
"Baiklah, Ardi. Kamu sekarang boleh pulang, berhati-hatilah! Terima kasih untuk hari ini!"
Ardi mengangguk lalu undur diri. Laki-laki yang sudah hampir puluhan tahun mengabdikan dirinya untuk melayani tuannya dengan setia itu pulang ke tempat tinggalnya.
Menjadi sekretaris sekaligus orang kepercayaan dari Srindra memang hal yang tidak mudah, tapi Ardi bisa melakukannya dengan sempurna nyaris tak pernah melakukan kesalahan selama karirnya.
"Anda pasti bisa, Nyonya! Selama ini hidup anda sangat berat, anda pasti bisa!" ucap Ardi dalam hati.
Sambil melajukan mobilnya dengan penuh konsentrasi, ingatannya kembali pada saat pertama dia terpilih menjadi sekretaris dari Srindra. Sesuatu yang dia pikir mustahil, ternyata bisa dilakukannya.
Berbekal rasa percaya diri dan hutang budi pada Adamar yang tak lain adalah adiknya dari Srindra yang dahulu pernah menolongnya. Ardi melamar untuk menjadi salah satu staf di perusahaan Srindra hingga akhirnya dia bisa menjadi sekretaris dari orang yang sangat dihormatinya itu.
Lamunannya buyar saat ponselnya berdering pertanda ada panggilan yang masuk. Ardi langsung mengangkat telepon itu.
"Hallo,"
"..."
"Baik, saya akan langsung ke sana."
Ardi langsung menutup sambungan telepon dan melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Dia sepertinya terburu-buru menuju ke suatu tempat. Beberapa saat kemudian mobilnya berhenti di depan kantor polisi.
Dia langsung turun dan bergegas masuk dan menghampiri seseorang.
"Pak Ardi! Silahkan duduk!" ucap seseorang yang menyambutnya.
Ardi mengangguk lalu duduk di kursi tepat di depan orang itu.
"Jadi bagaimana? Ada temuan baru apa?" Ardi membuka suara.
Rona wajah penasaran tak dapat ia sembunyikan.
"Jadi begini, persis seperti dugaan anda kami menyelidiki adanya kejanggalan pada kecelakaan mobil Pak Adamar dan juga kematian mendadak Ibu Sundari,"
"Dari CCTV di area kediaman Ibu Sundari kami menemukan rekaman ini,"
Detektif itu memperlihatkan sebuah rekaman pada Ardi. Di rekaman itu terlihat sebuah mobil hitam yang parkir tepat di depan rumah Sundari seperti tengah memata-matai.
"Dan entah kebetulan atau di sengaja, mobil itu juga terekam di area parkir kantor Pak Adamar beberapa jam sebelum terjadinya kecelakaan,"
"Kami melacak plat nomor di mobil itu dan menyelidikinya mobil itu terdaftar atas nama Baron Utama," lanjut detektif itu.
Ardi tersentak, tangannya mengepal dengan bulat seolah siap untuk membogem lawannya.
"Tidak salah lagi, kalian bertiga memang terikat satu sama lain dalam peristiwa ini! Surya Pratama, Joko Gunawan dan Baron Utama, persiapkan diri kalian!" batin Ardi.
"Terima kasih, lanjutkan kembali untuk menyelidiki kasus ini. Kumpulkan banyak bukti, saya yakin kejadian ini bukan hanya kebetulan!"
Ardi langsung berpamitan untuk pulang.
"Mat* kalian!" umpat Ardi dalam hati.
***
"Chal, kenapa kok lesu banget?"
Tamara bertanya saat heran melihat Ichal yang tengah duduk di meja makan dengan lesu dan tatapan kosong.
"Kamu sakit lagi? Dada kamu ada kerasa sakit lagi?" Tamara kali ini bertanya dengan cemas.
Ichal menatap Tamara dengan sayu lalu menghela nafas panjang dan berat.
"Kamu beneran sakit, Sayang? Ayo ketemu dokter Rizky!" Tamara menarik tangan Ichal.
"Ngga, Mah! Mamah apaan sih, heboh banget!" ucap Ichal malas lalu meninggalkan Tamara yang masih cemas.
"Chal, Mamah serius loh! Kamu gak sakit kan?" teriak Tamara.
"Nggak!" teriak Ichal singkat.
__ADS_1
Ichal menaiki tangga dengan lemas, bahunya benar-benar turun seperti sayuran layu. Dia menaiki tangga dengan gontai dan malas, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasar dan keras.
"Kangen banget sama Hani," gumamnya.
"Lo bodoh banget sih, Chal! Kenapa juga lo sok jauhin Hani, padahal lo sendiri yang bakal susah!" Ichal frustrasi mengacak rambutnya sambil menendang-nendangkan kakinya.
Ichal terdiam menatap langit-langit kamar, pikirannya berkelana kemana-mana. Terlintas di pikirannya bagaimana nanti kalau kemungkinan buruk terjadi dan Ichal meninggal, bagaimana kalau Hani menangisi kepergiannya.
"Waktu gue beneran gak lama lagi," gumamnya.
Ichal merogoh sakunya, dia mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi beberapa butir pil.
"Gue aja udah bosen banget mesti makan lu! Apa lagi elu, pasti bosen banget di makan sama gue!" ucap Ichal berbicara pada botol di genggamannya.
Ichal kembali menghela nafas, sehari ini saja dia harus sampai tiga kali minum pil pereda rasa sakit. Makin sering saja dia kena serangan, dan rasa sakit yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
"Maafin gue!" kembali Ichal bergumam lirih.
Entah pada siapa dia tujukan permintaan maaf itu.
"Chal, makan dulu!" ucap Tamara di balik pintu.
"Udah!" teriak Ichal.
"Minum obat?" tanya Tamara.
Ichal terdiam dia tak menjawab pertanyaan ibunya. Dia melirik ke arah nakas di samping tempat tidurnya, di sana terdapat beberapa botol obat yang seharusnya rutin Ichal minum namun sepertinya Ichal tak lagi meminumnya.
"Ngapain minum obat? Kalau akhirnya tetep mat* juga!" batin Ichal kesal.
Ichal terus menatap botol-botol berisi obat itu dengan tatapan kesal, sepertinya Ichal sudah tidak waras dia terus mengumpat di dalam hatinya.
"Chal, ayo dong jangan males minum obat! Demi kesehatan kamu nak!" pinta Tamara.
"Iya," jawab Ichal singat.
Tamara menghela nafas mendengar jawaban malas dari anaknya.
"Astaga! Papah ngagetin aja!" pekik Tamara.
Ternyata Edi pulang lebih awal dan melihat istrinya berdiri di depan kamar putranya.
"Tumben jam segini Papah udah pulang?" tanya Tamara heran.
"Sengaja, Papah capek! Kayaknya kemaren-kemaren Papah gak waras!" ucap Edi menghela nafas.
"Maksud Papah apa?" Tamara terkikik geli mendengar ucapan suaminya.
"Iya, Papah terlalu gila kerja sampai-sampai gak ada waktu buat kalian!" ungkap Edi sambil mencium kening istrinya.
"Wiiiiiih! Papah kerasukan setan apaan bisa langsung sadar gitu?" ejek Ichal yang tiba-tiba sudah keluar dari kamarnya.
"Papah minta maaf ya Chal, Papah Udah banyak salah sama kamu!"
"Syukur deh kalau udah sadar!" ucap Ichal lalu langsung kembali masuk ke kamarnya.
Dia terus berlagak cuek padahal kalau boleh mengakui dia sebenarnya ingin melompat-lompat kegirangan setelah mendengar permintaan maaf dari ayahnya itu.
"Han, kamu lagi ngapain?" gumam Ichal.
Dia kembali teringat Hani, sambil menatap langit-langit kamar dia mengingat Hani.
Sementara itu Hani sudah terlelap bersama pikirannya tentang Ichal.
***
Pagi hari sudah menjelang, Hani pun sudah bangun. Srindra sudah melarang Hani untuk berangkat sekolah karena dia masih kurang sehat namun Hani menolak dan tetap ingin berangkat.
Hani berangkat di antar Ardi, saat turun dari mobil semua orang memperhatikannya. Hal ini jelas membuat Hani kurang nyaman, memang hal ini sudah sering dialami Hani namun tetap saja membuat tak nyaman.
__ADS_1
Ardi melihat tatapan aneh orang-orang pada Hani, dia bergegas turun dari mobil dan memelototi mereka membuat mereka merinding ketakutan.
"Om Ardi padahal gak usah sampai turun, aku gak papa kok!" ucap Hani.
"Padahal jelas sekali tadi kalau Nona tidak nyaman dengan tatapan itu," kata Ardi setengah mengejek Hani.
Ardi berpamitan pada Hani dan langsung meninggalkan area sekolah.
"Tadi kamu bareng siapa, Han?" tanya Bintan penasaran sesaat setelah Ardi pergi.
"Oh, itu sekretarisnya Bunda!" jawab Hani enteng.
"Bunda?" gumam Bintan.
"Tunggu ... tunggu! Kamu masih punya orang tua?" tanya Bintan menyelidik.
"Aku? Eng--,"
"Hani! Mau ke kelas? Ayo bareng!" Barsena tiba-tiba datang dan memotong ucapan Hani.
"Eh, Barsena. Ayo!" pekik Hani.
Mereka langsung berjalan meninggalakan Bintan. Barsena menengok Bintan yang tengah berdiri menatap dirinya dan Hani, sambil menyunggingkan senyuman penuh arti pada Bintan, Barsena menghela nafas lega setelah menjauhkan Hani dari Bintan.
"Masih belum pasti sih, tapi gue curiga kalau Bintan mata-matanya Andin!" batin Barsena.
"Barsena, aku kan tadi mau ngomong sama Bintan!" ujar Hani.
"Oh, ya? Maaf, Han aku gak tahu!" ucap Barsena berpura-pura.
"Iya gak papa!"
Bruk!
Dengan cepat seseorang menyenggol Hani, hingga Hani terjatuh ke pelukan Barsena atau lebih tepatnya Barsena menangkap Hani sebelum terjerembab ke lantai.
"Diaz," gumam Hani lirih saat melihat orang yang baru saja menyenggolnya.
Dia Ichal. Entah di sengaja atau tidak Ichal baru saja menyenggolnya dengan cukup keras, tapi Ichal tak meminta maaf dan malah tetap berjalan lurus tanpa menghiraukan.
"Kamu gak papa, Han?" tanya Barsena.
"Heh, kurang ajar! Emangnya badanku yang gede ini gak keliatan apa? Dasar gak punya sopan santun!" teriak Hani.
Langkah Ichal terhenti saat mendengar teriakan Hani. Dia menoleh sebentar lalu tersenyum pahit, dan kembali berjalan.
"Dasar aneh! Kurang ajar!" teriak Hani kesal.
Amarah Hani kini mulai meledak, dia benar-benar jadi kesal pada Ichal yang kembali menjadi seenaknya.
"Tenang, Han! Tenang!" ucap Barsena berusaha menenangkan amarah Hani yang meledak karena kesal.
"Ayo, Barsena!" ajak Hani dengan tegas.
"Bagus, Han! Ini baru Hani yang gue kenal! Hani yang kuat, dan pemberani!" batin Barsena.
Barsena tersenyum melihat langkah lebar Hani, yang malah terlihat seperti penuh semangat dan menggebu-gebu karena kesal.
"Heh! Minta maaf gak?!" teriak Hani sambil menggebrak meja di depan Ichal.
"Kenapa?" tanya Ichal malas sambil menguap.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Gak sopan banget sih? Tadi kamu sengaja ya, nabrak aku? Minta maaf gak?!" teriak Hani.
"Maaf," lagi-lagi Ichal menguap.
"Hih, gak sopan banget sih!" teriak Hani kesal.
Dia langsung duduk di kursinya dengan kesal. Rasanya kepalanya mengeluarkan asap saking kesalnya dengan kelakuan Ichal. Ichal tersenyum puas melihat reaksi kesal Hani.
__ADS_1
"Imut banget!" batin Ichal.
"Dasar gak sopan! Padahal kemarin manis banget kelakuannya! Iiiii kesel banget!" batin Hani.