
"Barsena, lo jangan bercanda sama gue!" suara Salsa terdengar makin lemah.
Suara langkah itu pun berhenti tepat di depan Salsa.
"Kyaaaaaa ...!" Salsa menjerit saat tangannya disentuh orang yang entah siapa itu.
"Sal, ini gue!" teriak Barsena.
"Hiksss ... hiksss ... kenapa ... hiksss ...," Salsa menangis sejadi-jadinya dengan terkulai lemas.
"Gue dari tadi ngomong sama lo, tapi lo malah kaya orang ga sadar," ungkap Barsena.
Tapi Salsa sudah tak kuasa berbicara atau mengomel lagi pada Barsena. Kini dia hanya bisa menangis sejadi-jadinya, antara ketakutan yang masih terasa dan rasa tenang karena dia dan pemuda di depannya bisa selamat dari sekumpulan orang itu.
"Sal, udah lo jangan nangis lagi. Sorry kalau gue telat datang, sorry gue bikin lo takut," ucap Barsena merasa bersalah.
Namun, tangisan Salsa malah semakin menjadi dia terus meraung. Barsena tiba-tiba mendekap Salsa dipelukannya untuk menenangkan Salsa. Cukup lama mereka diposisi itu, hingga perlahan-lahan tangisan Salsa mulai berkurang.
Bugh!
Salsa tiba-tiba memukul dada Barsena.
"Aww, sakit Sal! Lo lupa tadi gue abis dipukuli mereka," Barsena meringis sambil mengelus dadanya yang mungkin mengalalami memar.
"Siapa suruh lo peluk-peluk gue, dasar gak sopan!" ketus Salsa.
"Dasar, cewek aneh! Padahal jelas-jelas tadi nangis ketakutan. Sekarang malah balik lagi ke sifat normalnya dia, dasar cewek aneh!" batin Barsena kagum sekaligus kesal.
"Ayo balik Sal," ajak Barsena. Salsa hanya mengangguk.
Salsa mencoba berdiri namun kakinya masih terlalu lemas karena bagaimanapun Salsa baru saja menjadi korban pelecehan, beruntung Barsena datang tepat waktu jadi sesuatu yang fatal belum sempat terjadi pada Salsa. Namun tetap saja pasti Salsa sangat syok dengan kejadian hari ini.
"Ayo gue bantu," ucap Barsena mengulurkan tangannya.
"Ta-tapi Barsena,"
"Kenapa Sal?"
Salsa terdiam sambil masih terduduk dia baru sadar jika tadi rok nya sempat robek, walaupun tidak tahu seberapa besar kerobekannya tetap saja Salsa tak mampu berdiri takut kalau-kalau robekannya itu benar-benar besar dan takut kalau Barsena akan melihatnya.
Barsena melihat Salsa yang jelas-jelas masih gemetaran. Dia menggelengkan kepalanya lalu melepas kemeja yang di kenakannya. Salsa yang melihat itu lagi-lagi merasa syok, karena baru saja dia melihat sekumpulan orang melakukan itu dihadapannya.
"Lo tenang aja Sal," ucap Barsena.
Dia memakaikan kemeja miliknya untuk Salsa, kemeja yang tampak sangat kebesaran untuk Salsa itu bahkan sampai menutupi bagian belakang rok Salsa yang robek.
"Udah beres kan? Ayo sekarang gue anter lo pulang! Ini udah terlalu malem." ucap Barsena sambil mengangkat tubuh ringkih Salsa yang sedari tadi terduduk.
Salsa menjerit kecil karena kaget, namun dia kembali merasa tenang karena percaya laki-laki yang sekarang mengangkat tubuhnya itu tak akan melakukan apapun padanya.
Selama perjalanan hanya kebisuan dan keheningan yang mewarnai. Bahkan tubuh Salsa masih terlihat bergetar oleh Barsena. Bahkan sesekali Barsena mendengar hembusan nafas panjang Salsa.
Barsena menggenggam tangan Salsa yang terasa dingin karena masih merasa ketakutan.
"Lo tenang Sal, sekarang lo udah aman," ucap Barsena menenangkan Salsa.
Salsa menatap wajah Barsena dari samping, sementara Barsena tetap fokus pada jalanan. Entah mengapa Salsa merasa menjadi lebih tenang setelah mendengar ucapan Barsena yang terdengar sangat lembut.
"Rumah lo di daerah sini?" tanya Barsena.
Salsa mengangguk masih tak kuasa mengeluarkan suara.
"Kalau gitu deket komplek rumah gue dong, cuma beberapa blok aja dari sini!" ungkap Barsena. Lagi-lagi Salsa hanya mengangguk.
"Rumah lo yang mana, Sal?"
Salsa menunjuk rumah bercat putih yang tinggal beberapa meter saja. Barsena mengangguk lalu perlahan menghentikan mobilnya. Salsa dengan ringkih keluar dari mobil Barsena sebelum sempat Barsena membukakan pintunya.
__ADS_1
"Mau gue bantu masuk Sal?" Barsena menawarkan bantuan.
Salsa menggelengkan kepalanya tanda menolak tawaran Barsena.
"Thanks ya Barsena," ucap Salsa lemah.
"Oke, Sal. Lo langsung istirahat! Kondisi lo lemah banget, gue saranin lo ke rumah sakit sih,"
Salsa mengangguk mendengar saran Barsena. Dia melangkah memasuki gerbang rumahnya.
"Eh, Sal tunggu Sal!" Barsena berteriak sambil berlari kecil menghampiri Salsa.
Salsa memutar tubuhnya dengan lemas.
"Nih ambil! Obatin luka di lutut lo, bahaya kan kalau cewek punya bekas luka! Oke, dah Salsa." Barsena berlari setelah memberikan obat yang tadi dibelinya dan kembali melajukan mobilnya.
Sementara Salsa masih berdiri membisu melihat mobil Barsena yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Apa-apaan nih? Kenapa dia bisa semanis itu?" gumam Salsa terheran-heran sambil tanpa sadar dia tersenyum.
***
"Hani, terima kasih sudah bersedia hadir di acara ulang tahun Tante yang sederhana ini," Tamara memeluk Hani.
"Ah, Tante. Yang ada aku yang terima kasih karena bisa disambut baik oleh Tante dan Om, aku merasa sangat bahagia," Hani tersenyum sumringah.
"Jadi bahagianya cuma karena mamah sama papah aku doang? Sama aku ngga?" tanya Ichal ketus.
"Bukan gitu maksusnya Diaz," jawab Hani menggertakan giginya.
"Udah Chal, mending kamu anterin Hani pulang gih! Mamah biar sama papah aja," perintah Edi.
Ichal hanya mengangguk sambil menarik tangan Hani.
"Ah, Om Tante kalau begitu aku pulang duluan ya. Selamat malam," ucap Hani sesaat sebelum terseret keluar oleh Ichal.
"Kamu marah lagi sama aku?"
"Aku cuma gak suka, waktu kita buat berduaan dan menghabiskam waktu jadi berkurang," gumam Ichal.
"Hah?! Apa Chal?! Aku gak denger," teriak Hani.
"Ngga papa sayang!" jawab Ichal lembut.
"Apaan sih jarang-jarang kamu panggil aku sayang, kamu aneh banget tau gak hari ini!" ucap Hani dengan wajah merona.
Ichal hanya tersenyum mendengar ucapan Hani yang keheranan.
"Udah sampai nih, kamu masuk gih! Jangan lupa kunci pintu, kunci semua jendela, tutup semua gorden," cerocos Ichal.
Lagi-lagi Hani merasa keheranan dengan sikap Ichal yang tidak biasanya.
"Diaz,"
"Apa sayang," jawab Ichal lembut.
"Tuh kan, kamu tuh aneh banget tau gak hari ini. Kamu kenapa sih? Kamu ada salah sama aku? Atau aku yang ada salah sama kamu?" cecar Hani.
Lagi-lagi Ichal hanya tersenyum mendengar Hani.
"Yaudah deh, aku masuk. Kamu langsung pulang jangan kemana-mana dulu!"
Hani berjalan masuk tanpa menoleh lagi pada Ichal yang aneh menurutnya padahal sebenarnya dia ingin sekali berjalan sambil terus menatap Ichal, tapi perasaan kesal pada sikap aneh Ichal membuat dia harus menahan untuk tidak menoleh.
"Han,"
Suara lembut Ichal terdengar memanggil Hani, hingga pertahanan Hani pun akhirnya goyah. Dengan kecepatan cahaya Hani menoleh kepada Ichal.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku sayang kamu," ucap Ichal.
"Iiiiiiiih, mendingan kamu jujur deh kenapa? Aneh banget tahu!"
"Udah masuk sana, aku baru pulang kalau kamu udah masuk rumah!"
Hani mendengus kesal, sambil terus berjalan memasuki rumahnya. Sementara itu Ichal malah tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, yang entah mengapa terlihat sangat imut.
Ichal teeus berdiri menatap pintu rumah Hani sambil bersandar pada mobilnya. Sekilas kenangan awal pertemuannya dengan Hani kembali terlintas dalam ingatan. Pertemuan yang menghasilkan kesalahpahaman yang berlarut-larut, hingga perlahan berubah menjadi rasa cinta.
Ichal tersenyum saat kembali mengenang itu.
Drrrrttt ... drrrrttt!
"Hallo," Ichal mengangkat telepon yang masuk.
["Jangan lupa, besok kamu harus datang. Kondisimu sudah terlalu parah, Chal!"]
"Saya mengerti!"
Ichal mematikan teleponnya. Lalu bergegas masuk dan melajukan mobilnya membelah jalanan yang ramai.
***
Di kediaman Srindra yang masih dirahasiakan dari publik, Ardi sang sekretaris sekaligus asisten dan orang kepercayaan dari Srindra tengah sibuk mengurus sesuatu yang sepertinya sangat penting.
"Yanto, tolong siapkan kudapan untuk Nyonya! Nanti saya sendiri yang akan antarkan untuk beliau," perintah Ardi pada seorang kepala pelayan.
"Baik," kepala pelayan itu mengangguk lalu undur diri.
Tanpa menunggu waktu terlalu lama, seorang pelayan membawa nampan berisi kudapan dan secangkir teh hangat ke hadapan Ardi.
Ardi meraih nampan itu, lalu membawanya ke ruangan dimana tempat Srindra berada.
"Nyonya, saya bawakan kudapan malam untuk anda," Ardi menyimpan kudapan itu tepat di depan Srindra.
"Nyonya, sepertinya anda terlalu lelah. Beristirahatlah, Nyonya!" pinta Ardi dengan sopan.
Srindra hanya menghela nafas panjang mendengar permintaan Ardi.
"Saya minta maaf karena kau jadi bekerja selarut ini, Ardi. Menangani kasus ini pasti tidaklah mudah dan pasti membuatmu lelah, jadi pulanglah dan istirahat!" ucap Srindra.
"Tidak, sebelum saya memastikan bahwa anda telah beristirahat,"
"Saya akan beristirahat sebentar lagi, jadi kau pulanglah segera!"
Ardi mengangguk mendengar perintah dari atasannya lalu undur diri.
Srindra meneguk teh yang Ardi bawa tadi, dengan sesekali menghela nafas panjang. Dia lalu bangkit dari kursinya, berjalan menuju sebuah ruangan yang terkunci.
Dia memasuki ruangan itu, dan menyalakan lampu yang semula di padamkan.
Srindra berjalan menuju pojok kamar tidurnya, terdapat sebuah lemari besar di sana. Dia membuka lemari itu, dan kembali menghela nafas sejenak lalu mengambil sebuah album foto yang tampak berdebu.
Srindra duduk di ujung ranjang sambil meletakan album foto itu di pangkuannya. Dia mengusap perlahan sampul album yang berdebu itu lalu membukanya. Seketika matanya berkaca saat melihat foto pertama di album itu.
"Laras anakku!" gumam Srindra dengan suara bergetar.
"Maafin bunda, Nak! Bunda terlambat mengetahui hal apa yang terjadi padamu, Sayang," kini Srindra terdengar terisak.
"Bunda janji akan membalas orang yang tega berbuat nista padamu, Sayang!"
Tangisan Srindra pecah saat melihat foto-foto Laras di album itu. Dia membuka lembaran demi lembaran foto di album itu. Dia sesekali menekan dadanya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit hatinya setelah kehilangan putri semata wayangnya.
"Bahkan bunda belum sempat mempertemukan kamu dengan saudarimu sayang,"
__ADS_1