
Hani benar-benar cemas, dia bahkan tidak bisa duduk tenang di depan pintu ruang IGD. Dia terus berdoa dan mondar-mandir sambil sesekali menghapus air matanya yang tak terasa terus mengalir.
"Han, kamu tenang! Ayo duduk dulu, Ichal pasti baik-baik aja!" ucap Barsena.
Brukk!
Hani menjatuhkan tubuhnya yang sangat lemas ke lantai, dia meraung tak kuasa menahan air matanya yang terus menerus mengalir.
Barsena yang awalnya duduk di kursi, bergegas menghampiri Hani yang terduduk sambil menangis.
"Tenang Han, Ichal pasti baik-baik aja!" ucap Barsena memenangkan Hani lalu memeluknya.
"Ini salah aku, dia kaya gini karena aku terlalu ikut campur tentang hidupnya," raung Hani.
Barsena terus memeluk Hani dan sesekali mengelus rambutnya dengan lembut. Barsena 'pun merasakan sedih saat melihat Hani yang seperti ini, terlebih lagi saat ini Ichal sahabatnya dulu sedang dalam kondisi kritis.
"Hani, gimana keadaan Ichal? Ichal gak papa kan?" tanya Tamara yang baru datang dengan tergesa-gesa.
Hani hanya terisak saat ditanya oleh Tamara.
"Tenang Mah, Ichal pasti baik-baik aja dia 'kan anak yang kuat." ucap Edi ayahnya Ichal sambil mengelus punggung Tamara.
"Tapi, Ichal udah lama gak kaya gini Pah! Mamah cemas sekali!" pekik Tamara lalu tangisnya pun pecah dipelukkan Edi suaminya.
Krieeett!
Pintu ruang IGD terbuka, terlihat seorang dokter keluar sambil melepas stetoskop yang ada di telinganya dan mengalungkan di lehernya.
"Doker Rizky! Bagaimana kondisi Ichal?" Tamara langsung menyambar tangan dokter itu dan menanyakan kondisi Ichal sambil terisak.
Dokter itu tersenyum tenang, dan melihat satu persatu orang yang ada di depannya.
"Ichal baik-baik saja bu Tamara," ucap dokter itu.
Sedikit kelegaan tergambar di wajah Hani yang masih terduduk di lantai dalam pelukan Barsena.
"Apakah saya boleh menemui Ichal?" tanya Edi yang sedari tadi hanya terdiam.
"Tentu silahkan, kalau begitu saya permisi Pak Edi dan Bu Tamara." ucap dokter Rizky sambil melangkah meninggalkan orang-orang itu.
Tamara dan Edi memasuki ruangan itu, dia melihat Ichal masih terbaring.
"Chal, kenapa kamu bisa sampai kaya gini? Kamu gak minum obat kamu?" cecar Edi.
Ichal hanya mendengus mendengar pertanyaan ayahnya itu.
"Pah, sabar dong! Ichal baru aja sadar," ucap Tamara.
"Chal, papah tuh khawatir sama kamu. Kalau kamu gak mau denger nasihat mamah sama papah, coba lah kamu turutin apa kata dokter Rizky!" ujar Edi dengan wajah cemas.
"Saya mengerti!" jawab Ichal datar, tanpa melihat kedua orangtuanya.
"Kalau kalian gak ada perlu apa-apa lagi, mending kalian pulang aja! Saya gak mau denger kalian sampai berantem di sini! Urus aja rapat kalian yang selalu mendesak itu!" ketus Ichal.
"Chal, sampai kapan kamu mau dingin seperti ini sama papah dan mamah?" lirih Edi.
"Pah, udah ayo kita keluar aja! Biarin Ichal istirahat," ajak Tamara sambil menarik tangan Edi keluar.
Ichal menghela nafas melihat kedua orang tuanya keluar dari ruangan itu.
"Hani," gumam Ichal saat teringat dirinya tadi bersama Hani.
"Dimana Hani?" gumam Ichal.
"Aku di sini Chal." lirih Hani sambil berjalan mendekati Ichal.
Ichal tersentak dan berbalik melihat Hani yang berjalan dari arah pintu, Ichal melihat mata Hani yang sembab.
"Lu nangis? Kenapa?" tanya Ichal cemas.
Hani malah kembali menangis saat mendengar pertanyaan Ichal, dia merasa sangat bersalah karena bertanya ini itu pada Ichal.
"Maafin aku," isak Hani.
__ADS_1
Ichal menatap Hani heran. "Kenapa minta maaf sama gue?"
"Aku ... hiksss ... udah bikin kamu gini ... hiksss!" Hani terus terisak.
"Gue gak papa! Gue cuma kecapean aja!" tegas Ichal.
Tapi Hani malah terus menundukan kepalanya tak berani menatap Ichal, dan terus terisak.
Ichal bangkit dan memeluk Hani yang terus terisak karena merasa bersalah.
"Maafin aku Chal," Hani terus bergumam.
Barsena melihat adegan itu di ambang pintu, dia hanya tertegun melihat itu. Seulas senyuman penuh arti terlukis di wajahnya, lalu dia berbalik dan meninggalkan rumah sakit.
***
Kini Ichal sudah berada di rumahnya, dia sangat malas jika harus berdiam di rumah sakit dalam waktu yang lama. Walaupun Hani dan kedua orang tuanya terus membujuk Ichal agar mau di rawat, tetap saja Ichal yang keras kepala menolak itu.
"Aku pulang dulu ya Chal, makasih buat hari ini dan kemaren-kemaren kamu udah mau rawat aku. Sama maaf juga aku udah bikin kamu kaya gini, pokonya aku gak bakal nanya-nanya lagi kecuali kamu yang cerita sendiri. Oh, iya makasih juga buat Tante, aku pulang dulu!" pamit Hani saat mengantar Ichal sampai ke kamarnya.
Tep!
Ichal menahan tangan Hani yang hendak keluar.
"Kenapa Chal?" tanya Hani heran.
"Ini udah malem, lu nginep di sini semalem lagi aja!" usul Ichal.
"Gak bisa Chal, aku gak enak." ucap Hani sambil melepaskan genggaman tangan Ichal dengan lembut.
"Kalau gitu gue anterin lu!" ujar Ichal lalu bangkit dari posisi berbaringnya.
"Jangan Chal, kamu istirahat aja!" tolak Hani.
Hani langsung keluar dari kamar Ichal dan menutup pintunya perlahan.
"Hani? Tante bisa bicara sama kamu sebentar?" tanya Tamara saat melihat Hani menuruni anak tangga.
"Tante berbicara seperti ini karena kamu mungkin dekat dengan Ichal, tante mohon kamu bisa mengawasi kegiatan Ichal di sekolah. Karena tante khawatir ini pertama kalinya Ichal mengalami serangan berbahaya sepeti ini setelah hampir lima bulan ini baik-baik saja," jelas Tamara.
"Kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Ichal?" tanya Hani.
"Ah, kalau soal itu tante gak bisa bilang sama kamu. Mungkin Ichal tidak akan suka jika ada yang tahu tentang ini, maaf ya Hani." jawab Tamara sambil mengelus punggung Hani.
"Kalau begitu saya permisi pulang Tante," pamit Hani.
"Loh, kamu ga nginep lagi? Sepertinya kondisi kamu juga sedang kurang baik, jadi lebih baik kamu juga istirahat di sini saja!" pinta Tamara.
"Ah, tidak usah Tante saya baik-baik aja." tolak Hani lembut lalu langsung keluar dari rumah mewah Ichal.
***
Kini Hani sudah berada di rumahnya, sekarang pikiran Hani benar-benar kacau. Terlalu banyak pertanyaan di benak Hani, yang membuat pikirannya bisa sekacau ini.
Pertanyaan tentang kebenaran surat yang dia temukan di kamar neneknya, tentang Ichal, tentang Barsena dan semua yang membuat dia penasaran perlahan telah mengacaukan pikirannya.
"Aku gak tahu alasan aku hidup untuk apa." gumam Hani lalu menutup wajahnya dengan selimut.
"Bahkan mungkin aku adalah anak yang dibuang orang tua aku," Hani terus bergumam di bawah selimut.
"Terus Ichal kenapa bisa sampai seperti itu pas aku tanya soal Laras sama Barsena?"
"Kenapa Tante Tamara malah minta tolong aku buat awasi Ichal?" gumam Hani.
"Sebenernya aku ada di dunia ini buat apa sih?!" raung Hani frustrasi.
Tanpa sadar Hani terisak di bawah selimutnya, dia terus meraung seorang diri tanpa ada yang bisa menenangkannya.
"Nenek!" gumam Hani di sela isakannya.
Setelah isakan yang memilukan dan air mata yang membasahi pipi Hani, akhirnya Hani tertidur.
Sementara itu Ichal tak bisa memejamkan matanya, di kepalanya terus dipenuhi oleh Hani. Segala tentang Hani terus terputar di otaknya, sekilas dia jadi teringat dengan pertanyaan Andri. Lagi-lagi Ichal masih bingung dengan perasaannya pada Hani.
__ADS_1
Di tempat lain Barsena sedang menatap langit malam dari balkon rumahnya. Sesekali dia mengusap luka memar di wajahnya, dari kondisinya sepertinya Barsena baru saja mendapat pukulan dari ayahnya. Seperti halnya Hani dan Ichal, sepertinya Barsena juga memiliki beban pikiran yang juga berat.
Kira adik Barsena hanya bisa menatap kakaknya dengan rasa cemas, pasalnya Barsena sangat menderita karena melindungi dirinya.
"Maafin Kira yang lemah ini Kak," batin Kira saat menatap punggung Barsena yang tengah menatap langit malam.
***
Pagi hari yang cerah, matahari masuk di sela tirai. Hani terbangun dengan malas saat mendengar bunyi bel rumah yang tidak berhenti dari tadi.
"Tuhaaan! Kenapa harus ada tamu di hari sabtu tercinta ini sih?!" batin Hani kesal.
Dia berjalan menuruni anak tangga seolah sambil menutup mata karena terlalu malas, bahkan dengan kondisi rambut dan pakaian yang masih bernatakan. Dia membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Astaga!" pekik Hani sambil kembali menutup pintu dengan kasar.
"Ya Tuhan, kenapa pagi-pagi Ichal ke sini? Mana aku lagi berantakan gini," jerit Hani dalam hati.
Ingin rasanya Hani berteriak sekencang-kencangnya karena terlalu malu.
"Chal ngapain sih pagi-pagi ke sini? Ini kan hari libur. Emangnya kamu gak mau istirahat di rumah gitu?!" teriak Hani dari balik pintu yang tertutup.
"Gue mau ngajak lu jalan," jawab Ichal datar.
"Hah? Jalan? Ko dadakan banget sih? Aku kan harus siap-siap," pekik Hani.
"Gak usah dandan lah, gitu aja! Ayo jalan," ujar Ichal.
"Hah? Udah gil* ya? Masa aku keluar kaya gini!"
"Besok aja deh, aku mau istirahat," sambung Hani.
"Katanya lu mau tahu soal gue, kalau lu gak mau ya udah gue balik." ucap Ichal datar lalu berbalik.
"E-eh, oke bentar aku siap-siap dulu! Gak lama ko kasih aku waktu bentaran doang ko," tahan Hani sambil menyembulkan kepala di pintu.
Ichal kembali memutar badannya dan melihat Hani. "Oke gue tunggu di sini." ucap Ichal sambil duduk di kursi yang ada di luar rumah Hani.
Hani bergegas mandi dan bersiap-siap. Hari ini dia memakai rok jeans sedikit di atas lutut, dengan kaus berwarna putih dan sepatu berwarna putih juga seolah ini adalah gaya kesukaan Hani. Namun, kali ini Hani sengaja menggerai rambutnya tidak seperti biasanya hari ini Hani ingin tampil beda.
Hani bercermin sebentar sambil merapikan poni tipisnya dan menyampirkan tasnya lalu kembali turun dan menghampiri Ichal yang masih setia menunggu di depan rumahnya.
"Ayo jalan!" ajak Hani saat sudah berada di samping Ichal.
Sementara Ichal masih termenung tak mendengar ajakan Hani, Hani mendengus kesal karena Ichal tak menghiraukan ajakannya.
"Ichal ayo jalan!" pekik Hani.
Ichal terlonjak kaget saat mendengar pekikan Hani.
"Astaga! Sorry barusan gue agak melam--" ucapan Ichal terpotong saat melihat tampilan Hani di depannya.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Ichal berdebar dengan kencangnya, dan wajahnya terasa memanas saat melihat Hani.
"Gil*! Gue kenapa b*ngs*t!" umpat Ichal dalam hati saat tak bisa mengontrol detak jantungnya.
"Kenapa Chal? Masih sakit?" tanya Hani polos, sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Ichal karena wajah Ichal terlihat sangat merah.
Hal ini sontak membuat wajah Ichal malah semakin memanas dan merah, serta jantungnya yang semakin berdebar.
"Enggak ah, gak panas! Tapi ko merah gini, Kamu kenapa?" tanya Hani sambil membandingkan suhu Ichal dan suhu dirinya dengan menempelkan punggung tangan satunya lagi di dahinya.
"Aduh! Ayo berangkat! Lama banget sih, pake dandan segala!" amuk Ichal karena salah tingkah sambil bergegas menaiki mobilnya meninggalkan Hani.
"Kamu tuh marah-marah aja kerjaannya!" keluh Hani.
"Kita mau kemana sih?" tanya Hani saat sudah menaiki mobil Ichal.
Ichal melirik Hani, lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Hani membuat Hani kaget dan berdebar di dadanya.
"Ke-kenapa Chal?" tanya Hani gugup saat wajah Ichal makin dekat ke wajahnya.
__ADS_1