
"Tidak! Hah ...hah ... Haniii! Hah ... Haaaaah!" Ichal berlari berusaha mengejar mobil itu, namun mustahil.
Bruk!
Tubuh Ichal ambruk bersamaan dengan menghilangnya mobil van itu dari pandangannya dan dia pun tak sadarkan diri di jalanan sepi itu.
Barsena yang ikut tidak tenang setelah obrolan mereka di pergoki oleh Hani pun ikut mengejar Hani dan Ichal. Sambil berlari matanya menjelajah area sekolah mencari sosok Ichal dan Hani yang mungkin saja ada di sana, namun tidak ada.
"Kemana mereka?" batinnya.
Dia berlari keluar area sekolah, sambil terua menjelajah mencari Hani dan dan Ichal. Barsena berjalan di jalanan yang memang lumayan sepi.
"Apa mungkin mereka ada di kelas ya?"
Barsena terus bertanya pada dirinya sendiri. Awalnya dia ingin kembali ke kelas namun perasaannya kurang enak hingga dia memutuskan untuk menelusuri jalan yang sepi itu.
"Chal! Hani!" teriak Barsena mencoba memanggil mereka dengan harapan ada balasan namun tidak ada.
"Ichal!" pekik Barsena.
Dengan kecepatan penuh Barsena berlari, dia melihat Ichal tergeletak tak sadarkan diri di jalanan.
"Chal! Chal bangun, Chal!"
Barsena merengkuh tubuh Ichal, dia mendekatkan telinganya pada hidung Ichal lalu pada dada Ichal. Dia ingin memastikan sendiri kalau sahabatnya itu masih bernyawa atau tidak. Ternyata masih ada degupan jantung Ichal walaupun sangat lemah.
"Chal! Bangun!"
Barsena merogoh ponsel di sakunya, lalu menekan beberapa nomor untuk memanggil ambulan.
Beberapa saat kemudian ambulan datang dan membawa Ichal ke rumah sakit.
"Hani, kamu di mana sih?"
Barsena terus mondar mandir di depan ruangan 'gawat darurat' sambil terus mencoba menghubungi ponsel Hani yang terus tidak diangkat walaupun sudah tersambung.
"Hani, Ichal lagi gawat! Kamu di mana?" gumamnya.
"Ichal!" pekik Tamara disertai isak tangis.
Dia langsung histeris saat sampai di depan ruang gawat darurat tempat Ichal sedang ditangani.
"Sabar, Mah! Ichal pasti baik-baik aja!" Edi, suaminya mencoba menenangkan Tamara yang sudah histeris.
Dia memeluk tubuh Tamara yang terkulai lemas karena menangis cemas.
"Kamu Barsena 'kan?" Edi bertanya.
"I-iya, Om. Saya Barsena," jawab Barsena.
"Apa yang terjadi dengan Ichal! Bagaimana bisa dia mengalami serangan lagi seperti ini, padahal kami benar-benar menjaga agar hal ini tidak terjadi," ujar Edi.
"Saya tidak tahu pasti kejadiannya, tapi tadi Ichal sedang mengejar Hani yang syok karena mengetahui kondisi Ichal," jawab Barsena.
"Karena perasaan saya tidak enak, saya memutuskan untuk mengikuti mereka. Namun saya hanya menemukan Ichal tergeletak tak sadarkan diri," lanjutnya.
"Lalu Hani di mana sekarang?" tanya Edi gusar.
"Itu yang sekarang membuat saya khawatir, karena Hani tak mengangkat teleponnya sama sekali," jawab Barsena yang juga gusar.
"Ya Tuhaaan!" pekik Tamara histeris.
Edi mengelus pundak istrinya dengan lembut sembari terus membisikan kata-kata untuk menenangkan Tamara.
__ADS_1
"Han, kamu di mana sih?" batin Barsena tak tenang.
Sudah sekitar dua jam namun dokter yang menangani Ichal belum juga keluar. Hal ini membuat orang yang menunggu semakin dibuat gusar saja. Takut kalau-kalau sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Ichal.
"Chal, lo pasti bisa! Lo orang yang kuat! Gue yakin lo bisa!" batin Barsena.
Perasaannya dipenuhi dengan kecemasan, cemas terhadap keadaan Ichal yang sekarang benar-benar gawat serta cemas pada keadaan Hani yang sekarang entah di mana.
Akhirnya setelah beberapa lama seorang dokter keluar.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?!" Tamara langsung bertanya dengan tergesa.
"Kondisi Ichal cukup stabil, Bu. Namun seperti yang sebelumnya sudah pernah saya jelaskan jika Ichal kembali mendapat serangan hal itu akan makin memperburuk kondisinya," ungkap dokter Rizky.
"Sekarang dia sudah sadar dan bisa ditemui, barusan Ichal ingin bertemu dengan seseorang bernama Barsena," ucap dokter Rizky.
Barsena tersentak, mengapa Ichal malah ingin bertemu dengan dirinya.
"Dan untuk bapa dan ibu, mohon temui saya di ruangan saya! Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan." Lanjutnya lalu berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Edi dan Tamara sementara Barsena memasuki ruangan Ichal.
"Chal!"
Pelan sekali Barsena mengeluarkan suaranya seolah tak ingin mengganggu Ichal yang tengah memejamkan mata. Tubuh Barsena bergetar melihat tubuh Ichal yang banyak ditempeli alat. Dia bahkan tak dapat melihat dengan jelas wajah menyebalkan Ichal karena terhalang selang oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Hmmmm,"
Ichal menggumam dan menggerakan tangannya yang dipasangi selang infus seolah mengisyaratkan Barsena untuk mendekat padanya.
"Kenapa Chal? Ada yang sakit?"
Ichal terus menggerakan tangannya hingga Barsena pun mendekatkan telinganya pada mulut Ichal yang masih tertutup selang oksigen.
Dengan tubuh yang lemah, Ichal membuka oksigen yang menutup mulutnya dan membisikan sesuatu pada Barsena.
"Maksud lo? Hani diculik?" Barsena tersentak.
Ichal hanya bisa mengedipkan matanya dengan lemah pada Barsena lalu perlahan kesadarannya kembali hilang hingga Ichal kembali tak sadarkan diri.
Tiiiiiiiiiiiitt!
Suara alat berbunyi dengan nyaring hingga memekikan telinga.
"Chal! Chal bangun Chal!"
Barsena mengguncang tubuh Ichal dengan panik hingga beberapa perawat dan dokter kembali masuk dan mengambil tindakan untuk Ichal.
Di luar terdengar teriakan histeris Tamara yang syok melihat anaknya serta Edi yang mencoba menenangkan istrinya.
Tit ... tit ... tit ... tit.
Detak jantung Ichal kembali, tubuh Barsena lemas lunglai. Dia benar-benar hampir menyaksikan orang yang selalu menyebalkan untuknya itu meninggal di depannya.
"Chal!" batin Barsena.
Barsena keluar dari ruangan Ichal dengan lemas, dia duduk di kursi tunggu sambil tertunduk. Pikirannya kacau karena kejadian barusan, serta pertanyaan tentang ucapan Ichal tentang Hani.
"Om, Tante saya pamit. Saya harus memeriksa sesuatu,"
Barsena berpamitan pada Tamara dan Edi, dengan bergegas dia meninggalkan rumah sakit.
Barsena menaiki taxi dan menuju sekolahnya, dia harus mengambil mobilnya yang tadi tak sempat dia bawa karena panik dengan kondisi Ichal.
Saat memasuki area sekolah suasana nampak aneh, orang-orang berkerumun dan seperti saling berbisik. Barsena penasaran dia menghampiri salah satu kerumunan dan menanyakan ada apa gerangan yang membuat mereka berkerumun.
__ADS_1
"Kenapa, Bro?" tanya Barsena. Di memukul pelan pundak orang itu.
"Lo belum lihat? Ini konferensi persnya Srindra Adamar," jawab orang itu.
Barsena memyambar ponsel orang itu dan melihat sebuah video yang memperlihatkan Srindra sedang berdiri di fodium dan berbicara sesuatu yang sangat serius.
"Berdirinya saya di sini untuk membicarakan beberapa hal yang harus publik ketahui!"
"Yang pertama, lamanya saya tidak muncul di depan publik bukan karena saya dipenjara tapi karena saya harus menyembuhkan kondisi mental saya setelah kepergian putri saya tercinta beberapa tahun lalu serta kepergian suami saya,"
"Yang kedua, saya juga harus mengumpulkan bukti bahwa perusahaan dan Yayasan yang sedang dikelola oleh Presdir Joko Gunawan dan Ketua Yayasan Surya Pratama sebenarnya bukan hak milik beliau-beliau,"
"Saya sudah membawa bukti bahwa beliau-beliau telah merebut semua itu secara kotor dari mendiang adik saya, Adamar, serta mendiang sahabat yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri, Sundari."
"Saya berdiri di sini dan membeberkan semua fakta bukan untuk menjadikan itu milik saya, tapi ada seseorang yang memang sejak awal akan mewarisi itu semua, yakni Hani Putri Amelia yang merupakan anak kandung dari Adamar serta cucu angkatnya Sundari yang mana sudah tertulis dalam wasiat beliau sebelum meninggal dunia,"
"Dahulu, mendiang adik saya dan mendiang ipar saya mempunyai dua orang putri. Bukan kembar, namun jarak kelahiran mereka yang berdekatan. Dua orang putri kecil dan manis itu adalah mendiang putri tersayang saya Larasati Utari Adamar dan Hani Putri Amelia yang sejak kecil diurus oleh mendiang Sundari."
Barsena terdiam ini terlalu mengejutkan baginya, fakta-fakta yang baru saja dibeberkan benar-benar sangat mengejutkan.
"Jadi Hani adalah adiknya Laras?" batin Barsena bertanya-tanya.
"Sekarang gue tahu ini ulah siapa?!" gumamnya.
"Bro, kapan konferensi pers ini dilakukan?" tanya Barsena pada pemilik ponsel yang dipegangnya.
"Katanya tadi tepat jam 12:00 berarti sekitar dua jam lalu," jawab orang itu.
"Oke, thanks ya, Bro!"
Barsena mengembalikan ponselnya lalu kembali menepuk pundak orang itu sambil berterima kasih.
"Berarti benar dugaan gue, ini bisa jadi ulah orang-orang picik itu! Dan nggak menutup kemungkinan Ayah juga ikut bekerja sama!" batin Barsena.
"Hani dalam bahaya!" batin Barsena.
***
"Mmmmhhh ...,"
Hani terus meronta mencoba melepaskan diri. Kaki dan tangannya sudah terikat dengan kuat di sebuah kursi kayu serta mulutnya sudah tertutup lakban hitam agar dia tidak bisa berteriak.
Hani sudah nyaris kehilangan tenaga karena terus meronta mencoba melepaskan diri, sepertinya sudah literan air mata yang keluar membasahi pipinya.
Dia ketakutan benar-benar ketakutan, ini terlalu berlebihan untuknya. Diculik dan disekap di sebuah gudang yang benar-benar kotor dan menakutkan.
"Diaz! Tolong aku!" jeritnya dalam hati.
Air matanya tak sanggup ia kendalikan, dia terus menangis ketakutan.
"Tenang gadis manis! Jangan menangis!" suara berat seseorang yang duduk di kegelapan terdengar.
Tubuh Hani seketika bergetar hebat, dia ketakutan benar-benar ketakutan.
"Hari ini mungkin hari terakhirmu, tapi tenang saja caramu mati tidak akan terlalu menyakitkan!" orang itu terkekeh mengerikan.
"Mmmmhhhh,"
"Diaz, tolong aku!" jerit hatinya.
Hani tidak tahu sekarang kondisi Ichal sedang kritis. Hani tidak tahu tadi Ichal hampir kehilangan nyawanya. Hani tidak tahu bahwa dia ternyata adalah adiknya Laras. Hani tidak tahu penyebab dia diculik adalah karena dia merupakan pewaris sah dari perusahaan yang direbut oleh orang-orang kaya sombong itu. Yang dia tahu sekarang hanya ketakutan yang menyerangnya sementara dia sendiri tidak berdaya.
"Tuhan! Tolong aku!"
__ADS_1
***