Diazhani (REVISI)

Diazhani (REVISI)
EPS.41 Kebenaran Tentang Laras 1


__ADS_3

"Sama gue? Lo bercanda!" Barsena menyangkal tak percaya.


"Sebenarnya gue suka sama Laras dan udah pernah mau ungkapin itu sama Laras. Tapi pas hari di mana gue mau ungkapin perasaan gue, Laras malah cerita kalau dia suka sama lo!" ungkap Ichal sambil terus tertawa ngakak.


Barsena terdiam melihat Ichal yang terus tertawa.


"Jadi selama ini perasaan gue gak bertepuk sebelah tangan?" Barsena bertanya dengan wajah yang benar-benar polos sehingga membuat Ichal makin tertawa dengan terpingkal-pingkal.


"Iya lah, dasar bodoh! Gue gak nyangka Barsena yang sekarang jenius luar biasa ternyata punya sisi bodohnya juga," tawa Ichal lagi-lagi meledak.


"Sial!" umpat Barsena.


"Tapi gue penasaran, pas sehari sebelum Laras meninggal lo beneran gak pernah ketemu Laras?" Ichal langsung masuk dalam mode serius.


Barsena menggeleng. "Gue udah bilang sama lo, kalau hari itu gue ga ketemu Laras," jawab Barsena.


"Tapi Laras hari itu bilang mau ke rumah lo, gue sempet nawarin mau temenin dia tapi karena hari itu gue harus kontrol dan Laras juga nolak buat gue temenin jadi gue biarin Laras pergi sendiri," ungkap Barsena.


"Maksud lo? Laras beneran ke rumah gue hari itu?" tanya Barsena.


Ichal mengangguk dengan rona wajah penyesalan dan kesedihan kembali mewarnai wajahnya.


"Ini yang bikin gue penuh penyesalan sampai sekarang, karena gue gak tahu apa yang terjadi sama Laras waktu di rumah lo. Apa yang udah lo bilang sama Laras, sampai-sampai Laras menderita dan harus mengakhiri hidupnya di depan gue," ungkap Ichal.


Tersirat banyak perasaan di wajahnya, mulai dari penyesalan, kemarahan, kesedihan, kerinduan menjadi satu.


"Gue bersumpah, Chal. Hari itu gue gak ketemu Laras, hari itu gue gak di rumah. Pas ada berita Laras meninggal gue benar-benar terpukul, gue bahkan gak bisa ungkapin perasaan gue yang sebenernya sama Laras," ungkap Barsena.


Kini pertemuan kedua pemuda itu malah berubah menjadi sesi curhat dan pengungkapan kejujuran.


***


Dua tahun lalu atau satu hari sebelum Laras meninggal.


"Ichaaaaal," suara teriakan melengking terdengar di seluruh penjuru rumah Ichal.


Bahkan Ichal yang tengah di dalam kamarnya yang berada tepat di lantai dua masih dengan jelas mendengar suata teriakan itu.


Dia adalah Laras sahabat Ichal yang entah mengapa pagi-pagi sekali sudah mengunjungi rumahnya.


"Ichaaaal ayo banguuuuuun!" suara melengking Laras sukses membuat Ichal terbangun dengan malas.


"Aduuuh! Ras, berisik banget sih!" ucap Ichal kesal.


"Ngapain sih pagi-pagi di hari minggu yang indah ini udah ganggu aku?!" Ichal mengomel masih dengan mata tertutup rapat sambil memeluk bantal guling.


"Iiiiih, Ichal justru karena sekarang hari minggu. Kamu harus semangat ayooooo!" Laras menarik tangan Ichal untuk turun dari kasur nyamannya.


"Gak mau, tidaaaaak!" teriak Ichal saat tubuhnya berhasil dijatuhkan dari kasur oleh Laras.


Laras menarik tangan Ichal untuk ikut turun ke lantai bawah tepatnya ke meja makan untuk sarapan.


"Aduh, Ras aku gak pernah makan sepagi ini," rengek Ichal.


"Ini Tante Tamara udah siapin sarapan loh, kamu gak baik ya bikin susah orang tua!" omel Laras sambil menyuapkan sepotong roti pada Ichal, sementara mata Ichal masih tertutup rapat.


Tamara tergelak melihat tingkah anak muda yang sudah bersahabat bahkan saat masih balita itu. Keakraban mereka selalu berhasil membuat iri teman-teman lainnya.


"Laras hebat deh, kapan lagi Ichal bisa nurut buat sarapan pagi-pagi gini apalagi hari minggu biasanya juga tidur sampai tengah hari," Tamara tertawa.

__ADS_1


"Mamah ngapain sih panggil manusia berisik ini ke rumah?" tanya Ichal malas.


"Loh, siapa yang manggil aku? Orang aku dateng sendiri, kan rumah ini udah aku anggep sebagai rumah aku sendiri," ucap Laras.


Ichal mendengus kesal sementara Tamara tertawa mendengar Laras dengan suara cemprengnya terus bicara ini itu mengomeli Ichal.


"Udaaah, abisin makanan kalian. Tante ada meeting pagi, Chal mamah berangkat ya nanti siang mamah balik lagi buat jemput kamu,"


"Hmmm," Ichal hanya menggumam.


Tamara bangkit dari kursinya lalu merogoh kunci mobil di tasnya dan meninggalkan mereka berdua.


"Kalian mau kemana? Mau liburan ya? Ko ga ngajak aku sih?" cecar Laras.


"Liburan apa sih?" Ichal menelungkupkan wajahnya ke atas meja makan karena terlalu malas dan mengantuk.


"Tadi, Tante Tamara bilang mau jemput kamu siang." ucap Laras sambil mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya sehingga membuat pipinya nampak menggembung.


"Hooooo, itu gatau mamah mau jadiin aku model di perusahaannya kali," Ichal terkekeh bercanda.


"Muka burik kaya gini mau dijadiin model? Tante Tamara juga gak buta kali," ejek Laras.


"Sialan, dibiarin malah ngelunjak! Sini kamu!" Ichal bangun hendak menangkap Laras namun Laras sudah lebih dulu berlari, alhasil malah terjadi adegan kejar-kejaran di rumah itu.


Sementara itu di kediaman Barsena.


Prang!


"Anak kurang ajar! Ke sini kamu!" bentak Baron sambil membanting botol minuman yang digenggamnya.


"Maafin Kakak, Yah!" suara Kira bergetar ketakutan.


Tubuh Kira menggigil ketakutan menyaksikan kemarahan ayahnya.


Barsena keluar rumah dengan membanting pintu, dan berlari meninggalkan rumahnya.


"Kamu anak j*l*ng! Mat* saja kau!" Bentak Baron menjambak rambut Kira hingga dia meeingis kesakitan.


"Ayah, sakit!"


"Ikut aku, anak j*l*ng sepertimu harus kukurung!" Baron menarik rambut Kira dan menyeretnya ke dalam gudang lalu menguncinya.


Entah apa yang ada dipikiran pria tua itu, karena dipengaruhi alkohol? Sepertinya tidak, karena tanpa pengaruh alkohol pun dia tetap dengan sifat yang suka memukul dan membentak serta menyiksa anak-anaknya. Mungkin itulah yang membuat Barsena baru saja melarikan diri dari rumahnya.


Dalam kemarahan terhadap ayahnya, Barsena berlari tak tentu arah hingga sampai di rumah megah tiga lantai bercat putih. Itu adalah rumah Laras. Entah kenapa kaki Barsena malah membawanya berlari ke rumah Laras, rumah sang cinta pertamanya yang masih belum tersampaikan.


"Oke, hari ini gue harus ungkapin perasaan gue yang sebenarnya sama Laras!" gumam Barsena bertekad saat sudah berada di depan pagar gerbang rumah Laras.


Setelah bertekad dengan sungguh-sungguh Barsena meminta izin untuk masuk pada penjaga dan dipersilakan karena memang Barsena sudah sering mengunjungi rumah Laras bersama Ichal.


Saat memasuki rumah Laras, Barsena langsung bertemu dengan Srindra bundanya Laras.


"Loh, Barsena ada apa pagi-pagi sudah ke sini?" Srindra bertanya keheranan sambil menyeruput teh.


"Eh, Bunda. Maaf Barsena datang pagi-pagi begini, Barsena mau bertemu dengan Laras," jawab Barsena.


"Laras? Tapi Laras dari pagi udah pergi juga, katanya mau ke rumah Ichal. Dia bersemangat sekali entah apa yang akan dia lakukan," ucap Srindra.


"Rumah Ichal?" Barsena bertanya dengan sedikit nada kecewa yang terdengar.

__ADS_1


"Iya, kamu ke sana aja kalau mau ketemu Laras," saran Srindra.


"Ah, iya Bunda. Kalau begitu Barsena permisi dulu," pamit Barsena.


Barsena berjalan dengan letih, padahal baru saja beberapa menit lalu dia bertekad penuh dengan semangat untuk bertemu Laras tapi sekarang dia berjalan seolah roh dari tubuhnya sudah keluar.


Kini dia tepat berada di depan gerbang rumah Ichal, dari jauh Barsena dapat mendengar suara tawa Ichal dan Laras bersahutan. Dan dengan jelas pula dia bisa melihat Laras dan Ichal tengah berlarian saling mengejar penuh dengan tawa bahagia.


"Kayaknya gue emang gak akan pernah punya kesempatan buat ungkapin perasaan gue sama Laras," batin Barsena bersedih.


Barsena berbalik dan meninggalkan rumah Ichal tanpa menyapa kedua sahabatnya itu.


"Ichaaaal, udah ih aku cape!" Laras berteriak sambil masih berlari di kejar Ichal.


"Siapa suruh, kamu ejek si tampan ini," Ichal terus berlari mengejar Laras sampai akhirnya tertangkap juga.


Mereka berdua terduduk di atas rumput halaman dengan kaki berselonjor dan peluh membasahi wajahnya masing-masing.


"Aaaah, gara-gara kamu aku jadi keringetan gini! Padahal aku udah dandan dari pagi milih dress sama ngepang rambut ini buat ketemu Barsena tau!" ucap Laras kesal.


"Ke-ketemu Barsena?" tanya Ichal tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


"Iyaaa ih, aku kan mau bilang kalau aku suka sama dia!" jawab Laras polos.


Dia bahkan tidak sadar kalau orang di sampingnya juga merasakan cinta padanya. Laras yang polos memang tidak peka, dia terus menceritakan rencananya di depan Ichal yang jelas-jelas sedang berusaha mengontrol emosinya karena kecewa.


"Aku bahkan udah buatin makanan buat Barsena,"


Jleb!


Lagi-lagi rencana Laras yang didengar menghunjam tepat di jantung Ichal. Dia harus rela merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.


"Kayaknya gue emang gak akan pernah punya kesempatan buat ungkapin perasaan gue sama Laras," batin Ichal bersedih.


"Chal, Chal! Kenapa bengong?" Laras menyadarkan Ichal yang malah bengong saat Laras bertanya banyak hal pada Ichal.


"Ah, umum ... kenapa Ras?" Ichal gelagapan.


"Aku barusan tanya, baju aku cocok gak buat ketemu Barsena?" Laras bertanya dengan senyum manis mengembang sambil berdiri dan berputar-putar di hadapan Ichal untuk memamerkan dress putih yang dia kenakan.


Tanpa sadar Ichal pun ikut tersenyum dengan lembut. "Cantik, kamu cantik banget!" ucapnya benar-benar dari lubuk hati terdalam.


Laras tersenyum semringah mendengar pujian Ichal, tanpa sadar kalau Ichal memuji dia karena dia menyukai Laras bukan sebagai sahabat lagi.


"Terus kalian janjian ketemu di mana?" Ichal bertanya.


"Kita gak janjian tuh, orang aku mau samperin ke rumahnya," jawabnya polos.


"Kalau gitu aku anterin kamu!"


"Gak usah Ichal, aku juga bukan anak kecil lagi. Aku udah tahu jalan gak mungkin badar juga!" tegas Laras.


"Tapi kamu yakin mau ke sana sendiri?"


"Iya aku yakin!"


"Tapi perasaan aku gak enak, Ras!"


"Kamu apaan sih Chal, ngedadak jadi kaya Bunda aja! Apa-apa bilang 'perasaan gak enak'," ejek Laras.

__ADS_1


__ADS_2