di atas ranjang.
"Lu, jangan-jangan copot selang infus lu?" mata Ichal membulat setelah sadar Hani melepas selang Infusnya.
__ADS_1
Sementara Hani masih tertunduk dengan posisi yang sama. Ichal berdiri dan mengangkat tubuh Hani membuat Hani sedikit meringis.
Dalam pangkuan Ichal, Hani menatap wajah Ichal lamat-lamat. Wajah orang yang selalu terlihat kuat dan dingin, ternyata dia menyimpan luka yang sangat besar di dalam hatinya, ini membuat Hani seketika merasakan sesak di rongga dadanya hingga tak sadar Hani terisak di dalam pangkuan Ichal.
Gerakan Ichal terhenti saat mendengar Hani menangis dalam pangkuannya. Ichal tidak langsung membaringkan Hani kembali, dia malah tetap membiarkan Hani terisak dalam pangkuannya. Tanpa sadar Ichal meneteskan air mata mendengar tangisan pilu Hani.
Setelah isakan Hani tak terdengar lagi, Ichal langsung membaringkan Hani di ranjang dan kembali memasang selimutnya hingga ke leher. Ichal sekilas melihat tatapan mata penuh kesedihan dari Hani.
Ichal memutar tubuhnya hendak kembali ke sofa.
Grepp!
Hani kembali duduk dan menyambar tangan Ichal, mencoba menahan Ichal.
"Kenapa?" tanya Ichal.
"Ka-kamu, pasti sakit 'kan? Kamu pasti kesulitan 'kan? Kamu pasti menderita 'kan? Kamu pasti cuma pura-pura kuat 'kan? Hiksss," cecar Hani dengan air mata yang tanpa sadar terus mengalir di pipinya.
Ichal yang mendengar itu hanya menatap Hani dengan pilu. Dia bisa merasakan genggaman tangan Hani yang bergetar.
"Kehilangan orang yang berarti bagi hidup kita pasti itu meninggalkan rasa sakit yang teramat sangat di dalam sini!" ucap Hani sambil menepuk-nepuk dadanya dengan kuat, perlahan Isakan Hani berubah menjadi erangan pilu yang menyayat hati.
Ichal tak kuasa mengeluarkan suara, tenggorokannya tercekat teringat seseorang yang berarti bagi dirinya yang sekarang sudah tiada, ditambah lagi dia melihat Hani yang menangis dengan pilu di hadapannya sambil tetap menggenggam tangannya dengan gemetar.
Ichal tak kuasa melihat itu, jika Ichal harus jujur dia merasakan sakit saat melihat Hani menangis seperti itu. Dengan cepat Ichal memeluk Hani dengan erat, wajah Hani di benamkan di dadanya yang bidang. Sedangkan wajah Ichal dibenamkan di pundak Hani, Ichal tanpa sadar menangis dan air mata yang keluar itu mengalir membasahi pundak Hani.
Sementara Hani terus terisak di dalam pelukannya. Beberapa saat kemudian Ichal merasakan Hani mulai tenang, dia mencoba mengurai pelukannya ternyata Hani sudah terlelap dalam pelukannya. Dengan perlahan dan hati-hati Ichal menidurkan Hani kembali.
***
Pagi hari yang cerah, Barsena memacu mobilnya menuju sekolah. Walaupun matanya fokus melihat jalanan, tetapi pikirannya melayang memikirkan kondisi Hani yang tidak ada kabar dari Ichal.
"Han, kamu baik-baik aja 'kan?" gumam Barsena gelisah.
Mobil Barsena terparkir berbarengan dengan mobil sport mewah warna putih yang ternyata milik Salsa karena terlihat Salsa keluar dari mobil itu dengan elegant. Barsena bergegas keluar dari mobilnya dan menghampiri Salsa yang sedang menutup pintu mobilnya.
Grebb!
Barsena menggenggam tangan Salsa dengan kasar, membuat Salsa mengerang.
"Awww! Lo kenapa sih? Pagi-pagi udah kasar aja sama gue!" pekik Salsa.
"Hari ini lo bakal jalanin hukuman dari guru BK!" ujar Barsena dingin, sambil menyeret Salsa.
"Aww! Pelan-pelan sakit beg*!" hardik Salsa.
"Gak bakal ada yang berani hukum gue di sini Barsena!" pekik Salsa kesal karena terus diseret di depan siswa yang menatapnya.
Barsena melepaskan tangan Salsa di depan pintu toilet.
__ADS_1
"Ngapain kita ke sini?" Salsa memutar bola matanya.
"Apa lagi kalau bukan jalanin hukuman lo! Lo gak inget kemaren guru BK bilang hukuman lo sama temen lo itu bersihin toilet yang ada di sekolah ini!" ujar Barsena.
"Lo gil*? Bersihin toilet emangnya gue babu!" jerit Salsa.
"Dari dulu mungkin gak ada yang berani lawan lo Sal, tapi gue beda sama mereka. Gue bakal lakuin apa aja buat orang yang bikin orang-orang menderita terutama Hani!"
"Hah? Lo berani sama gue? Lo mau gue kelua-"
"Apa? Lo mau bilang keluarin gue dari sekolah ini? Silahkan Nona Salsabila Angelina Gunawan yang terhormat! Saya tidak takut!" tungkas Barsena penuh dengan penekanan membuat Salsa terdiam dengan wajah menahan amarah.
"Jadi silahkan mulai pekerjaan anda Nona, sementara saya mengawasi anda dari sini!" Barsena tersenyum puas, melihat Salsa yang tidak berkutik.
"Aaaarrrggghh ... dasar tikus gak guna!" umpat Salsa sambil mencubit ujung gagang lap seolah jijik dengan benda itu.
Barsena terus tersenyum puas mendengar Salsa yang terus menjerit, mengumpat, dan mengeluh karena merasa jijik.
"Si Chika juga dimana sih? Gil* masa gue sendiri yang jadi babu disini!" Salsa mengeluh sambil menghentakkan kakinya di lantai toilet yang basah.
Sementara itu, Chika yang seharusnya dihukum bersama Salsa malah tengah asik menyantap lontong sayur di kantin. Sesekali dia tertawa sendiri membayangkan Salsa membersihkan toilet sambil diawasi Barsena. Chika sengaja bersembunyi dari Barsena dan Salsa agar tidak perlu membersihkan toilet sekolah Ini.
"Chikaaaaaaaaaaaaa!!!" jerit Salsa di dalam toilet, sekarang dia mulai frustrasi.
Barsena terkikik geli melihat Salsa yang manja itu sedang memegang lap kotor yang harus diperas dengan tangannya yang halus itu.
***
Hani perlahan membuka mata karena silau oleh cahaya matahari yang masuk melalui sela tirai kamar pasien itu. Dia mengerjapkan mata dan mengingat kejadian semalam untuk memastikan itu mimpi atau kenyataan.
Dia melihat Ichal yang tertidur di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya terlihat sangat bersinar karena sinar matahari yang masuk menyoroti wajah tampannya.
Wajah Hani merona melihat pemandangan indah itu.
"Tuhan! Aku baru sadar kalau Ichal ternyata beneran tampan." gumam Hani sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Hani baru sadar jika kejadian semalam ternyata bukan mimpi, dia hampir frustrasi karena menyesal telah melakukan hal gila itu.
"Ya Tuhan! Aku mikir apa sampai bisa kejadian gitu? Di peluk Ichal? Kyaaaa!" Batin Hani menjerit ketika mengingat kejadian semalam yang sungguh dramatis.
Hani melihat Ichal mengerjapkan matanya, seperti hendak bangun. Tiba-tiba Hani kembali menutup mata pura-pura masih tertidur, entah kenapa dia jadi malu jika harus menatap Ichal karena masalah semalam.
Ichal membuka matanya, dia melirik Hani yang masih tertidur pulas.
Deghh!
Ichal kembali mengingat kejadian dramatis tadi malam.
"Gil* gue mikir apa b*ngs*t! Sampai semalem nangis depan dia!" Ichal mengumpat dalam hati sambil menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Malu banget b*ngs*t!" umpat Ichal dalam hati.
Ichal terduduk dengan kedua telapak tangan masih menutupi wajah merahnya. Begitu juga Hani yang berpura-pura tertidur dengan wajah yang juga memerah.