Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.40 Sikap Aneh Ichal 2


__ADS_3

Tangisan Srindra pecah saat melihat foto-foto Laras di album itu. Dia membuka lembaran demi lembaran foto di album itu. Dia sesekali menekan dadanya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit hatinya setelah kehilangan putri semata wayangnya.


"Bahkan bunda belum sempat mempertemukan kamu dengan saudarimu sayang,"


Kini Srinda benar-benar tidak bisa mengendalikan tangisannya, hatinya benar-benar terpukul. Bagaimanapun dengan melihat foto-foto itu telah membuat luka di hati Srindra kembali terbuka. Perasaan luka akan kehilangan orang yang berharga di hidupnya.


Setelah berhasil kembali menenangkan hatinya, Srindra mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.


"Hallo Ardi, sepertinya saya tidak bisa lebih lama lagi membiarkan manusia-manusia kotor itu hidup tenang. Siapkan semuanya, saya siap kembali untuk membalaskan dendam orang-orang yang saya sayangi!"


Srindra menutup telepon setelah mengucapkan perintah itu.


"Tunggu saja, kalian semua akan menanggung semua akibatnya!" gumamnya.


***


Setelah Ichal mengantarkan Hani ke rumahnya, dia langsung kembali memacu mobilnya dengan cepat. Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah jembatan dan tepat di depan mobilnya sudah terparkir mobil lainnya.


Ichal keluar dari mobilnya diikuti oleh pemilik mobil lainnya.


"Kenapa lo minta ketemu gue di sini?" orang itu bertanya sesaat setelah Ichal keluar dari mobilnya.


"Barsena," Ichal membuka suara.


"Gue butuh bantuan lo!" lanjutnya.


Ternyata orang yang diajak bertemu oleh Ichal adalah Barsena. Kedua orang yang dahulu pernah menjadi sahabat.


Barsena hanya menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Ichal. Entahlah, terdengar tak masuk akal saja bagi Barsena saat mendengar Ichal yang terkenal anti meminta bantuan pada orang tiba-tiba meminta bantuan terlebih lagi padanya yang notabenenya hampir sudah menjadi musuh.


"Lo yakin? Lo ngelindur ya, Chal?" Barsena tersenyum hambar.


Namun Ichal tetap pada ekspresi seriusnya.


"Gue serius Barsena!" tegas Ichal.


Barsena terkesiap mendengar jawaban tegas Ichal. Seketika dia merasakan ada yang tidak beres dengan orang yang dulu pernah menjadi sahabatnya ini.


"Oke, terus gue harus apa?" tanya Barsena malas, karena merasa tak penting juga meladeni Ichal.


"Gue mau lo pacaran lagi sama Hani, gue mau lo jaga Hani!" Ichal langsung menjawab sesaat setelah Barsena bertanya.


Degh!


Barsena terkejut mendengar permintaan Ichal yang terdengar sangat mustahil, apalagi setelah sifat protektifnya untuk menjaga Hani agar tak kembali dekat dengannya. Tapi apa yang baru saja Ichal katakan? Dia meminta Barsena untuk kembali berpacaran dengan Hani? Mungkin akal sehat Ichal benar-benar hilang, mungkin itu yang sekarang ada di giliran Barsena setelah mendengar permintaan Ichal barusan.


"Lo gil*?!" hardik Barsena dengan suara meninggi.


Namun Ichal masih tetap dengan wajah tenangnya.

__ADS_1


"Gue mohon," ucap Ichal pelan.


"Lo gil*! Ichal! Setelah Hani cinta sama lo, sekarang lo minta gue pacaran lagi sama dia? Lo gil* Chal!" umpat Barsena tak habis pikir.


"Gue mau Hani bahagia," lirih Ichal.


Bugh!


Barsena kalap saat mendengar ucapan Ichal, dia memukul Ichal dengan sangat kuat pada wajahnya hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Sumpah lo gil*, Ichal! Lo mau Hani bahagia? Sementara kebahagiaan Hani sekarang itu lo! Bukan gue!" teriak Barsena frustrasi sambil mencengkeram kerah kemeja Ichal.


Ichal tetap diam walaupun Barsena berbicara sangat keras padanya, tentu hal ini jauh dari kebiasaan Ichal. Biasanya emosinya akan cepat tersulut apabila ada yang berani menyentuhnya, namun lihatlah Ichal sekarang! Dia hanya terdiam tanpa mampu menatap wajah Barsena yang benar-benar penuh tanda tanya untuk Ichal.


"Pengecut lo Chal!" hardik Barsena sambil kembali melayangkan pukulan keras pada Ichal hingga Ichal terpental ke atas aspal.


"Gue gak punya pilihan Barsena!" teriak Ichal sambil mengelus bagian wajahnya yang terasa nyeri akibat pukulan Barsena.


"Jangan pernah sembunyi dibalik kalimat 'gak punya pilihan' Chal! Atau lo mau selamanya ngerasa bersalah kaya gue karena pernah menjadi pengecut dengan bersembunyi dibalik kalimat itu!" lagi-lagi Barsena mencengkeram kerah Ichal.


Mata Barsena membulat menatap wajah Ichal yang masih tak mampu menatap wajahnya.


"Waktu gue hidup gak bakal lama lagi, Barsena," ungkap Ichal lirih.


Suaranya bergetar, sementara Barsena terdiam tak mengerti dengan pernyataan Ichal.


"Kalau gue bisa nawar, gue mau hidup lebih lama lagi buat bisa hidup bareng Hani. Tapi takdir gak berpihak sama gue, waktu gue gak lama lagi Barsena!" kali ini Ichal berbicara sambil menatap wajah Barsena yang masih penuh dengan pertanyaan.


Barsena bertanya sambil menampar wajah Ichal yang sudah nyaris babak belur oleh pukulannya sebelumnya. Dia menampar untuk menyadarkan Ichal yang menurutnya sedang melantur tidak jelas.


"Jantung gue udah gak bisa bertahan lebih lama lagi, Barsena!" Ichal sepertinya mengeluarkan seluruh kekuatan untuk mengatakan kalimat itu dengan suara keras dan lantang.


Barsena tediam tubuhnya seketika merasakan lemas hingga hampir tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Cengkeraman tangannya pada kerah Ichal langsung terlepas, seketika tubuhnya ambruk. Kini dia setengah berdiri dengan lutut yang bertumpu pada aspal tepat di hadapan Ichal yang masih dengan posisinya terduduk sambil mengelus ujung bibirnya yang berdarah.


"Lo gak bercanda kan Chal?" Barsena bertanya dengan suara pelan dan tatapan kosong tak percaya dengan yang baru saja di dengarnya.


"Sejak gue kecil, gue udah punya kelainan jantung bawaan. Sebenarnya gue bisa hidup selama ini juga udah menjadi sebuah keajaiban buat gue dan keluarga gue," ungkap Ichal.


Kini mereka berdua duduk sambil bersandar pada sisi pagar jembatan.


Barsena menghela nafas panjang. "Terus operasi? Lo bisa donor kan?" tanyanya.


Ichal pun ikut menghela nafas panjang saat mendengar pertanyaan Barsena.


"Kalau gue bisa donor mungkin udah dari dulu keluarga gue lakuin, apalagi keluarga gue bisa pake uang. Tapi semua itu gak semudah yang lo kira, selama 18 tahun ini keluarga dan tim dokter gue nyari donor yang cocok tapi belum juga berhasil,"


"Kalaupun ada, keberhasilan operasi itu cuma 50:50. Menurut lo gue bakal pilih operasi itu? Sementara kemungkinan hidup dan mati itu sama,"


Barsena terdiam mendengar penjelasan Ichal. Dia melirik Ichal yang tengah menatap langit malam. Seketika kesedihan mendatangi Barsena, kemungkinan dia kembali kehilangan seorang sahabat yang dulu pernah saling melengkapi terasa menakutkan.

__ADS_1


"Terus, Hani?" Barsena bertanya sambil menatap Ichal yang masih asyik menatap langit malam.


Ichal tersenyum getir lalu melirik Barsena. "Makanya gue mau lo jaga Hani setelah gue pergi, gue gak mau dia nangis terlalu lama," ucapnya.


"Bukan itu maksud gue," ucap Barsena.


"Terus?" Ichal bertanya sambil melirik pada Barsena.


"Hani udah tahu kondisi lo yang sekarang?" Barsena menatap Ichal menunggu jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulutnya.


Ichal terdiam beberapa saat, pikirannya mengingat senyum Hani yang menenangkan. Sesaat dia memejamkan matanya sambil tersenyum, mungkin senyuman Hani benar-benar meneduhkan hatinya.


Ichal kembali membuka matanya lalu menatap Barsena, dan sejurus kemudian menggelengkan kepalanya. Barsena lagi-lagi tersentak setelah mengetahui jawaban Ichal. Ternyata Hani tidak mengetahui perihal kondisi Ichal.


"Lo harusnya lebih jujur sama Hani, memangnya lo pikir Hani gak bakal sedih kalau dia jadi orang yang paling terakhir tahu kondisi lo?"


"Gue tetep gak mau Hani tahu kondisi gue!"


"Gue mohon, ini mungkin bisa jadi permintaan terakhir gue sebagai orang yang pernah jadi sahabat lo sama lo yang pernah jadi sahabat gue,"


Barsena terdiam lama sekali sambil menengadah melihat langit malam yang sedari tadi ditatap Ichal.


"Jadi ini alasan dari dulu lo sering bolos sekolah dan nyuruh gue jagain Laras yang ceroboh?" ucap Barsena tersenyum hambar, yang diiyakan oleh Ichal yang ikut tersenyum hambar pula.


Kedua pemuda itu kembali mengenang masa lalu di atas jembatan sambil bersandar pada sisi pagar jembatan dan menatap langit malam.


"Iya, sebenarnya dulu gue gak masuk sekolah bukan karena gue males, tapi karena gue tiba-tiba kena serangan. Gue selalu minta mamah sama papah buat gak bilang kejadian yang sebenarnya, dan akhirnya mereka sering banget dipanggil ke sekolah buat urusin anaknya yang nakal ini," Ichal terkikik saat teringat kejadian saat masih sekolah dasar.


"Terus gue sering banget kena skor karena gue bolos, makanya gue pernah minta lo jagain Laras. Dia itu ceroboh dan karena dia anak orang kaya jadi dia selalu dipalak, jadi gue khawatir dan akhirnya minta lo jagain dia selama gue gak masuk sekolah,"


Kedua orang itu tertawa saat mengenang masa-masa bersama.


"Gue pernah ditonjok orang yang malak Laras gara-gara gue bantuin dia, dan saat itu gue masih lemah banget," tawa Barsena meledak ketika ingat kejadian yang menurutnya lucu itu.


"Menurut lo sekarang Laras lagi ngapain ya?" tanya Barsena masih tetap menatap langit.


"Mungkin sekarang Laras udah bahagia, dia gak perlu susah-susah mikirin cara bertahan hidup esok hari," Ichal tertawa lagi.


"Tapi gue jadi penasaran, sebenarnya perasaan lo sama Laras itu gimana?" tanya Ichal.


Barsena menghela nafas tersenyum getir. "Di umur gue yang waktu itu masih 16 tahun, gue udah ngerasain cinta pertama. Gue jatuh cinta sama Laras," ungkapnya.


"Gue jatuh cinta sama Laras saat Laras cinta sama lo, Chal!" lanjutnya.


"Laras cinta sama gue? Ngelawak lo ya?" Ichal tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Barsena.


Sungguh ucapan Barsena itu menggelitiknya. Dia sampai mengeluarkan air mata karena terlalu enak tertawa.


"Dia itu suka sama lo bodoh!" ucap Ichal disela tawanya.

__ADS_1


"Sama gue? Lo bercanda!" Barsena menyangkal tak percaya.


__ADS_2